MasukSetelah tujuh pembakaran dupa berlalu, akhirnya Xuan Lu membuka matanya. Ia masih terbaring di lantai bambu gazebo taman Paviliun Tamu dengan kepalanya yang kini telah bertumpu pada bantal.Sesaat pandangannya agak buram, lalu perlahan kembali jernih. Ketika ia menyadari bahwa dirinya telah kembali ke dunia nyata, ia langsung beranjak duduk dan menoleh ke kanan dan ke kiri."Apakah aku sudah kembali?" Xuan Lu langsung mencengkeram bantal yang baru saja digunakannya untuk memastikan. Ketika ia berhasil mengangkat bantal itu, ia bernapas lega. "Akhirnya aku telah kembali."Ia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi ia tidak mendapati dua pemuda yang sebelumnya bersamanya. Xuan Lu kemudian beranjak keluar dari gazebo, lalu tanpa diduga ia melihat Luo Yi dan Yun Xiao duduk di bawah pohon bunga persik. Ia langsung berjalan ke arah mereka.Luo Yi langsung berdiri, begitu pula dengan Yun Xiao. Mereka menangkupkan tinju di depan dada."Selamat datang kembali, Tuan Xuan," kata Luo Yi dengan
Ketua sekte mengerutkan kening. "Kenapa kau mengeluarkan seruling?""Karena seruling ini yang akan menceritakannya pada Anda," jawab Luo Yi dengan tenang.Ketua sekte dibuat semakin heran dengan jawaban Luo Yi, bahkan Yun Xiao yang sudah beberapa hari bersama Luo Yi juga merasa heran."Bagaimana mungkin seruling bisa melakukan itu?" tanya ketua sekte."Tentu saja bisa," jawab Luo Yi dengan tenang. "Dalam setiap alunan nada, terdapat jejak masa lalu. Dari situlah Anda dapat melihat masa lalu." "Aku tidak mengerti maksudmu, tapi mungkin aku akan mengerti setelah kau menunjukkannya," kata ketua sekte. "Silahkan tunjukkan saja."Luo Yi mengangguk, lalu ia meniup seruling perak itu, memainkan nada lembut yang menenangkan jiwa.Mendengar permainan seruling Luo Yi, tiba-tiba ketua sekte teringat sesuatu. "Lagu ini ... sepertinya aku pernah mendengarnya," batin ketua sekte. "Kalau tidak salah ...." Ketua sekte membulatkan matanya ketika teringat sesuatu. "Ini lagu yang terakhir yang dimain
Setelah menunggu beberapa dupa terbakar, akhirnya para pasukan pemanah itu terbangun dan keluar dari dunia ilusi Luo Yi."Sekarang, Anda bisa bertanya kepada mereka," kata Luo Yi dengan tenang. "Tanyakan pada mereka, apa yang mereka lihat dan rasakan di dunia ilusi itu."Ketua sekte menatap Luo Yi beberapa saat, kemudian ia mengangguk. "Baiklah."Ketua sekte melangkah mendekati mereka. Pasukan pemanahnya itu langsung menunduk begitu melihat ketua sekte berjalan mendekat. Namun, sebelum mereka menundukkan kepala, ia melihat perubahan ekspresi yang berbeda di wajah mereka.Setelah jarak antara ia dan pasukan pemanahnya hanya terpaut tiga tombak saja, pandangannya menyusuri tubuh mereka satu per satu sebelum berkata, "Katakan padaku, apakah kalian baru saja bermimpi berada di sebuah dunia ilusi?"Hening sejenak, hingga akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara, "Yang kami lihat seolah bukan mimpi, Ketua."Ketua sekte menaikkan sebelah alis. "Maksudmu?"Pasukan pemanah yang lain menya
Setelah lima dupa terbakar berlalu, Luo Yi, Yun Xiao, dan Yin Yao akhirnya tiba di Sekte Melodia. Dari ketinggian, mereka dapat melihat bangunan megah dan kokoh itu berdiri di tepi Danau Xuanming.Namun, di saat mereka hendak mendarat ke sana, puluhan anak panah menyerbu mereka. Yun Xiao secara refleks menepis serangan itu dengan Sayap Spiritual Bangau Putih.Clang! Clang! Clang!Di sisi lain, Luo Yi langsung mengaktifkan Teknik Langkah Tenang Menghanyutkan, membuat dirinya berpindah secara instan ke dekat pasukan pemanah.Melihat itu, pasukan pemanah langsung mengarahkan tembakan panahnya ke Luo Yi. Namun, sebelum mereka melepaskan anak panah, pemuda itu telah mengaktifkan Teknik Langkah Sepuluh Kabut.Ketika puluhan anak panah itu melesat mengenai sepuluh bayangan kabut Luo Yi, kabut seketika mengepul lebat, menyelimuti para pasukan pemanah itu.Yun Xiao segera mendekati kabut itu. Setelah mendarat dan menonaktifkan Sayap Spiritual Bangau Putih, ia dan Yin Yao segera mendekati Luo Y
