MasukAlya mendengus, Zayn masih saja membela babunya padahal harusnya ia sudah mendapat ceramah dari sang kakek!Alya tidak habis pikir dengan Zayn yang seolah tidak terpengaruh apa pun dengan berita tranding itu. Bahkan dirinya yang juga digosipkan dengan Azalea pun seolah tidak masalah. "Zayn," Alya berkacak pinggang. "Kamu sudah lihat beritanya kan? Kamu juga--" Alya menggantung ucapannya saat Zayn tidak fokus mendengarkan. Ucapan Alya seolah tak pantas mendapat perhatian Zayn yang kini justru menarik Azalea berdiri, menyuruhnya berhenti membersihkan lantai. "Mulai sekarang, jangan cari ribut dan menindas dia lagi--" Zayn menatap Alya dengan tatapan tajam."Ini kedua kalinya, dan kesempatan terakhir buat kamu. Kalau kamu masih tidak dengar... kamu pasti paham konsekuensinya," tegas Zayn yang seketika membuat Alya bungkam. Alya mengepalkan tangannya kuat hingga buku jarinya memutih. "Dan satu lagi ... jika kamu marah karena pacarmu memberi coklat pada Lea, harusnya Haikal yang kamu
Zayn tersenyum miring, gayanya tengil di mata Adinata. Anak itu memang tidak ada takutnya! "Aku merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Sepertinya darah tinggi Kakek, kambuh? Sampai mengada-ngada masalah--""Kamu!" potong Adinata geram. "Dasar cucu tidak tahu diri, kamu pasti senang buat Kakek penyakitan."Adinata menghela napas dalam, mengusap dadanya yang sesaat terasa terjepit. Zayn tertawa hambar, kalau kakeknya masih meresponnya itu berarti lelaki tua itu dalam kondisi baik. "Zayn. Harusnya kamu sudah tahu, kalau Kakek menegurmu, jelas karena kamu sudah keterlaluan! Bagaimana bisa kamu terlibat dengan gosip murahan seperti itu?" Adinata kembali tegang, matanya melotot. Namun tidak sedikit pun membuat Zayn gentar. "Berpacaran dengan anak perempuan satu sekolah? Malah yang Kakek dengar hanya seorang gadis miskin? Itu benar?" Adinata memastikan, tatapannya tajam penuh selidik. "Kakek," Zayn melangkah mendekat, lalu mengusap pundak kakeknya yang sudah bungkuk dan tidak setegap
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet! Lihat ini!"Azalea membaca apa yang Ezra tunjukkan. Matanya seketika membelalak dengan bibir membulat. "Tunggu, ini sama sekali tidak benar! Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Alvano!" jelas Azalea cepat, ia tidak ingin disalahpahami. Ia bahkan begitu tergopoh dan gugup. Berada di tengah konflik dengan cowok populer tidak membuatnya senang, justru sebaliknya!“Haikal memberiku coklat juga karena Alya, jadi semua ini hoax!” Azalea menyilangkan tangan di depan dadanya, bicara dengan terburu agar didengarkan, seolah ingin menegaskan. "Soal Zayn ... dia juga bukan mengupas apel untukku! Biar kujelaskan apa yang terjad—""Sudahlah. Tidak penting." Zayn bangkit dari duduknya, memoton
"Pelayan di tempat biliar?" ulang Azalea dengan gumaman ragu. "Tapi, aku kan masih sekolah, Kak. Apa boleh?""Gajinya lumayan, Lea. Itu bukan tempat biliar biasa, tapi biliar lounge elite yang ada fasilitas bar mewah di dalamnya. Jadi, pelanggan yang datang ke sana rata-rata kalangan atas dan anak-anak sekolahan kaya yang suka nongkrong sepulang sekolah," jelas Sean."Tip dari mereka besar sekali. Kalau kamu butuh uangnya cepat untuk satu atau dua minggu ini, aku sarankan itu.""Tapi, apa tempat seperti itu legal untukku?" tanya Azalea masih sangsi."Soal bisa atau tidaknya kerja di sana, itu masalah gampang. Bar utamanya baru ramai malam hari, sedangkan pekerja baru yang dibutuhkan di sif sore. Lagian, aku punya orang dalam yang bisa membuatmu diterima kerja tanpa prosedur yang ribet," tambah Sean lagi.Azalea tampak berpikir sesaat. Ia memang sangat butuh uang sekarang. Kalau tidak mendesak, tentu saja ia tidak perlu mengorbankan sisa waktunya di luar jam sekolah untuk bekerja.
Setelah selesai dikupas dan dipotong, tanpa aba-aba Zayn menjejalkannya ke mulut Azalea yang tadi sedang bengong. "Hmph--" Gadis itu tertegun. "Kamu bisa memakannya. Semua buah ini, habiskan saja. Aku sudah tidak berselera," ucap Zayn, meletakan kupasan apelnya di piring, kemudian ia mengambil tisu dan bangkit. "Zayn, ini sungguh?" Zayn sudah keluar, pemuda itu bahkan tidak lagi menggubris Azalea yang bertanya memastikan.Meski senang diberi buah-buahan premium, namun Azalea agak takut Zayn akan menagih bayaran setelah Azalea memakannya. "Dia beneran pergi?" Tatapan Azalea mengekor hingga pria itu benar-benar menghilang di balik pintu. "Wah--" Mata Azalea berbinar saat tatapannya beralih pada buah-buahan di meja. "Aku akan membawa pulang sebagian untuk Ibu!" gumamnya senang. Jujur, Azalea jarang sekali mengkonsumsi buah apalagi buah mahal seperti ini, hampir tidak pernah! ***"Haikal!" panggil Alya pada anak lelaki yang berjalan melewati kelasnya. "Sayang, tunggu!" imbuhnya sa
"Mencium orang pingsan?" Zayn menarik sudut bibirnya. "Maksudnya aku hendak menciummu, begitu? Apa kamu sedang bermimpi?" Zayn mengelak dengan tenang dan senyum mencibir, meski begitu ia hanya memundurkan wajahnya sedikit.Mata gadis itu membulat penuh waspada."Kalau kamu bukan mau mencium, lalu untuk apa mendekatkan wajahmu sedekat itu?!" Azalea tidak lagi sabar untuk terus menahan napas. Jadi ia menyentak napasnya, hingga membuat Zayn benar-benar menjauhkan wajah tampannya. "Sialan! Napasmu bau!" "Maka dari itu, lebih baik kamu menjauh." Azalea memalingkan wajahnya. Ia masih lemas, tidak ada tenaga untuk berdebat apalagi bertengkar dengan Zayn, namun ia sendiri tidak berani mengusir pemuda itu. "Bau napas orang miskin yang kekurangan makan memang seperti napas naga," hina Zayn.Napas naga? Diam-diam, Azalea melirik sinis. Zayn tidak lagi menggubris respon atau pun tatapan kesal itu. "Di pinggir keningmu, apa itu bekas luka?" tanya Zayn dengan raut serius. Azalea buru-buru m







