แชร์

BAB 5 Yang Sebenarnya Berbahaya

ผู้เขียน: Aretha Wang
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-10 13:39:30

"Zade." Kittie berdiri kaku, sisa lemparan telur masih menetes dari ujung rambutnya, suaranya bergetar antara syok dan amarah yang mulai merayap naik dari dadanya. 

Alih-alih peduli Zade, sudah berbalik sebelum Kittie sempat menyelesaikan kalimatnya. Matanya bergerak lambat menyusuri barisan mahasiswa di belakang, mencari satu wajah yang salah tempat berdiri terlalu tegang di antara yang lain. 

"Diam di situ," kata Zade.

Tanpa menoleh, ia melangkah pelan turun dari panggung. Kerumunan yang tadinya berdesakan mendadak kini terbelah, Zade berhenti tepat di depan seorang mahasiswa berjaket almamater.

"Kamu." Satu kata, dan mahasiswa itu langsung berdiri lebih tegak dari sebelumnya. "Lempar apa tadi?" 

"I—itu bukan saya, saya cuma—"

"Aku tidak bertanya siapa yang mulai." Zade memiringkan kepala sedikit, nadanya tetap datar. "Aku tanya, kamu lempar apa?"

Hening. Mahasiswa itu menelan ludah, tidak berani menjawab.

"Kalau kamu diam," Zade melanjutkan, suaranya tetap rendah, tapi cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya ikut mundur setengah langkah, “Mungkin ini bisa membuatmu berbicara.”

Zade tidak lagi bertanya. Ia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dengan tenang. “Kau penerima beasiswa organisasi dari Senat, kan?" tanyanya,

Wajah mahasiswa itu langsung pucat. "Zade, tunggu dulu!”

Zade memasukkan ponselnya kembali ke saku, berbalik pergi seolah urusan itu sudah selesai sepenuhnya. "Cek emailmu besok pagi. Kamu harus bersiap membayar sendiri semester depan." 

" Tidak! Zade! Saya cuma disuruh, itu bukan ide saya!" Mahasiswa itu akhirnya panik, menunjuk ke arah lain, mencoba melempar tanggung jawab. 

Zade berjalan kembali ke arah Kittie, mengabaikan teriakan ketakutan dan bisik-bisik yang mulai menyebar cepat di sekelilingnya. Kittie masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia sembunyikan.

"Kenapa?" tanya Zade, melihat cara Kittie menatapnya.

"Kamu baru saja menghancurkan masa depan orang cuma karena telur." Kittie mengelap lengannya sendiri dengan tisu yang disodorkan seseorang di dekatnya, suaranya masih bergetar.

"Aku menghancurkan masa depan orang yang berani melempar sesuatu ke arahku," koreksi Zade, datar, "dan kebetulan mengenaimu."

Kittie mengeraskan rahangnya, tahu bahwa Zade sengaja menjadikannya tameng.

"Itu berlebihan Zade." ucap Kittie

"Menurutmu." Zade melangkah lebih dulu meninggalkan aula, tidak menunggu Kittie yang masih berdiri mematung di tempat yang sama.

Kittie membersihkan sisa telur dari rambut dan lengannya. Ia menatap air yang mengalir ke lantai kamar mandi, dan pikirannya masih berputar pada wajah datar Zade di aula tadi.

Kittie mematikan shower, meraih handuk, dan baru sempat berpikir jernih ketika ponselnya yang tergeletak di loker berdering kencang. Ia mengeringkan tangan buru-buru, mengangkat panggilan itu. "Halo?" 

"KITTIE!" Suara Clara langsung memekik dari seberang telepon, panik tanpa basa-basi. "Kamu di mana? Aku denger dari anak-anak tadi ada kejadian di aula. Kittie, kamu baik-baik aja?" 

 "Aku baik-baik aja, Clar." Kittie duduk di bangku panjang ruang ganti, masih membalut tubuhnya dengan handuk. "Aku cuma kena… telur." ucap Kittie ragu. 

