เข้าสู่ระบบPilihan demi pilihan selalu yang jadi hukuman bagi Jaka Srenggi saat berada di neraka tingkat dua saat ini.
Namun, hingga saat ini, satu pun tak pernah Jaka Srenggi memberikan jawaban yang tepat. "Jaka Srenggi, sesungguhnya apa yang ada dalam pikiranmu?" "Aku selalu mengikuti apa kata hatiku, aku tidak akan melibatkan emosi dalam memilih sesuatu!" kata Jaka Srenggi. "Jika hanya itu yang ada dalam hidupmu, bagaimana bisa kau jadi seorang dewa perang?" "Sepertinya pertanyaan itu bukan untukku, tapi pada Sang Penguasa!" kata Jaka Srenggi dengan sangat tenang. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu Jaka Srenggi, kau sungguh terlalu tidak tahu apa-apa!" "Berikan saja aku pilihan yang berikutnya!" kata Jaka Srenggi. "Ini akan jadi pilihan yang terakhir untukmu, dan aku harap kau bisa memberikan pilihan ataupun jawaban yang tepat!" "Akan aku usahakan!" kata Jaka Srenggi. "Aku ingin kau menjawab ini dengan benar, cobalah untuk benar, satu saja, Jaka Srenggi!" "Akan aku usahakan!" kata Jaka Srenggi. "Jika kau kembali hidup, kau ingin jadi apa? Jadi manusia, jadi dewa, atau tetap jadi roh?" tanya penjaga neraka Tingkat Dua. Jaka Srenggi menutup matanya, dan memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. "Aku berikan kau waktu, kau pikirkan saja jawaban yang akan kau berikan padaku!" kata penjaga neraka tingkat dua dan tinggalkan Jaka Srenggi dengan wajah yang kesal. "Hahaha, bagaimana? Apakah dia berhasil?" tanya dewa Jasin. "Aku tidak tahu apakah dia itu bodoh atau bagaimana? Sampai saat ini dia hanya memiliki poin nol. Tak ada satu pun jawaban yang ia berikan benar!" "Itulah Jaka Srenggi, dia bicara lewat pikiran yang ia yakini!" kata dewa Jasin. "Kau sungguh kenal dia?" "Dia itu pernah tinggal cukup lama di Dimensi Sang Penguasa, jadi sedikit banyaknya, aku tahu tentang dia!" jawab dewa Jasin. "Jika jawaban yang ia berikan salah lagi, apakah dia akan tetap menuju neraka tingkat tiga?" tanya penjaga neraka tingkat dua. "Sesungguhnya dia hanya harus ke neraka tingkat satu untuk melatih amarahnya, namun tak mungkin aku langsung bawa dia ke neraka tingkat sembilan, itu akan membuat dia curiga!" kata dewa Jasin. "Kalau soal kemarahan, aku melihat Jaka Srenggi sudah mampu menahan amarahnya!" "Iya, itu yang paling penting. Dia itu dewa perang, dan selamanya akan jadi dewa perang, hanya saja dia harus mampu meredam api amarah dalam dirinya!" kata dewa Jasin. "Baiklah, terserah padamu, kau yang paling tahu, dewa Jasin!" kata penjaga neraka tingkat dua itu. Dewa Jasin melihat Jaka Srenggi dengan mata bathin yang mampu menembus ruangan pilihan, dimana saat ini Jaka Srenggi berada. "Kau di sini bukan untuk main-main Jaka Srenggi, kau akan segera tahu tujuan sebenarnya di sini, dan kau harus mampu!" kata dewa Jasin. Sementara itu, di dalam ruangan pilihan. Jaka Srenggi masih berpikir tentang jawaban dari pertanyaan penjaga neraka tingkat dua, dan Jaka Srenggi cukup bingung akan hal itu. "Aku sudah tahu bagaimana bosannya hidup menjadi seorang dewa? Mereka hanya mengurus sesuatu yang menyangkut tugas mereka sebagai bangsa dewa! Aku tak inginkan itu!" ucap Jaka Srenggi. "Sementara jadi bangsa manusia, aku akan dihadapkan pada masalah yang tak ada habisnya, masalah yang akan terus berakar hingga ke anak cucu!" kata Jaka Srenggi. Setelah itu Jaka Srenggi