LOGIN"Aku pengen kamu selingkuhin aku, Mas Bayu!" ulang Nyonya Selin dengan nada suara yang teramat santai layaknya meminta dibelikan permen kapas di pasar malam. Keringat dingin seketika mengucur deras membasahi pelipis dan tengkuk Bayu. 'Gusti Pangeran, cobaan macam apa lagi ini setelah sekian lama berjuang melawan preman dan keluarga besar?' jerit batin Bayu dengan isi kepala yang mendadak berputar pusing tujuh keliling. Bayu menelan ludah dengan susah payah seraya memegang kedua pundak halus istrinya. "Kamu jangan bercanda yang aneh-aneh begini, Selin... apa kepalamu pusing atau pengaruh mual muntah kemarin bikin kamu melindur?" "Aku seratus persen sadar, Mas!" bantah Nyonya Selin seraya menepis tangan Bayu dengan raut wajah yang mendadak cemberut manja. Setitik air mata hormon kehamilan mendadak menggenang di pelupuk mata sang nyonya. "Bawaan bayi di dalam perutku ini penasaran sekali ingin merasakan drama diselingkuhi pria setia seperti kamu, Mas!" tutur Nyonya Selin dengan b
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut menembus kisi-kisi tirai kamar tidur utama, menghangatkan lantai marmer yang dingin. Di dalam kamar mandi, Nyonya Selin berdiri mematung di depan wastafel seraya menatap benda pipih putih di telapak tangannya dengan tatapan tak percaya. Dua garis merah muda yang tegas dan tebal terpampang nyata di atas jendela indikator alat uji kehamilan tersebut. Tubuh wanita berkelas itu mendadak bergetar hebat, sementara butiran air mata hangat mulai menggenang di pelupuk mata cokelat keemasannya. Ketukan pelan di pintu kamar mandi terdengar menyapa lembut diiringi suara langkah tenang sang suami. "Selin? Kamu di dalam?" panggil Bayu seraya memutar handel pintu kayu yang tidak terkunci. Bayu melangkah masuk mengenakan kemeja santai, menatap raut wajah istrinya yang tampak membeku dengan napas tertahan. "Ada apa, Sayang? Perutmu mual lagi?" tanya Bayu cemas seraya lekas merengkuh kedua pundak halus sang istri. Nyonya Selin perlahan mengangkat tangannya
Lampu tidur di sudut kamar temaram, membiaskan cahaya keemasan di atas meja rias marmer yang dingin. Di hadapan cermin besar, Nyonya Selin duduk terpaku seraya menatap sebatang alat uji kehamilan yang tergeletak bisu dengan satu garis merah tegas. Keheningan malam kian menusuk ulu hati wanita itu saat jemari lentiknya bergetar menyingkirkan benda plastik tersebut ke sudut meja. Meskipun dokter spesialis kandungan tempo hari telah memastikan rahimnya sehat dan gejala mualnya murni akibat stres berat, harapan di dasar hatinya belum pernah benar-benar padam. Dua telapak tangan Nyonya Selin perlahan turun, meraba perut ratanya yang terbalut gaun tidur sutra beraroma stroberi lembut. Rongga dadanya mendadak terasa sesak dihantam bayang-bayang masa lalu yang begitu menyiksa batin. "Kenapa... kenapa masih belum ada tanda-tanda kehidupan di sini?" bisik Nyonya Selin dengan bibir ranum yang bergetar menahan tangis. Kata-kata keji dari Bram bertahun-tahun silam mendadak bergaung kembali
Tari lekas bangkit memeluk pinggang kakaknya dan Selin secara bersamaan seraya tersenyum riang. “Selamat ya, Mas Bayu, Mbak Selin! Tari senang sekali sekarang punya kakak perempuan yang luar biasa baik hati!” seru gadis kecil itu riang gembira. Suasana haru dan penuh kehangatan keluarga itu disambut tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang menyaksikan. Pesta resepsi malam hari berlanjut dengan kemegahan jamuan makan malam tanpa ada satu pun gangguan dari para perusuh masa lalu. Bram, Dinda, dan Paman Tirta kini telah resmi mendekam di balik jeruji sel tahanan mapolda menanti jadwal persidangan kasus korupsi dan perampokan mereka. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat pesta perayaan mewah tersebut akhirnya usai dengan sempurna. Bayu dan Selin melangkah masuk ke dalam kamar presidential suite di lantai teratas hotel berbintang itu. Pintu kayu jati ganda berukir otomatis terkunci rapat begitu daun pintu menutup, menyisakan kesunyian yang intim di antara mere
Balai pernikahan megah di hotel bintang lima kawasan Jakarta Pusat tampak berkilau disiram cahaya lampu gantung kristal yang megah. Aroma wangi rangkaian melati segar dan mawar putih merebak semerbak, menyatu dengan alunan lembut tembang Jawa klasik yang dibawakan orkestra modern. Bayu berdiri tegak di depan meja penghulu, mengenakan beskap pengantin modern berwarna hitam beludru yang berhias sulaman benang emas murni. Potongan baju adat berkelas itu mencetak sempurna ketegapan pundak dan dada bidang sang pemuda desa, memancarkan wibawa pria terhormat yang memikat perhatian para tamu undangan. Bisik-bisik kagum dari para pejabat direksi Wijaya Group dan rekanan bisnis terdengar di sepanjang lorong aula. Pintu ganda berukir emas di ujung aula perlahan terbuka lebar. Nyonya Selin melangkah anggun menyusuri karpet merah panjang, digandeng oleh seorang sesepuh keluarga Wijaya yang netral dan tulus menyayanginya. Balutan kebaya pengantin brokat sutra putih gading bertabur k
Dua petugas kejaksaan bergerak cepat memasang borgol baja ke kedua pergelangan tangan Paman Tirta di depan meja rapat. Pria paruh baya itu tertunduk lunglai tanpa daya saat digiring melangkah menuju pintu keluar ruang pertemuan direksi. Melihat ayahnya diseret aparat, sorot mata Dinda mendadak berubah liar dipenuhi kegilaan yang memuncak. “Aku tidak sudi membusuk di penjara sendirian, Selin!” jerit Dinda seraya merogoh belati lipat kecil dari balik jaket bulunya. Gadis bergaun merah itu melompat kalap menerjang ke arah Nyonya Selin dengan mata pisau mengarah lurus ke leher sang kakak tiri. Bayu tidak membuang waktu sedetik pun. Kewaspadaan tinggi seorang sopir pribadi yang terbiasa membaca situasi jalanan membuat gerakan Bayu melesat mendahului sabetan senjata tersebut. Telapak tangan kanan Bayu mencengkeram pergelangan tangan Dinda di udara, lalu memutarnya ke bawah dengan kuncian presisi tanpa cela. KLEK! Belati lipat itu terlepas berdenting ke lantai karpet, disusul jerit
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu







