แชร์

Bab 3 - Cincin Logam

ผู้เขียน: Frands
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-07 13:46:55

Setelah mengganti pakaiannya yang basah, Roni memutuskan untuk keluar rumah. Matahari yang terik tak menghentikan langkahnya untuk mencari uang.

Roni sehari-hari bekerja serabutan membantu warga lain yang membutuhkan tenaganya. Kadang membantu menggarap sawah, menjadi kuli angkut, membetulkan rumah, bahkan membersihkan kandang sapi milik orang lain.

Siang itu adalah jadwal Roni membersihkan kandang sapi milik Pak Raharjo.

“Ron. Tumben kok telat datangnya.” Sapa Pak Raharjo ketika melihat Roni baru sampai di rumahnya.

Roni cengar-cengir mirip sapi yang sedang diberi makan Pak Raharjo.

“Iya pak, tadi ada problem sedikit.” Jawab Roni.

“Gayamu, Ron. Pake ngomong bahasa inggris.” Gerutu Pak Raharjo namun dengan canda tawa. “Makanmu aja masih pake ikan sepat dari kali. Kalau kamu makan ikan galmon baru pantes ngomong inggris.”

“Galmon?” Roni menggaruk pelipisnya. “Galmon itu apa pak Jo?”

“Itu loh, ikan yang buat makanan khas orang jepang.” Jawab Pak Raharjo sok tau.

“Oalah.” Roni tertawa terbahak-bahak. “Salmon pak Jo, kalau Galmon itu gagal monyong.”

Pak Raharja juga ikut tertawa karena salah sebut nama. Begitulah Pak Raharjo yang hidupnya selalu riang di usia senja.

Roni yang masih memiliki sisa tawa akibat candaan dengan Pak Raharjo, langsung mengambil selang air. Lalu mulai membersihkan kandang sapi milik pria tua itu.

“Oh iya, Ron.” Panggil Pak Raharjo di tengah aktivitas. “Denger-denger, rumah kosong sebelahmu sudah ada yang nempatin, ya?”

Roni menoleh sambil tangannya menyemprotkan air. “Iya, Pak. Katanya baru tadi pagi pindahnya.”

“Wah, kalau sudah ada penghuninya kamu mau mandi di mana, Ron?” Tanya Pak Raharjo yang memang sudah tau kebiasaan Roni yang sering menggunakan kamar mandi rumah yang saat ini ditempati Dinda.

“Mungkin ke sungai lagi, pak.” Roni menghentikan gerakan tangannya. “Mau bangun kamar mandi sendiri juga gak ada biaya.”

“Kalau kamu mau, mandi di sini saja gak apa-apa, Ron.” Saran Pak Raharjo dengan serius.

“Beneran boleh, pak?” Roni langsung semringah.

“Boleh aja, mandi sama sapi di sini.” Pak Raharjo tertawa terbahak-bahak.

Wajah Roni yang awalnya ceria langsung berubah murung sambil menggerutu. “Kirain boleh beneran.”

“Jangan Ron, Aku kan punya anak gadis.” Jelas Pak Raharjo. “Bisa bahaya kalau kamu mandi di rumahku.”

Roni memahami maksud Pak Raharjo. Hampir setiap orang tua yang memiliki anak gadis di desa, takut anaknya didekati oleh Roni.

Seperti sudah menjadi aturan yang tak tertulis di desa itu.

‘Seluruh anak gadis boleh menikah dengan pria mana pun yang mereka suka, asalkan jangan Roni.’

Roni tersenyum kecut jika mengingat semua itu. Tapi dia masih bersyukur masih ada orang-orang baik seperti Pak Raharjo.

Roni kembali membersihkan kandang. Dia menyikat setiap sudut dan menyemprot dengan air.

Di balik kotoran sapi yang beraroma khas dan memabukkan. Mata Roni menangkap sesuatu yang asing.

“Pak, Jo! Pak Jo!” Teriak Roni sambil memungut benda asing itu yang ternyata sebuah cincin.

Pak Raharjo yang sedang merapikan pakan ternak langsung menghampiri Roni. “Ada apa, Ron? Pake teriak-teriak begitu.”

“Aku nemu,” Roni menunjukkan cincin itu. “Apa ini punyamu, Pak?”

