เข้าสู่ระบบDua tahun membangun rumah tangga tanpa restu, Vita terus bertahan di tengah dinginnya sikap mertua dan tekanan yang tak henti. Dicap tak berguna karena belum hamil, Vita harus menelan hinaan demi hinaan dari keluarga Gibran. Hingga akhirnya, sebuah ultimatum dilontarkan—terima dimadu atau lepaskan suaminya. Di hadapan pilihan yang menyakitkan, akankah Vita tetap menggenggam cinta yang terus dilukai, atau memilih pergi demi menjaga harga dirinya? Sebuah kisah tentang ketegaran seorang istri yang berjuang di tengah badai rumah tangga.
ดูเพิ่มเติมBegitu tiba di rumah, Gibran mengernyit melihat mobil asing terparkir di depan."Siapa yang datang?" gumamnya, mempercepat langkah menuju pintu.Dari dalam, terdengar suara ibunya, bercampur dengan suara wanita lain—suara yang tak asing, tapi sudah lama tak didengarnya."Ah, Gibran! Akhirnya pulang juga. Sini, duduk." Puspa menyambutnya dengan antusias, langsung menarik tangannya sebelum ia sempat menolak.Begitu duduk, matanya langsung mengerjap. Perempuan yang duduk di hadapannya tersenyum lembut, seolah perpisahan bertahun-tahun tak pernah terjadi."Claudia," ujar Gibran dengan suara rendah, rahangnya mengeras.Claudia tersenyum ramah. "Hey, Gibran. Lama tidak bertemu."Gibran menoleh ke ibunya, menuntut penjelasan. "Bu, ini maksudnya apa?"Puspa tersenyum puas. "Claudia baru pindah tugas ke kota ini lagi, dan mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita."Dada Gibran bergetar menahan amarah yang mulai merayap. "Apa?""Dia tidak punya siapa-siapa di sini, Gibran. Aku tidak bisa mem
"Beres-beres yang bener, sebentar lagi tamuku mau datang. pokoknya aku gak ingin ya kalau ada yang masih kotor, awas aja!" perintah Puspa sambil memberikan tatapan tajam ke arah Vita.Vita hanya mengangguk, menunduk tanpa berani menatap balik. Ia tahu, membantah hanya akan membuat keadaan semakin buruk.Puspa mendengus sebelum melangkah pergi, meninggalkan Vita sendirian di ruang setrika.Vita mengepalkan jemarinya, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sabar, Vita... Sabar.Dengan langkah pelan, ia mulai bergerak, membereskan rumah sesuai perintah. Meski hatinya remuk, ia tetap menjalankan tugasnya.Sekitar tiga puluh menit kemudian, terdengar pintu rumahnya di ketuk dari luar. "Sana buka pintunya! ingat ya jangan mempermalukan aku, jaga sikap!"Vita buru-buru mengelap tangannya yang masih sedikit basah, lalu melangkah menuju pintu. Hatinya berdebar, berharap tamu yang datang bukan seseorang yang akan membuat keadaannya semakin sulit.Dengan hati-hati, ia membuka pi
“Bagus ya, jam segini baru keluar kamar. Udah kayak nyonya aja,” sindir Puspa, tangannya bersedekap sementara tubuhnya bersandar di dinding, tatapannya tajam menelusuri sosok Vita yang baru melangkah keluar.Vita menundukkan kepala, suaranya lirih. “Maaf, Bu. Aku lagi gak enak badan, makanya baru sempat keluar.”Puspa mendengus, matanya menyipit tajam. “Ah, alasan. Kalau udah malas, selalu aja ada yang dijadiin dalih.”Vita menunduk, menekan napasnya yang terasa sesak. Perkataan Puspa menusuk, tapi ia memilih diam. Rasa nyeri di dadanya semakin kuat, tapi ia tahu, membalas hanya akan membuat semuanya semakin keruh.Puspa mendecak, lalu melangkah mendekat dengan tatapan meremehkan. “Gak usah pura-pura sakit. Kalau memang istri yang baik, meskipun gak enak badan tetap bangun pagi, beresin rumah, nyiapin sarapan suami. Bukan malah enak-enakan tidur sampai siang.”Vita mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, menahan gejolak di dadanya. Ingin rasanya membela diri, mengatakan bahwa selama i
"Di mana-mana itu menantu bangun pagi, nyiapin sarapan suami. Lha, ini punya menantu atau nggak sama aja! Tetap saja aku yang harus masak dan beberes rumah," keluh Puspa, suaranya sarat sindiran. Matanya melirik tajam ke pintu kamar yang masih tertutup rapat. "Cewek malas banget, udah siang bukannya bangun dan nyiapin sarapan suami, malah masih molor!" Ia menghela napas keras, lalu mulai membersihkan meja dengan gerakan kasar. Piring-piring beradu, sendok jatuh berisik, seolah semua itu bisa menyuarakan kekesalan yang berkecamuk dalam dadanya. Sesekali ia melirik lagi ke arah kamar, memastikan apakah Vita sudah keluar atau masih berpura-pura tak mendengar. Kesal karena tak juga ada respons, Puspa melangkah ke rak dan menarik kain lap dengan hentakan. Tangannya sibuk mengelap meja, tapi gerakannya lebih seperti melampiaskan amarah yang tertahan. Sesekali bibirnya mendesis, menggumamkan keluhan yang sengaja dikeraskan. Di dalam kamar, Vita menggigit bibirnya, menatap langit-langi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.