Share

BAB 378

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-25 12:06:05

Gemuruh sorak-sorai penonton menggema nyaring memenuhi Gedung Olahraga (GOR) SMP Favorit Kota.

Sinar lampu gelanggang memantul hangat di atas permukaan lantai kayu varnis arena.

Pertandingan final turnamen basket antar-kelas berada di puncaknya.

Nathan memimpin tim gabungan kelas satu SMP menghadapi tim senior kelas tiga yang terkenal mengandalkan kontak fisik keras dan cenderung kotor.

Di panggung tribun VIP berpendingin khusus, Sintya duduk anggun mengenakan kemeja bahan linen halus didamping
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 381

    Pukul tujuh malam, kehangatan yang amat berbobot menyelimuti ruang makan utama kediaman pribadi Heri.Lampu gantung kristal membiaskan pendar cahaya keemasan di atas meja makan panjang berbahan kayu jati murni.Berbagai hidangan santapan malam kelas atas tersaji rapi, menebarkan aroma lezat yang menggugah selera.Suasana malam syukuran kecil itu terasa begitu privat, rileks, namun tetap memancarkan wibawa keagungan sebuah dinasti yang kokoh.Heri duduk tegap di kepala meja sebagai pemimpin tertinggi. Sang CEO mengenakan kemeja kasual hitam berpotongan rapi, memancarkan karisma jantan yang tenang.Di sisi kanannya, Sintya duduk anggun memangku bayi Dimas yang tenang usai disusui.Di samping Sintya, Nathan duduk tegap mengenakan pakaian santai, menampilkan rahang tegas dan pendar mata yang makin mirip dengan sang ayah.Sementara itu, di sisi kiri meja, Karin dan Maman duduk berdampingan.Sebagai kawan seperjuangan sekaligus pilar kepercayaan Heri Group yang sudah seperti keluarga sendir

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 380

    Pintu kaca tebal berbahan tempered telah terkunci rapat dari dalam.Di dalam gazebo privat yang berdiri gagah di sudut taman belakang, udara dingin dari pendingin ruangan berpadu hangat dengan aroma wangi tubuh Sintya yang khas.Rimbunnya daun-daun palem dan tanaman merambat di luar kaca jendela memberikan jaminan keamanan visual total.Tidak ada satu pengawal pun di area luar yang berani mendekati radius gazebo tanpa instruksi langsung dari sang pimpinan.Heri menundukkan tubuh tegapnya, menindih Sintya di atas sofa kulit berukuran luas yang empuk.Kaos polo hitam yang dikenakan Heri sudah terlepas, memperlihatkan otot dada bidang dan perutnya yang tertata sempurna.Tatapan mata bariton sang CEO memancar tajam, dipenuhi gairah dominasi jantan yang terulur tanpa sisa.Jemari tegap Heri merayap cepat menyusuri pinggang tebal Sintya, menarik gaun terusan krem istrinya hingga terangkat ke atas.Sintya mendesah halus, melingkarkan kedua lengan halusnya di leher kokoh Heri. Sentuhan fisik

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 379

    Di tepi kolam renang, Nathan bersantai menemani adik kecilnya, Dimas Hermawan, yang berada di dalam kereta bayi eksklusif.Didampingi Karin dan seorang pengasuh senior, Nathan tampak begitu telaten. Pria muda tiga belas tahun itu sesekali menggerakkan mainan kayu di atas boks, memancing tawa halus dari bayi Dimas.Postur tubuh Nathan yang tegap serta rahang tegasnya memancarkan sosok seorang kakak sulung yang sangat bisa diandalkan.Sintya berdiri di area teras utama, memperhatikan interaksi kedua putranya dari kejauhan.Kehangatan yang mendalam mengalir di dalam dada istrinya tersebut. Melihat bagaimana Nathan yang makin matang begitu menyayangi Dimas membuat Sintya merasa sangat bersyukur atas keharmonisan keluarga yang dibangun oleh suaminya."Nathan, bawa adiknya masuk yuk. Sudah makin sore, anginnya mulai dingin," panggil Sintya dengan suara lembutnya.Nathan mendongak, lalu mengangguk patuh. "Siap, Ma. Biar Nathan yang dorong keretanya sampai kamar."Dengan cekatan dan penuh keh