"Kamu tau nggak, anak yang lempar telur itu, katanya langsung diusir dari kampus? Beasiswanya dicabut, semua fasilitasnya diblokir, secepat itu, Kit!" Clara terdengar panik.

Ternyata lebih parah dari yang diduga, pikirnya.

Ada jeda panjang di seberang telepon, sebelum suara Clara kembali terdengar, "Kittie, aku harus nanya ini. Kenapa sih kamu selalu ada di tengah-tengah urusan tiga Calloway itu?”

Kittie diam, jemarinya mengetuk pelan pinggiran bangku. Ia belum siap bercerita soal kontrak. "Aku cuma lagi mencoba bergaul aja belakangan ini," jawab Kittie akhirnya, berusaha terdengar ringan. 

"Kit." Nada Clara berubah lebih tegas. “Berada dideket sama mereka itu kayak pegang pisau bermata dua." Clara menghela napas panjang di seberang telepon. "Aku tau, deket sama Calloway itu artinya dapet status, dapet perlindungan, tapi … aku takut kamu yang malah terluka duluan, sebelum sempet dapet untungnya." 

"Aku ngerti kekhawatiran kamu." Kittie tersenyum kecil meski Clara tidak bisa melihatnya. "Tapi percaya aku, aku tau apa yang aku hadapin."

Clara masih terdengar tidak puas, tapi memilih tidak memaksa lebih jauh. "Ya udah. Tapi kalau ada apa-apa, telepon aku, oke? Jangan dipendem sendiri."

"Oke. Makasih, ya." Kittie menutup telepon, menatap layar ponselnya yang kembali gelap.

Taman kampus siang itu cukup teduh, Kittie duduk sendirian di salah satu bangku, masih memikirkan kejadian di aula dan ucapan Clara, ketika Aiden muncul entah dari mana, membawa dua kaleng minuman, melemparkan satu ke pangkuan Kittie. 

"Muka kamu kayak habis lihat hantu," kata Aiden, 

"Aku habis lihat sesuatu yang lebih serem dari itu." Kittie membuka kaleng minumannya, tidak benar-benar meminumnya.

Aiden terdiam sebentar, lalu tertawa pelan, "Masih mikirin kejadian tadi?" 

"Bohong kalau aku nggak mikirin," jawab Kittie,"Aiden, kamu deket sama Zade dari kecil, ‘kan?" 

"Sejak lahir, teknisnya." Aiden tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sehangat biasanya. "Kenapa? Kamu kira aku yang paling perlu diwaspadai di antara kami bertiga, ya?"

Kittie menoleh, mengernyit. "Bukannya memang kamu? Kamu yang paling agresif kalau godain orang."

"Aku cuma jail." Aiden mengangkat kalengnya, meneguk sedikit. "Aku suka bikin orang risih, bikin orang malu di depan umum, tapi cuma sampai di situ.”

"Terus?"

"Zade beda." Aiden menatap kalengnya sendiri, nadanya berubah lebih serius dari yang pernah Kittie dengar sebelumnya. "Dia nggak pernah teriak, nggak pernah kelihatan marah. Tapi kalau dia tidak suka orang, dia bakalan selesai, nggak ada ampun." 

Kittie diam, mengingat lagi cara Zade bicara di aula tadi 

"Aku pernah lihat dia bikin dosen dipecat," lanjut Aiden, "cuma karena dosen itu ngasih nilai C ke salah satu anak buahnya di organisasi.” 

"Kenapa nggak ada yang berani lawan dia?" tanya Kittie

Aiden mengangkat bahu, menyeringai kecil, tapi kali ini seringai itu terasa lebih seperti peringatan daripada godaan. "Karena orang yang coba lawan Zade, biasanya berakhir kayak mahasiswa tadi. Atau lebih buruk."

Kittie menatap kaleng minumannya sendiri, memikirkan ulang semua interaksinya dengan Zade sejauh ini. "Kamu tau kenapa dia begitu?" Aiden diam sejenak, Kittie menggeleng. 

