LOGIN“Kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Raymond tiba-tiba dengan nada serius.Mendengar itu, Viola langsung menghembuskan napas kasar. Gemuruh di dadanya semakin menjadi. Baru saja dia menikmati kebersamaan dengan papanya, Jojo sudah gatal ingin mengganggu.‘Tuh kan, benar dugaanku! Pasti Jojo beralasan sakit perut atau apa, padahal mungkin bayinya cuma nendang-nendang biasa. Sengaja banget cari alasan biar Papa terpaksa pulang malam-malam begini!’ Di dalam hatinya, gadis itu merasa kesal dan semakin yakin dengan dugaannya.Viola langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menekuk bibirnya rapat-rapat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang penuh dengan kekesalan.Raymond yang menangkap perubahan raut wajah putrinya seketika paham. Tanpa membuang waktu, ia meraih tangan Viola dan menggenggamnya lembut, sementara tangan kanannya mendekatkan ponsel ke telinga.“Kata Dylan, besok saja, Om. Bunda sekarang sedang istirahat. Tadi Dylan cuma mau ngabari kalau Bunda sudah lahiran, anaknya c
Melihat tatapan intens dan gestur protektif Raymond, Aris yang kebetulan mejanya tepat di samping Jovitalangsung berinisiatif menyingkir sejenak. Bukan sekadar tahu diri karena ini menyangkut percakapan pribadi, melainkan sebagai sesama lelaki, Aris sangat paham dengan getaran perasaan dan gelagat posesif Raymond terhadap Jovita.Sebenarnya, untuk urusan semacam ini Raymond bisa saja mengirim pesan singkat atau menelepon. Tapi, ia lebih memilih mendatangi istrinya secara langsung, tentu saja bukan hanya untuk menyampaikan kabar, melainkan juga sebagai bentuk 'sidak' halus untuk memastikan tidak ada lagi mata-mata pria di kantor yang berani melirik sang istri.“Terima kasih, Ris,” ucap Raymond singkat saat Aris beranjak pergi dan merelakan kursinya agar Raymond bisa duduk dan berbicara lebih nyaman di samping Jovita.Jovita menatap suaminya lekat-lekat, lalu mengangguk samar. “Enggak apa-apa, Om. Pergilah.” Ia kemudian menunduk perlahan, mengusap perutnya sembari berujar lembut, “Yang
Brak!Suara gebrakan meja bergema begitu keras hingga beberapa pengunjung kafe memalingkan kepala, menatap terkejut ke arah meja mereka bertiga.Dada Viola tampak kembang-kempis, naik-turun menahan amarah yang meledak.Sadar mereka sedang berada di tempat umum, Viola mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia sengaja merendahkan volume suaranya, namun setiap intonasinya terdengar begitu tajam, kaku, dan tegas menusuk.“Mengapa sih... kalau setiap kali obrolan sama kalian, yang diomongin ujung-ujungnya warisan terus?” bentak Viola lurus memotong. “Capek tahu nggak! Bosan!”Felisa yang panik refleks memajukan tubuhnya, berusaha meredakan emosi putrinya. “Ini penting, Vio! Mama cuma enggak mau kamu sampai kehilangan hakmu di keluarga Chandra!”“Aku enggak peduli lagi sama warisan dari Opa!” potong Viola lantang, menatap mamanya dengan mata membara. “Melihat kalian berdua dari dulu terus-terusan kayak gini... aku malah kadang sampai berharap, moga-moga Opa bangkrut sekalian!”“Vio!” bentak Jul
Kehadiran Jovita yang melangkah mendampingi Raymond pagi itu tak ayal kembali menarik perhatian jajaran staf perempuan.Pandangan mereka yang dulu sinis kini berubah penuh takjub, terutama saat pancaran cahaya menyilaukan dari cincin berlian mewah di jari manis Jovita menangkap pantulan lampu ruangan.“Wah, sekarang sudah berani tampil beda ya,” bisik salah seorang staf wanita sembari mengamati Jovita dari kejauhan. “Lihat deh, berlian di jarinya gede banget... bikin silau mata!”Staf lain di sebelahnya ikut menyahut pelan, “Dengar-dengar dari sekretariat, setelah gala dinner semalam kantor kita langsung kebanjiran penawaran klien baru. Katanya kebanyakan tertarik gara-gara melihat konsep desainnya Bu Jovita. Yah, wajar sih kalau langsung dikasih hadiah cincin semewah itu sama Pak Su.”“Aduh, mau iri juga percuma, otak kita mah enggak bakal nyampai ke levelnya Bu Jovita,” timpal staf lainnya terkekeh.Mereka bertiga akhirnya tertawa kecil bersama, lebih tepatnya menertawakan ketololan
Pagi hari di kediaman keluarga Chandra, suasana meja makan terasa begitu kaku dan dingin. Di tengah denting sendok dan piring, Elle menatap suaminya yang tengah menikmati hidangan, lalu sengaja membuka pembicaraan untuk meloloskan ambisi putranya.“Pa, bagaimana dengan proyek untuk Julian,” ujar Elle dengan nada menuntut. “Ini salah satu cara terbaik untuk dia membuktikan kalau dia mampu memimpin. Tapi belakangan ini, sepertinya kamu tidak pernah lagi memberinya proyek.”Mendengar ocehan itu, Roberto seketika kehilangan nafsu makannya. Pria tua itu langsung menyilangkan sendok di atas piring, meraih serbet kain, lalu menyapu bersih sisa makanan di ujung bibirnya dengan gerakan lambat dan dingin.“Aku sudah bilang berkali-kali pada Julian,” sahut Roberto dengan suara berat yang kaku. “Kalau dia memang menginginkan proyek, suruh dia bikin dan kirim proposalnya dulu ke meja saya. Tapi sampai detik ini, dia sama sekali tidak pernah menyerahkannya.”Roberto menjeda kalimatnya sejenak, mera
Sementara di balik pintu kamar apartemen yang terkunci, Jovita dan Raymond sedang hanyut memadu kasih dalam kehangatan yang manis, kondisi yang bertolak belakang justru terjadi di kediaman megah keluarga Chandra. Di sana, ada pasangan lain yang tengah beradu mulut dengan tensi tinggi."Katanya kamu mau memberi kepercayaan lebih kepada Julian! Belum sempat ngobrol dan menjalin relasi sama pengusaha-pengusaha yang diundang malam ini, kenapa dia malah pulang dari gala dinner dalam keadaan babak belur begini?!" teriak Elle penuh emosi, meluapkan amarahnya pada sang suami.Roberto terus melenggang masuk tanpa menghentikan langkahnya, enggan melayani emosi istrinya.Pria tua itu hanya menyahut dengan nada dingin dan ketus, "Didik yang benar anak kesayanganmu itu!"Elle tak tinggal diam. Ia berjalan cepat mengekor di belakang Roberto. "Memangnya apa salah Julian sampai kamu harus menyuruh pengawal memukulnya seperti ini?!"Roberto menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh dan melirik tajam
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







