MasukCahaya di wajah Ndari mendadak padam saat ia seseorang mendobrak pintu Paviliun Kantil. Dia adalah Kamakarna.
“Yang Mulia!” Mata Ndari membulat.
“PUTRI MAHKOTA!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” Kamakarna membanting pintu, menciptakan dentuman keras.
Semua yang ada di sana berlutut, kecuali Muniratri. Tubuhnya lemas tak bisa digerakkan.
“Yang Mulia, ini hanya salah paham,” dalih Ndari.
Kamakarna melangkah ke depan. Sorot matanya t
Selama Ndari menjadi istri Kamakarna, lelaki tersebut sangat jarang mengunjungi Paviliun Melati. Padahal jarak tempat tinggal keduanya tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga ratus meter.Karena pengabaian Kamakarna, status Ndari sebagai Putri Mahkota Badra hanya sebatas gelar. Para bawahan tidak sepenuhnya memandang Ndari sebagai majikan mereka. Bahkan Dayang senior seperti Gendhis pun berani meremehkannya.Meski dipandang sebelah mata oleh orang-orang, Ndari tidak menunjukkan kelemahannya. Alih-alih menghukum mereka yang kurang ajar terhadapnya, Ndari justru diam saja dan menganggap masalah itu sebagai angin lalu.Namun semua berbeda sejak Prameswari Widuri memberikan tanggung jawab mengatur Kompleks Keputren. Perempuan itu mulai menunjukkan cakar yang selama ini dia sembunyikan.Awalnya, Kamakarna tak peduli apa pun tentang Ndari. Namun sejak perempuan itu berani menyerang Muniratri secara terang-terangan, lelaki tersebut tak bisa menutup mata begitu sa
Menerobos Aula Hutama merupakan kejahatan besar. Raden Cakrasurya tak bisa mengelak dari hukuman, apalagi ia melakukannya saat rapat pagi sedang dilaksanakan. Hukuman yang ia terima tak main-main.“Tangani dia.” Prabu Bahuwirya memberi instruksi kepada Kasim Swari untuk membawa Raden Cakrasurya keluar dari Aula Hutama.“Baik, Baginda.” Kasim tersebut mengangguk.Swari membawa dua prajurit untuk mengeluarkan sang Senapati dari ruang rapat. Kasim itu menahan Cakrasurya di serambi. Ia tak boleh keluar dari sana tanpa perintah dari Bahuwirya.“Kita lanjutkan rapatnya,” titah sang Ratu Badra“Pembahasan terakhir sampai di mana?” tanyanya kepada para peserta rapat.Pengusiran Raden Cakrasurya dari Aula Hutama menjadi bahan cemoohan orang-orang. Atas instruksi Bahuwriya, para pejabat itu pun melanjutkan agenda yang sempat tertunda.“Baginda, masih tentang kunyit. Berdasarkan penuturan par
Politik tidak mengenal kawan maupun keluarga. Ia hanya mengenal satu kata, kepentingan. Raden Cakrasurya paham betul akan hal itu.Berdasarkan penyelidikan kebakaran pabrik tekstil, lelaki itu menyadari bahwa api yang berkobar pada malam itu adalah bentuk nyata perang politik. Jika tidak bertindak hati-hati, Cakrasurya khawatir ia dan keluarga akan terseret ke dalam masalah.“Ayah!” Ndari yang sedang menikmati jamu kunyit asam langsung bangkit saat ayahnya datang berkunjung ke Paviliun Melati.Perempuan itu menghamburkan diri ke sisi sang ayah. Dia menarik lelaki itu agar segera duduk.“Kebetulan sekali ayah datang. Aku baru saja dapat sirih dan kinang yang bagus.” Ndari meletakkan piti berisi kedua barang tersebut di hadapan Cakrasurya.“Yang Mulia, saya ke sini bukan untuk ....” ucapan Raden Cakrasurya menggantung di udara.Belum sempat merampungkan kalimatnya, lelaki itu sudah mendapat sambutan dingin d
Penyelidikan kebakaran pabrik tekstil Karaton Badra ditangani oleh Pasukan Pengamanan Ibu Kota yang dipimpin langsung oleh Raden Cakrasurya, ayah Ndari.Lelaki tersebut memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penyelidikan mendalam dan menyeluruh untuk mengetahui penyebab kebakaran. Semua petunjuk harus diperiksa, bahkan yang kecil sekali pun.“Lapor Senapati, hasil penyelidikan sudah keluar,” ujar Bima, bawahan Cakrasurya.“Bagaimana hasilnya?” Sorot mata Raden Cakrasurya berbinar. Ia tidak sabar ingin mendengar laporan sang anak buah.Bima menarik napas perlahan. Ia mengumpulkan stok keberanian dalam dirinya karena laporan yang ia buat dapat menimbulkan gejolak di pemerintahan.Kesatria itu menaruh laporan di atas meja kerja Cakrasurya. Hatinya dipenuhi perasan waswas.“Karaton Badra memiliki lima pabrik tekstil yang beroperasi aktif. Empat pabrik berlokasi di Ibu Kota, sedangkan yang lain berada di wilayah Gumuk.” Bima mengulum bibir untuk meredakan kegugupan.“Pabrik tekstil y
Karaton Badra mengandalkan dua hal untuk menopang kas keuangan. Upeti dan monopoli bisnis.Ratu Badra penguasa tertinggi yang mengatur sektor pangan, sandang, serta bumi dan mineral. Untuk mendukung kekuasaannya, ia memiliki aset vital seperti pabrik kain, Badan Pangan, tambang mineral dan juga pabrik senjata.Dalam praktik di lapangan, Ratu Badra tidak mengurus bisnisnya secara langsung. Ia dibantu oleh putra mahkota mengelola sektor sandang dan pangan di bagian hulu. Di bagian hilir, para pangeran yang ambil peran.“Yang Mulia!” Ganendra berdiri di depan pintu kediaman Prameswari Widuri.Ia tidak berani masuk ke dalam. Lelaki itu tahu, harus menghindari masalah.Kamakarna melihat ekspresi ajudannya. Ia memiliki firasat buruk. Sang Putra Mahkota pun meninggalkan Widuri dan Ndari.“Ada apa?” tanya Putra Mahkota pelan agar orang lain tidak mendengarnya.“Pabrik tekstil kebakaran,” bisik Ganendra.
Damarteja mendapat laporan dari Kesatria Wayangan mengenai kondisi terkini sang istri. Darahnya mendidih seketika.“Kenapa kamu tidak menghentikannya?” Pangeran Adipati menekan leher prajurit di hadapannya.“Ya-yang menganiaya Kanjeng Putri adalah Putri Mahkota. Jika kami ikut campur, maka dampaknya jauh lebih buruk,” terang lelaki itu.“Saat kejadian, kami juga melihat Kanjeng Putri samar-samar tersenyum. Jadi kami kira ....” Prajurit yang bersangkutan terlempar ke dinding.Informasi yang disampaikan oleh bawahannya membuat Damarteja meradang. Hatinya memanas seperti air mendidih.Saat ia mengunjungi Muniratri, wanita itu sempat memperingatkan Damarteja untuk tidak mengacaukan rencananya. Lelaki itu pun menurut.Ia pikir sang istri akan melakukan cara murahan seperti biasa. Tak disangka, wanita itu malah mempertaruhkan hidupnya sendiri. Pangeran Adipati pun frustrasi.“Kalian boleh pergi.&rdq







