LOGINPukul lima sore, Karin mengendarai sedan putihnya menyusuri jalur protokol kota.Penampilannya masih tampak rapi dengan kemeja kerjanya, walau raut lelah tak bisa disembunyikan sepenuhnya setelah seharian memvalidasi sisa dokumen keuangan.Karin memutar radio dengan volume rendah, membiarkan musik instrumental lembut menemani perjalanannya menuju kawasan apartemen eksekutif.Namun, di balik ketenangan yang dirasakan Karin, sebuah pergerakan gelap sedang mengintai dari jarak dekat.Sejak keluar dari area parkir basement kantor pusat Heri, sebuah minibus hitam dengan kaca film serba gelap dan tanpa pelat nomor resmi merayap konstan di belakang kendaraan Karin.Minibus itu bermanuver lincah di antara barisan mobil, menjaga jarak dua hingga tiga kendaraan sembari menunggu momentum yang tepat untuk mengeksekusi perintah jahat yang diberikan oleh kelompok Dargo.Karin yang fokus mengawasi kepadatan lalu lintas di depannya tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi sasaran empuk dari aksi n
Broto terduduk lemas di balik meja kerja mahoni berukuran raksasa.Jas mewahnya sudah ditanggalkan begitu saja di sandaran kursi, kemeja putihnya kusut dengan kancing atas yang terbuka lebar. Dahi dan pelipisnya licin oleh peluh yang tak henti-hentinya menetes.Di atas meja kaca, dua unit ponsel pintarnya tak berhenti bergetar dan menyala, memunculkan deretan panggilan masuk dari berbagai nama.Namun, tiap kali Broto menyambar ponselnya untuk menjawab, yang terdengar hanyalah nada tut-tut-tut panjang, tanda bahwa nomor pribadinya telah diblokir secara sepihak.Pimpinan puncak, penyokong dana utama, hingga jajaran direksi yang selama ini bernaung di bawah bendera Konsorsium Sanjaya mendadak memutus seluruh kontak dengannya.Berita tentang penangkapan Bambang Supeno oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pusat serta pembongkaran identitas cangkang fiktif mereka telah menyebar bagaikan wabah mematikan di kalangan elit perbankan dan politik daerah.Bos besar konsorsium di Jakarta tidak sud
Pukul sembilan pagi tepat, suasana kantor Dinas Pertanahan Daerah yang biasanya dipenuhi lalu lalang warga serta tengkulak berkemeja rapi mendadak berubah menjadi kaku.Suara deru mesin yang berat bergema di pelataran parkir depan ketika dua unit SUV hitam berpelat nomor dinas khusus dari ibu kota berhenti secara bersamaan di depan tangga utama.Pintu kendaraan terbuka lebar.Dari dalam kabin, melangkah keluar rombongan pejabat dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanahan Pusat bersama tiga orang penyidik khusus bersetelan gelap.Tanpa melayani sapaan ramah dari petugas penerima tamu yang tampak kebingungan, tim pusat melangkah cepat membelah koridor utama lantai dua, langsung menuju ruang kerja Kepala Seksi Penetapan Hak Pertanahan Daerah.Brak!Pintu kayu bercat cokelat tua milik ruangan Bambang Supeno didorong terbuka tanpa peringatan.Bambang yang sedang duduk santai sembari memegang cangkir teh hangat refleks meloncat dari kursi kepemimpinannya."Apa-apaan ini?! Siapa yang be
Pukul delapan pagi, di atas meja kayu mahoni yang meliuk panjang, terhampar satu bundel laporan tebal berwujud folder eksklusif bersampul keras warna biru tua dengan segel khusus.Bundel laporan itu merupakan adikarya taktis yang menyatukan seluruh perjuangan mereka.Di dalamnya terikat sempurna lembar demi lembar analisis forensik digital dari Karin yang menguliti aliran suap ke rekening Bambang Supeno, dokumen draf gugatan perdata serta pidana buatan Sintya yang memanfaatkan warkah tua tahun 1982 milik Pak Ridwan, hingga bukti fisik rekaman sabotase gardu listrik dan salinan buku catatan hitam yang direbut Maman dari markas pergudangan.Sintya membubuhkan stempel meterai hukum terakhir di lembar penutup, lalu menutup folder tebal tersebut dengan sebuah dentupan halus yang memuaskan."Semua dokumen fisik sudah dilegalisir oleh notaris negara," ujar Sintya mantap. Suara halusnya bergema tenang di dalam ruangan."Kurir diplomatik internal kita sudah siap menerbangkan bundel laporan ini
Tengah malam, Karin duduk tegap di kursi kerjanya. Jemari lentiknya menari lincah di atas papan ketik, menyusun kronologi detail insiden sabotase gardu listrik yang baru saja digagalkan subjek pengamanan.Di samping laptopnya, tergelar tas perkakas milik teknisi gadungan suruhan Broto, kilat data berisi rekaman CCTV resolusi tinggi, serta berkas fisik bukti aliran dana suap Bambang Supeno.Karin memastikan setiap detail bukti terindeks dengan presisi mutlak sebelum seluruh dokumen ini diserahkan ke tangan tim penyidik kejaksaan dan kepolisian esok pagi.Di sudut ruangan dekat rak arsip baja, Maman berdiri bersedekap dada. Pria berotot kepercayaan Heri itu mengenakan kemeja taktis gelap yang menyamarkan lekuk tubuh kekarnya.Tatapan mata baritonnya yang tajam tidak pernah beristirahat; sesekali mengawasi jendela bertirai tebal yang menghadap ke area parkir belakang, lalu beralih memperhatikan gerak-gerik Karin yang sibuk memverifikasi data.Maman melangkah tanpa suara, mendekati meja k
Pukul sembilan malam, gelak tawa keluarga, denting sendok dan garpu, serta aroma khas hidangan laut yang dibakar menggantung di udara, diiringi alunan musik instrumental lembut yang mendinginkan suasana pesisir.Namun, di area paling belakang bangunan, di lorong sempit beraspal yang diapit dinding pembatas dan gardu trafo listrik utama, keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat.Tempat itu gelap, sepi, dan hanya diimbangi oleh derum halus dari mesin pendingin udara sentral.Dua pria bersetelan seragam biru lusuh khas teknisi listrik melangkah senyap dari balik rimbun tanaman hias outer perimeter.Keduanya mengenakan topi pet berlidah rendah untuk menyamarkan paras wajah.Pria yang bertubuh lebih jangkung membawa tas perkakas tebal di bahunya, sementara rekannya yang pendek menyengkelit sebuah tang pemotong baja berukuran besar di balik jaketnya.Gerakan mereka terburu-buru dan serba panik.Setelah gertakan Heri di private lounge sore tadi, perintah dari Broto turun secara mend
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







