LOGINSelama beberapa hari di dalam ruangan panas, Jaka Srenggi terus menerus menyerap energi murni dari api neraka.
Hal itu membuat tubuh Jaka Srenggi dipenuhi dengan aura panas yang sangat kuat, dan rasanya Jaka Srenggi ingin tumpahkan semuanya lewat satu pukulan. Jaka Srenggi berusaha untuk bebaskan diri dari totokan dewa Jasin, namun ternyata totokan itu sangat kuat. "Sungguh tak ku duga kalau kekuatan totokan dewa Jasin sangat kuat," kata Jaka Srenggi. Setelah itu, Jaka Srenggi memilih untuk duduk lagi, namun kali ini dia tak lagi menyerap energi murni dari api neraka karena dia merasa semuanya sia-sia kalau dia tak bisa lepas dari totokan dewa Jasin. Baru saja Jaka Srenggi menutup matanya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan dewa Jasin sudah ada di pintu ruangan itu. "Ikuti aku, Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Kita akan kemana?" tanya Jaka Srenggi. "Tidak usah banyak tanya, ikuti saja aku!" kata dewa Jasin dan langkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan berhawa panas itu. Jaka Srenggi tidak bertanya lagi, dan ikuti Dewa Jasin yang sejak Jaka Srenggi masuk ke dalam neraka, menjadi dewa pendamping bagi Jaka Srenggi. Kali ini mereka berdua berjalan cukup lama, dan bahkan melewati pasang pasir yang sangat luas. "Akan kemana kita, dewa Jasin?" tanya Jaka Srenggi. "Kita tidak akan kemana-mana, Jaka Srenggi! Kita masih tetap di dalam neraka ini!" kata dewa Jasin. "Aku juga tahu kalau kita masih di dalam neraka dewa Jasin, namun ini tak seperti yang aku duga!" kata Jaka Srenggi. "Sudah aku katakan, ikuti saja aku, jangan banyak bicara ataupun bertanya. Kita pasti akan sampai di tujuan kita!" kata dewa Jasin. "Baiklah, aku akan diam, dan ikuti dirimu, dewa Jasin!" kata Jaka Srenggi. "Itu memang lebih baik!" kata dewa Jasin. Setelah itu mereka berdua berjalan tanpa bicara, hingga mereka terus melewati padang pasir yang sangat luas, seolah-olah pasang pasir itu tak memiliki ujung. Namun karena merasa perjalanan itu sudah cukup jauh, Jaka Srenggi kembali bicara. "Apakah kita hanya akan berjalan di padang pasir ini, dewa Jasin?" tanya Jaka Srenggi. "Kita akan segera sampai Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Dimana?" "Ke tujuan kita!" jawab dewa Jasin. Jaka Srenggi menunggu tujuan mana yang akan mereka capai, yang jelas mereka masih tetap berada di tengah-tengah padang pasir tanpa ujung. Bammmmmmm!! Tiba-tiba saja, dewa Jasin hentakkan kakinya ke pasir yang panas, dan seketika itu juga pasir yang ada di hadapan mereka terbelah jadi dua bagian. "Kita sudah sampai, Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. Dan benar saja, di depan mereka, tepatnya di bawah padang pasir itu ada sebuah gerbang yang terbenam ke dalam padang pasir itu. Mereka berdua melompat, dan mendarat tepat di depan gerbang raksasa di hadapan mereka. "Buka gerbang ini!" teriak dewa Jasin. Brollll!! Suara keras terdengar saat gerbang raksasa itu terbuka, dan itu jadi pintu masuk bagi Jaka Srenggi dan dewa Jasin untuk masuk ke dalam neraka itu. Saat mereka masuk, Jaka Srenggi melihat semua yang ada di balik gerbang itu berwarna merah karena hawa panas di dalam neraka itu. "Ikuti aku Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Baik," kata