Pak Raharjo mengambil cincin dari tangan Roni. Lalu membolak-baliknya seperti sedang menakar bahan dan detailnya.

“Bukan, Ron.” Ujar Pak Raharjo sedikit kesal sambil mengembalikan pada Roni. “Ini cincin logam biasa. Dijual juga gak ada harganya.”

“Yaudah, aku pake aja buat gaya-gayaan.” Roni terkekeh saat memasang cincin itu pada jari manisnya.

Roni dan Pak Raharjo lanjut lagi bekerja dengan canda tawa yang sesekali menyela di antara mereka.

Tanpa Roni sadari, cincin itu mengkilap dalam sekejap. Seolah memberi sinyal bahwa benda itu sudah menemukan tuan yang baru.

Setelah tugas membersihkan kandang selesai, Pak Raharjo memberikan selembar uang dengan nominal dua puluh ribu.

“Makasih ya, Ron.” Kata Pak Raharjo.

“Sama-sama, Pak.” Balas Roni sambil tersenyum.

Dia sudah merasa bersyukur meski hanya dua puluh ribu. Itu sudah lebih dari cukup untuk makan sekali di warung.

Baru saja Roni melangkah keluar dari kandang sapi Pak Raharjo, suara wanita memanggilnya dari kejauhan.

“Ron! Roni!” Teriakkan itu sampai ke telinga Roni.

Roni menoleh dengan mata terbelalak. Seorang wanita mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.

Rem motornya ngeblong. Ditambah rasa panik dari wanita itu membuat motornya melaju tak terkendali ke arah Roni.

Tak ada waktu lagi untuk menghindar bagi Roni. Dia reflek mengangkat tangan seolah ingin menahan motor itu.

Dugh..

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 25 - Undangan Dinda

    Pagi hari tiba, Roni terbangun dari tidurnya. Ia menggerakkan tubuhnya, masih setengah sadar dan merasakan sesuatu yang aneh di perutnya—basah dan lengket. Roni membuka mata, menunduk, dan terkejut melihat ada cairan putih yang tercecer di atas perutnya, beberapa tetes mengering di kulitnya. Ia langsung duduk, memeriksa tubuhnya dengan panik. "Apa—apa ini?" bisiknya bingung. Celana pendeknya masih terbuka, batangnya kini sudah lemas dan sedikit lembab. Roni menatap sekeliling rumah—pintu masih tertutup seperti semalam. Tidak ada tanda-tanda orang lain masuk. Ia mencoba mengingat kejadian semalam. Ada mimpi... mimpi aneh tentang sentuhan hangat dan lidah yang bergerak di batangnya. "Tapi itu pasti mimpi, kan?" Batin Roni bingung. Roni melihat cairan di perutnya, lalu melihat batangnya yang masih sedikit basah.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 24 - Apakah Ini Nyata?

    Ningrum terus memijat dengan gerakan lembut, matanya sesekali menatap wajah Roni yang mulai rileks. Namun semakin lama ia memijat, semakin besar rasa penasarannya. Gadis itu menatap batang Roni yang terus berdenyut di bawah jari-jarinya, lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. “Ron...” suara Ningrum pelan, sedikit ragu. “Aku pernah melihat sesuatu... waktu aku masih kecil.” Roni membuka matanya, menatap Ningrum dengan bingung. “Apa?” Ningrum menunduk, wajahnya memerah. “Aku pernah... tidak sengaja melihat ibuku melakukan sesuatu pada bapakku. Dengan mulutnya.” Ia menatap Roni dengan mata polos tapi penuh rasa ingin tahu. “Apa itu... bisa membantu meredakan sakitmu?” Roni terkejut, hampir tersedak. “Ningrum! Kau—“ tapi kata-katanya terhenti. Ada sesuatu di mata Ningrum—kepolosan yang tidak bisa ia sangkal. Gadis ini benar

