MasukPagutan bibir di tengah ruang tamu yang sunyi itu seketika meledak menjadi kobaran asmara yang membakar akal sehat. Rendra menekan tengkuk Arini dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, memperdalam lumatan bibirnya tanpa memberi ruang untuk bernapas. Aroma wangi sedap malam milik Clarissa yang sempat tertinggal di udara lenyap, tersapu oleh aroma tubuh Arini yang manis semerbak melati. Jemari lentik Arini mencengkeram erat bahu kekar sang montir, menenggelamkan kukunya ke kulit liat yang berlumuran peluh hangat. Rasa cemburu yang menyengat di dadanya justru menjelma menjadi keberanian liar yang belum pernah dirasakan Arini sebelumnya. "Kuasai aku, Mas Rendra..." rintih Arini tersengal di sela tautan bibir mereka. Wanita jelita itu mendongakkan wajahnya dengan mata terpejam pasrah, membiarkan leher jenjangnya dinikmati oleh sapuan bibir tegas sang pria. "Jangan biarkan wanita kaya itu mengambilmu dariku," bisik Arini dengan suara parau yang sarat akan rasa takut sekaligu
Arini tidak bergeming sedikit pun di bawah tatapan meremehkan Clarissa. Wanita anggun itu perlahan mengangkat wajahnya, menyunggingkan senyuman dingin yang membalas tuntas hinaan sang pewaris bisnis suku cadang. "Modal tubuh rusak, katamu?" suara Arini terdengar sangat tenang, namun getaran ketegasannya menggema tajam di sekeliling ruangan. Langkah kaki Arini melangkah maju, memangkas jarak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari hidung mancung Clarissa. "Kalau memang seluruh kekayaan dan kemolekan tubuhmu itu begitu berharga, Clarissa... kenapa selama dua tahun ini Mas Rendra bahkan tidak sudi melirikmu?" Wajah Clarissa seketika memerah padam mendengar tamparan kata-kata yang menghantam telak harga dirinya. Kilatan amarah membakar sepasang mata indah Clarissa, meremukkan topeng keanggunan yang sedari tadi dia kenakan. "Jaga mulut kotormu, Arini!" bentak Clarissa dengan nada melengking penuh kejengkelan. Clarissa mengibaskan rambut ikalnya seraya melipat kedua tan
Cengkeraman tangan Rendra di leher Danang semakin mengetat, membuat urat-urat biru mencuat di wajah pria kurus yang kian membiru itu. Danang menggelepar dengan kedua kaki menendang udara kosong, sementara matanya mendelik liar menatap kematian yang tinggal sejengkal di depan hidungnya. "Lepaskan anakku! Pembunuh! Tolong, ada pembunuh!" jerit Nyonya Ratih histeris seraya memukuli punggung baja Rendra tanpa hasil. Dua pengacara keluarga Danang bahkan sudah mundur teratur hingga merapat ke kusen pintu depan, tak berani mengambil risiko menghadapi amukan sang montir. Tepat saat kesadaran Danang hampir padam sepenuhnya, ketukan sepatu hak tinggi terdengar berderap santai namun tegas dari arah pelataran luar. Tik... tok... tik... tok. "Lepaskan leher sampah itu, Mas Rendra... tangan perkasa seperti milikmu terlalu berharga untuk dikotori nyawa seekor kecoak." Suara wanita bernada serak basah yang teramat dingin mengalun membelah jeritan panik di ruang tamu. Semua pasang mata seketik
Keheningan mencekam seketika membekukan udara di ruang tamu megah tersebut. Lembaran foto usang di atas meja kaca menampilkan sesosok wanita muda berparas manis yang terbujur kaku bersimbah darah di atas aspal basah. Dada Rendra bergemuruh hebat, pupil matanya melebar menatap wajah wanita yang pernah menjadi belahan jiwanya. Kenangan kelam lima tahun lalu mendadak menghantam kepala sang montir bagaikan godam godam baja, membuat kedua telapak tangannya bergetar tanpa kendali. Danang tertawa parau melihat kehancuran mental yang terpancar jelas dari raut pria perkasa di hadapannya. "Namanya Sekar, kan? Istrimu yang sedang mengandung tiga bulan saat tubuhnya dihantam sampai terpental sepuluh meter di tikungan depan komplek!" seru Danang dengan sorot mata penuh kemenangan beracun. Danang melangkah mendekat seraya menunjuk lurus ke arah garasi samping tempat mobil Arini terparkir. "Dan kamu tahu kendaraan apa yang melindas tubuhnya malam itu, Rendra? Sedan putih milik Arini yang tadi
Danang melangkah santai melintasi lantai marmer seraya mengibaskan lembaran kertas bermeterai di tangannya. Senyum pongah tersungging di bibir lebam pria itu, menatap Arini seolah sang istri hanyalah mangsa yang sudah terpojok di sudut ruangan. "Kamu pikir borgol murahan itu bisa menahanku lebih dari dua jam di kantor polisi, Arini?" cibir Danang dengan nada suara mengejek. Nyonya Ratih tersenyum bangga seraya menepuk pundak anak lelaki kesayangannya. "Keluarga kita punya relasi pejabat di mana-mana, Danang. Menantu pembangkang ini terlalu naif mengira hukum jalanan bisa menjatuhkan keluarga terhormat kita." Pengacara berkacamata di samping Nyonya Ratih melangkah maju, lalu membuka map kulit hitam dan menyodorkan salinan dokumen berkop notaris ke hadapan Arini. "Pasal tujuh perjanjian pranikah menyebutkan secara mutlak, hak milik atas tanah dan kediaman Cemara Hijau beralih penuh kepada pihak suami apabila pernikahan bubar tanpa adanya keturunan," papar sang advokat dengan inton
Layar ponsel di atas meja kecil itu terus menyala terang, memancarkan pesan dingin dari pengacara keluarga besar Danang. Arini menatap deretan kalimat itu dengan napas yang tertahan sesaat di tenggorokan. Kedua pundak wanita jelita itu sempat menegang kaku, teringat pada sosok ibu mertuanya yang selama bertahun-tahun selalu memperlakukannya dengan tatapan merendahkan. Telapak tangan kekar Rendra mendarat lembut di tengkuk Arini, memberikan remasan hangat yang seketika mengurai rasa beku di sekujur sarafnya. "Ada masalah baru?" tanya Rendra seraya mencondongkan wajahnya, menyapukan embusan napas hangat di pipi sang nyonya. Arini menyodorkan layar ponsel itu tanpa menyembunyikan apa pun dari tatapan sang montir. "Ibu mertuaku... Nyonya Ratih sedang menuju kemari bersama tim kuasa hukum keluarga besarnya," bisik Arini dengan bibir ranum yang bergetar pelan. "Wanita itu tidak pernah menerima anaknya disalahkan, Mas. Selama lima tahun pernikahan, beliau selalu memandang rendah kelua
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon







