共有

Cemburu Panas

作者: Olivia
last update 公開日: 2025-10-07 02:34:56

Mobil Arlan melaju tanpa arah yang pasti, hanya diiringi bunyi lembut dari mesin dan napas dua manusia yang menahan terlalu banyak hal. Lampu-lampu jalan berkelebat cepat melewati kaca, namun tidak satu pun kata keluar dari bibir mereka.

Sevi duduk diam di kursi penumpang, menatap keluar jendela, membiarkan pikirannya kosong. Di sisi lain, Arlan menggenggam erat setir, urat di tangannya menegang, matanya lurus menatap jalan namun pikirannya berputar tak karuan.

Tiga hari.

Tiga hari tanpa kab
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bos, Jangan di Sini!   Sonya di Mata Arlan

    Sore mulai turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Langit yang tadinya terang kini berubah jingga redup, membuat suasana kamar rawat Sevi terasa lebih tenang dibanding siang tadi. Televisi menyala kecil tanpa benar-benar mereka perhatikan.Di atas meja samping ranjang sudah ada beberapa camilan yang dibawa Arlan sebelumnya, lengkap dengan susu stroberi dingin favorit Sevi. Namun perempuan itu masih belum benar-benar berselera makan sendiri karena tubuhnya masih terasa lemas.Maka sekarang, Arlan duduk di samping ranjang sambil memegang mangkuk makanan. Sedangkan Sevi duduk bersandar dengan selimut menutupi kakinya.“Mulutnya buka.”Sevi menurut pelan.Suapan demi suapan masuk dengan tenang. Sesekali Arlan meniup makanannya dulu sebelum menyuapi Sevi lagi, takut masih terlalu panas.Padahal tangan Sevi sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Infusnya pun berada di tangan kiri. Namun Arlan tetap keras kepala ingin menyuapi.“Nggak usah disuapin juga bisa kali…” gumam Sevi pelan.“Bisa sih

  • Bos, Jangan di Sini!   Pura-pura Pingsan?

    Ruangan itu kembali sunyi setelah Arlan keluar untuk meeting tadi pagi. Pendingin ruangan terasa dingin menusuk kulit, namun Sonya tetap memejamkan matanya di sofa panjang milik Arlan. Napasnya perlahan mulai teratur kembali. Pusing yang tadi menyerang memang nyata adanya, kepalanya bahkan masih terasa berat sampai sekarang.“A-aku pingsan?” Tanya nya pada dirinya sendiri.Jujur saja, kemarin ia benar-benar keteteran. Semua pekerjaan yang biasanya dibantu Arlan mendadak harus ia tangani sendiri karena pria itu terus fokus pada Sevi yang pingsan. Belum lagi revisi data, laporan meeting, dan email yang masuk tanpa henti membuat Sonya nyaris tidak tidur.Ditambah pikirannya sendiri yang semakin kacau. Ia terlalu memikirkan Arlan, tentang bagaimana pria itu sekarang mulai menjaga jarak yang membuatnya tak bisa lagi menggoda ataupun memberi perhatian kecil.Sonya menggertakkan giginya pelan. Dadanya terasa sesak lagi mengingat perubahan itu.“Emang pengganggu, sial.”Padahal dulu Arlan ma

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Tegas

    Langkah Arlan yang awalnya ringan langsung terhenti di depan pintu ruang rawat. Kantong plastik berisi camilan dan susu stroberi yang ia bawa bergesekan pelan di tangannya. Wajahnya yang tadi sempat terlihat lega karena meeting selesai lebih cepat, kini perlahan berubah tegang.Sevi duduk di sofa dekat jendela rumah sakit. Tubuhnya menyandar lemah dengan selimut tipis menutupi kakinya. Cahaya sore dari luar masuk menerpa wajah pucatnya.Namun yang membuat dada Arlan terasa tidak nyaman, Sevi bahkan tidak menoleh sedikit pun saat dirinya datang.“Sayang…” panggil Arlan pelan.Tidak ada jawaban.Hanya suara notifikasi handphone yang sedari tadi berbunyi tanpa henti.Arlan berjalan mendekat. Baru saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Sevi mengangkat tangannya pelan.Bukan untuk menyambut, melainkan menunjuk handphone di meja samping sofa.“Liat aja sendiri.” Nada suaranya datar. Alis Arlan langsung mengernyit. Ia mengambil handphone itu dan membaca isi grup kantor yang ramai seja

