로그인Pintu laboratorium terbuka cukup keras ketika Sevi masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa kepala langsung menoleh spontan.Suasana yang tadinya dipenuhi suara mesin dan obrolan kecil mendadak hening begitu melihat wajah Sevi yang pucat dengan mata sembab.Tak ada yang berani bertanya.Semua orang di kantor sudah cukup tahu bagaimana dekatnya hubungan Sevi dan Arlan. Dan barusan… hampir satu lantai mendengar suara pertengkaran mereka di area lift.Sevi berjalan menuju mejanya tanpa berkata apa-apa. Tangannya bergerak pelan memasukkan barang-barang pribadi ke dalam tote bag cokelat miliknya, charger, dompet, tempat makan kosong dan sweater tipis yang biasa ia pakai kalau suhu lab terlalu dingin.Gerakannya lambat. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga bahkan hanya untuk sekadar berdiri tegak.“Sev…”Salah satu rekan kerjanya memanggil pelan. Namun Sevi hanya menggeleng kecil sambil memaksakan senyum tipis.“Aku nggak apa-apa.”Padahal jelas-jelas tidak. Setelah semua barangnya masuk, Sevi lan
“Sev, tunggu! Sevi, dengerin aku dulu!”Suara Arlan menggema cukup keras di sepanjang koridor lantai utama kantor. Namun Sevi sama sekali tidak berhenti. Ia malah mempercepat langkahnya.Kakinya terasa lemas dan gemetar, tapi tetap ia paksa berjalan membelah kerumunan karyawan yang mulai melirik mereka dengan tatapan penasaran. Beberapa orang bahkan pura-pura sibuk sambil diam-diam memperhatikan situasi tersebut.Tepat sebelum pintu lift menutup sempurna, sebuah tangan besar menahannya kuat.Brak.Pintu lift kembali terbuka.Arlan langsung masuk dengan napas memburu. Wajahnya terlihat kacau, dipenuhi frustrasi dan emosi yang sejak tadi ia tahan mati-matian.“Sevi, bisa nggak sih jangan kayak gini dulu?”Nada suara Arlan meninggi tanpa sadar. Lift mulai bergerak turun perlahan. Ruangan sempit itu kini terasa makin menyesakkan bagi keduanya.“Kondisi kantor lagi kacau banget hari ini!” lanjut Arlan sambil mengusap wajahnya kasar. “Aku kerja dari semalam bukan buat main-main, Sev. Aku la
“Aku cuma mau nganterin sarapan. Kamu nggak pulang semalam dan nggak ada kabar,” ucap Sevi pelan, berusaha keras menahan getar di suaranya agar tidak terdengar seperti perempuan yang sedang meminta belas kasih perhatian.“Tapi sepertinya… kamu udah punya banyak bantuan di sini.”Kalimat itu meluncur dingin, membelah atmosfer tegang di ruang kerja Arlan yang sejak pagi dipenuhi tekanan.Arlan yang baru saja membungkuk mengambil spidol hitam di bawah papan tulis kaca langsung mematung.Di sampingnya, Sonya ikut terdiam. Tablet di tangannya masih menyala menampilkan data distribusi, sementara cangkir kopi yang baru ia letakkan di meja seolah kehilangan arti di tengah suasana yang mendadak membeku.Ruangan berpendingin udara itu tiba-tiba terasa sesak.Tatapan Sevi turun perlahan ke paper bag di tangannya. Sup ayam hangat buatannya kini terlihat begitu kecil di antara tumpukan dokumen bertuliskan Draf Distribusi Lini Susu Kemasan — Malang.“Sev…”Arlan berdeham pelan. Tenggorokannya teras
Sevi menggenggam erat paper bag berisi termos sup hangat itu. Jemarinya sampai memutih karena terlalu kuat mencengkeram pegangan kantong tersebut.Padahal pagi tadi ia sengaja bangun lebih awal hanya untuk memasak sup sederhana kesukaan Arlan. Kaldu ayam yang direbus pelan, irisan wortel kecil, kentang, dan daun bawang yang ia tabur terakhir agar aromanya tetap segar.Ia tahu hari ini kantor sedang kacau karena Om Wijaya kembali menekan banyak hal sekaligus. Semua divisi seperti dipaksa berlari tanpa jeda.Maka Sevi mengurungkan niat mengantar sarapan pagi ke ruangan Arlan.“Nanti siang aja deh…” pikirnya tadi.Namun sekarang, berdiri di depan pintu kaca ruang kerja Arlan, Sevi justru merasa keputusan itu salah besar.Dari celah tirai yang sedikit terbuka, ia bisa melihat semuanya dengan sangat jelas.Arlan berdiri di depan papan tulis kaca penuh coretan distribusi produk. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat lelah sekali. Namun di sampingnya ada Sonya yang berdiri
Jarum jam di ruang tengah apartemen masih menunjukkan jam enam pagi. Namun Sevi masih duduk diam di sofa.Kedua lututnya ia tarik ke dada, dibalut selimut tebal yang sudah tidak lagi memberi rasa hangat. Lampu ruang tamu sengaja ia matikan, menyisakan cahaya redup dari dapur dan layar ponsel di atas meja.Chat dengan Arlan masih terbuka. Pesan terakhir yang ia kirim satu jam lalu belum berubah sama sekali.Masih centang dua abu-abu. Tidak ada tanda dibalas, apalagi dibaca. Hingga pagi ini pun, Arlan belum pulang.Ini adalah pertama kalinya sejak mereka bersama, Arlan benar-benar menghilang semalaman tanpa kabar yang jelas. Sevi berulang kali mencoba berpikir positif, mungkin Arlan ketiduran di kantor, mungkin pekerjaannya benar-benar menumpuk, atau siapa tau handphone-nya habis baterai.Namun semakin matahari memperlihatkan cahaya nya, pikiran buruk perlahan mulai masuk tanpa izin.“Kalau dia sama orang lain gimana…?”Kalimat itu membuat dada Sevi langsung terasa sesak sendiri. Ia bu
Aroma mentega yang meleleh di atas teflon biasanya selalu berhasil menenangkan Sevi setiap pagi. Namun hari ini terasa berbeda, bahkan wangi roti panggang yang hangat pun tidak mampu mengusir mendung di wajahnya.Sevi berdiri diam di depan wastafel dapur apartemen sambil menatap layar ponsel yang menyala redup di sampingnya. Pesan dari Arlan semalam masih terpampang jelas di layar chat mereka.“Kamu tidur duluan aja, jangan nungguin.”Kalimat sederhana saja memang, tapi entah kenapa terasa begitu dingin untuk ukuran seorang tunangan.Sevi menghela napas panjang. Kompor di depannya ia matikan pelan, membiarkan roti yang tadi dipanggang setengah matang itu mulai mengeras sendiri di atas teflon.Pikirannya kembali berisik. Hubungan mereka memang masih baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar, Arlan juga masih sering bersikap manis seperti biasanya.Tapi justru itu yang membuat Sevi takut, semua hal itu terlalu biasa. Hingga tanpa sadar, mereka mulai terbiasa menjalani hari tanpa bena
Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s
Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p
Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m
Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi







