LOGINSetelah mengganti pakaiannya yang basah, Roni memutuskan untuk keluar rumah. Matahari yang terik tak menghentikan langkahnya untuk mencari uang.
Roni sehari-hari bekerja serabutan membantu warga lain yang membutuhkan tenaganya. Kadang membantu menggarap sawah, menjadi kuli angkut, membetulkan rumah, bahkan membersihkan kandang sapi milik orang lain. Siang itu adalah jadwal Roni membersihkan kandang sapi milik Pak Raharjo. “Ron. Tumben kok telat datangnya.” Sapa Pak Raharjo ketika melihat Roni baru sampai di rumahnya. Roni cengar-cengir mirip sapi yang sedang diberi makan Pak Raharjo. “Iya pak, tadi ada problem sedikit.” Jawab Roni. “Gayamu, Ron. Pake ngomong bahasa inggris.” Gerutu Pak Raharjo namun dengan canda tawa. “Makanmu aja masih pake ikan sepat dari kali. Kalau kamu makan ikan galmon baru pantes ngomong inggris.” “Galmon?” Roni menggaruk pelipisnya. “Galmon itu apa pak Jo?” “Itu loh, ikan yang buat makanan khas orang jepang.” Jawab Pak Raharjo sok tau. “Oalah.” Roni tertawa terbahak-bahak. “Salmon pak Jo, kalau Galmon itu gagal monyong.” Pak Raharja juga ikut tertawa karena salah sebut nama. Begitulah Pak Raharjo yang hidupnya selalu riang di usia senja. Roni yang masih memiliki sisa tawa akibat candaan dengan Pak Raharjo, langsung mengambil selang air. Lalu mulai membersihkan kandang sapi milik pria tua itu. “Oh iya, Ron.” Panggil Pak Raharjo di tengah aktivitas. “Denger-denger, rumah kosong sebelahmu sudah ada yang nempatin, ya?” Roni menoleh sambil tangannya menyemprotkan air. “Iya, Pak. Katanya baru tadi pagi pindahnya.” “Wah, kalau sudah ada penghuninya kamu mau mandi di mana, Ron?” Tanya Pak Raharjo yang memang sudah tau kebiasaan Roni yang sering menggunakan kamar mandi rumah yang saat ini ditempati Dinda. “Mungkin ke sungai lagi, pak.” Roni menghentikan gerakan tangannya. “Mau bangun kamar mandi sendiri juga gak ada biaya.” “Kalau kamu mau, mandi di sini saja gak apa-apa, Ron.” Saran Pak Raharjo dengan serius. “Beneran boleh, pak?” Roni langsung semringah. “Boleh aja, mandi sama sapi di sini.” Pak Raharjo tertawa terbahak-bahak. Wajah Roni yang awalnya ceria langsung berubah murung sambil menggerutu. “Kirain boleh beneran.” “Jangan Ron, Aku kan punya anak gadis.” Jelas Pak Raharjo. “Bisa bahaya kalau kamu mandi di rumahku.” Roni memahami maksud Pak Raharjo. Hampir setiap orang tua yang memiliki anak gadis di desa, takut anaknya didekati oleh Roni. Seperti sudah menjadi aturan yang tak tertulis di desa itu. ‘Seluruh anak gadis boleh menikah dengan pria mana pun yang mereka suka, asalkan jangan Roni.’ Roni tersenyum kecut jika mengingat semua itu. Tapi dia masih bersyukur masih ada orang-orang baik seperti Pak Raharjo. Roni kembali membersihkan kandang. Dia menyikat setiap sudut dan menyemprot dengan air. Di balik kotoran sapi yang beraroma khas dan memabukkan. Mata Roni menangkap sesuatu yang asing. “Pak, Jo! Pak Jo!” Teriak Roni sambil memungut benda asing itu yang ternyata sebuah cincin. Pak Raharjo yang sedang merapikan pakan ternak langsung menghampiri Roni. “Ada apa, Ron? Pake teriak-teriak begitu.” “Aku nemu,” Roni menunjukkan cincin itu. “Apa ini punyamu, Pak?” Pak Raharjo mengambil cincin dari tangan Roni. Lalu membolak-baliknya seperti sedang menakar bahan dan detailnya. “Bukan, Ron.” Ujar Pak Raharjo sedikit kesal sambil mengembalikan pada Roni. “Ini cincin logam biasa. Dijual juga gak ada harganya.” “Yaudah, aku pake aja buat gaya-gayaan.” Roni terkekeh saat memasang cincin itu pada jari manisnya. Roni dan Pak Raharjo lanjut lagi bekerja dengan canda tawa yang sesekali menyela di antara mereka. Tanpa Roni sadari, cincin itu mengkilap dalam sekejap. Seolah memberi sinyal bahwa benda itu sudah menemukan tuan yang baru. Setelah tugas membersihkan kandang selesai, Pak Raharjo memberikan selembar uang dengan nominal dua puluh ribu. “Makasih ya, Ron.” Kata Pak Raharjo. “Sama-sama, Pak.” Balas Roni sambil tersenyum. Dia sudah merasa bersyukur meski hanya dua puluh ribu. Itu sudah lebih dari cukup untuk makan sekali di warung. Baru saja Roni melangkah keluar dari kandang sapi Pak Raharjo, suara wanita memanggilnya dari kejauhan. “Ron! Roni!” Teriakkan itu sampai ke telinga Roni. Roni menoleh dengan mata terbelalak. Seorang wanita mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Rem motornya ngeblong. Ditambah rasa panik dari wanita itu membuat motornya melaju tak terkendali ke arah Roni. Tak ada waktu lagi untuk menghindar bagi Roni. Dia reflek mengangkat tangan seolah ingin menahan motor itu. Dugh..Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron
Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya
Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la
Pagi tiba, Roni terbangun dengan kepala berat dan hati yang masih diliputi rasa bersalah. Di sampingnya, Ajeng masih terlelap dengan napas teratur, tangannya masih melingkar di pinggang Roni. Roni menatap wajah istrinya yang tenang, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukan dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar. Suasana kontrakan masih sunyi. Roni melirik ke arah kontrakan Desi yanh pintunya masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Roni menghela napas panjang, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus mencari pekerjaan dan fokus pada hidup barunya bersama Ajeng. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengannya. Ia membawa dua cangkir kopi hangat yang baru ia seduh. "Kenapa nggak bangunin aku kalau sudah bangun?," katanya, mencium pipi Roni. Roni tersenyum tipis, "Hari ini aku mau cari kerjai." Ajeng duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir kopi. "Aku juga ingin cari kerja. Aku t
Roni merasakan gelombang panas yang tak terbendung memuncak di tubuhnya. Ia menekan lebih dalam, menuntut, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Desi. Tubuh Roni menegang, napasnya tersengal, dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa kosong. Desi yang ada di bawahnya juga gemetar, tubuhnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi begitu Roni terkulai lemas di atasnya, sesuatu dalam diri Desi berubah. Kesadaran yang tadi kabur oleh kenikmatan perlahan kembali.Desi merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di antara pahanya. Lalu, rasa sakit yang tadi tersamarkan oleh gairah kini muncul kembali—nyeri yang menusuk, mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi.Desi membuka matanya. Ia menatap Roni yang masih berbaring di atasnya, napasnya masih berat, dengan senyum puas di bibirnya. Dan tiba-tiba, air mata mulai mengalir di pipi Desi."Mas..." suaranya bergetar. "Kenapa... kamu tega banget ngelakuin ini."Roni tersadar. Ia







