LOGINHari itu terasa berbeda bagi Arlan.Semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan sikap Sonya dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu interaksi mereka murni profesional, terukur, seperlunya, tanpa celah, hari ini terasa… terlalu dekat.Terlalu personal.Tatapan Sonya berubah.Senyumnya pun berbeda.Bukan lagi sekadar sopan, tapi seperti menyimpan maksud lain yang tidak diucapkan.Beberapa kali Sonya masuk ke ruangannya bukan hanya untuk urusan kerja. Ia mulai menanyakan hal-hal ringan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.“Bapak biasanya sarapan apa?”“Weekend kemarin ke mana?”Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan.Arlan hanya menjawab seperlunya.Singkat.Jelas.Namun tidak memberi ruang untuk berkembang.Puncaknya ketika Sonya masuk membawa secangkir kopi.“Pak, ini kopi.”Arlan langsung mengangkat tangan.“Nggak usah, Sonya. Saya biasa bikin sendiri.”Namun Sonya tersenyum.“Sekali-sekali saya yang buat, Pak.”Arlan menghela napas pelan.Nada Sonya tidak memaksa,
Malam di Puncak terasa lebih dingin dari yang mereka bayangkan.Namun di dalam kamar itu, suasana justru hangat.Arlan dan Sevi menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada pekerjaan, tidak ada orang lain yang menuntut perhatian mereka. Malam itu benar-benar terasa seperti milik mereka."Lan... Jangan masuk sekaligus," Erangan Sevi yang terdengar seperti bisikan."Ahh.. enak sayang, ketat banget..."Arlan mencoba menyesuaikan ritme agar Sevi tak kesakitan, sebab disini ia tau kalau Sevi tak akan bersuara keras untuk meredam sakitnya. Namun apa daya, di bawah sana Arlan merasa seperti terjepit, enak namun ngilu, ia berusaha keras menahan agar tidak keluar dalam."Sayang..." Kejantanannya dikeluarkan paksa agar tidak terjadi pembuahan di dalam. Ciuman manis nan basah mengakhiri kegiatan mereka, setelah lelah dan tenang kembali, Sevi berbaring di samping Arlan. Kepalanya bersandar di lengan pria itu, sementara Arlan mengelus rambutnya perlahan.Beberap
Hari mulai beranjak sore ketika Arlan dan Sevi akhirnya meninggalkan kebun binatang. Tidak ada rencana pasti sejak awal. Semua yang mereka lakukan hari ini berjalan begitu saja, mengikuti keinginan sesaat yang terasa menyenangkan.Dan entah bagaimana, di tengah perjalanan pulang yang seharusnya sederhana, Sevi tiba-tiba mengusulkan sesuatu.“Kita ke Puncak, yuk.”Arlan melirik sekilas. “Sekarang?”Sevi mengangguk tanpa ragu. “Nginep. Cari suasana baru.”Arlan sempat terdiam beberapa detik. Namun melihat ekspresi Sevi yang penuh harap, ia hanya tersenyum nakal.“Yakali nolak.”Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan.Tanpa persiapan matang.Tanpa membawa perlengkapan apa pun.Hanya mereka berdua, dengan waktu yang mereka punya hari ini.\\\Di perjalanan, mereka sempat berhenti di sebuah pusat perbelanjaan terdekat.Sevi memilih beberapa pakaian ganti dengan cepat. Tidak terlalu banyak, hanya yang sekiranya cukup untuk satu malam. Arlan juga mengambil beberapa kaos santai dan p
