LOGINTangan Zayn beralih, ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap sudut bibir Azalea lalu menekan pelan bibir yang terasa lembut dan lembab itu. Tatapan Zayn intens ke sana, seolah ingin menikmatinya namun masih menahan diri. "Tapi, siapa tahu apa yang akan Haikal katakan menguntungkanmu," pangkas Azalea pelan, mencoba membujuk Zayn untuk membiarkannya pergi dan mencari informasi. "Mungkin ini ada hubungannya dengan Naura? Kamu sendiri lihat kan perubahan raut wajah Haikal di luar tadi saat melihatmu dan Naura? Sepertinya dia cemburu."Mendengar nama Haikal dan Naura disebut, sorot mata Zayn berubah dingin. Kelembutan yang tadinya menghiasi wajah tampannya memudar, berganti dengan senyum miring. "Raut wajah Haikal bukan urusanmu," tegas Zayn pelan namun dingin. Ia menangkup kedua pipi Azalea, memaksa gadis itu menatap ke arahnya. "Tugasmu di sini cuma satu ... nikmati liburanmu, dan tetap berada di jangkauanku. Paham?"Kalimat penuh penekanan itu jelas membuat Azalea merasa terintim
"Jangan bergerak. Biarkan begini sebentar," bisik Zayn rendah. Embusan napas hangatnya menyapu ceruk leher Azalea membuat gadis itu merinding geli.Azalea berusaha melepas cengkeraman tangan Zayn di pinggangnya, namun tenaga Zayn jauh lebih kuat. "Zayn, lepas. Nanti ada yang lihat.""Biarkan saja," jawab Zayn santai. Bukannya melepas, pemuda itu justru makin menyandarkan dagunya di bahu Azalea, menikmati aroma tubuh gadis itu yang selalu berhasil menenangkan pikirannya yang riuh. "Kenapa lari, hm?""Aku tidak lari. Cuma ingin istirahat sebentar, sebelum kita sampai," alih Azalea. Tatapannya mengarah keluar, melihat birunya air laut di kejauhan. Ia coba bersikap datar dan biasa saja, gengsi membuatnya enggan bicara jika ia tidak suka Zayn dekat-dekat dengan wanita lain. Zayn terkekeh pelan. Suara tawanya yang berat dan dekat di telinga Azalea terasa begitu intim. Sejak tadi Azalea lebih kalem dan diam, Zayn yakin ada yang aneh dari gadisnya. "Bicara padaku, Lea," bujuk Zayn lem
Azalea menyambut uluran tangan Zayn, merasakan hangat jemari pemuda itu saat menuntunnya keluar dari bus. Begitu melangkah turun, embusan angin laut yang segar langsung menyapa wajah mereka. Di dermaga, kapal pesiar berukuran sedang milik keluarga Adinata sudah berlabuh anggun. Varan, Varel, dan Haikal tampak menunggu tak jauh dari dermaga utama. Kedatangan kapal megah itu disambut sorak-sorai antusias dari teman-teman sekelas Azalea yang tak sabar ingin segera memulai liburan. Sebelum rombongan benar-benar naik ke atas kapal, sebuah mobil mewah berhenti di ujung dermaga. Naura turun diantar sopirnya dan berjalan cepat setengah berlari menghampiri mereka. "Zayn!" Suara melengking itu memecah riuh angin dermaga. Zayn refleks melepas genggaman tangannya pada Azalea saat Naura menghambur memeluknya. "Tunggu aku!" panggil Naura manja. Momen itu terekam jelas oleh semua siswa di sana. Teman-teman Azalea yang semula mengira hubungan Zayn dan Azalea makin dekat, kini kemba
"Tanda hitam itu tahi lalat hidup. Kata dokter, kalau dibiarkan tanda itu akan terus membesar," Lanjut Zayn cepat. "Jadi dengan pertimbangan medis, Kakek membawaku ke rumah sakit untuk membuangnya. Fasilitas dan peralatan di rumah sakit itu sangat bagus, sebab itu bisa hilang tanpa bekas."Azalea terpaku, napasnya tertahan di dada. Seluruh teka-teki yang selama ini membingungkan akhirnya terpasang sempurna."Tapi... Naura..." Zayn menggantung kalimatnya, suaranya mendadak ragu. "Naura punya bekas luka di kening kirinya. Dia mengaku kalau dialah anak kecil yang menolongku."Azalea meyakinkan Zayn, suaranya terdengar begitu tenang namun penuh penekanan. "Sekarang kamu bisa selidiki lebih dalam dan ingat-ingat lagi di mana kamu mengalami kecelakaan itu. Jika nanti semua fakta yang kamu dapatkan sesuai dengan ceritaku tadi, berarti Naura sepenuhnya berbohong."Zayn meremas jemarinya sendiri. Pikirannya mendadak kacau. Dulu, ia bukan hanya percaya karena klaim sepihak Naura dan beka
Zayn tidak menjawab. Pemuda itu hanya mengusap lembut bekas luka di kening Azalea dengan ibu jarinya, membiarkan gadis itu berceloteh. Ia bersiap mendengarkan."Saat kecil dulu, aku tinggal bersama Bibi di Kota Gala," mulainya pelan. "Kota kecil yang sumber kehidupannya dari laut. Sebagian besar mata pencaharian mereka nelayan, dan banyak juga yang menjadi pengelola pariwisata."Azalea menatap lurus ke langit-langit ruangan, mencoba memanggil kembali potongan ingatan itu."Kota kecil itu sering disinggahi turis, letaknya berada di pinggiran pulau yang jalannya sedikit berliku. Sebelum sampai ke titik pantai, kita harus melewati perbukitan lebih dulu."Azalea menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. "Suatu hari, aku bersama teman-temanku berjalan-jalan pagi. Sangat pagi, bahkan udara masih begitu dingin dan berkabut. Ketika kami berlari-lari kecil di jalan yang menanjak, tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras. Suara itu berasal dari sebuah mobil yang mengalami kece
Di apartemen, Zayn duduk santai di sofa. Mata tajamnya terus mengawasi gerak-gerik Azalea yang sejak tadi sibuk sendiri. Ia tahu betul gadis itu hanya pura-pura berbenah dan mencari-cari kesibukan semata-mata demi menghindari interaksi dengannya.Azalea kini berdiri di depan bak cuci piring. Hanya ada satu gelas kotor di sana, tetapi ia membilasnya berulang kali, sengaja mengulur waktu sepanjang yang ia bisa.Suara langkah kaki mendekat. Sebelum Azalea sempat berbalik, Zayn sudah berdiri tepat di belakangnya. Tanpa aba-aba, sepasang lengan kekar pemuda itu melingkar erat di pinggang Azalea, memeluknya dari belakang hingga punggung gadis itu menempel rapat di dadanya.Azalea membeku, tangannya yang basah terhenti di atas kran air."Masih marah?" berbisik Zayn tepat di samping telinganya. Suaranya terdengar rendah, lembut, dan sarat akan ketulusan yang tak biasa. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?"Azalea menahan napas. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibi
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