"Dari kecil, Zade dilatih buat nggak pernah nunjukin emosi. Ayah kami itu tipe orang yang percaya, kalau kamu nggak bisa mengendalikan emosimu, berarti kamu lemah." Aiden bersandar ke belakang, menatap dedaunan di atas mereka. 

"Itu ... nggak sehat." ucap Kittie.

Aiden mengangguk, turut mengiyakan.

Belum sempat Kittie merespons Aiden, ponselnya bergetar keras di dalam tas. Ia buru-buru meraihnya saat melihat nama yang muncul di layar ponsel.

 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 49 - Peringatan Ketiga

    Sejak malam mengerikan itu, Kittie dilarang keras meninggalkan tempat tidur oleh dokter kemah yang berjaga. Keningnya harus menerima tiga jahitan rapi, sementara suhu tubuhnya masih enggan stabil. “Istirahat total dua hari, tidak boleh ada tawar-menawar,” vonis sang dokter tegas sambil merapikan alat medisnya. “Kalau pusing atau mual berlanjut, evakuasi langsung ke rumah sakit kota.” “dua hari?” Kittie reflek mencoba bangkit, tapi kepalanya langsung berdenyut nyeri. “Tapi jadwalku—”“Berbaring, Nona. Atau saya perpanjang masa isolasi Anda di sini.”Kittie mendengus sebal, terpaksa kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal dengan bibir mengerucut protes. Tidak lama dari itu, Clara sudah duduk di sisi ranjangnya dengan semangkuk bubur dan wajah yang sembab karena kurang tidur.“Aku hampir pingsan waktu dikabari, Kit!” Clara meniup sesendok bubur dengan tangan yang masih sedikit gemetar. “Kata Reno kamu jatuh di lereng. sendiri yang nemuin kamu di sana. Sumpah, itu adegan penyel

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 48 - Dekap yang Disembunyikan

    Aiden maju satu langkah lagi. Air hujan menetes deras dari tudung jas hujannya, tapi tatapannya tidak lepas dari dada Zade. Napasnya memburu, bersatu dengan deru angin malam yang dingin. “Jawab aku, Zade.” Suaranya rendah, bergetar menahan amarah yang hampir meledak di tenggorokan. “Kenapa Kittie ada di pelukanmu? Tanpa baju?” Zade tidak bergeming. Ia bahkan tidak repot-repot merapikan rambutnya yang basah kuyup. Ia hanya melirik adiknya sekilas dengan dingin, lalu kembali menatap lurus ke depan.“Kendalikan emosimu, Aiden.”“Jangan menyuruhku—” Aiden mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih “Kittie terkena gejala hipotermia,” potong Zade datar, suaranya mengiris tajam di antara suara hujan. “Suhu tubuhnya anjlok waktu kutemukan di lereng bawah. Kepalanya terbentur dan berdarah. Pakaiannya basah kuyup. Kalau kubiarkan, kau pikir dia akan bertahan?”Rahang Aiden bergerak kaku, mengeras hebat. Sorot matanya yang semula menyala oleh amarah perlahan goyah,b

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 47 - Tertangkap Basah

    “Kau membuat ku takut, Kittie.” Zade mengulang kata itu lebih pelan, seolah baru mengakuinya pada dirinya sendiri. “Waktu aku turun tadi dan melihatmu tidak bergerak... Aku… belum pernah merasa begitu.” Ada jeda sejenak di sana. “Aku takut, Kittie.” “Kau Zade Calloway,” Kittie mencoba tersenyum, meski bibirnya masih bergetar hebat. “Kamu seharusnya tidak takut pada apa pun.” Zade menahan napasnya. Sial! Aku tidak seharusnya merasakan ini, pikir Zade berontak di dalam hati. Ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam diri Zade. Dari jarak sedekat ini, Kittie tampak jauh lebih kecil dan rapuh daripada Kittie yang biasanya selalu beradu argumen sengit dengannya. Ada bekas darah yang mengering di kening Kittie, bulu mata yang basah oleh sisa air hujan, serta bibir pucat yang bergetar pelan.Entah kenapa, semua pemandangan itu membuat dada Zade sesak dengan cara yang sama sekali tidak ia mengerti.Aku tidak seharusnya melakukan ini. Zade berusaha menahan sebisanya.Namun, tangannya sud

