แชร์

Chapt. 44

ผู้เขียน: Miss E
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-24 12:04:18

Sinar matahari pagi membias dingin di pelataran kediaman megah milik Ibu Desi.

Suasana rumah bernuansa klasik modern itu terasa amat lengang namun sarat akan ketegangan implisit.

Sebuah mobil sedan hitam mengilat milik Anton berhenti mulus di depan teras utama.

Derap langkah sepatu kulit yang berat dan mantap bergema di atas lantai pualam tatkala sang pengacara papan atas melangkah masuk usai pelayan membukakan pintu.

Ibu Desi sedang duduk bersantai di ruang tamu utama.

Wanita paruh baya bertub
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 51

    Dentum keras cangkir keramik yang diletakkan kembali ke atas permukaan meja pualam memecah keheningan ruang makan.Kopi hitam di dalamnya terpercik tipis, menciptakan riak hitam yang pekat.Anton menarik napas pendek, namun tatapan matanya sama sekali tidak lepas dari sosok Maya yang duduk tenang di seberangnya.Manik mata kelam pria itu menatap tajam, menguliti setiap detail ekspresi di wajah wanita muda yang mengenakan mini dress ketat tersebut."Sikapmu yang berubah jadi berani dan menantang ini..." suara bariton Anton bergema rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang menusuk, "...terjadi begitu saja setelah saya menolak memberitahu apa isi pembicaraan saya dengan Desi semalam, benar begitu, Maya?"Maya tidak langsung menjawab.Ia menarik napas pelan, menundukkan pandangannya sesaat ke arah jemarinya sendiri sebelum kembali mendongak menatap lurus manik mata sang paman ipar.Wanita muda itu memilih diam, membiarkan asumsi Anton menggantung di udara yang panas.Anton menyungging

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 50

    Uap hangat dari cangkir keramik putih bergulung tipis di atas meja makan pualam.Anton melangkah keluar dari kamar utama mengenakan kemeja kerja abu-abu arang yang belum dikancingkan sempurna pada bagian kerahnya, memperlihatkan sisa ketegangan yang masih membekas di garis lehernya.Namun, tepat saat ia menuruni anak tangga terakhir dan memasuki area dapur terbuka, langkah kaki pria tegap itu mendadak terhenti kaku.Manik mata kelam Anton menyipit tajam. Pandangannya terpaku sepenuhnya pada sosok Maya yang berdiri di dekat pulau dapur.Wanita muda itu tidak lagi mengenakan gaun katun longgar atau kimono mandi seperti biasanya.Pagi ini, Maya mengenakan sebuah mini dress ketat berwarna hitam pekat berbahan spandex lembut yang memeluk erat setiap lekuk tubuhnya.Panjang gaun itu bahkan berada jauh di atas lutut, mengekspos paha mulusnya secara terang-terangan.Desain bagian atasnya yang berpotongan rendah menonjolkan belahan dada yang begitu penuh dan menggoda di balik kain tipis terseb

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 49

    Pada pagi harinya, Anton perlahan membuka matanya.Rasa berat menggelayuti kepalanya yang berdenyut tipis, sisa-sisa kelelahan dan ketegangan dari konfrontasinya dengan Desi kemarin.Secara refleks, tangan tegap Anton mengulur ke sisi ranjang di sebelahnya. Kosong.Kasur di sampingnya sudah rapi dan dingin, tak menyisakan sosok wanita yang biasanya terlelap pasrah dalam kungkungannya.Anton melirik jam dinding di dekat meja rias. Baru pukul tujuh pagi."Ke mana dia?" gumam Anton rendah.Anton mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, memijat pelan keningnya untuk mengusir pening yang menyengat.Pria tegap yang hanya mengenakan celana pendek itu lalu bangkit, melangkah santai mengambil segelas air putih di atas meja kecil, dan menenggaknya hingga kandas.Merasa perlu menyegarkan tubuhnya, Anton melangkah menuju pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.Namun, begitu ia menggeser pintu kaca tersebut, pemandangan di dalam ruangan beraroma aromatherapy lavender itu seketika menghentikan pe

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 48

    Sepuluh menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Anton melangkah keluar menuju kamar utama.Pria tegap itu hanya mengenakan celana pendek gelap tanpa atasan, membiarkan dada bidang yang kokoh, pahatan otot perut yang padat, serta sisa butiran air yang menempel di kulit bahunya terekspos jelas di bawah pendar lampu kamar yang temaram.Anton mengangkat sebelah alisnya sesaat setelah mendapati Maya masih terjaga di tepi ranjang.Wanita muda itu belum beranjak sedikit pun dari posisinya sejak ia masuk tadi.Maya menoleh cepat.Di dalam dadanya, kecemasan yang tertahan sejak kepulangan sang paman ipar mendesak untuk dikeluarkan.Ia pun bangkit berdiri, menatap lurus ke arah Anton dengan mata yang menyuarakan seribu tanya."Kenapa Om Anton jadi dingin begini padaku?" tanya Maya, suaranya terdengar parau dan bergetar tipis di dalam keheningan kamar."Apa... apa aku ada melakukan kesalahan? Atau atau Om Anton mulai percaya sama ucapan Ibu Desi?"Anton menghentikan langkahnya sejenak.P

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 47

    Maya duduk bersandar di tepi ranjang king-size kamar utama, menatap kosong ke arah ujung karpet tebal yang membentang di bawah kakinya.Ucapan Rafi beberapa saat lalu di depan teras masih terus bergema liar, memantul di setiap sudut pikirannya bagaikan gema yang tak mau padam.Ia menghembuskan napas panjang yang amat berat, menyalurkan guncangan batin yang membuatnya sesak."Apa yang sebenarnya Om Anton cari tahu?" gumam Maya pelan, suaranya halus menembus keheningan kamar yang temaram."Kenapa dia nggak pernah mau bicara jujur sama aku? Kenapa dia selalu pergi sendiri... menyelesaikan semuanya sendirian?"Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, memilin dan mempermainkan jemarinya sendiri di atas pangkuan gaun tidurnya.Rasa bersalah yang beracun perlahan merayap naik, menyusup ke balik dadanya."Apa benar, aku ini cuma wanita pembawa sial, seperti kata Ibu Desi?" bisiknya lagi, matanya mulai digenangi air mata yang membakar."Apa setelah aku tinggal di rumah ini, Om Anton jadi punya

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 46

    Jarum jam dinding kayu berukir di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Suasana di dalam kediaman megah Anton terasa kian sunyi, hanya diselingi oleh dengung tipis pendingin udara dan hembusan angin malam yang menerpa kaca jendela.Maya duduk sendirian di tepi sofa velvet, memeluk kedua lututnya seraya terus menatap cemas ke arah pintu utama yang tertutup rapat.Kegelisahan yang hebat merayap tebal di dalam dadanya.Biasanya, tepat pukul delapan malam, suara deru mobil Anton sudah membelah pelataran rumah dan pria itu akan langsung mengklaim kepulangannya di ruang kerja atau kamar utama.Namun malam ini, hingga hampir tengah malam, tidak ada tanda-tanda keberadaan Anton.‘Ke mana Om Anton?’ batin Maya bertanya-tanya, matanya kembali menatap layar ponsel baru di genggamannya.‘Kenapa dia belum pulang juga? Apa ada urusan sidang yang mendadak... atau pekerjaan di kantor yang bikin dia lupa waktu?’Jemari lentur Maya bergetar tipis di atas layar ponsel.Ia memandangi nomor

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status