Jaka Srenggi dan berjalan tepat di belakang dewa pendamping baginya itu. Saat mereka masuk lebih jauh, seorang penjaga neraka sambut mereka, dan ia melihat Jaka Srenggi, namun di matanya ada tatapan waspada. "Bawa kami ke ruangan Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Baik, dewa Jasin!" kata penjaga neraka itu. Mereka bertiga kembali berjalan, dan melewati semua yang ada di samping mereka, dan Jaka Srenggi melihat ada banyak ruangan yang terkunci sangat rapat. Hingga akhirnya, mereka berdua dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang lagi-lagi memiliki aura yang sangat panas. "Mulai hari ini hingga waktu yang tak ditentukan kau akan di sini, Jaka Srenggi!" kata panjaga neraka itu pada Jaka Srenggi. "Aku tahu!" kata Jaka Srenggi. Setelah itu, penjaga neraka itu meninggalkan Jaka Srenggi bersama dengan dewa Jasin di dalam ruangan itu. Dewa Jasin melepaskan napas yang besar, itu sebuah tanda kalau dia kelelahan dalam perjalanan menuju neraka ini. "Dimana kita saat ini, dewa Jasin?" tanya Jaka Srenggi. "Kita berada di neraka tingkat sembilan, Jaka Srenggi!" "Neraka tingkat sembilan?" kata Jaka Srenggi bingung. "Iya!" kata dewa Jasin dan bangkit untuk berdiri. Tukkkkkk!! Setelah itu, dewa Jasin membuka totokan di tubuh Jaka Srenggi, yang mana itu membuat semua kekuatan Jaka Srenggi yang terkunci kini telah lepas. "Kau melepaskan kekuatan yang aku miliki, dewa Jasin?" tanya Jaka Srenggi. "Iya, apa ada yang salah?" "Aku hanya ingin tahu alasannya?" "Kau berada di neraka tingkat sembilan, dan ini memiliki julukan neraka kekuatan!" jawab dewa Jasin. "Neraka kekuatan?" "Iya, neraka ini tak ubahnya dunia persilatan, yang mana siapa yang kuat, dia yang akan berkuasa!" kata dewa Jasin. Mata Jaka Srenggi berbinar karena dia akan bertarung seperti saat menjadi manusia atau pun jadi dewa. "Jangan senang dulu Jaka Srenggi, lawan-lawan yang kau hadapi di neraka kekuatan ini, bukan lawan yang biasa. Banyak dewa-dewa kuat yang berada di neraka tingkat sembilan ini!" kata dewa Jasin. "Benarkah itu?" tanya Jaka Srenggi. "Iya, dan asal kau tahu, penghuni neraka ini mungkin sudah memiliki kekuatan sebanding dengan kekuatan yang kau miliki saat masih hidup, bahkan ada yang lebih kuat!" "Apa? Masih ada yang lebih kuat dari pada kekuatan yang aku miliki?" kata Jaka Srenggi kaget bukan main. "Iya, dan kematian di dalam neraka ini, tak ubahnya hal biasa, karena itu hukuman bagi mereka yang terhukum, sama seperti dirimu!" kata dewa Jasin. Meskipun merasa ragu, namun ada semangat di mata Jaka Srenggi, karena akan bertemu dengan lawan yang lebih kuat dari pada dirinya. "Oh satu lagi, dewa perang sebelum dirimu juga ada di sini, Jaka Srenggi!" "Dewa perang Shu Ban, ada di sini?" kata Jaka Srenggi tidak percaya. "Iya, dan ia jelas akan jadi salah satu musuh yang akan kau hadapi di neraka ini, Jaka Srenggi!" "Aku penasaran, sekuat apa dia sekarang?" kata Jaka Srenggi. "Dewa perang Shu Ban saat ini, merupakan satu dari sepuluh roh terkuat di neraka ini. Jadi sebaiknya kau hati-hati, Jaka Srenggi!" "Aku mengerti!" "Dan mereka yang ada di peringkat satu sampai lima, pasti tidak akan suka kedatanganmu!" "Kenapa?" tanya Jaka Srenggi ingin tahu. "Mereka