Hari di kantor berjalan seperti biasanya bagi Sonya.Laptopnya terbuka sejak pagi, layar dipenuhi dokumen dan laporan yang harus diselesaikan. Sejak Arlan tidak masuk hari ini, sebagian pekerjaannya otomatis berpindah ke tangan Sonya.Ia mengatur jadwal Arlan untuk besok.Memeriksa beberapa email penting dari klien.Membaca laporan produksi susu hari itu dengan teliti, memastikan tidak ada angka yang janggal sebelum laporan tersebut dikirim ke manajemen pusat.Pekerjaan demi pekerjaan selesai ia tangani tanpa keluhan.Sonya memang terbiasa seperti itu. Rapi, terstruktur, dan selalu terlihat menguasai keadaan.Selama jam kerja, hampir tidak ada ruang bagi pikirannya untuk memikirkan Arlan secara pribadi.Namun ketika alarm kecil di ponselnya berbunyi, penanda waktu istirahat yang sengaja ia atur untuk dirinya sendiri, barulah ia berhenti sejenak.Sonya bersandar di kursinya.Tangannya berhenti mengetik.Matanya menatap layar laptop yang kini tampak kosong di hadapannya.Dan tanpa sadar
Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya ingin diam.Hanya ingin berada di tempat yang sama.Sevi meringkuk di dada Arlan, memeluk pinggang pria itu dengan malas. Sesekali ia menggesekkan pipinya pelan, seperti anak kecil yang mencari kenyamanan.Arlan tersenyum kecil.Tangannya mengelus rambut Sevi yang sedikit berantakan. Sesekali ia menunduk dan mengecup puncak kepala perempuan itu.“Kamu nggak mau bangun?” tanyanya pelan.Sevi menggeleng.“Nggak.”Ia malah semakin mendekat, menempelkan wajahnya ke dada Arlan.“Capek.”Arlan tertawa kecil.“Capek apa? Nangis?”Sevi mencubit pinggangnya pelan.“Nyebelin.”Mereka terdiam beberapa saat lagi. Tidak ada yang benar-benar terburu-buru untuk memulai hari.“Apa kita izin aja ya hari ini?
Tenang.Menguasai keadaan.Itulah dua hal yang selalu menjadi kekuatan Sonya.Pagi itu ia berdiri di depan cermin kamar apartemennya. Rambutnya sudah rapi, pakaian kerjanya disetrika sempurna. Tidak ada tanda-tanda kegelisahan di wajahnya, hanya senyum tipis yang perlahan terbentuk di bibirnya.Rumor yang beredar kemarin ternyata bekerja lebih cepat dari yang ia kira.Ia tahu betul bagaimana kantor itu bekerja. Sekali sebuah cerita muncul, akan sangat sulit untuk menghentikannya. Apalagi jika menyangkut hubungan antara atasan dan sekretarisnya sendiri.Sonya menatap bayangannya di cermin.“Terima kasih deh buat yang nyebarin,” gumamnya pelan, entah kepada siapa pun yang telah menyebarkan rumor itu.Ia tidak tahu siapa pelakunya.Namun ia tidak peduli.Yang penting, dampaknya sudah terjadi.Ia yakin Sevi pasti akan mendengarnya. Dan jika Sevi mendengar cerita itu, perasaan perempuan itu pasti akan terguncang. Keraguan adalah hal paling berbahaya dalam sebuah hubungan.Dan Sonya paham i
Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak
Malam di kota itu terasa terlalu sunyi. Lampu-lampu jalan berpendar di balik jendela apartemen mewah milik Alya, memantulkan cahaya kekuningan di wajahnya yang dingin. Di meja ruang tamu, beberapa berkas berserakan, dokumen perusahaan, catatan percobaan, juga beberapa foto yang diambil diam-diam.
Mobil Arlan melaju pelan di bawah langit sore yang mulai memudar warnanya. Langit tampak kusam, menyiratkan hujan yang belum jadi turun, dan udara di luar terasa lembap seolah menggantungkan sesuatu yang belum selesai.Di dalam mobil, suasana begitu sunyi, hanya diisi oleh dentuman lembut dari radi
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, menembus debu-debu halus yang menari di udara. Arlan membuka matanya perlahan. Hidungnya langsung menangkap aroma nasi goreng yang khas dengan aroma bawang putih dan kecap yang menguar dari dapur kecil kontrakan itu. Sudah lama ia tidak terbangu