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 46 - Ketakutan Sang Pewaris Calloway

    Zade berhenti seketika begitu mendengar suara dari kejauhan. Suara seorang perempuan—bergetar dan meninggi. Kittie.Tanpa berpikir dua kali, Zade langsung berlari mengarah ke sumber suara.Sekilas, ia sempat menangkap bayangan seseorang ber-hoodie hitam menoleh ke arahnya, lalu berbalik dan lenyap dengan cepat di antara lebatnya pepohonan.Kejar atau turun?Tidak ada waktu untuk menimbang. Matanya menangkap tubuh mungil Kittie yang terbaring kaku di dasar celah batu. “Sialan!” umpat Zade kasar, rahangnya mengeras hebat. Kepanikan ekstrem yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya meremas dadanya tanpa ampun. Ia melompat ke lereng, setengah meluncur setengah berlari, tangannya mencengkeram akar dan batu untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Begitu kakinya menapak didasar lembah, Zade langsung berlutut di sebelah Kittie."Kittie! Hei... buka matamu!" panggil Zade dengan suara bariton yang bergetar panik.Tidak ada reaksi.“Kittie!” Ia menepuk pipinya lebih keras. “Hei! Jangan ma

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 45 - Pesan di Tepi Jurang

    Kittie merogohnya dengan jemari yang dingin. Satu notifikasi dari Nomor yang sama menyala di layar: [Kamu menghindari mereka seharian. Lucu sekali.][Kamu pikir cuma foto itu yang aku punya?][Aku punya hal-hal lain. Hal yang bisa menghancurkan kamu. Dan seluruh Calloway.]Jantung Kittie seakan berhenti berdetak. Darahnya menyusut dingin ke ujung kaki. Sebelum ia sempat bernapas, pesan kedua menyusul masuk: [Malam ini jam sembilan. Jalur setapak di belakang kabin, sampai pohon tumbang besar. Sendirian.][Kalau ada satu orang pun yang ikut, semuanya kukirim ke seluruh kampus. Termasuk ke ayahmu.]Kittie berdiri kaku di tempatnya. Suara burung-burung malam di pepohonan tiba-tiba terdengar menjauh, menyisakan deru bising di dalam kepalanya sendiri. Ia mengetik cepat dengan panik.[Kamu siapa? Mau apa?]Centang satu. Tidak terkirim.SIALAN! batin Kittie berteriak frustrasi.“Kit?”Kittie tersentak hebat. Clara sudah berdiri di sampingnya dengan wajah heran. “Muka kamu pucat lagi.”“Ng

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 44 - Bayang-Bayang Semalam

    Kittie terduduk kaku di atas ranjang. Napasnya memburu tak beraturan, sementara alarm ponsel masih menjerit nyaring di balik bantal. Dengan satu tepukan kasar, ia mematikan benda itu.Di ranjang sebelah, Clara menggeliat malas sambil menarik selimut hingga menutupi hidung.“Kit… masih gelap…” gumam Clara parau.“Maaf, Clar. Tidur lagi sana.”Kittie langsung turun dari ranjang dengan kaki yang terasa lemas seperti agar-agar, lalu setengah berlari menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran, menangkup air dingin dengan kedua telapak tangannya, dan membasuh wajahnya berkali-kali. Sia-sia. Wajahnya di cermin masih merah merona hingga ke pangkal telinga. “Oke, tenang,” bisiknya pada bayangan sendiri di cermin. “Itu cuma mimpi. Kamu demam, kepalamu sedang kacau, sudah itu saja.” Namun, sialnya, otak membelot begitu saja. Mengapa harus mereka bertiga?“Kita terbiasa berbagi,” suara Zade di Noctra malam itu tiba-tiba terngiang. Disusul bayangan kecupan Aiden di pipinya saat di dapur rumah, ser

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status