tidak ingin posisi mereka dalam sepuluh besar tergusur, jadi siap-siaplah untuk bertarung saat kau keluar dari ruangan ini," kata dewa Jasin. "Aku penasaran, sekuat apa mereka?" gumam Jaka Srenggi.Jaka Srenggi sungguh kaget karena ucapan penjaga neraka tingkat sembilan itu, dan Jaka Srenggi sungguh ingin tahu apa alasannya.Namun sebelum Jaka Srenggi bertanya, panjaga neraka itu sudah bisa menebak apa yang akan Jaka Srenggi tanyakan itu. "Jangan lupa saat ini kau berada dimana, Jaka Srenggi? Saat ini kau berada di neraka kekuatan, dan kematian karena pertarungan hal biasa di sini. Dan itu wajib kau hadapi, jika kau menolak, maka hukuman yang tak bisa kau bayangkan akan kau terima!" kata penjaga neraka itu. "Ini sungguh aneh!" kata Jaka Srenggi."Diam Jaka Srenggi, jangan harap kau akan dapatkan keistimewaan, kau sama dengan semua yang ada di neraka ini. Jadi terima tantangan itu, dan ikuti aturan yang ada di neraka tingkat sembilan ini!" kata Penjaga neraka itu. "Baiklah, apa boleh buat!" kata Jaka Srenggi.Setelah Jaka Srenggi katakan itu, barulah penjaga neraka itu tinggalkan Jaka Srenggi, dan semua orang penasaran siapa orang yang menantang Jaka Srenggi itu. "Aku yakin,
Beberapa purnama sebelumya, saat Jaka Srenggi masih berada dalam belenggu neraka. Seorang lelaki dengan pakaian kuning masuk ke neraka kekuatan, dan pakaian yang ia gunakan bukan pakaian yang biasa, namun itu adalah jubah pelindung yang ia miliki.Saat ia masuk ke neraka kekuatan, semua penghuni neraka gempar karena keberadaan dirinya dalam di neraka. "Tidak mungkin! Dia tidak mungkin ada di sini!" kata dewa perang Shu Ban.Dewa perang Shu Ban merupakan penghuni terkuat di neraka kekuatan, dan dia berada di posisi puncak dari semua yang terkuat di neraka kekuatan itu. Namun, hadirnya orang itu membuat neraka kekuatan cukup gempar, dan yakin kalau posisi dewa perang Shu Ban akan segera digusur oleh orang yang baru datang itu. Sosok itu tak lain adalah Dewa Ra, dia dikatakan sebagai salah satu dewa pelindung Sang Penguasa, namun tak ada yang tahu hingga ia masuk ke dalam neraka Kekuatan.Sesuai dengan dugaan semua penghuni neraka kekuatan, hal pertama yang dilakukan oleh dewa Ra ad
Selama beberapa hari di dalam ruangan panas, Jaka Srenggi terus menerus menyerap energi murni dari api neraka. Hal itu membuat tubuh Jaka Srenggi dipenuhi dengan aura panas yang sangat kuat, dan rasanya Jaka Srenggi ingin tumpahkan semuanya lewat satu pukulan. Jaka Srenggi berusaha untuk bebaskan diri dari totokan dewa Jasin, namun ternyata totokan itu sangat kuat."Sungguh tak ku duga kalau kekuatan totokan dewa Jasin sangat kuat," kata Jaka Srenggi.Setelah itu, Jaka Srenggi memilih untuk duduk lagi, namun kali ini dia tak lagi menyerap energi murni dari api neraka karena dia merasa semuanya sia-sia kalau dia tak bisa lepas dari totokan dewa Jasin. Baru saja Jaka Srenggi menutup matanya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan dewa Jasin sudah ada di pintu ruangan itu. "Ikuti aku, Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Kita akan kemana?" tanya Jaka Srenggi."Tidak usah banyak tanya, ikuti saja aku!" kata dewa Jasin dan langkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan berhawa panas itu.