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidur di Ruangan Pak Arlan

    Pagi itu suasana kantor masih cukup sepi. Beberapa karyawan baru datang dan sibuk menyalakan komputer masing-masing, sedangkan sebagian lainnya masih mengambil kopi di pantry. Langkah Arlan terdengar pelan memasuki area kantor dengan jas yang masih rapi dan wajah lelah karena kurang tidur hari ini. Pikirannya sebenarnya masih tertinggal di rumah sakit. Namun pekerjaan tetap harus berjalan.Arlan menghela napas pelan sambil membuka pintu ruangannya. Baru saja ia hendak duduk, suara langkah tergesa terdengar mendekat.“Pak…”Sonya berdiri di depan pintu sambil memegang map. Wajahnya terlihat pucat, tidak seperti biasanya yang selalu tampak segar dengan riasan rapi dan senyum manisnya.Arlan hanya mengangkat kepala sekilas.“Iya?”“Mau minta tanda tangan buat revisi data kemarin…” Nada suara Sonya pelan, bahkan seperti berbisikArlan mengambil map itu tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat membuka lembar demi lembar sambil sesekali memberi koreksi singkat. Namun baru beberapa men

  • Bos, Jangan di Sini!   Keluar ASI?!

    Cahaya matahari pagi masuk perlahan dari sela tirai kamar rawat. Suasana rumah sakit masih cukup tenang, hanya terdengar suara roda troli dan langkah para perawat yang sesekali lewat di depan ruangan.Arlan yang sedari tadi duduk sambil menyandarkan kepala di samping ranjang perlahan membuka mata. Lehernya terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman semalaman.Namun begitu sadar, hal pertama yang ia cari adalah Sevi. Ternyata wanitanya masih tertidur miring menghadap ke arahnya. Napasnya lebih stabil dibanding kemarin, wajahnya juga tidak sepucat sebelumnya.Arlan tersenyum kecil lega. Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Sevi.“Pagi sayang…” gumamnya lirih walau Sevi belum benar-benar bangun.Tak lama kemudian, Sevi bergerak pelan. Keningnya sedikit mengerut seperti merasa tidak nyaman.“Hmm…”Arlan langsung mendekat. “Udah bangun, sayang?”Namun alih-alih menjawab, Sevi justru menunduk pelan ke arah bajunya sendiri. Wajahnya berubah panik dan bingung.“Lan…”“Iya, ken

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidak Akan Kecolongan

    Pelukan Arlan tidak pernah lepas sedari tadi. Tangannya masih mengusap pelan punggung Sevi, sesekali mengecup rambut perempuan itu dengan hati-hati. Setelah menangis dan mengeluarkan apa yang selama ini ia tahan sendiri, tubuh Sevi perlahan mulai rileks.Napasnya yang tadi tidak teratur kini mulai tenang.“Ngantuk…” gumam Sevi pelan sambil memejamkan mata.“Tidur aja, sayang” jawab Arlan lembut. “Aku di sini kok.”Sevi mengangguk kecil. Tangannya masih menggenggam ujung baju Arlan seperti takut laki-laki itu pergi. Namun rasa lelah dan obat yang mulai bekerja membuat kesadarannya perlahan menghilang.Tak lama kemudian, Sevi benar-benar tertidur.Arlan menunduk memperhatikan wajah perempuan itu cukup lama. Wajah pucatnya mulai sedikit membaik dibanding tadi pagi. Walau masih terlihat lelah, setidaknya Sevi kini bisa tidur lebih tenang.Jemari Arlan menyapu pelan rambut yang menutupi kening Sevi.Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar tidak menyangka semuanya bisa sampai sejauh ini.Awaln

  • Bos, Jangan di Sini!   Buka Suara

    Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Tanggung Jawab

    Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Hubungan yang Merenggang

    Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Miko dan Mila

    “Kamu suka Sevi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak

    last update最終更新日 : 2026-03-29
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status