مشاركة

Vanilla Creamy

مؤلف: Olivia
last update تاريخ النشر: 2025-08-30 00:59:40

Arlan menatap bayangan dirinya di kaca jendela apartemen sebelum berangkat kerja. Wajah yang biasanya ia kenal dingin kini tampak berbeda—lebih hidup, lebih hangat, dan entah mengapa lebih lemah. Semua itu karena satu orang: Sevi.

Ia meneguk kopi yang sudah mulai dingin, mencoba menenangkan pikirannya. Namun, justru aroma samar-samar tubuh Sevi masih tertinggal di kemeja yang ia pakai semalam. Lelaki itu mengembuskan napas berat.

“Kenapa harus serumit ini?” gumamnya pelan.

Sejak kejadian-kejadi
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Tegas

    Langkah Arlan yang awalnya ringan langsung terhenti di depan pintu ruang rawat. Kantong plastik berisi camilan dan susu stroberi yang ia bawa bergesekan pelan di tangannya. Wajahnya yang tadi sempat terlihat lega karena meeting selesai lebih cepat, kini perlahan berubah tegang.Sevi duduk di sofa dekat jendela rumah sakit. Tubuhnya menyandar lemah dengan selimut tipis menutupi kakinya. Cahaya sore dari luar masuk menerpa wajah pucatnya.Namun yang membuat dada Arlan terasa tidak nyaman, Sevi bahkan tidak menoleh sedikit pun saat dirinya datang.“Sayang…” panggil Arlan pelan.Tidak ada jawaban.Hanya suara notifikasi handphone yang sedari tadi berbunyi tanpa henti.Arlan berjalan mendekat. Baru saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Sevi mengangkat tangannya pelan.Bukan untuk menyambut, melainkan menunjuk handphone di meja samping sofa.“Liat aja sendiri.” Nada suaranya datar. Alis Arlan langsung mengernyit. Ia mengambil handphone itu dan membaca isi grup kantor yang ramai seja

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidur di Ruangan Pak Arlan

    Pagi itu suasana kantor masih cukup sepi. Beberapa karyawan baru datang dan sibuk menyalakan komputer masing-masing, sedangkan sebagian lainnya masih mengambil kopi di pantry. Langkah Arlan terdengar pelan memasuki area kantor dengan jas yang masih rapi dan wajah lelah karena kurang tidur hari ini. Pikirannya sebenarnya masih tertinggal di rumah sakit. Namun pekerjaan tetap harus berjalan.Arlan menghela napas pelan sambil membuka pintu ruangannya. Baru saja ia hendak duduk, suara langkah tergesa terdengar mendekat.“Pak…”Sonya berdiri di depan pintu sambil memegang map. Wajahnya terlihat pucat, tidak seperti biasanya yang selalu tampak segar dengan riasan rapi dan senyum manisnya.Arlan hanya mengangkat kepala sekilas.“Iya?”“Mau minta tanda tangan buat revisi data kemarin…” Nada suara Sonya pelan, bahkan seperti berbisikArlan mengambil map itu tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat membuka lembar demi lembar sambil sesekali memberi koreksi singkat. Namun baru beberapa men

  • Bos, Jangan di Sini!   Keluar ASI?!

    Cahaya matahari pagi masuk perlahan dari sela tirai kamar rawat. Suasana rumah sakit masih cukup tenang, hanya terdengar suara roda troli dan langkah para perawat yang sesekali lewat di depan ruangan.Arlan yang sedari tadi duduk sambil menyandarkan kepala di samping ranjang perlahan membuka mata. Lehernya terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman semalaman.Namun begitu sadar, hal pertama yang ia cari adalah Sevi. Ternyata wanitanya masih tertidur miring menghadap ke arahnya. Napasnya lebih stabil dibanding kemarin, wajahnya juga tidak sepucat sebelumnya.Arlan tersenyum kecil lega. Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Sevi.“Pagi sayang…” gumamnya lirih walau Sevi belum benar-benar bangun.Tak lama kemudian, Sevi bergerak pelan. Keningnya sedikit mengerut seperti merasa tidak nyaman.“Hmm…”Arlan langsung mendekat. “Udah bangun, sayang?”Namun alih-alih menjawab, Sevi justru menunduk pelan ke arah bajunya sendiri. Wajahnya berubah panik dan bingung.“Lan…”“Iya, ken