Bersama dengan dewa Jasin, Jaka Srenggi dibawa masuk ke dalam neraka tingkat tiga, dan reaksi yang diperlihatkan oleh penjaga neraka tingkat tiga sungguh kaget bukan kepalang. "Dewa perang Jaka Srenggi!" desis penjaga neraka tingkat tiga itu. "Masukkan dia ke salah satu ruangan!" kata dewa Jasin. "Baik!" kata penjaga neraka itu. Dengan gemetaran penjaga neraka itu membawa Jaka Srenggi ke salah satu ruangan yang sangat panas, dan meninggalkan Jaka Srenggi di dalam ruangan itu. "Dewa Jasin, untuk apa kau bawa dewa perang Jaka Srenggi ke neraka tingkat tiga?" tanya penjaga neraka tingkat tiga. "Aku tak tahu harus bawa dia kemana? Tidak mungkin aku langsung bawa dia ke neraka tingkat sembilan!" "Kenapa tidak mungkin?""Itu akan membuat Jaka Srenggi curiga, penjaga neraka!" kata dewa Jasin. "Aku tidak menerima dia di sini, ikut denganku!" kata penjaga neraka tingkat tiga. Dewa Jasin mengerutkan dahinya, dan ikuti penjaga neraka, dan ternyata mereka menuju ke arah ruangan dewa nera
Pilihan demi pilihan selalu yang jadi hukuman bagi Jaka Srenggi saat berada di neraka tingkat dua saat ini. Namun, hingga saat ini, satu pun tak pernah Jaka Srenggi memberikan jawaban yang tepat."Jaka Srenggi, sesungguhnya apa yang ada dalam pikiranmu?" "Aku selalu mengikuti apa kata hatiku, aku tidak akan melibatkan emosi dalam memilih sesuatu!" kata Jaka Srenggi."Jika hanya itu yang ada dalam hidupmu, bagaimana bisa kau jadi seorang dewa perang?""Sepertinya pertanyaan itu bukan untukku, tapi pada Sang Penguasa!" kata Jaka Srenggi dengan sangat tenang. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu Jaka Srenggi, kau sungguh terlalu tidak tahu apa-apa!" "Berikan saja aku pilihan yang berikutnya!" kata Jaka Srenggi."Ini akan jadi pilihan yang terakhir untukmu, dan aku harap kau bisa memberikan pilihan ataupun jawaban yang tepat!""Akan aku usahakan!" kata Jaka Srenggi."Aku ingin kau menjawab ini dengan benar, cobalah untuk benar, satu saja, Jaka Srenggi!" "Akan aku usahakan!"
Brakkkk!!Tiba-tiba saja, lantai pijakan Jaka Srenggi retak, dan tubuh Jaka Srenggi pun jatuh kembali ke dalam neraka yang bersuhu sangat panas."Tidak!" teriak Jaka Srenggi karena merasakan rasa panas yang menyengat seluruh tubuhnya. Namun, setelah tubuh Jaka Srenggi berubah jadi abu, roh Jaka Srenggi pun kembali muncul di ruangan pilihan."Kenapa bisa pilihan yang aku buat salah?" tanya Jaka Srenggi."Kau harus memilih yang banyak dari pada yang hanya satu orang!" kata penjaga neraka tingkat dua."Tapi kondisinya jauh lebih buruk, dia pasti akan mati jika tak aku tolong!" kata Jaka Srenggi."Kondisi mereka juga sama, mereka juga butuhkan bantuan darimu!" "Tapi dia jauh lebih membutuhkan bantuan dariku!" "Hahaha! Jaka Srenggi, kau masih memikirkan tentang hal itu?""Jelas, aku tahu kalau dia yang pantas untuk diselamatkan!""Baik, mungkin kau merasa benar, namun kau harus melihat peluang hidup seseorang itu Jaka Srenggi!""Aku melihat peluang dia untuk hidup cukup besar!""Bagaima







