LOGINCengkeraman tangan Rendra di leher Danang semakin mengetat, membuat urat-urat biru mencuat di wajah pria kurus yang kian membiru itu. Danang menggelepar dengan kedua kaki menendang udara kosong, sementara matanya mendelik liar menatap kematian yang tinggal sejengkal di depan hidungnya. "Lepaskan anakku! Pembunuh! Tolong, ada pembunuh!" jerit Nyonya Ratih histeris seraya memukuli punggung baja Rendra tanpa hasil. Dua pengacara keluarga Danang bahkan sudah mundur teratur hingga merapat ke kusen pintu depan, tak berani mengambil risiko menghadapi amukan sang montir. Tepat saat kesadaran Danang hampir padam sepenuhnya, ketukan sepatu hak tinggi terdengar berderap santai namun tegas dari arah pelataran luar. Tik... tok... tik... tok. "Lepaskan leher sampah itu, Mas Rendra... tangan perkasa seperti milikmu terlalu berharga untuk dikotori nyawa seekor kecoak." Suara wanita bernada serak basah yang teramat dingin mengalun membelah jeritan panik di ruang tamu. Semua pasang mata seketik
Keheningan mencekam seketika membekukan udara di ruang tamu megah tersebut. Lembaran foto usang di atas meja kaca menampilkan sesosok wanita muda berparas manis yang terbujur kaku bersimbah darah di atas aspal basah. Dada Rendra bergemuruh hebat, pupil matanya melebar menatap wajah wanita yang pernah menjadi belahan jiwanya. Kenangan kelam lima tahun lalu mendadak menghantam kepala sang montir bagaikan godam godam baja, membuat kedua telapak tangannya bergetar tanpa kendali. Danang tertawa parau melihat kehancuran mental yang terpancar jelas dari raut pria perkasa di hadapannya. "Namanya Sekar, kan? Istrimu yang sedang mengandung tiga bulan saat tubuhnya dihantam sampai terpental sepuluh meter di tikungan depan komplek!" seru Danang dengan sorot mata penuh kemenangan beracun. Danang melangkah mendekat seraya menunjuk lurus ke arah garasi samping tempat mobil Arini terparkir. "Dan kamu tahu kendaraan apa yang melindas tubuhnya malam itu, Rendra? Sedan putih milik Arini yang tadi
Danang melangkah santai melintasi lantai marmer seraya mengibaskan lembaran kertas bermeterai di tangannya. Senyum pongah tersungging di bibir lebam pria itu, menatap Arini seolah sang istri hanyalah mangsa yang sudah terpojok di sudut ruangan. "Kamu pikir borgol murahan itu bisa menahanku lebih dari dua jam di kantor polisi, Arini?" cibir Danang dengan nada suara mengejek. Nyonya Ratih tersenyum bangga seraya menepuk pundak anak lelaki kesayangannya. "Keluarga kita punya relasi pejabat di mana-mana, Danang. Menantu pembangkang ini terlalu naif mengira hukum jalanan bisa menjatuhkan keluarga terhormat kita." Pengacara berkacamata di samping Nyonya Ratih melangkah maju, lalu membuka map kulit hitam dan menyodorkan salinan dokumen berkop notaris ke hadapan Arini. "Pasal tujuh perjanjian pranikah menyebutkan secara mutlak, hak milik atas tanah dan kediaman Cemara Hijau beralih penuh kepada pihak suami apabila pernikahan bubar tanpa adanya keturunan," papar sang advokat dengan inton
Layar ponsel di atas meja kecil itu terus menyala terang, memancarkan pesan dingin dari pengacara keluarga besar Danang. Arini menatap deretan kalimat itu dengan napas yang tertahan sesaat di tenggorokan. Kedua pundak wanita jelita itu sempat menegang kaku, teringat pada sosok ibu mertuanya yang selama bertahun-tahun selalu memperlakukannya dengan tatapan merendahkan. Telapak tangan kekar Rendra mendarat lembut di tengkuk Arini, memberikan remasan hangat yang seketika mengurai rasa beku di sekujur sarafnya. "Ada masalah baru?" tanya Rendra seraya mencondongkan wajahnya, menyapukan embusan napas hangat di pipi sang nyonya. Arini menyodorkan layar ponsel itu tanpa menyembunyikan apa pun dari tatapan sang montir. "Ibu mertuaku... Nyonya Ratih sedang menuju kemari bersama tim kuasa hukum keluarga besarnya," bisik Arini dengan bibir ranum yang bergetar pelan. "Wanita itu tidak pernah menerima anaknya disalahkan, Mas. Selama lima tahun pernikahan, beliau selalu memandang rendah kelua
Rendra mengangkat tubuh ringan Arini ke dalam gendongannya seperti anak kecil. Otot lengan Rendra yang tegang mengangkat tubuh ramping itu tanpa usaha. Arini merasakan kehangatan dada Rendra di dadanya, kain sutra jubahnya yang tipis hampir tak menahan sentuhan otot perut Rendra yang keras. Ia menyelipkan wajahnya lagi di leher pria itu, mencium kulit sawo matangnya pelan, mencicipi garam keringat yang bercampur aroma sabun mandi Rendra yang sederhana. Rendra membawanya melangkah menjauhi pecahan kaca menuju sofa panjang di sudut balkon yang bersih. Udara malam yang sejuk membelai kulit mereka berdua, menghapus sisa kepengapan drama berdarah yang baru saja berlalu. Angin malam menyusup ke balik kain sutra Arini, menyentuh kulit paha dalamnya yang terpapar sedikit saat jubahnya terbuka. Di balkon yang diterangi lampu neon lembut dari taman bawah, Rendra mendudukkan Arini di pangkuannya dengan hati-hati, pinggul Arini tepat di pangkuan Rendra. Lutut Arini terbuka sedikit karena po
Jantung Danang berdegup kencang. Ia merangkak lebih dekat, jarinya mencengkeram kaki petugas polisi. “JANGAN DENGARKAN BAJINGAN INI, KOMANDAN!” potong Danang seraya memukul lantai marmer kalap dengan tinju berdarah. “Saya pemilik sah rumah mewah ini! Saya yang membayar pajak, yang membangun taman ini! Tangkap saja montir kampung kere ini! Saya yang bersaksi!” “Pak Polisi!” suara Arini tiba-tiba menggelegar dari atas ranjang, tajam dan penuh wibawa bangsawan. “Komandan, jangan percaya satu patah kata pun dari mulut pria penipu ini!” Arini melangkah turun dari kasur dengan balutan jubah tidur sutra panjang yang dirapatkan erat menutupi tubuhnya. Kain sutra hitam pekat itu melilit tubuh rampingnya seperti pelukan malam yang seksi, bahu telanjangnya terpapar sedikit di samping leher, lekuk pinggang rampingnya yang indah terlihat jelas di bawah cahaya redup. Rambut panjangnya yang hitam mengalir liar di bahu, beberapa helai menempel di pipinya yang pucat karena syok. Wajah ayu sang
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon






