เข้าสู่ระบบMaman tidak membuang waktu satu detik pun. Begitu Karin melangkah masuk dan pintu rumah itu terkunci rapat dari dalam, Maman langsung berbalik.Tangan besarnya menyambar pinggang ramping Karin, memutar tubuh wanita itu, dan memojokkannya ke pintu kayu.Maman menyambar bibir Karin dalam ciuman yang amat kasar, panas, dan menuntut.Maman melahap mulut wanita itu secara brutal, melampiaskan seluruh gairah yang sudah ditahannya sejak di luar kota. Karin mendesah keras di dalam ciuman tersebut.Bukannya tersiksa, birahi Karin justru makin meledak diperlakukan kasar secara jantan seperti ini. Jemari lentik Karin langsung membongkar kancing kemeja Maman secara agresif, menarik kain itu hingga terlepas dari bahu tegap Maman yang penuh otot."Mas... pelan-pelan..." bisik Karin dengan napas tersengal saat Maman memindahkan ciumannya ke leher halus Karin."Kamu dari kemarin memancing aku, Karin. Sekarang jangan minta aku pelan," geram Maman dengan suara parau yang sangat dalam.Maman menyambar t
Bisikan nakal Karin menembus telinga Maman bagaikan sulut api pada mesiu kering. Benteng pertahanan pria berotot itu hancur seketika.Maman yang sudah hilang kesabaran tak lagi peduli pada rasa canggung maupun etika. Dalam kegelapan pekat ruang arsip yang sempit itu, insting jantan liarnya meledak.Tangan kekar Maman langsung menyambar pinggang ramping Karin dengan cengkeraman keras dan protektif. Dengan satu gerakan cepat, Maman mendorong tubuh molek wanita itu hingga menempel rata ke tembok bata dingin.Tangan besarnya langsung meremas bokong Karin secara kasar dan agresif, mengangkat tubuh wanita itu sedikit lebih tinggi untuk menyamakan posisi mereka."Kamu sendiri yang minta, Karin," geram Maman dengan suara bariton parau penuh gairah di telinga Karin.Karin mendesah basah saat tangan Maman mulai merayap liar di punggung dan pahanya. Bukannya mundur, Karin justru makin memancing batas kesabaran Maman.Wanita itu sengaja menaikkan salah satu kakinya, melingkarkannya di paha tegap
Pagi itu, Heri sedang meneliti beberapa draf berkas di ruang kerja utamanya ketika pintu diketuk pelan.Karin melangkah masuk membawa map laporan keuangan. Penampilan wanita itu langsung mencuri perhatian seluruh ruangan.Karin mengenakan rok pensil warna hitam yang sangat pendek dan ketat, dipadukan dengan atasan blus tipis berdada rendah yang menonjolkan lekuk tubuh serta belahan dadanya dengan sangat jelas.Maman yang sedang berdiri di dekat jendela langsung menghentikan kegiatannya. Pandangan mata Maman terkunci sepenuhnya pada paha mulus Karin yang terekspos tiap kali wanita itu melangkah.Selangkangan Maman seketika terasa tegang parah. Darah jantannya berdesir cepat melihat lekuk tubuh Karin yang sengaja dipamerkan."Pak Heri, ini draf persiapan audit untuk cabang baru," ujar Karin dengan suara manja yang dibuat-buat, sengaja membungkuk sedikit di depan meja Heri hingga belahan dadanya makin mengintip.Heri menerima berkas itu, lalu menoleh melirik Maman yang matanya sudah tak
Siang itu, ruang privat ber-AC di lantai atas restoran bintang lima pusat kota terasa teramat lengang. Meja bundar besar berpelitur gelap sudah tertata rapi dengan hidangan makan siang berkelas.Heri duduk tegap di kursi utama, mengenakan kemeja hitam yang dipadu jas abu-abu gelap tanpa dasi. Maman berdiri diam di balik punggungnya bagaikan dinding karang yang siap mengeksekusi perintah.Pintu ganda ruang privat terbuka. Kapolres setempat bersama Kepala Dinas Perizinan Utama melangkah masuk, disusul oleh Pak Frans yang menyunggingkan senyum formalitas.Namun, tepat di belakang Pak Frans, sosok Bang Garong ikut menerobos masuk dengan jaket kulit hitamnya, melangkah angkuh tanpa rasa canggung sedikit pun."Selamat siang, Pak Heri," sapa Kepala Dinas sembari menjabat tangan Heri. "Suatu kehormatan bisa diundang makan siang oleh CEO Utama Group.""Selamat siang, Pak Kadis, Pak Kapolres," balas Heri dengan nada suara bariton yang mantap dan tenang. Heri melirik Bang Garong yang langsung me
Heri tidak terpancing emosi sedikit pun untuk merespons gertakan fisik Bang Garong. Pria tegap itu berdiri sangat tenang di samping mobilnya, menyilangkan kedua tangan di atas dada.Dengan aura dominan mutlak seorang pemenang, Heri menatap mata Bang Garong lurus-lurus tanpa berkedip.Tatapan cokelat pekat itu begitu dingin dan menekan, hingga membuat Bang Garong yang tadinya menyeringai perlahan menghentikan ketukan tongkatnya.Beberapa anggota ormas di belakangnya bahkan mendadak segan dan mundur setengah langkah secara refleks.Maman yang berdiri di samping Heri sudah menggepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, siap menghajar pria bertato itu dalam hitungan detik.Namun, Heri mengangkat tangan kirinya sedikit. Ia memberi isyarat halus agar Maman mundur secara taktis tanpa kekerasan terbuka di hari pertama.Heri sengaja memilih tidak mengumbar otot demi membaca seluruh peta kekuatan lawan dan siapa dalang sebenarnya di balik gertakan ini."Man, masuk mobil," perintah Heri
Pagi itu, koper hitam berisi berkas-berkas penting sudah terikat rapi di bagasi mobil. Heri berdiri di depan cermin kamar tidur utama, merapikan kerah kemeja linen gelap yang dibalut jas kasual.Perjalanan dinas dua hari ke kota tetangga ini sangat krusial; akuisisi lahan dan bangunan tua berarsitektur megah di pusat bisnis kota tersebut menjadi langkah awal ekspansi cabang kedua restorannya.Sintya melangkah mendekat dengan wajah sedikit merogoh cemas. Tangannya membawa dasi Heri, menatap suaminya dengan tatapan memohon."Mas, beneran aku nggak boleh ikut?" tanya Sintya pelan, mendongak menatap wajah tegas Heri."Aku cuma mau dampingi Mas Heri sebentar. Lagipula di sana kan aku bisa sekalian lihat potensi pasar buat butik."Heri meraih jemari Sintya, mengusap punggung tangan istrinya dengan kelembutan penuh proteksi."Nggak boleh, Sayang. Usia kandungan kamu baru empat minggu, masih sangat riskan buat perjalanan darat berjam-jam.""Tapi aku sehat kok, Mas. Mualnya juga sudah berkuran
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.







