ログインEvalia mengusap rambut hitam anaknya yang halus, lalu menuntun Rafael ke ruang tengah. Ia menelan ludah, berusaha pura-pura netral, meski jantungnya berdetak kencang.
Untuk mengalihkan perhatian, Evalia bertanya, “Mau makan apa, Sayang? Mau spaghetti bolognese?”
Wajah Rafael langsung bersinar. “Boleh! Sama kentang goreng juga, ya, Mami!”
Pria botak itu terhuyung, darah menetes di pelipisnya. Namun yang tampak terluka lebih parah adalah kesombongannya.Tatapan sang pengawal menyipit, merah membara. “Kamu! Kamu akan menyesal! Berani-beraninya kamu memukul beliau?”“Menyesal?” Evalia mengangkat alis, kepalanya sedikit miring. “Mas Otot… kata itu nggak ada di kamusku.” Ia mengucapkannya dengan senyum yang tipis tapi penuh tantangan.Pengawal itu menarik napas kasar, mencari ancaman yang tepat untuk dilontarkan. “Kamu tahu siapa orang ini? Berani kamu menyerangnya? Hati-hati, bisa-bisa kamu masuk penjara, perempuan tak tahu diri!”Evalia menanggapi dengan nada datar, nyaris santai. “Tentu saja aku tahu. Beliau ini lelaki tua botak yang merasa keren
Usai makan, Evalia pamit sebentar ke toilet. Ia merapikan blus, berjalan menyusuri lorong restoran, hingga langkahnya mendadak berhenti.Di depan salah satu ruang VIP, berdiri seseorang yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.Estella.Adik perempuannya.Evalia terpaku. Selama empat tahun ini ia meyakinkan diri bahwa hubungan dengan keluarga Wijaya sudah berakhir. Ia takkan pernah bertemu mereka lagi.Namun kini, Estella berdiri di sana, sendirian, dengan wajah yang dulu begitu familiar. Ada sesuatu di ekspresi gadis itu yang membuat Evalia gelisah dan penasaran sekaligus.Keinginan untuk memanggilnya sempat timbur, tapi rasa takut menahan langkah Evalia. Jika Estella mel
Sementara itu, di Jakarta, Aleksander menatap ponselnya lama.Rumah sakit. Evalia dan Rafael. Kata-kata itu terus bergema di kepalanya. Aleksander benci bagaimana dadanya terasa sesak. Lebih benci lagi karena ia menyesal tidak menelepon mereka pagi tadi.Kesibukan tadi pagi membuatnya menunda hal sederhana, menanyakan kabar. Sekarang penyesalan itu berbalik menggigit.Aleksander berdiri, berjalan pelan menuju jendela besar kantornya di pusat kota. Lalu lintas di bawah sana padat seperti biasa, tapi pikirannya melayang ke Semarang.‘Kenapa rumah sakit? Siapa yang sakit? Atau… jangan-jangan…’
Selama hampir empat puluh menit berikutnya, mobil dipenuhi ocehan polos Rafael. Setiap sapi yang ia lihat di tepi jalan jadi bahan cerita. Setiap truk yang melintas disebut “raksasa jalanan.” Bahkan awan pun menjadi bahan perdebatan serius.Dan Dimas? Ia mendengarkan semuanya dengan sabar luar biasa.“Sapi itu pasti ketua dari semua sapi,” ujar Rafael yakin, menunjuk ke luar jendela.“Bisa jadi,” timpal Dimas, menanggapi dengan wajah serius. “Posturnya memang seperti pemimpin.”Ketika Rafael menyangka truk besar “memakan” mobil kecil, Dimas langsung pura-pura terkejut. “Wah! Mungkin itu sebabnya truk selalu gemuk!”Rafael tertawa sampai terbatuk-batuk, me
Evalia mengusap rambut hitam anaknya yang halus, lalu menuntun Rafael ke ruang tengah. Ia menelan ludah, berusaha pura-pura netral, meski jantungnya berdetak kencang.Untuk mengalihkan perhatian, Evalia bertanya, “Mau makan apa, Sayang? Mau spaghetti bolognese?”Wajah Rafael langsung bersinar. “Boleh! Sama kentang goreng juga, ya, Mami!”“Boleh,” jawab Evalia sambil tersenyum.Tak lama kemudian, dapur dipenuhi bunyi ritmis pisau memotong bawang, aroma bawang putih tumis dan minyak zaitun mulai memenuhi udara.Suara riang Rafael terdengar dari ruang tamu, sambil ia sibuk menyusun balok mainan dan bersenandung kecil.Semuanya berjalan lancar&helli
“Ada apa?” tanya Dika, yang duduk di kursi pengemudi.Wajah Toni mendadak pucat, seperti baru melihat hantu di dalam mobil mereka. “Sial… gue lupa masukin kartu memorinya.”“Apa?!” Dika tercengang. “Lo bercanda, kan? Gimana bisa motret tanpa kartu memori?”“Nggak ada, semuanya kosong,” gumam Toni pasraah. Ia merogoh sakunya. “Ah, nggak apa-apa, gue masih punya ponselku… tunggu… di mana ponselku? Gue yakin tadi ditaruh di sini.”Dika menepuk dahinya keras-keras. “Astaga, Toni! Habis kita! Habis!”♥♥♥Di dalam mobil berwarna hitam legam yang terparkir d







