登入Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika mobil mereka kembali terparkir di area mall megah yang sama.Sintya, yang begitu paham bagaimana memanjakan anak-anak, sengaja membawa mereka ke arena permainan Timezone terbesar di lantai atas. Ia tahu betul Nathan belum puas menjelajahi keseruan ibu kota.Begitu melangkah melewati gerbang utama yang dipenuhi kelap-kelip lampu neon dan dentuman musik arena permainan yang meriah, mata Nathan langsung membola lebar.Sintya menyodorkan sebuah kartu permainan bernuansa emas yang sudah terisi saldo tanpa batas."Nih, kartunya tinggal kamu tap aja di mesin mana pun yang kamu mau," bisik Sintya lembut sembari menyerahkan kartu itu ke jemari Nathan.Nathan memegang kartu tersebut dengan tangan gemetar saking bahagianya. Wajah polosnya berbinar-binar penuh ketakjuban."Astaga, Mama. Dulu Nathan cuma bisa lihat tempat kayak begini di TV doang. Eh, sekarang bisa main langsung di sini!"Sintya mengusap pucuk kepala Nathan dengan binar kasih sayang
Pagi harinya, Sintya sudah sibuk berkutat di sana sejak pagi-pagi sekali. Rambut panjangnya diikat asal ke atas, memperlihatkan tengkuk mulusnya yang jenjang.Sintya hanya mengenakan tank top ketat berwarna krem yang membungkus dada padatnya secara sempurna, dipadukan dengan celana pendek santai yang memamerkan paha mulus nan berisinya secara bebas.Derap langkah kaki ringan mendadak terdengar mendekati area dapur.Nathan muncul dari lorong kamar. Anak laki-laki itu sudah bangun, bahkan tubuhnya sudah tampak sangat segar dan rapi. Ia mengenakan kaos casual dan celana pendek bermerek pilihan Sintya kemarin."Selamat pagi, Mama!" sapa Nathan dengan wajah ceria berbinar-binar.Sintya memutar tubuhnya, meletakkan spatula di samping kompor. Binar matanya membola penuh kejutan saat menyaksikan penampilan putra Heri itu."Astaga, Nathan! Kamu sudah bangun dan rapi jam segini? Keren banget anak Mama!"Nathan tersenyum lebar, memutar tubuhnya memamerkan pakaian yang ia kenakan. "Baju sama cela
Napas Heri masih sedikit memburu saat tangan tegapnya memutar lingkar kemudi, membawa SUV hitam itu keluar dari kegelapan area basement mall menuju jalanan ibu kota yang mulai lengang.Di sampingnya, Sintya duduk merapikan tatanan rambut dan mini dress-nya yang sempat robek sedikit di bagian jahitan.Wajah cantik wanita itu merona segar, dipenuhi kilat kepuasan yang teramat nyata setelah luapan gairah liar mereka di dalam mobil.Setengah jam kemudian, lift pribadi apartemen mewah itu berdenting halus. Pintu terbuka, menampilkan lorong berlantai marmer yang elegan.Heri melangkah keluar sembari merapikan kerah kemejanya yang agak kusut dan kancing atasnya yang terlepas.Maman, yang sedang berdiri di dekat selasar ruang tengah sembari menyesap secangkir teh, seketika menoleh. Pria itu melirik jam tangannya, lalu menatap Heri dan Sintya bergantian dengan tatapan jenaka."Aduh, Nyonya... Bos..." goda Maman dengan cengiran lebar di wajahnya. "Lama amat? Perasaan tadi pamitnya cuma mau beli
Tanpa membuang waktu untuk membalas godaan Sintya dengan kata-kata, Heri langsung merenggut seluruh pakaian yang berserakan di lantai fitting room.Dengan gerakan taktis yang teramat cepat, ia membantu Sintya mengenakan kembali mini dress-nya, menyambar seluruh belanjaan lingerie di meja kasir, dan membayar transaksi itu tanpa memedulikan tatapan heran dari pelayan toko.Langkah tegap Heri menyeret Sintya menelusuri koridor mall, memotong jalur menuju elevator khusus service, dan langsung meluncur turun menuju area basement parkir lantai P3—sudut paling bawah, paling temaram, dan paling sepi dari jangkauan lalu lalang orang.Begitu pintu elevator terbuka, Heri mencengkeram jemari Sintya, membawanya setengah berlari menuju SUV hitam milik pria itu yang terparkir membisu di balik pilar beton raksasa.CLIK!Sentakan tombol remote membuka kunci pintu. Heri menyentak pintu penumpang belakang, lalu mendorong tubuh mulus Sintya masuk ke dalam kabin luas ber-kaca film hitam pekat 90 persen ya
Pintu kaca toko lingerie mewah itu tertutup halus saat Heri melangkah masuk di belakang Sintya.Pria itu berdiri mematung di tengah ruangan yang dipenuhi aroma harum bunga mawar dan pencahayaan temaram nan erotis.Sepasang mata elang Heri menatap deratan kain-kain tipis yang terpajang, sementara napas baritonnya perlahan mengberat.Sintya bergerak lincah menelusuri etase. Jemari lentiknya tanpa ragu menyapu lembar demi lembar kain sutra transparan, renda-renda rendah, hingga potongan-potongan baju malam yang minim."Yang ini bagus... eh, yang ini juga seksi banget," gumam Sintya riang.Heri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah wanitanya.Otot-otot dada bidang sang mantan pengawal mengetat kaku saat menyaksikan Sintya mengumpulkan tidak tanggung-tanggung, sepuluh set lingerie sekaligus dengan bermacam motif dan potongan yang kian terbuka.Sintya berbalik, memamerkan tumpukan pakaian dalam di pelukannya sembari menyunggingkan senyum miring yang teramat menggoda."Ak
Deru mesin SUV hitam milik Heri membelah padatnya arus lalu lintas Jakarta yang riuh, menandai kembalinya mereka ke rimba beton ibu kota.Di bawah terik matahari siang, Heri mengarahkan kemudi menuju salah satu pusat perbelanjaan elite yang lokasinya berdekatan dengan kompleks apartemen mewah Sintya.Langkah kaki tegap Heri memandu Sintya dan Nathan menelusuri lantai marmer mall yang megah.Maman, yang sudah bersiap sejak pagi menunggu kedatangan mereka dari kampung, berjalan taktis beberapa tindak di belakang, siap siaga membawa barang belanjaan.Heri memperhatikan bagaimana Sintya langsung menggandeng jemari Nathan, membawanya masuk ke sebuah boutique pakaian anak ternama.Binar mata Nathan membola lebar, terpukau oleh deretan baju-baju stylish berkelas yang terpajang anggun.Sintya dengan cermat memilih beberapa kemeja casual, jaket, hingga kaos kasual berpotongan modern yang sangat cocok dengan postur tubuh Nathan yang tegap diturunkan dari Heri."Gimana, Nathan? Bagus nggak yang
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.