LOGINNathan berjalan melintasi area parkir privat gedung dekanat yang mulai sepi. Alya berjalan cepat di sampingnya dengan napas masih tersengal, menahan amarah yang kembali memuncak.Sebelum Nathan sempat membuka pintu sedan mewahnya, langkah mereka terhenti saat Clarissa muncul dari balik barisan mobil dinas fakultas.Clarissa berjalan mendekat dengan wajah mengeras.Rasa dipermalukan saat melihat keintiman Nathan dan Alya di selasar auditorium tadi mendorong dosen muda itu membuang seluruh wibawa akademisnya demi menuntut kepastian."Nathan, saya butuh kejelasan sekarang," tekan Clarissa langsung tanpa basa-basi. Matanya menatap Nathan tajam sebelum melirik Alya dengan tatapan penuh penghinaan."Kenapa kamu terus membiarkan mahasiswi ini mengganggu agenda akademik kita? Saya sudah menawarkan posisi asisten riset dan Beasiswa Utama untuk kamu, tapi kamu malah membuang waktu sama cewek yang cuma memanfaatkan kamu buat pansos!"Alya tersentak mendengar tuduhan itu. Merasa harga dirinya dii
Nathan menatap Alya dari ketinggian posisinya tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin. "Bicara yang jelas, Alya. Gue nggak punya waktu buat ngelayanin drama lo.""Gak usah pura-pura gak tahu!" tuduh Alya dengan nada suara bergetar."Kamu sengaja biarin Dosen Clarissa nempel-nempel sama kamu. Kamu biarin dia pamer soal beasiswa, soal makan malam, bahkan kamu ikutan melayani permainan dia di depan aku! Kamu sengaja kan mau nunjukin kalau aku ini gak ada artinya dibanding dia?"Nathan tidak membalas amarah Alya dengan nada tinggi. Pria itu justru maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka.Alya terpaksa mundur hingga punggungnya terbentur dinding marmer dingin auditorium.Nathan menumpukan sebelah tangan tebalnya di dinding tepat di samping kepala Alya, mengurung ruang gerak gadis itu sepenuhnya."Lo pikir lo siapa, Al?" bisik Nathan dengan suara bass rendah yang penuh tekanan intimidasi."Sejak kapan lo punya hak buat ngatur dengan siapa gue bicara atau gimana cara gue bers
Nathan sedang duduk di meja sudut cafeteria privat fakultas, berhadapan langsung dengan Dosen Clarissa.Di atas meja, dua cangkir kopi hitam tanpa gula sudah tersaji, pesanan yang sengaja dibelikan Clarissa tanpa bertanya lebih dulu, menegaskan betapa hafalnya sang dosen muda pada kebiasaan kopi Nathan."Kopi favorit kamu, Nathan. Tanpa gula, persis seperti biasa," ujar Clarissa dengan senyum percaya diri seraya mendorong cangkir tersebut mendekat ke arah Nathan.Dari meja seberang yang berjarak hanya beberapa meter, Alya menyaksikan interaksi itu.Matanya menatap tajam ke arah Clarissa, sementara kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuan.Rasa kesal yang membakar sejak kejadian di ruang bimbingan tadi makin menjadi-jadi saat melihat Clarissa berbuat seolah-olah paling mengenal Nathan.Clarissa, yang sadar betul bahwa Alya sedang memperhatikan mereka, sengaja meninggikan volume suaranya."Saya sudah bicara dengan Dekan soal rekomendasi Beasiswa Riset Utama," lanjut Clarissa denga
Nathan kini sedang duduk santai di salah satu kursi kulit berlengan di depan meja kerja tersebut.Tubuh tegapnya bersandar dengan gestur yang begitu tenang, satu kakinya terangkat menumpu di atas lutut lainnya dengan ketegasan yang alami.Kemeja putih yang pas di badannya serta gulungan kain di siku mempertegas garis otot lengannya saat jemari tebalnya yang berurat membalikkan halaman draf bimbingan proyek khusus.Clarissa, yang duduk di seberang meja dengan blus sutra berwarna gading yang membalut tubuh bagian atasnya secara sempurna, menatap Nathan dengan pendar mata yang sarat puji dan perhatian implisit."Data komparatif yang kamu tambahkan di bab empat ini sangat presisi, Nathan," tutur Clarissa dengan intonasi suara yang lembut namun tetap menjaga wibawa profesionalnya."Saya terkesan dengan efisiensi kerja kamu. Sebenarnya, minggu depan ada seminar internasional di Bali, dan saya berpikir untuk merekomendasikan nama kamu sebagai asisten peneliti pendamping saya."Clarissa memaj
Udara dingin dari sistem pendingin ruangan terpusat di sepanjang lorong lantai dua gedung dekanat terasa begitu menusuk, kontras dengan ketegangan tersembunyi yang perlahan merambat di udara.Nathan Utama melangkah santai namun mantap, menyusuri lantai granit mengilap yang memantulkan siluet tegapnya.Di jemari tangan kanannya, sebuah stopmap tebal berisi draft jurnal penelitian akademik tergenggam santai."Nathan? Bisakah kita bicara sebentar mengenai revisi metodologi di bab tiga?"Suara feminin yang renyah dan sarat ketegasan elegan memecah keheningan lorong. Nathan menghentikan langkah, memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang terkontrol penuh.Di depannya berdiri Dosen Clarissa—seorang pengajar muda berparas jelita dengan blazer beige yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat anggun.Clarissa tersenyum manis, memamerkan pendar profesionalitas yang diam-diam dibalut perhatian khusus yang jarang, atau bahkan tidak pernah, ia perlihatkan kepada mahasiswa lain di fakultas i
Pintu kayu jati tebal bernomor 304 tertutup rapat dengan dentam halus yang menggema singkat di sepanjang koridor lantai tiga gedung Seni dan Arsitektur.Suasana di dalam studio cuci foto analog itu remang-remang, hanya diterangi pendar merah redup dari lampu safelight di sudut ruangan.Aroma tajam cairan kimia pengembang developer dan fixer menusuk hidung, berpadu dengan bau parfum kayu cendana milik Nathan yang mendominasi udara.Nathan berdiri menjulang di dekat pintu, memutar kunci kuningan dua kali hingga terdengar bunyi klik yang tegas.Pria itu menyandarkan punggung tegapnya di pintu kayu, merapikan kancing lengan kemeja putihnya yang sempat terlepas.Matanya yang tajam melacak sosok Alya yang kini berdiri di tengah ruangan, di antara deretan foto-foto hitam-putih yang tergantung basah pada kawat jemuran kecil."Lo bener-bener makin nekat, Alya," ujar Nathan dengan suara bass rendah yang bergema pelan namun dingin."Menarik gue ke dalam studio tua yang terkunci di tengah jam kul
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan







