تسجيل الدخولSeketika dunia di sekitar Raymond terasa berhenti berputar. Tanpa ragu sedikit pun, Raymond balik menggenggam tangan Viola jauh lebih erat, menyalurkan kehangatan yang selama ini tidak pernah luntur.“Apa pun yang terjadi, kamu tetap anakku, Vio,” tegas Raymond dengan suara bergetar penuh ketulusan. “Sampai kapan pun, status itu tidak akan pernah berubah.”Viola terisak semakin deras, dadanya sesak hingga ia kesulitan merangkai kata. Ia menatap pria yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ayah kandung dengan pandangan kabur penuh genangan air mata.“Terima kasih, Pa...” ucap Viola terbata-bata. “Terima kasih untuk semuanya... Tapi sekarang, ini saatnya Papa bahagia bersama perempuan yang Papa cintai, dan merawat anak-anak yang murni darah daging Papa sendiri.”Raymond menatap mata Viola yang berkaca-kaca. Ia sadar, memaksakan kehendaknya saat ini justru hanya akan semakin menggores luka di hati putrinya yang sedang terpuruk. Dengan berat hati dan dada yang terasa berdenyut nyeri, Ra
“Hei... kenapa, Nak?” tanya Raymond dengan kelembutan yang selalu ia tunjukkan sejak Viola kecil.Raymond melangkah tenang namun pasti memasuki kamar Viola yang baru saja dibenahi. Ia langsung menghampiri tempat tidur, mendapati gadis itu masih duduk bersandar dengan sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Raymond merendahkan posisinya.Seketika itu juga, pertahanan Viola runtuh. Gadis itu menerjang maju, menghambur memeluk tubuh Raymond erat-erat, menumpahkan segala tangis yang sedari tadi menyesakkan dada. Isakannya pecah semakin menjadi-jadi, mencengkeram kemeja pria yang selama ini ia yakini sebagai ayah kandungnya itu.Raymond mengusap punggung Viola dengan penuh kasih sayang, berusaha meredakan gemetar di tubuh putrinya.“Kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Katakan pada Papa...”Perlahan, Viola mengurai pelukannya. Jemarinya sibuk menyeka air mata yang tak kunjung berhenti menetes. Dengan napas yang masih tersenggal, ia menatap Raymond penuh luka.“Aku nggak mau ketemu Mama lag
“Apa yang sebenarnya terjadi sampai Vio se-jijik itu melihat kalian?!” teriak Roberto menggelegar, suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan, bahkan terdengar hingga lantai dua.“Dia terus-menerus histeris setiap kali kalian mencoba mendekatinya!” Roberto menatap Felisa dan Julian secara bergantian. “Vio tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia memang manja, tapi tak pernah tak hormat pada orang tua.”“Paling juga itu cuma efek setelah Vio menjalani operasi besar, Pa.” Julian mengibaskan tangan berusaha menanggapi bentakan sang ayah dengan santai.“Kondisi emosi Vio kan belum stabil, wajar kalau dia impulsif. Apalagi sampai sekarang dia belum bisa bergerak leluasa dan harus menggunakan kursi roda. Pasti ada ketakutan kalau dia sampai tidak bisa pulih seperti dulu lagi,” sambung Julian terdengar tanpa beban.“Ya, bisa jadi!” sergah Roberto cepat dengan tatap mata tajam yang menusuk. “Tapi coba kamu pikir! Vio yang dulu begitu marah dan kecewa pada Raymond dan istrinya, bahkan mengabaikan m
Meskipun sempat bersitegang dan berdebat perihal keputusan Roberto, Raymond tetap bergerak memenuhi permintaan sang papa. Di atas meja kerjanya, map berisi tumpukan dokumen akademik dan surat-surat penting milik Viola tersusun rapi.Jovita yang berdiri di sampingnya memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan kening berkerut dalam. Wanita itu teringat percะbangan mereka semalam.“Katanya mau menahan dokumen ini dulu? Biar Vio istirahat total dan nggak terbebani soal pendidikan ke Australia,” tanya Jovita heran.Raymond mendengus pelan, memasukkan lembar demi lembar kertas itu ke dalam amplop cokelat besar.“Aku harus bertemu dengan Vio. Dan aku tidak mungkin datang ke sana dengan tangan kosong tanpa alasan yang jelas.”Mengingat kejadian semalam, bayangan wajah Felisa yang berdiri lekat di samping Julian mendadak melintas di benak Jovita. Suara wanita itu terdengar ragu.“Bukan karena... ingin bertemu dengan Tante Feli, kan?”Raymond langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh, lalu me
Seketika itu juga, seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak ke sumber suara.Di ambang pintu, Julian dan Felisa berdiri berdampingan dengan ekspresi membeku. Sepasang mata mereka terbelalak kaget mendapati kehadiran Raymond dan Jovita duduk berdampingan di sofa utama.“Kau…?” Julian sulit percaya melihat kakak tirinya.Sudah bertahun-tahun lamanya Raymond menolak menginjakkan kaki di rumah itu, membuat kemunculannya malam ini bagai hantu dari masa lalu yang datang menagih utang.Roberto langsung menyipitkan mata. Tanpa membuang waktu, pria tua itu melirik tajam ke arah Raymond, memberikan kode keras agar putranya segera membawa Jovita pergi dari sana sebelum situasi berubah menjadi kekacauan besar.Sebelum Raymond sempat merespons kode tersebut, suara langkah kaki dari arah tangga lantai dua. Elleonor muncul dengan senyum terkembang lebar, sengaja berjalan cepat menyambut kedatangan putra kesayangannya dan Felisa."Julian, sayang... Kamu datang," sambut Elleonor hangat, sengaja
Raymond dan Jovita menutup daun pintu kamar Viola dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara berisik yang mengusik lelap gadis di dalam sana.“Kita ngobrol di ruang depan saja,” ujar Roberto memecah senyap. “Biar nggak ganggu istirahatnya.”Raymond dan Jovita mengangguk patuh, mengekor langkah Roberto menuju ruang keluarga utama.Ruangan luas beraksen klasik itu memancarkan kehangatan lewat pencahayaan lampu gantung kristal yang temaram. Roberto duduk di sofa tunggal berlapis kulit hitam, sementara Raymond dan Jovita mengambil tempat duduk berdampingan di sofa panjang tepat di hadapannya.Bagi Roberto, pemandangan di hadapannya ini mendadak terasa begitu asing sekaligus menyejukkan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, ia melihat putra sulungnya dikelilingi cinta tulus yang nyata. Kehadiran Jovita dan jabang bayi yang tengah dikandung wanita itu menghidupkan kembali binar semangat di mata Raymond, membuat putranya tampak jauh lebih hidup dan utuh.Tapi, kedamaian
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







