LOGINKeano menghentikan gerakan penanya tepat beberapa milimeter di atas kertas. Dia perlahan mengangkat pandangannya, sepasang mata hitamnya menatap Nanda secara langsung dengan pandangan tajam, dingin, dan sarat akan penekanan yang tak terbantahkan.
“Bukankah ini sama saja.” Keano membalas dengan nada tenang.
“Sama saja bagaimana?” Nanda mengerutkan
Freya menatap Keano dengan kening berkerut dalam, tidak sepenuhnya memahami maksud dari kalimat yang baru saja diucapkan pria itu. “Maksudnya, Pak? Kenapa Bapak bicara seperti itu?”“Aku tidak pernah mengajukan permintaan itu,” jawab Keano tegas, matanya menatap Freya lurus tanpa keraguan sedikit pun.“Memang benar saya yang mengajukannya, Pak,” balas Freya cepat, suaranya masih bergetar menahan gejolak emosi. “Karena saya tahu, pernikahan dengan saya bisa membuat citra Bapak buruk di mata orang lain. Saya hanya ingin menjaga nama baik Bapak, apalagi Bapak sudah begitu baik pada saya, sudah menolong saya dari masalah yang begitu besar.”“Itu hanya pikiranmu sendiri,” potong Keano cepat, tidak memberi ruang bagi Freya untuk melanjutkan.Freya tersentak, menatap Keano dengan mata membola tidak percaya. “Ta-tapi, Pak—”“Pernikahan ini pilihanku,” lanjut Keano, suaranya semakin tegas dan penuh keyakinan. “Aku tidak pernah takut pada apa pun, apalagi hanya soal citra diriku sendiri.”Freya
“Ap-apa?” Rachel semakin terkejut sampai tergagap mendengar nominal yang begitu fantastis itu. Jika benar Freya sudah menikah, kenapa tidak pernah cerita ke Rachel?Rachel semakin penasaran, dia mencoba memastikan. “Memangnya siapa nama suaminya, Pak?”Kevin mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Kalau nggak salah, namanya Keano. Keano Pradipta.”Rachel merasa dunianya berputar mendengar nama itu.“Bapak jangan bercanda!” Rachel masih tak percaya.“Tidak percaya ya sudah, ganggu saja!” Kevin menutup kembali pintu rumah, membiarkan Rachel yang masih berdiri di depan.Rachel membeku dengan wajah bingung dan syok. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia membalikkan badan, melangkah cepat meninggalkan rumah itu dengan rasa penasaran yang bercampur menjadi satu dalam kepalanya.Sepanjang jalan, Rachel menarik ingatannya ke kejadian di mall yang berhubungan dengan Freya. Kenapa Keano turun tangan langsung mengurus masalah yang menyangkut Freya waktu itu. Ke
Freya masih duduk membeku di atas ranjang, matanya mengikuti gerakan pelayan yang datang membersihkan pecahan mangkuk dari lantai marmer. Suara sapu yang mengumpulkan serpihan keramik terdengar begitu jelas di tengah keheningan kamar.“Sudah, Tuan. Saya permisi.” Pelayan membungkuk ke arah Keano, lalu berjalan menuju pintu.Keano melangkah mendekat, berdiri di samping ranjang dengan tatapan yang masih menyimpan sedikit kekhawatiran.“Apa kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” tanya Keano, matanya memperhatikan kaki Freya, memastikan tidak ada bagian yang tergores pecahan mangkuk tadi.“Saya baik-baik saja, Pak,” jawab Freya, suaranya masih sedikit gugup. “Tidak ada yang terluka.”Keano mengangguk pelan, meski tatapannya masih terpaku sejenak pada Freya sebelum akhirnya berkata, “Istirahatlah lagi.”Freya mengangguk, tidak membantah. Freya memperhatikan Keano yang berjalan keluar dari kamar.Begitu Keano menghilang dari balik pintu kamar yang kembali tertutup, Freya mengembuskan nap
Sore itu, cahaya jingga mulai menyusup lewat celah tirai kamar, memberi warna hangat pada ruangan yang biasanya terasa dingin. Freya duduk bersandar di headboard ranjang, kakinya yang masih terbalut perban dia sanggah dengan bantal kecil sesuai anjuran yang diberikan Rachel tadi siang.Dia menatap ponselnya sesekali, mengecek pesan dari Rachel yang terus menanyakan kondisinya, tapi pikirannya sendiri masih melayang pada kejadian tadi siang—cara Keano menggendongnya, cara jemari pria itu begitu telaten membalut perbannya, cara tatapannya yang begitu berbeda dari biasanya.Sampai suara pintu terbuka membuat Freya menoleh. Keano melangkah masuk dengan setelan kemeja yang sudah dilonggarkan di bagian kancing atas, membawa sebuah nampan kecil di tangannya.“Sudah waktunya makan,” kata Keano, meletakkan nampan itu di atas nakas dekat ranjang. Di sana tersaji semangkuk bubur hangat dengan taburan bawang goreng, serta segelas air putih.Freya menatap nampan itu dengan sedikit terkejut. “And
Sesampainya di kamar, Keano melangkah menuju ranjang, menurunkan Freya dengan gerakan yang begitu hati-hati, mendudukkannya perlahan di tepian kasur.Freya baru saja hendak bersuara untuk berterima kasih, tapi gerakan Keano berikutnya membuatnya membeku di tempat.Keano berlutut di hadapannya, satu tangan menopang lutut Freya, sementara tangan yang lain meraih pergelangan kaki yang terbalut perban, menariknya perlahan ke atas pahanya sendiri agar lebih mudah diperiksa.“Pak, tidak perlu—” Freya buru-buru mencoba menarik kakinya, wajahnya memerah menahan rasa canggung yang luar biasa melihat posisi Keano yang begitu rendah di hadapannya.Namun, Keano tidak berhenti. Tangannya tetap menahan kaki Freya dengan mantap, tidak memberi ruang untuk ditolak.“Diam sebentar,” kata Keano, suaranya datar tapi cukup tegas untuk membuat Freya berhenti meronta.Jemari Keano bergerak cekatan melepas simpul sepatu Freya, menariknya perlahan hingga terlepas sepenuhnya. Setelah itu, dia mulai membuka li
Freya tidak berani berkata apa-apa. Tubuhnya kaku dalam gendongan Keano, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia yakin Keano pasti bisa merasakannya dari jarak sedekat ini.Keano melangkah tenang menuju mobil, sopir langsung membukakan pintu belakang untuknya. Dia mendudukkan Freya perlahan di kursi, lalu tanpa banyak bicara, tangannya terulur meraih sabuk pengaman, memasangkannya sendiri dengan gerakan yang begitu telaten.Freya menahan napas merasakan jemari Keano yang bergerak dekat di sekitar pinggangnya, memastikan sabuk itu terpasang dengan benar sebelum akhirnya dia menarik diri dan berjalan memutar ke sisi lain mobil.Begitu Keano duduk di sampingnya, dia langsung memberi instruksi singkat pada sopir. “Jalan.”Mobil mulai melaju meninggalkan area basement mall. Sepanjang perjalanan, Freya hanya diam, matanya menatap ke luar jendela meski pikirannya sama sekali tidak fokus pada pemandangan yang berlalu.Dadanya masih berdegup tidak karuan, perasaan aneh yang sulit dia jel







