ログインSetelah Bayu pergi, Evalia kembali bersandar di sofa. Rasa penasarannya yang sejak tadi menggelitik kembali memenuhi pikirannya. Ia menyentuh layar iPad dan membuka katalog yang dimaksud.
Rahangnya hampir menganga.
Tampilan aplikasi itu terasa seperti pusat perbelanjaan premium eksklusif yang hanya bisa diakses kalangan tertentu. Rasanya bahkan lebih mewah daripada berja
Jovan keluar terlebih dahulu dan memberi isyarat ke arah sayap VIP. “Lewat sini,” katanya, kembali menggunakan nada yang lebih ringan. “Baiklah, kau boleh masuk bersama Aleksander. Aku nggak akan ikut ke dalam. Keluargamu pasti akan terkejut kalau melihat betapa tampannya aku...”Tawa kecil lolos dari bibir Evalia mendengar kelakar itu.Namun, ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju kamar Samuel Wijaya, humor tersebut perlahan menghilang. Kesedihan terasa mengiringi setiap langkah, sementara ketidakpastian semakin erat mencengkeram hatinya.Aleksander berjalan di sisinya, kehadirannya cukup kukuh untuk meredakan kegelisahan Evalia. “Kau siap?” tanyanya lembut.Evalia mengangkat wajah dan bertemu dengan tatapan Aleksander. Sesaa
Namun, tepat ketika hendak menekan tombol putar, sesuatu tiba-tiba mengusik pikirannya. Opanya sedang berjuang melawan maut di rumah sakit.Evalia membeku. Tangannya yang memegang remote perlahan turun. "Aleksander nggak akan mengizinkanku keluar rumah," gumamnya kepada diri sendiri. Tidak ada kepahitan dalam pikirannya. Itu hanya sebuah kenyataan.Meski begitu, Evalia tetap meraih ponselnya. Menelepon Aleksander tentu akan lebih mudah. Lebih cepat. Namun, ketika jarinya menggantung di atas nama Aleksander, wajah Raka Martadinata tiba-tiba terlintas dalam benaknya seperti tanda peringatan.Mengganggu pekerjaan Aleksander lagi... terutama sekarang... mungkin bukan keputusan yang bijaksana. Sebelum makan siang tadi, dia sudah menjatuhkan sebuah bom besar kepada pria itu.E
Nama itu langsung muncul di benak Aleksander tanpa perlu dipikirkan lagi. Surya sudah memastikan pergerakan pria itu. Persiapan mereka sudah matang, begitu pula langkah-langkah antisipasi yang telah direncanakan.Namun, kemarin Raka tiba-tiba berhenti. Tidak ada lagi penyelidikan. Tidak ada lagi jejak digital.Dan sekarang Evalia mengetahuinya. Menarik."Siapa?" tanya Aleksander dengan nada tetap datar, tenang, dan sulit ditebak."Raka Martadinata," jawab Evalia pelan. "Dia berusaha menyewa peretas hebat untuk membongkar masa lalu kelammu. Atau mencari kelemahanmu."Aleksander menyandarkan tubuh di kursinya sambil memutarnya perlahan. "Raka Martadinata?" ulangnya, sengaja menyelipkan sedikit nada terkejut dalam suaranya. "Seb
Dion terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Jangan mengingatkanku. Aku pindah lintas negara karena mengira bisa kabur dari kekacauan. Ternyata sekarang aku malah berperang dengan kontraktor yang kerjanya lebih lambat daripada layar loading tahun sembilan puluhan."Evalia tertawa. "Kau memilih rumah yang nggak jauh dari rumahku. Selamat. Sekarang kau resmi berada di bawah pengawasan teritorial Aleksander Batubara."Dion menyeringai. "Kupikir lebih aman tinggal di dekatmu. Kalau ada orang yang mencoba merampok rumahku, para pengawal suamimu mungkin sudah membereskan mereka sebelum aku sempat menelepon polisi.""Nah, kan? Keputusan cerdas," ujar Evalia dengan nada bangga yang dibuat-buat.Mata Dion berkilat geli saat ia menyandarkan tubuh ke sofa. "Tapi harus kuakui, Valley
"Nggak. Nggak, lupakan saja. Jangan tanya apa-apa soal itu..." Dion buru-buru meralat ucapannya, khawatir si genius kecil ini benar-benar akan menemukan cara untuk mewujudkannya.Evalia yang mendengar percakapan mereka menyembunyikan tawanya di balik cangkir.Laura yang masih berdiri di sampingnya bertanya lembut, "Apa ada lagi yang Ibu butuhkan?""Nggak perlu," jawab Evalia hangat. "Bantu yang lain menyiapkan makan siang saja. Dion akan makan bersama kita.""Baik, Bu." Laura sedikit membungkuk sebelum pergi menuju bagian belakang rumah.Setelah Laura menghilang, Dion dan Rafael kembali larut dalam dunia mereka yang dipenuhi kode dan monster digital.Evalia memperhatikan keduanya
“Surya,” ujar Aleksander perlahan, suaranya berubah dingin dan tajam, “jangan menguji kesabaranku. Hari ini aku sedang nggak ingin meladeni ocehanmu.”Di seberang sana, Surya terdengar seolah langsung menegakkan tubuhnya dari kursi. “Maaf, Boss. Saya hanya ingin mengurangi kekhawatiran Anda. Sedikit memperbaiki suasana hati Anda.”“Kalau begitu, langsung ke intinya!” ujar Aleksander dingin.Nada menggoda dalam suara Surya seketika lenyap. “Boss... saya menemukan sesuatu yang cukup penting. Selama dua hari terakhir, seseorang berusaha menyelidiki Anda. Mereka menggunakan peretas bayaran dari pasar dark web. Bukan hanya satu orang, melainkan beberapa.”Aleksander menarik napas pelan. Tangannya terangkat untuk memi
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