Di pedalaman Hutan Huoluo, terdapat sebuah danau kecil yang airnya sangat jernih. Di tepi danau itu, seorang wanita muda duduk bersandar pada batang pohon sakura. Ia memainkan seruling dengan nada lembut dan menenangkan.Tiba-tiba seekor buaya raksasa muncul dari dalam danau dan bergerak ke arah wanita itu. Namun anehnya, wanita itu tetap berada di tempat dan memainkan seruling dengan tenang. Tidak ada sorot kepanikan sedikit pun di matanya.Ketika buaya itu melompat dan menerjang ke arah wanita itu, tiba-tiba seseorang melesat dengan kecepatan tinggi dan memukul buaya raksasa itu sampai terpental kembali ke danau.Buaya itu kembali berenang ke permukaan, hanya menampakkan kepalanya. Hewan itu hanya menatap pemuda yang meninjunya itu beberapa saat, lalu kembali masuk ke dalam danau.Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya ke wanita yang sedang bermain seruling itu seraya bertanya, "Hei, Nona. Apakah permainan serulingmu itu lebih penting dari nyawamu sendiri?"Wanita itu menghen
Luo Yi melanjutkan langkahnya dengan tenang, mengikuti arah datangnya alunan seruling itu. Yun Xiao mengikuti di belakangnya.Semakin mendekat, suara itu semakin jelas terdengar. Hingga pada akhirnya, pandangan keduanya menemukan sosok yang sangat dikenal mereka."Ting Ting Xir!" Yun Xiao refleks menutup kedua telinganya ketika melihat sosok yang memainkan melodi menenangkan itu ternyata adalah orang yang selama ini menjadi dalang di balik hilangnya indera pendengaran banyak orang.Ia langsung menyalurkan energi spiritual ke seluruh tubuhnya, bersiap menghadapi serangan kapan saja.Namun, Luo Yi hanya terus melangkah dengan tenang."Kakak Yi, hati-hati!" seru Yun Xiao.Luo Yi menghentikan langkahnya sejenak, lalu berkata dengan nada tenang. "Kau tidak perlu khawatir."Yun Xiao mengerutkan kening.Luo Yi memandang sosok di bawah pohon itu."Dia bukan lagi Ting Ting Xir yang kau kenal."Setelah berkata demikian, Luo Yi melanjutkan langkahnya dengan tenang, mendekati sosok yang sedang be
“Tidak akan kubiarkan!” kata seseorang yang berada di belakang Luo Yi. “Tiadak akan kubiarkan kau merebut jatahku!”Meski Luo Yi tidak mengerti dengan maksud ucapan seseorang yang di belakangnya itu, ia tetap tenang dan wajahnya tetap datar—tidak ada kerutan sedikit pun di dahinya.“Apa yang kau ma
Terlihat pada sebuah Gazebo yang terletak di tengah-tengah taman umum Kota Xianglu, seorang anak kecil memandang ke arah air mancur seraya berkata, “Paman, kenapa aku tidak bisa mendengar suara air mancur itu? Padahal biasanya ketika aku datang ke sini, aku selalu mendengar suara percikan air mancu
Di pedalaman Hutan Huoluo, terdapat satu bangunan yang sangat besar. Ada banyak ruangan di dalam bangunan ini. Di salah satu ruangan terdalam, terlihat seorang pria berjubah putih dan mengenakan kacamata tengah sibuk dengan pekerjaannya.Tangan pria itu dengan lincah menekan-nekan tombol keyboard.
“Tidak mungkin. Anda pasti bercanda.” Qing Yue memperhatikan wajah Luo Yi dengan seksama, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, ia tidak menemukan tanda-tanda kebohongan dalam ekspresi datar yang ditunjukkan Luo Yi.“Saya tidak bercanda,” kata Luo Yi. “Memang seperti itulah kenyataannya.”Qing