tersenyum, karena ia telah menemukan jawaban dari pilihan yang diberikan padanya. "Ini bukan pertanyaan, tapi sebuah pilihan, dan aku akan memilih!" kata Jaka Srenggi. Jaka Srenggi berjalan-jalan di sekitar ruangan itu sambil menunggu kedatangan penjaga neraka tingkat dua. "Berapa lama lagi aku harus menunggu dia datang?" kata Jaka Srenggi yang mulai bosan menunggu. Jaka Srenggi tidak tahu apa hukuman yang harus dia terima jika dia salah dalam menjawab, namun Jaka Srenggi pasti yakin kalau roh akan kembali dibakar. Tak berapa lama, penjaga neraka tingkat dua pun datang, dan ia sangat penasaran akan jawaban dari Jaka Srenggi. "Baiklah Jaka Srenggi, apa pilihanmu dari yang tiga itu?" tanya penjaga neraka tingkat dua. "Jika aku pilih bangsa dewa, aku tahu kalau hidup mereka sangat membosankan. Seperti dirimu, yang hanya memberikan pilihan pada roh dari waktu ke waktu!" kata Jaka Srenggi. "Sialan kau, Jaka Srenggi?" gumam penjaga neraka tingkat dua kesal akan ucapan Jaka Srenggi. "Jika aku memilih jadi bangsa manusia, aku sudah tahu kalau bangsa manusia selalu dipenuhi dengan masalah yang tak ada habisnya, dan aku tak akan memilih itu!" kata Jaka Srenggi lagi. "Tidak usah bertele-tele Jaka Srenggi, katakan saja pada pilihanmu?" bentak penjaga neraka kesal pada Jaka Srenggi. "Aku memilih jadi roh yang bebas!" jawab Jaka Srenggi. "Sialan!" teriak penjaga neraka tingkat dua. Penjaga neraka itu sampai garuk-garuk kepala karena kesal pada Jaka Srenggi. Dia tak menduga akan itu jawaban Jaka Srenggi. "Kenapa kau memilih jadi roh?' "Aku tidak tahu, aku belum pernah merasakan jadi roh. Aku merasa itu pilihan yang cukup menyenangkan!" jawab Jaka Srenggi dengan entengnya. "Dasar roh keparat, selama aku menjadi penjaga neraka ini, kau satu-satunya roh yang memiliki poin nol!" bentak penjaga neraka tingkat dua itu. "Semua jawabanku bisa diterima akal sehat manusia, namun tidak oleh kalian!" kata Jaka Srenggi. "Dasar sialan! Ikuti aku!" bentak penjaga neraka tingkat dua. Saking kesalnya, penjaga neraka itu menarik paksa tangan Jaka Srenggi, dan menyeret tubuh Jaka Srenggi ke pintu keluar dari dalam neraka tingkat dua itu. "Ada apa ini?" tanya Jaka Srenggi. "Pergi kau dari sini, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!" teriak penjaga neraka itu. "Kenapa kau marah padaku?" tanya Jaka Srenggi. "Tidak hanya aku, penjaga neraka yang lain pasti akan kesal juga jika mendapatkan roh seperti, Jaka Srenggi!" teriak penjaga neraka itu. "Aku akan kemana?" tanya Jaka Srenggi. "Bukan urusanku!" teriak penjaga neraka tingkat dua dan menutup gerbang neraka itu. "Ada apa dengan mereka, kenapa dia malah marah padaku?" kata Jaka Srenggi kesal. Dan tahu-tahu, dewa Jasin muncul di hadapan Jaka Srenggi, yang mana itu membuat Jaka Srenggi sampai jatuh dan terduduk. "Dewa Jasin, apa kau tidak bisa menujukkan dirimu tanpa membuat aku terkejut?" tanya Jaka Srenggi. "Bukan itu alasanku datang, namun aku datang ingin tahu, kau mampu memberikan pilihan, hingga kau dilepaskan dari neraka tingkat dua, Jaka Srenggi?" tanya dewa Jasin. "Tidak, satu pun pilihan yang diberikan padaku, semuanya salah!" jawab Jaka Srenggi. "Jadi bagaimana bisa aku bebas dari neraka tingkat dua, Jaka Srenggi?" "Aku tidak tahu, mungkin ia kesal atau kasihan padaku!" "Itu tidak harus kau pikirkan, yang jelas kau sudah keluar