แชร์

Bab 19

ผู้เขียน: Tinta Senyap
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-03 14:22:45

"Tahan napasmu sebentar, Siska. Lihat pantulan dirimu di cermin itu. Kamu terlihat sangat luar biasa pagi ini."

Suara bariton Arga menggema pelan di dalam ruang latihan VIP. Siska berdiri dengan napas yang masih memburu setelah menyelesaikan set terakhir latihannya. Keringat membasahi pakaian olahraganya, namun untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Siska tidak merasa malu melihat bentuk tubuhnya sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang menempel pada dinding ruan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 105

    Siska duduk di kursi empuk ruang kerja Arga, menatap rintik hujan yang membasahi kaca jendela besar di depannya. Kehadiran Arga di ruangan itu seperti pelindung yang tak kasat mata namun sangat kuat. Arga berjalan menghampiri Siska sambil membawa dua cangkir teh hangat. Aroma melati yang menenangkan menyeruak ke seluruh ruangan. Dia meletakkan cangkir itu di meja, lalu berlutut di depan Siska. Dia menggenggam kedua tangan Siska yang terasa dingin. Siska menatap mata Arga yang dalam. "Kenapa kamu begitu baik padaku, Ga? Padahal hidupku hanya membawa masalah bagimu." Arga tersenyum, sebuah senyuman yang sanggup meluluhkan beban di pundak Siska. "Karena mencintaimu adalah hal paling masuk akal yang pernah kulakukan dalam hidupku. Masalahmu adalah masalahku juga. Kita akan menghadapi badai ini bersama-sama, sampai matahari terbit lagi untuk kita berdua." Siska merasa hatinya seperti dipeluk. "Terima kasih. Aku benar-benar beruntung memilikimu." Tiba-tiba, ponsel Arga bergetar di

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 104

    Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi ini tampak lebih ramai dari biasanya. Para pemburu berita sudah berkumpul di depan pagar, berharap mendapatkan gambar atau pernyataan dari pasangan yang kasusnya sedang menjadi perbincangan nasional. Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir agak jauh dari kerumunan, Siska duduk dengan tenang. Rambut bob barunya membingkai wajahnya dengan sangat cantik, memberikan kesan wanita karier yang sukses dan tangguh. Jantung Siska berdegup kencang, namun bukan karena takut. Itu adalah debaran kegembiraan karena akhirnya dia berani mengambil langkah paling nyata untuk memutus rantai penderitaannya. Arga, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangan Siska. Dia bisa merasakan sedikit keringat dingin di telapak tangan wanita itu. Arga menarik tangan Siska dan mengecupnya.. "Ingat, Siska. Hari ini bukan tentang dia. Hari ini adalah tentang kemerdekaanmu," bisik Arga dengan suara baritonnya yang menenangkan. Siska menatap Arga, pria yang telah me

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 103

    Siska berdiri di depan sebuah cermin besar yang menghiasi dinding kamar Arga. Dia menatap bayangannya sendiri, namun yang dia lihat bukan lagi Siska yang tegar. Dia melihat sisa-sisa perempuan yang dulu selalu merunduk, selalu merasa rendah diri, dan selalu menyembunyikan bekas luka di bawah kain panjang yang menutupi betisnya. Meskipun Arga telah berjanji akan melindunginya, Siska merasa ada sesuatu yang harus dia selesaikan dengan dirinya sendiri, dia harus menyelamatkan identitasnya yang telah lama dicuri oleh Hendri. "Kenapa diam melamun, sayang?" Arga melingkarkan tangannya di pinggang Siska. Dagu Arga bertumpu di bahu Siska, mereka berdua menatap cermin yang sama. "Aku merasa... aku masih membawa bayang-bayang Siska yang dulu, Ga. Siska yang lemah, yang rambutnya ditarik oleh Hendri, yang kakinya selalu dihina. Aku ingin membuang semua itu," bisik Siska dengan suara yang bergetar. Arga mencium leher Siska dengan lembut, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 102

    Pagi itu, udara di Jakarta terasa sangat menyesakkan bagi seorang Veni. Wanita yang biasanya tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek itu kini tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Dia duduk di ruang tamu apartemen mewahnya, menatap tumpukan tas bermerek dan kotak perhiasan di atas meja kaca.Veni baru saja melihat berita pagi. Nama Hendri disebut sebagai tersangka utama dalam kasus pencucian uang dan korupsi. Semua rekening Hendri sudah dibekukan. Veni tahu betul, sebentar lagi pihak berwenang pasti akan melacak aset-aset yang dialirkan Hendri kepada orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya."Aku tidak boleh ikut jatuh. Aku harus pergi dari sini sebelum polisi datang," gumam Veni dengan suara gemetar.Dia meraih sebuah tas tangan berwarna merah marun, salah satu koleksi terbatas yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Tas itu adalah hadiah ulang tahun dari Hendri tahun lalu. Dulu, dia memakainya dengan bangga di depan teman-teman

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 101

    Pagi itu, suasana di dalam penthouse Arga masih terasa sangat tegang. Arga duduk di sampingnya, membawa secangkir teh hangat. Dia menatap Siska dengan penuh kelembutan, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya kepada wanita itu. "Minum ini dulu, Siska. Kamu butuh energi untuk menghadapi hari ini," ucap Arga dengan suara yang sangat tenang. Arga meletakkan cangkir itu di meja kecil, lalu dia memutar tubuh Siska agar menghadapnya. Dia memegang kedua pipi Siska, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Dengarkan aku, sayang," bisik Arga. "Kita tidak boleh mundur. Semakin kita menunjukkan kelemahan, semakin Hendri merasa berkuasa. Kita harus memutus sumber kekuatannya, yaitu uangnya. Tanpa uang, dia tidak bisa membayar orang-orang jahat itu." Siska menatap mata Arga yang berkilauan karena keyakinan. "Kamu yakin ini akan berhasil?" Arga mencium kening Siska dengan sangat lama. "Aku berjanji dengan nyawaku. Kita harus memastikan Hendri tidak punya kekuatan lagi untuk melarik

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 100

    Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk dikediaman Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana. Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya. Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wanita yang

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 11

    "Halo. Saya Coach Arga, pelatih pribadi ibu kamu. Dan kamu pasti Grace, kan? Kebetulan sekali kamu mendaftar hari ini, karena mulai besok saya yang akan mengurus kalian berdua di tempat ini." Darah di sekujur tubuh Siska terasa membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum a

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 10

    Siska menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat menghitam karena kurang tidur. Sentuhan hangat bibir Arga pada bekas luka bakarnya kemarin seolah masih menempel di kulit betisnya. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik biasa. Bagi Siska, ciuman

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 9

    "Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!" Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 8

    Pagi itu Siska terbangun dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Bayangan mobil sport hitam Arga yang terparkir di seberang jalan restoran tadi malam terus menghantuinya. Pesan singkat pria itu tentang air matanya seolah menjadi bukti bahwa tidak ada satu inci pun dari hidupnya yang luput dari pe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status