LOGINViola yang duduk di kursi depan merogoh layar konsol tengah, mengganti pemutar lagu yang tadinya mengalunkan musik jazz instrumental pilihan Raymond menjadi musik Indie Pop yang lebih berenergi.Raymond tidak menegur atau melarang tindakan putrinya itu. Pria dewasa itu hanya mengembuskan napas kasar tanpa kata, lalu kembali mengemudikan mobilnya dengan tenang, menyadari sepenuhnya bahwa selera musiknya dan generasi sang putri memang terpisah jarak yang cukup jauh.Untuk memecah keheningan kabin, Viola memutar badannya sedikit ke belakang, membuka percakapan dengan Jovita.“Jo, skripsimu gimana? Kamu sudah dapat judul dan kerangkanya?”“Sudah, aku kan sudah memikirkan dan mengumpulkan konsep skripsi ini sejak awal magang kemarin. Jadi sekarang tinggal fokus eksekusi rancangan maket dan penyusunan berkasnya saja.”Viola menyunggingkan senyum tipis, ada nada menyindir yang agak tajam terselip dari balik cara bicaranya.“Wah, sepertinya buru-buru banget. Di kejar target apa? Mau buru-buru
Seperti biasa, setiap kali di studio arsitektur kampus, Jovita akan selalu tekun berkutat dengan pemotongan bahan dan perekat untuk menyelesaikan maket skripsinya.Tak jauh dari meja kerja Jovita, Dylan berdiri berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tapi, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Jovita.Bukan hanya terpesona oleh kecantikan Jovita yang fokus dengan desainnya, tetapi Dylan juga terpesona oleh presisi dan detail luar biasa pada karya gadis itu.Sentuhan desain Jovita kini jauh berbeda. Tampaknya gadis itu telah menyerap banyak sekali ilmu dan teknik kelas atas langsung dari Raymond.Dylan perlahan melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk mengamati maket Jovita dari jarak dekat.“Bagus banget, Jo... Struktur dan proporsinya terlihat sangat profesional.”Dylan tidak bohong, sebagai calon penerus Hadiningrat Group sejak kecil dia sudah dijejali dengan berbagai bentuk desain arsitektur kelas dunia. Karya Raymond selalu punya pembeda bagi Dylan, dan kini hal itu
Jovita menghangatkan makanan yang dibawakan Bi Siti. Tapi, sebelum seluruh hidangan di atas kompor sempat siap disajikan, Raymond sudah berjalan mendekatinya dengan setelan rapi.“Maaf, aku tidak sarapan di sini dulu ya pagi ini,” ujar Raymond dengan suara yang sedikit sengau. “Kemarin aku sudah janji mau sarapan bareng Vio di rumah.”Jovita menghentikan tangannya, lalu perlahan mematikan kompor. Ia berbalik menghadap Raymond, menatap wajah suaminya yang tampak agak pucat dengan pangkal hidung yang memerah akibat flu.Mengingat rayuan dan peringatan Raymond agar tidak tertular, Jovita urung mencium bibir atau pipi suaminya. Sebagai gantinya, ia maju mendekat dan mendaratkan ciuman hangat tepat di dada bidang Raymond.Raymond tersenyum lembut, lalu menunduk untuk membalas dengan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala Jovita.“Padahal Jojo pengen lebih...” bisik Jovita manja, mengelus dada suaminya pelan.Raymond terkekeh pelan, matanya menyipit menggoda. “Padahal baru tadi malam lho...
“Gimana tadi risetnya di kantor?” tanya Raymond lembut seraya mengusap pelan punggung Jovita. “Data untuk skripsimu sudah siap semua?”Jovita miring menghadap Raymond, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.“Sudah, Om. Mas Aris baik banget, dia langsung nyiapin dan ngumpulin semua berkas data yang aku butuhkan.”Mendengar nama itu terlontar dari bibir istrinya, tatapan mata Raymond mendadak berubah. Dahi pria itu sedikit berkerut, menatap Jovita dengan raut cemburu tipis yang tak bisa disembunyikan.“Mesra banget panggilnya... 'Mas Aris',” sindir Raymond dengan nada suara yang sengaja diberat-beratkan.Jovita mendongak, tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya.“Lho, terus harus panggil apa dong? Kan dari awal pas pertama magang di Vastu Chandra memang sudah panggil gitu. Kalau tiba-tiba berubah nanti bisa curiga.”“Kalau begitu yang berubah panggil suaminya. Masak panggilnya om terus, rasanya kaya predator.”Raymond menatap Jovita dalam-dalam, ada keraguan manis di dala
Raymond menarik Jovita lebih dekat, dada bidangnya menempel pada punggung lembut sang istri. Air hangat berombak pelan saat tubuh mereka saling bersentuhan.Tak ingin menyia-nyiakan tubuh indah istrinya, bibir Raymond langsung menyusuri garis leher Jovita, meninggalkan jejak basah yang bercampur dengan uap jacuzzi.“Cantik…” gumam Raymond, suaranya rendah dan serak. “Padahal di rumah tadi habis mandi, tapi lihat kamu seperti ini… aku jadi pengen ikut berendam.”“Dasar Om Raymond. Pakai baju utuh saja dipreteli, apalagi sudah seperti ini.” Jovita terkekeh pelan. “Awas, nanti demam.”“Sekarang kan, ada istri yang merawat.” Raymond kembali melabuhkan kecupan hangat di punggung Jovita.Suasana mendadak hening, Raymond mengeratkan pelukannya, seolah jika dia melepaskan, Jovita akan pergi selamanya.“Kau milikku… selamanya hanya milikku, Jo.” Suara serak Raymond terdengar sangat posesif.Perselingkuhan Felisa di masa lalu telah meninggalkan luka yang mendalam. Dan kali ini, Raymond tak ingi
Sebelum benar-benar melangkah keluar rumah, Raymond menemui Bi Lastri yang sedang merapikan dapur.“Bi,” panggil Raymond dengan suara berat.“Kalau besok pagi Vio bangun dan tanya mamanya, tolong katakan kalau mamanya ada pekerjaan mendadak jadi harus pergi.”Bi Lastri mendongak, lalu mengangguk pelan dengan raut wajah serba salah. Sejak Viola masih kecil, alasan klasik itulah yang selalu digunakan Raymond untuk menutupi kelakuan asli Felisa.Raymond memilih menelan kepahitan itu sendirian, membiarkan pikirannya tahu Felisa sedang bersenang-senang dan foya-foya di luar sana, demi menjaga perasaan putri semata wayangnya.Bahkan sampai Viola sudah dewasa, Raymond tetap menyembunyikan kebenaran itu. Yang Viola tahu perceraian kedua orang tuanya karena Raymond kecewa Felisa tidak bisa menjaga kandungannya, anak kedua yang sudah lama Raymond nantikan.Melihat Raymond memegang kunci mobil dan mengenakan jaketnya kembali, Bi Lastri memberanikan diri bertanya.“Tuan juga mau pergi malam ini?
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita