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 23 - Tidak Sakit Ningrum

    Ningrum melanjutkan, suaranya lembut, “Ron, aku hanya ingin kau tahu... kalau kau butuh bantuan, kau bisa bilang padaku. Mungkin aku bisa sedikit membantu menyelesaikan masalahmu.”Roni terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Perhatian Ningrum tulus, dan itu membuatnya hangat. Tapi di saat yang sama, ia menyadari sesuatu yang sangat memalukan—di balik celana pendeknya, rangsangan yang tadinya mulai mereda, kembali membesar. Mungkin karena kehadiran Ningrum, mungkin karena kata-katanya yang lembut, atau mungkin karena campuran dari semuanya.Roni berusaha menyembunyikannya dengan menyilangkan kaki, tapi gerakannya terlalu kentara. Ningrum yang masih duduk tepat di depannya, menatapnya dengan mata tajam. Gadis lugu itu memperhatikan gerakan Roni, lalu menunduk, dan matanya tanpa sengaja tertuju pada celana pendek Roni yang mulai menunjukkan sesuatu yang jelas terlihat.Wajah Ningrum memerah karena campuran rasa malu dan sedikit penasaran. Ia menatap Roni, lalu menatap bagian bawah ce

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 22 - Nagasari Ucapan Terima Kasih

    Roni dan Ningrum berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Arum. Ningrum terlihat lebih tenang setelah mendengar kabar dari Pak Kades, meski langkahnya masih cepat karena ingin segera memastikan ibunya benar-benar ada di sana.Roni di sampingnya masih berjalan dengan langkah kikuk. Tonjolan di balik celananya mulai sedikit mereda, tapi belum sepenuhnya normal. “Syukurlah, sudah tidak sesak lagi!” Batin Roni lega.Udara malam yang sejuk dan suara jangkrik sedikit membantu menenangkan pikirannya.Namun sebelum mereka mencapai rumah Bu Arum, dari arah persimpangan gang, muncullah sesosok tubuh yang sangat dikenali.Bu Sri berjalan dengan langkah santai, tangannya membawa keranjang kecil berisi sesuatu yang terbungkus daun pisang. Begitu melihat Ningrum dan Roni, Bu Sri menghentikan langkah, matanya membelalak kaget.“Ningrum?! Kamu kenapa di luar jam segini?” suara Bu Sri terdengar campur heran dan sedikit cemas.Ningrum langsung berlari menghampiri ibunya, memeluknya erat-erat.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 21 - Godaan dan Ancaman

    Setengah jam berlalu. Ningrum masih duduk di teras, matanya terus menatap ke arah jalan gelap dengan cemas. Roni di sampingnya juga diam, tapi ada satu masalah besar yang mengganggunya—pergerakan di celana pendeknya belum juga mereda.  Roni menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan ke tempat lain. Tapi setiap kali Ningrum bergerak atau menyesuaikan posisi duduknya, celana pendeknya naik sedikit, memperlihatkan lebih banyak kulit putih di pahanya.  Ningrum akhirnya berdiri, gelisah. “Ron, aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari ibu. Aku takut terjadi sesuatu.” Roni juga berdiri, tapi begitu ia melangkah, ia langsung menyadari sesuatu—ia tidak bisa berjalan normal. Celana pendeknya sesak, dan setiap langkah terasa menyakitkan dan memalukan.  Ia terpaksa berjalan dengan sedikit membungkuk, berusaha menyembunyikan “masalah” yang masih jelas terlihat di balik kain tipisnya. “Iya...

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 20 - Godaan Belum Mereda

    Roni terkejut, hampir tersedak. “M-Mbak?! Maksud Mbak apa?”“Aku serius, Roni.” Dinda menatapnya dengan mata yang tajam tapi tidak marah. “Aku ingin tahu. Apakah kamu tertarik padaku?”Roni menggeleng cepat, terlalu cepat. “Tidak, Mbak. Aku tidak mungkin karena mbak itu istri orang.”Dinda tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. “Kalau... aku bukan istri orang?” tanyanya pelan. “Kalau aku bukan istri Mas Bram? Apakah kamu tertarik padaku?”Roni terdiam, dadanya berdegup kencang. Pertanyaan itu seperti menusuk langsung ke pikirannya yang selama ini ia tahan. “Mbak Dinda,” suara Roni serak, “aku tidak pernah berpikir untuk tertarik dengan wanita. Aku hanya pemuda miskin. Setiap kali aku mendekati wanita, aku hanya mendapat penolakan. Jadi aku sudah tidak berpikir tentang hal itu.”Dinda menatapnya lama, lalu tersenyum. “Kamu berbohong, Roni.”Roni mengerjapkan mata. “Maksud Mbak?”Dinda

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status