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidak Akan Kecolongan

    Pelukan Arlan tidak pernah lepas sedari tadi. Tangannya masih mengusap pelan punggung Sevi, sesekali mengecup rambut perempuan itu dengan hati-hati. Setelah menangis dan mengeluarkan apa yang selama ini ia tahan sendiri, tubuh Sevi perlahan mulai rileks.Napasnya yang tadi tidak teratur kini mulai tenang.“Ngantuk…” gumam Sevi pelan sambil memejamkan mata.“Tidur aja, sayang” jawab Arlan lembut. “Aku di sini kok.”Sevi mengangguk kecil. Tangannya masih menggenggam ujung baju Arlan seperti takut laki-laki itu pergi. Namun rasa lelah dan obat yang mulai bekerja membuat kesadarannya perlahan menghilang.Tak lama kemudian, Sevi benar-benar tertidur.Arlan menunduk memperhatikan wajah perempuan itu cukup lama. Wajah pucatnya mulai sedikit membaik dibanding tadi pagi. Walau masih terlihat lelah, setidaknya Sevi kini bisa tidur lebih tenang.Jemari Arlan menyapu pelan rambut yang menutupi kening Sevi.Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar tidak menyangka semuanya bisa sampai sejauh ini.Awaln

  • Bos, Jangan di Sini!   Jujur Perkara Gym

    Suasana kamar rawat yang tadi dipenuhi tangis dan kecemasan perlahan berubah lebih ringan sejak kedatangan Bima. Lelaki itu benar-benar tidak bisa diam. Baru beberapa menit duduk, sudah ada saja yang ia komentari.“Bang, serius deh. Kamu tuh mukanya gampang diboongin cewek.”Arlan mendelik malas.“Perasaan muka ku biasa aja.”“Enggak,” sahut Bima cepat. “Muka abang tuh tipe yang kalau ditipu investasi pasti bilang, ‘nggak apa-apa yang penting orangnya belajar.’”Sevi langsung tertawa keras sampai sedikit batuk. “HAHAHA apaan sih…”“Nah tuh ketawa,” Bima menunjuk Sevi bangga. “Berarti terapi ku berhasil.”Arlan menggeleng tidak habis pikir. “Paling bener jadi badut aja, Bim.”“Kalau aku jadi badut, member gym ku nangis semua nanti karena jatuh cinta.”“Najis,” balas Arlan spontan.Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama.Tak terasa hampir satu jam Bima menemani mereka mengobrol. Mulai dari membahas gym, makanan rumah sakit yang hambar, sampai Arlan yang dijadikan bahan candaan terus-me

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngegibah Sonya

    Arlan masih membeku di tempatnya. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Sevi, kini perlahan menegang. Wajahnya terlihat kosong beberapa detik, seperti sedang menyusun jawaban yang tepat di kepalanya.Sedangkan Sevi masih menatap lurus ke arahnya. Tatapan itu menusuk seperti meminta jawaban segera, dan justru itu lebih membuat Arlan gugup.“Aku… ngigau?” tanyanya pelan.Sevi mengangguk kecil. “Iya, tadi malam.”Arlan mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun yang ia ingat hanya tidur dengan kepala yang penuh pikiran.“Aku beneran nggak sadar, sayang,” ucapnya jujur. “Aku bahkan nggak inget mimpi apa.”Sevi tidak langsung menjawab, tangannya memainkan ujung selimut pelan dan bibirnya mengerucut kecil.“Aku cuma takut aja…” lirihnya akhirnya.Kalimat itu langsung membuat dada Arlan terasa diremas. Ia mendekat lagi ke ranjang, lalu memegang kedua tangan Sevi lagi.“Aku nggak ada apa-apa sama Sonya.” Nada suaranya kali ini t

  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateآخر تحديث : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Tertahan

    Dengkuran halus terdengar bersahutan.Televisi sudah lama dimatikan. Cahaya layar hitam memantulkan bayangan samar di dinding ruang tengah. Selimut tebal menutup rapi tubuh para ayah yang tertidur di depan TV, posisi mereka berantakan namun nyaman, seolah dunia bisa menunggu sampai pagi.Namun tida

    last updateآخر تحديث : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Salah Paham

    Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”

    last updateآخر تحديث : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateآخر تحديث : 2026-03-31
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status