MasukBrak!Suara gebrakan meja bergema begitu keras hingga beberapa pengunjung kafe memalingkan kepala, menatap terkejut ke arah meja mereka bertiga.Dada Viola tampak kembang-kempis, naik-turun menahan amarah yang meledak.Sadar mereka sedang berada di tempat umum, Viola mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia sengaja merendahkan volume suaranya, namun setiap intonasinya terdengar begitu tajam, kaku, dan tegas menusuk.“Mengapa sih... kalau setiap kali obrolan sama kalian, yang diomongin ujung-ujungnya warisan terus?” bentak Viola lurus memotong. “Capek tahu nggak! Bosan!”Felisa yang panik refleks memajukan tubuhnya, berusaha meredakan emosi putrinya. “Ini penting, Vio! Mama cuma enggak mau kamu sampai kehilangan hakmu di keluarga Chandra!”“Aku enggak peduli lagi sama warisan dari Opa!” potong Viola lantang, menatap mamanya dengan mata membara. “Melihat kalian berdua dari dulu terus-terusan kayak gini... aku malah kadang sampai berharap, moga-moga Opa bangkrut sekalian!”“Vio!” bentak Jul
Kehadiran Jovita yang melangkah mendampingi Raymond pagi itu tak ayal kembali menarik perhatian jajaran staf perempuan.Pandangan mereka yang dulu sinis kini berubah penuh takjub, terutama saat pancaran cahaya menyilaukan dari cincin berlian mewah di jari manis Jovita menangkap pantulan lampu ruangan.“Wah, sekarang sudah berani tampil beda ya,” bisik salah seorang staf wanita sembari mengamati Jovita dari kejauhan. “Lihat deh, berlian di jarinya gede banget... bikin silau mata!”Staf lain di sebelahnya ikut menyahut pelan, “Dengar-dengar dari sekretariat, setelah gala dinner semalam kantor kita langsung kebanjiran penawaran klien baru. Katanya kebanyakan tertarik gara-gara melihat konsep desainnya Bu Jovita. Yah, wajar sih kalau langsung dikasih hadiah cincin semewah itu sama Pak Su.”“Aduh, mau iri juga percuma, otak kita mah enggak bakal nyampai ke levelnya Bu Jovita,” timpal staf lainnya terkekeh.Mereka bertiga akhirnya tertawa kecil bersama, lebih tepatnya menertawakan ketololan
Pagi hari di kediaman keluarga Chandra, suasana meja makan terasa begitu kaku dan dingin. Di tengah denting sendok dan piring, Elle menatap suaminya yang tengah menikmati hidangan, lalu sengaja membuka pembicaraan untuk meloloskan ambisi putranya.“Pa, bagaimana dengan proyek untuk Julian,” ujar Elle dengan nada menuntut. “Ini salah satu cara terbaik untuk dia membuktikan kalau dia mampu memimpin. Tapi belakangan ini, sepertinya kamu tidak pernah lagi memberinya proyek.”Mendengar ocehan itu, Roberto seketika kehilangan nafsu makannya. Pria tua itu langsung menyilangkan sendok di atas piring, meraih serbet kain, lalu menyapu bersih sisa makanan di ujung bibirnya dengan gerakan lambat dan dingin.“Aku sudah bilang berkali-kali pada Julian,” sahut Roberto dengan suara berat yang kaku. “Kalau dia memang menginginkan proyek, suruh dia bikin dan kirim proposalnya dulu ke meja saya. Tapi sampai detik ini, dia sama sekali tidak pernah menyerahkannya.”Roberto menjeda kalimatnya sejenak, mera
Sementara di balik pintu kamar apartemen yang terkunci, Jovita dan Raymond sedang hanyut memadu kasih dalam kehangatan yang manis, kondisi yang bertolak belakang justru terjadi di kediaman megah keluarga Chandra. Di sana, ada pasangan lain yang tengah beradu mulut dengan tensi tinggi."Katanya kamu mau memberi kepercayaan lebih kepada Julian! Belum sempat ngobrol dan menjalin relasi sama pengusaha-pengusaha yang diundang malam ini, kenapa dia malah pulang dari gala dinner dalam keadaan babak belur begini?!" teriak Elle penuh emosi, meluapkan amarahnya pada sang suami.Roberto terus melenggang masuk tanpa menghentikan langkahnya, enggan melayani emosi istrinya.Pria tua itu hanya menyahut dengan nada dingin dan ketus, "Didik yang benar anak kesayanganmu itu!"Elle tak tinggal diam. Ia berjalan cepat mengekor di belakang Roberto. "Memangnya apa salah Julian sampai kamu harus menyuruh pengawal memukulnya seperti ini?!"Roberto menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh dan melirik tajam
Raymond mengusap lembut punggung tangan Jovita, menyusuri lingkar cincin itu dengan tatapan hangat sekaligus penuh kenangan.“Ini cincin milik Mama. Dulu Mama pernah pesan, cincin ini hanya boleh diberikan kepada perempuan yang menikah denganku.”Raymond menghela napas pendek sebelum melanjutkan, “Dulu, aku mau memakaikan cincin ini ke Felisa, Papa merebutnya. Papa dari awal tidak pernah merestui pernikahanku dengan Felisa.”Bukannya tersentuh, mendengar nama mantan istri suaminya disebut, Jovita justru merasakan sedikit cubitan cemburu di dadanya. Ia mencebikkan bibir pelan, berucap lirih,“Ternyata dulu Om secinta itu ya sama Tante Feli..”Raymond terkekeh tipis, lalu menatap Jovita tajam namun lembut untuk meluruskan kesalahpahaman itu.“Bukan karena cinta, Jo. Tapi waktu itu Felisa sudah mengandung Viola... jadi sebagai laki-laki, aku harus bertanggung jawab menyelesaikannya.”Sebenarnya, ada tumpukan pertanyaan yang mendesak di kepala Jovita tentang bagaimana detail masa lalu dan
Acara gala dinner itu akhirnya selesai, dan nama Raymond beserta Vastu Chandra kian berkibar di kalangan pengembang properti. Tapi, suasana di dalam mobil yang melaju membelah malam menuju apartemen terasa jauh lebih senyap.Selama perjalanan pulang, Raymond sesekali melirik ke arah istrinya melalui pantulan kaca spion dan penglihatan langsung. Instingnya menangkap ada sesuatu yang berbeda pada diri Jovita.Perempuan di sampingnya itu tampak lebih pendiam, bukan karena lelah atau kantuk, tapi sedang melamun. Jemarinya yang lentik memegang tas tangan kecilnya dengan erat, seolah sedang menyembunyikan atau memikirkan hal yang berat.“Capek?” Raymond memancing obrolan, memecah kesunyinya di antara mereka.“Sedikit. Lama berdiri bikin pegal, untung tadi nggak pakai hak tinggi.”“Ya sudah, nanti aku pijitin.”Jovita langsung mencebikan bibir menatap sinis ke arah suaminya. “Pijitnya nggak sampai lima menit, upahnya yang lama.”“Itu karena kamu dipijit dikit langsung mendesah, Om jadi nggak
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