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 378

    Gemuruh sorak-sorai penonton menggema nyaring memenuhi Gedung Olahraga (GOR) SMP Favorit Kota.Sinar lampu gelanggang memantul hangat di atas permukaan lantai kayu varnis arena.Pertandingan final turnamen basket antar-kelas berada di puncaknya.Nathan memimpin tim gabungan kelas satu SMP menghadapi tim senior kelas tiga yang terkenal mengandalkan kontak fisik keras dan cenderung kotor.Di panggung tribun VIP berpendingin khusus, Sintya duduk anggun mengenakan kemeja bahan linen halus didampingi Karin.Di pelukan Sintya, bayi Dimas tertidur lelap terlindung dari kebisingan berkat pelindung telinga khusus bayi.Heri sendiri duduk tegap tepat di samping Sintya, mengenakan kemeja kasual gelap dengan lengan tergulung.Di belakang bangku VIP, Maman bersama tiga personel pengawal berjas rapi berdiri siaga memantau seluruh sudut tribun, menjamin keamanan mutlak keluarga pimpinan Heri Group."Nathan membaca pola serangan lawan dengan sangat tenang, Pak Heri," pangkas Maman pelan dari balik ba

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 377

    Pukul enam pagi di akhir pekan, pendar sinar matahari pagi menembus kaca tebal area gym pribadi yang terletak di sayap timur kediaman Heri.Ruangan seluas seratus meter persegi itu dilengkapi matras beladiri profesional, sandsack kulit berukuran besar, serta jajaran beban besi kedap suara.Udara sejuk berpendingin sedang memenuhi ruangan, mengiringi deru napas dua laki-laki beda generasi yang tengah memeras keringat.Heri berdiri tegap di tengah matras, mengenakan kaus tanpa lengan hitam yang memperlihatkan otot bahu serta lengannya yang kokoh berotot.Di hadapannya, Nathan berdiri pasang kuda-kuda beladiri taktis. Remaja tiga belas tahun itu mengenakan celana training dan kaus abu-abu yang basah kuyup oleh peluh.Punggung dan dadanya kian membidang, sementara ketahanan fisiknya berkembang pesat dalam beberapa bulan terakhir."Ulangi kombinasi pukulan lurus dan tangkisan bawah, Nathan! Jangan turunkan tangan kirimu!" pangkas Heri dengan suara bariton yang berat dan mantap.Nathan meng

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 376

    Setelah menahan diri selama lebih dari dua bulan penuh, sejak masa akhir kehamilan tua hingga tuntasnya masa nifas empat puluh hari, hasrat jantan Heri yang membara tidak lagi bisa dibendung.Heri membaringkan tubuh Sintya secara perlahan di atas bantalan sofa yang empuk, lalu menyusul di atasnya tanpa membiarkan berat badannya menindih fisik istrinya secara kasar.Jemari tegap Heri melusup ke balik kain gaun tidur sutra marun yang membalut tubuh Sintya, menyibakkannya ke atas dengan gerakan yang teratur namun penuh dengan desakan kepemilikan mutlak."Mas... pelan-pelan," desah Sintya lirih dengan mata terpejam pasrah, menyenggol bahu tegap Heri sewaktu kecupan-kecupan panas suaminya mulai merayap turun dari leher mulusnya menuju tulang selangka."Mas selalu tahu batasannya, Sintya," pangkas Heri dengan suara baritonnya yang teramat berat, serak, dan bergetar rendah di tenggorokan.Tangan kekar Heri merengkuh pinggul tebal Sintya, menyangga posisi tubuh istrinya agar mendapatkan kenya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status