dari neraka tingkat dua, artinya kau dianggap berhasil!" "Jadi kemana sekarang?" tanya Jaka Srenggi. "Neraka Tingkat tiga!" jawab dewa Jasin dan langkahkan kakinya. "Dewa Jasin, berapa tingkat neraka ini?" "Sepuluh tingkat, dan semuanya harus kau lalui agar kau bisa direinkanasi, Jaka Srenggi!' "Sepuluh tingkat! Berapa lama waktu yang aku butuhkan?" tanya Jaka Srenggi. "Waktu paling cepat adalah seratus tahun!" "Seratus tahun, apakah itu cepat?" "Mungkin bagimu lama, namun bagiku itu waktu yang singkat!" jawab dewa Jasin. Jaka Srenggi menatap dewa Jasin karena ucapannya itu. "Apakah dia pandai dalam berhitung tahun?" gumam Jaka Srenggi.Tepat di tengah-tengah bukit merah, Jaka mendarat, dan tetua Shin Jia telah menunggu kedatangan Jaka Srenggi."Jangan pura-pura tidak mengenal diriku, Jaka Srenggi !" teriak tetua Shin Jia saat melihat wajah Jaka Srenggi yang masih mencoba ingat-ingat siapa dirinya. "Aku seperti mengenal dirimu, namun dimana?" kata Jaka Srenggi."Jangan tidak ingat dengan diriku, Kurang ajar. Kita memang telah tak bertemu dua ratus tahun lamanya, namun aku tak melupakan kekalahan darimu, Jaka Srenggi, aku tetua Shin Jia! Aku, kau kalahkan saat berada di kekaisaran Tang, keparat!" maki tetua Shin Jia."Aku sudah ingat, bagaimana di neraka ini, tetua? Apa menyenangkan?" "Kurang ajar!"Haaaaaaaaaaa!!Tetua Shin Jia tidak mampu menahan diri lagi, dan langsung kerahkan tenaga dalam, dan menekan Jaka Srenggi dengan tekanan yang sangat kuat. "Kau meningkat saat sudah berada di neraka ini, tetua Shin Jia!" kata Jaka Srenggi."Kurang ajar, hadapi aku!" teriak tetua Shin Jia dan akan maju menyerang Jaka Sren
Jaka Srenggi sungguh kaget karena ucapan penjaga neraka tingkat sembilan itu, dan Jaka Srenggi sungguh ingin tahu apa alasannya.Namun sebelum Jaka Srenggi bertanya, panjaga neraka itu sudah bisa menebak apa yang akan Jaka Srenggi tanyakan itu. "Jangan lupa saat ini kau berada dimana, Jaka Srenggi? Saat ini kau berada di neraka kekuatan, dan kematian karena pertarungan hal biasa di sini. Dan itu wajib kau hadapi, jika kau menolak, maka hukuman yang tak bisa kau bayangkan akan kau terima!" kata penjaga neraka itu. "Ini sungguh aneh!" kata Jaka Srenggi."Diam Jaka Srenggi, jangan harap kau akan dapatkan keistimewaan, kau sama dengan semua yang ada di neraka ini. Jadi terima tantangan itu, dan ikuti aturan yang ada di neraka tingkat sembilan ini!" kata Penjaga neraka itu. "Baiklah, apa boleh buat!" kata Jaka Srenggi.Setelah Jaka Srenggi katakan itu, barulah penjaga neraka itu tinggalkan Jaka Srenggi, dan semua orang penasaran siapa orang yang menantang Jaka Srenggi itu. "Aku yakin,
Beberapa purnama sebelumya, saat Jaka Srenggi masih berada dalam belenggu neraka. Seorang lelaki dengan pakaian kuning masuk ke neraka kekuatan, dan pakaian yang ia gunakan bukan pakaian yang biasa, namun itu adalah jubah pelindung yang ia miliki.Saat ia masuk ke neraka kekuatan, semua penghuni neraka gempar karena keberadaan dirinya dalam di neraka. "Tidak mungkin! Dia tidak mungkin ada di sini!" kata dewa perang Shu Ban.Dewa perang Shu Ban merupakan penghuni terkuat di neraka kekuatan, dan dia berada di posisi puncak dari semua yang terkuat di neraka kekuatan itu. Namun, hadirnya orang itu membuat neraka kekuatan cukup gempar, dan yakin kalau posisi dewa perang Shu Ban akan segera digusur oleh orang yang baru datang itu. Sosok itu tak lain adalah Dewa Ra, dia dikatakan sebagai salah satu dewa pelindung Sang Penguasa, namun tak ada yang tahu hingga ia masuk ke dalam neraka Kekuatan.Sesuai dengan dugaan semua penghuni neraka kekuatan, hal pertama yang dilakukan oleh dewa Ra ad
