LOGINUdara dingin Kaliurang menyelinap masuk lewat celah jendela. Di dalam villa, Jovita berdiri di samping ranjang, punggungnya hampir menempel ke tiang kayu. Raymond berdiri di belakangnya, tubuh besarnya menekan tanpa memberi celah.Bibir Raymond menempel di ceruk leher Jovita. Bukan ciuman yang lembut seperti biasanya, tapi sebuah gigitan yang diikuti hisapan kuat sampai kulit di sana memerah dan berdenyut. Lidah Raymond menyapu sepanjang urat leher, basah dan panas, sebelum gigitan kedua datang lebih dalam.“Ahh… Om Ray….” Suara Jovita pecah, terdengar gemetar.“Malam ini kau milikku.” gumam Raymond dengan suara serak, napas hangatnya menerpa kulit leher Jovita.Tangan Raymond merayap ke depan, meremas dada Jovita melalui kain tipis gaun tidur, memilin pucuknya sampai mengerang tertahan.Lingeri yang dipakai Jovita langsung ditarik kasar ke bawah, menyibak dada polos yang langsung digenggam lebih kuat. Raymond terus menghisap ceruk leher sambil jari-jarinya bermain kasar di pucuk dada
Viola terdiam mematung dengan ponsel yang masih menempel rapat di pipinya.Matanya membelalak tak percaya. Ini adalah pertama kalinya Jovita tidak mengangkat panggilannya bahkan beberapa detik kemudian, nada sambungnya mendadak mati dan nomor gadis itu tidak aktif sama sekali.“Ihh... kok aneh banget sih!” adu Viola pada papanya dengan nada kesal. “Masa Jovita nggak angkat teleponku, Pa? Sekarang malah nomornya jadi nggak aktif!”Raymond berusaha tetap tenang meski dalam hatinya sempat berdesir cemas. Ia menyeruput kopinya santai untuk menutupi riak kegugupan.“Mungkin Jovita lagi sibuk sama tugas studionya, Vio. Atau ponselnya kehabisan baterai.”Tak jauh dari mereka, Bi Lastri yang memegang baki kosong hanya mencebikkan bibir pelan.Asisten rumah tangga itu melirik sinis ke arah Raymond, seolah sudah bisa menebak akal-akalan dan rencana terselubung antara sang majikan dan Jovita, sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju dapur.Seperti halnya saat di masa lalu, Bi Lastri memilih di
Di kamar, Jovita tampak sibuk duduk di tepian ranjang di dekat koper yang terbuka, memilah dan merapikan pakaian yang akan mereka bawa untuk perjalanan ke Kaliurang. Karena Raymond berkata perjalanan ini urusan pekerjaan dan akan bertemu dengan beberapa klien, Jovita membawa beberapa pakaian formal. Raymond yang berdiri di dekatnya bukannya membantu, melainkan sibuk mengganggu. Pria itu dengan santainya menyelipkan beberapa gaun malam tipis dan lingerie ke dalam koper Jovita. “Jangan lupa baju dinasnya dibawa juga, Jo,” ujar Raymond dengan senyum jahil yang mengembang sempurna. Jovita menepuk pelan tangan suaminya seraya mendelik gemas. “Om Ray! Katanya ini perjalanan bisnis?” “Bisnis juga butuh hiburan kan, Sayang?” jawab Raymond enteng tanpa rasa dosa. Jovita menggeleng-gelengkan kepala lalu mengeluarkan beberapa helai baju tidur tipis itu dar
“Sepertinya masih belum rezeki ya, Pak, Bu,” ujar dokter dengan suara lembut. “Hasil tesnya masih negatif. Tapi Bu Jovita ini kan masih sangat muda, kondisi rahim dan fisiknya juga secara umum sangat baik.” Raymond mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. Meski berusaha bersikap tenang dan menerima penjelasan dokter, Raymond sama sekali tidak bisa menutupi binar matanya yang mendadak redup karena rasa kecewa. “Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tinggal dijaga saja pola istirahat dan nutrisinya.” Sang dokter memberi penjelasan lanjutan, untuk menenangkan pasiennya. “Iya, Dok. Terima kasih banyak,” sahut Raymond sopan. Setelah seluruh pemeriksaan selesai, Raymond dan Jovita berjalan berdampingan keluar dari ruang periksa. Sepanjang koridor rumah sakit, Raymond tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Jovita. Dia ingin melindungi dan menuntun
Saat mobil Raymond berhenti di area kampus, Jovita yang sedari tadi menunggu dengan wajah pucat bergegas melangkah dan langsung memasuki kabin depan.Raymond menoleh menatap raut letih istrinya. “Vio di mana, Jo?”“Pulang bareng Dylan, Om,” jawab Jovita pelan seraya menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat.Raymond mengangguk lega, setidaknya ia tak perlu mengarang alibi lagi untuk menjemput Jovita. Apalagi bareng Dylan, Raymond yakin putrinya dalam suasana hati yang sangat baik.Arsitek senior itu kemudian mengelus pipi Jovita dengan lembut. “Mau langsung pulang atau ke dokter dulu?”“Ke dokter dulu aja, Om,” sahut Jovita seraya menahan rasa mual yang masih sesekali datang.Mobil mewah itu pun perlahan melaju meninggalkan kawasan kampus. Di tengah perjalanan yang tenang, Jovita memutar badannya sedikit menghadap Raymond. Raut ragu menggelembung di dadanya.“Om... bagaimana kalau Jojo benar-benar hamil?” tanya Jovita cemas, memikirkan status kuliah dan rahasia pernikahan mereka.
Di ruang kerjanya, Jimmy menyandarkan punggung ke kursi seraya memainkan ballpoinnya.“Jadi, kamu tetap pergi ke Kaliurang sama Jojo?”Raymond mengangguk pelan seraya membolak-balik dokumen di mejanya. “Hampir saja rencananya berubah.”“Kenapa?”“Tadinya aku berniat mau mengajak Vio juga sekalian, hitung-hitung buat motivasi biar dia makin serius ngerjain skripsinya. Tapi... dia malah lebih memilih sibuk ngejar Dylan.”Jimmy tersenyum miris mendengar jawaban itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala.“Vio ini kok rasanya nggak ada mirip-miripnya sama kamu ya, Ray... Secara fisik semuanya keturunan Felisa. Lah wataknya... malah makin mirip omanya.”Yang dimaksud Jimmy dengan ‘oma’ bukan ibu kandung Raymond, tetapi Leonor, ibu tirinya.“Mungkin karena dulu aku terlalu sering meninggalkan dia,” sahut Raymond dengan nada datar.Jimmy menggeleng pelan. Seingatnya, Raymond tidak pernah meninggalkan Viola dalam waktu yang lama. Pria itu hanya terlihat absen saat sedang dilanda kasmaran bersama J
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







