เข้าสู่ระบบIlalang menatapnya sekilas.“Urusan pribadi.”Cindy mengerutkan kening. Dia tidak puas dengan jawaban tersebut, Jawaban singkat itu membuat Cindy berfikir, kalau Ilalang menyembunyikan sesuatu. Dan hati Cindy selalu berbisik, itu mungkin ada hubungannya dengan Linggar. Dahulu, sebelum Linggar pergi, Ilalang tidak pernah sesulit ini untuk diajak bicara. Namun, sekarang lelaki itu seolah membangun jarak di antara mereka. Kalau bukan karena menuruti Lintang, Cindy tidak yakin bisa mengajak lelaki itu ke mana-mana lagi seperti akhir-akhir ini. “Jaga Lintang sebentar. Aku harus berangkat.”“Lang, tunggu!” Cindy segera berdiri. “Setidaknya beri tahu aku berapa lama kamu akan pergi.”Ilalang menatap Lintang.“Aku belum tahu.”“Setidaknya beri tahu aku kamu mau pergi ke mana?”Ilalang mulanya ragu, namun entah kenapa, dia bicara juga saat menatap Lintang. “Ke Surabaya."Ilalang kemudian berjongkok di hadapan Lintang yang masih berdiri mengenakan baju renangnya.“Maaf, Sayang. Kali ini Dadd
Linggar menerima makanan tersebut, lalu mengucapkan terima kasih. Setelah petugas itu pergi, Linggar meletakkan nampan di atas meja kecil.Siapa yang mengirim makanan untuknya?Karena penasaran, Linggar membuka pintu kembali dan melangkah keluar.Begitu menoleh ke arah kamar di seberang, matanya langsung membesar.Aaraf berdiri di depan pintunya sendiri, mengenakan kaus santai dan celana panjang. Lelaki itu tampak baru saja selesai berbicara melalui telepon.“Kamu di sini?” Linggar spontan bertanya.Aaraf menoleh, kemudian tersenyum santai.“Seperti yang kamu lihat.”Linggar memandang pintu kamar Aaraf, lalu kembali menatapnya.“Kenapa kamu menginap di sini?”“Karena tempat ini nyaman.”Linggar menyipitkan mata.“Jangan mengarang. Hotel ini tidak selevel denganmu. Kamu bisa memilih hotel mewah."“Aku memilih yang dekat dengan mitra bisnisku.”“Mitra bisnis?”Aaraf menunjuk makanan yang dibawa Linggar.“Kamu harus makan tepat waktu. Sebagai mitra bisnis aku tidak ingin kamu jatuh sakit
Seketika, wajah Linggar berubah pucat.Tubuhnya menegang, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.“Apa?”“Kita akan menemui ayahmu.”Linggar segera menggeleng.“Tidak. Aku tidak mau bertemu dengannya.”Aaraf menatapnya serius.“Linggar, ada banyak hal yang perlu kamu selesaikan. Dan Sanjaya adalah salah satu orang yang harus kamu hadapi jika ingin memperjuangkan kembali hakmu.”“Aku tidak sanggup!”Suara Linggar bergetar.Baginya, nama Sanjaya bukan sekadar nama seorang ayah. Lelaki itu adalah orang yang pernah mengancamnya, menamparnya, merampas rumahnya, dan memaksanya menandatangani surat yang mengalihkan seluruh aset keluarganya.Dia masih mengingat wajah lelaki itu ketika menyuruhnya pergi tanpa sedikit pun penyesalan.Bagaimana mungkin dia harus kembali berhadapan dengan orang yang telah menghancurkan hidupnya?Aaraf menatap Linggar beberapa saat sebelum berbicara lagi.“Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang belum siap kamu lakukan.”Linggar menunduk. Air mat
Aaraf menatapnya lembut. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya tampak begitu serius.“Karena sejak pertama kali melihatmu di taman, aku sudah jatuh hati kepadamu.”Linggar tertegun.Dia menatap Aaraf seolah baru saja mendengar sesuatu yang sulit dipercaya. Lelaki itu mengatakannya begitu saja, tanpa keraguan, sementara dirinya bahkan belum mampu membereskan kekacauan dalam hatinya sendiri.“Apa kamu sedang bercanda?” tanyanya.“Menurutmu, aku terlihat sedang bercanda?”Linggar menggeleng pelan.Aaraf menghembuskan napas, lalu menyandarkan tubuhnya pada mobil.“Aku bukan lelaki yang gampang tertarik kepada perempuan, Linggar. Selama ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Tapi sejak melihatmu di taman... "Dia berhenti sebentar, kemudian kembali menatap Linggar.“entah kenapa, semuanya berbeda. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin berada di dekatmu. Bahkan, tanpa kusadari, aku mulai mencari alasan agar bisa bertemu denganmu lagi. Termasuk saat kamu
"Apa aku salah?" tanya Aaraf.“Bukankah kamu bilang perusahaan ini sedang kolaps?” tanya Linggar balik, beralasan menyembunyikan ketakutan.Aaraf mengangguk, walau tersenyum selintas menata Linggar.“Benar.”“Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?”Aaraf memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Karena aku sedang mempertimbangkan untuk membelinya.”Linggar menatapnya.“Apa?”“Pemiliknya ingin menjual. Perusahaannya masih punya izin usaha, gudang, kantor, dan jaringan yang cukup bagus. Memang ada masalah keuangan yang harus diselesaikan, tetapi bukan berarti semuanya tidak bisa diperbaiki.”Linggar kembali menatap bangunan itu. Nama PT Arunika Nusantara terpampang jelas di depannya.Seketika itu, bayangan bagaimana ayahnya bicara menjelma."Perusahaan ini akan dikelola Nisa dan akan aku ganti namanya menjadi Arunika, anak kami.""Tapi usaha ini milik mamiku, Pi. Papi dan selingkuhan Papi itu tidak berhak atas semua ini.""Jaga bicaramu, Linggar." Sanjaya menatap tajam lalu menyodorkan be
Linggar tertegun.Seseorang berdiri di dekat meja, mengulurkan sapu tangan kepadanya.Linggar perlahan mengangkat kepala. Matanya membulat.“Kamu?” ucap Linggar.Linggar masih menatap laki-laki yang berdiri di samping mejanya. Sapu tangan yang diulurkan itu belum juga ia ambil.Lelaki tinggi besar dengan bulu halus di wajahnya itu tersenyum tipis.“Kenapa? Kamu tidak senang melihatku?” tanyanya dengan bahasa Indonesia kaku. Linggar mengerjap. Ia buru-buru mengusap pipinya dengan tisu, berusaha menghilangkan jejak air mata yang telanjur membasahi wajah.“Bagaimana kamu bisa berada di sini?”Aaraf menarik kursi di hadapannya, lalu duduk.“Aku lagi ada pekerjaan di sini.”“Pekerjaan?”Aaraf mengangguk. Matanya sempat melirik piring Linggar yang masih hampir utuh.“Ada sebuah perusahaan ekspor impor yang sedang kolaps. Pemiliknya mau menjual perusahaan itu. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari sini.”Linggar mengernyit. Perusahaan expor impor? Tak jauh di sini? "Memangnya kamu sudah past