Selama beberapa hari di dalam ruangan panas, Jaka Srenggi terus menerus menyerap energi murni dari api neraka. Hal itu membuat tubuh Jaka Srenggi dipenuhi dengan aura panas yang sangat kuat, dan rasanya Jaka Srenggi ingin tumpahkan semuanya lewat satu pukulan. Jaka Srenggi berusaha untuk bebaskan diri dari totokan dewa Jasin, namun ternyata totokan itu sangat kuat."Sungguh tak ku duga kalau kekuatan totokan dewa Jasin sangat kuat," kata Jaka Srenggi.Setelah itu, Jaka Srenggi memilih untuk duduk lagi, namun kali ini dia tak lagi menyerap energi murni dari api neraka karena dia merasa semuanya sia-sia kalau dia tak bisa lepas dari totokan dewa Jasin. Baru saja Jaka Srenggi menutup matanya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan dewa Jasin sudah ada di pintu ruangan itu. "Ikuti aku, Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Kita akan kemana?" tanya Jaka Srenggi."Tidak usah banyak tanya, ikuti saja aku!" kata dewa Jasin dan langkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan berhawa panas itu.
Bersama dengan dewa Jasin, Jaka Srenggi dibawa masuk ke dalam neraka tingkat tiga, dan reaksi yang diperlihatkan oleh penjaga neraka tingkat tiga sungguh kaget bukan kepalang. "Dewa perang Jaka Srenggi!" desis penjaga neraka tingkat tiga itu. "Masukkan dia ke salah satu ruangan!" kata dewa Jasin. "Baik!" kata penjaga neraka itu. Dengan gemetaran penjaga neraka itu membawa Jaka Srenggi ke salah satu ruangan yang sangat panas, dan meninggalkan Jaka Srenggi di dalam ruangan itu. "Dewa Jasin, untuk apa kau bawa dewa perang Jaka Srenggi ke neraka tingkat tiga?" tanya penjaga neraka tingkat tiga. "Aku tak tahu harus bawa dia kemana? Tidak mungkin aku langsung bawa dia ke neraka tingkat sembilan!" "Kenapa tidak mungkin?""Itu akan membuat Jaka Srenggi curiga, penjaga neraka!" kata dewa Jasin. "Aku tidak menerima dia di sini, ikut denganku!" kata penjaga neraka tingkat tiga. Dewa Jasin mengerutkan dahinya, dan ikuti penjaga neraka, dan ternyata mereka menuju ke arah ruangan dewa nera
Pilihan demi pilihan selalu yang jadi hukuman bagi Jaka Srenggi saat berada di neraka tingkat dua saat ini. Namun, hingga saat ini, satu pun tak pernah Jaka Srenggi memberikan jawaban yang tepat."Jaka Srenggi, sesungguhnya apa yang ada dalam pikiranmu?" "Aku selalu mengikuti apa kata hatiku, aku tidak akan melibatkan emosi dalam memilih sesuatu!" kata Jaka Srenggi."Jika hanya itu yang ada dalam hidupmu, bagaimana bisa kau jadi seorang dewa perang?""Sepertinya pertanyaan itu bukan untukku, tapi pada Sang Penguasa!" kata Jaka Srenggi dengan sangat tenang. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu Jaka Srenggi, kau sungguh terlalu tidak tahu apa-apa!" "Berikan saja aku pilihan yang berikutnya!" kata Jaka Srenggi."Ini akan jadi pilihan yang terakhir untukmu, dan aku harap kau bisa memberikan pilihan ataupun jawaban yang tepat!""Akan aku usahakan!" kata Jaka Srenggi."Aku ingin kau menjawab ini dengan benar, cobalah untuk benar, satu saja, Jaka Srenggi!" "Akan aku usahakan!"







