Share

Membalas Bram!

Penulis: Dre LA
last update Tanggal publikasi: 2026-07-29 21:52:57

Selin berbalik dan melangkah mantap menuju rak buku raksasa di sudut ruangan. Ia menarik sebuah ensiklopedia tebal bersampul kulit merah tua yang tak pernah disentuh siapa pun. *Klak.* Sebuah mekanisme rahasia berbunyi, menggeser sebagian rak buku itu dan menampakkan sebuah brankas baja tertanam kokoh di dalam dinding.

Bram memang yang memasang brankas ini. Bram juga yang mengatur kombinasinya. Tapi Bram lupa—atau mungkin terlalu arogan untuk menyadari—bahwa rumah ini, dinding ini, dan selu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ajat Sudrajat
Deh degan tapi gak bisa di lanjut ni cerita.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   418

    Pintu kamar tidur utama dibanting keras oleh Danang, mengunci dunia luar di balik gerendel ganda yang berdentang nyaring. Pria itu melemparkan jas kerjanya ke lantai marmer seraya menatap Arini dengan sorot mata menyala penuh amarah dan nafsu yang menuntut. "Kamu pikir kamu bisa terus-terusan mengelak dari kewajibanmu di rumah ini, Arini?!" bentak Danang seraya mencengkeram kasar kedua pergelangan tangan sang istri. Tubuh Arini terdorong jatuh ke atas kasur empuk berseprai satin dingin, membuat gaun sutra tipisnya tersingkap kusut. Aroma alkohol murahan bercampur bau bedak perempuan lain dari kerah kemeja Danang menyengat hidung Arini, memicu rasa mual yang menyesakkan dada. "Layani aku sekarang juga, buktikan kalau kamu masih berhak menjadi nyonya di rumah mewah ini!" raung Danang seraya menindih tubuh Arini tanpa sedikit pun kelembutan. Arini menelan ludah dengan tenggorokan kering, memilih menuruti tuntutan kasar suaminya demi menjaga rahasia perselingkuhannya agar tetap terk

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   417.

    Matahari sore mulai merayap turun di ufuk barat, membiaskan cahaya jingga di sepanjang jalanan komplek Cemara Hijau.Deru mesin mobil sedan Danang terdengar memasuki pekarangan rumah, memecah kesunyian beranda dengan suara ban berderit pelan.Danang melangkah turun dari mobil seraya merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku.Senyuman puas masih terpatri di wajah pria kurus itu setelah menghabiskan siang hari di bilik papan milik Yuni di ujung perkampungan.Langkah kaki Danang mendadak terhenti saat ekor matanya melirik ke arah kanopi samping garasi.Sedan putih milik Arini telah terparkir rapi di sana, bersih mengkilap tanpa ada kepulan uap radiator sedikit pun."Kapan mobil rongsokan ini selesai diperbaiki?" gumam Danang seraya melangkah menaiki tangga teras dengan kening berkerut heran.Pintu depan rumah mewah itu terbuka tanpa terkunci.Danang melenggang masuk ke ruang tamu seraya melempar tas kerja kulitnya ke atas sofa panjang.Aroma wangi sabun melati yang teramat lembut seke

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   416.

    Ruang tamu berplafon tinggi itu perlahan kembali diselimuti ketenangan yang syahdu. Debar jantung Arini berangsur mereda, bertalu beriringan dengan ritme dada bidang Rendra yang begitu kokoh menopang tubuhnya. Tangan kasar sang montir bergerak teramat perlahan, menyampirkan kembali helai gaun sutra untuk menutupi pundak dingin wanita itu. Tiada lagi kepanikan yang mencekam, hanya tersisa desau pendingin ruangan yang membelai keheningan di antara mereka berdua. "Tarik napasmu pelan-pelan, Arini," bisik Rendra seraya menyapukan kecupan hangat di kening sang nyonya. Belaian lembut itu terasa begitu tulus, mengalirkan rasa damai yang meresap hingga ke relung batin Arini yang paling rapuh. Arini membenamkan wajahnya di lekuk leher Rendra, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi penawar dahaga jiwanya. "Terima kasih sudah mendekap lukaku, Mas Rendra..." gumam Arini dengan suara parau yang sarat kelegaan. Rendra tersenyum teduh seraya menyeka sisa air mata di sudut mata bulat yang

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   415.

    Isak tangis Arini semakin pecah di dada bidang Rendra saat deru mesin mobil suaminya benar-benar hilang dari kejauhan. Tubuh ramping berbalut gaun sutra tipis itu berguncang hebat, menumpahkan segala kehancuran batin yang dipendamnya bertahun-tahun. Rendra duduk di atas karpet beludru tebal ruang tamu seraya merengkuh erat pinggang Arini ke dalam dekapannya. Telapak tangan kasar sang montir menangkup pipi porselen Arini, mengusap lelehan air mata yang membasahi bibir ranum wanita itu. "Tumpahkan semuanya di sini, Arini... jangan tahan rasa sakitmu lagi," bisik Rendra dengan suara bariton serak yang begitu menenteramkan. Arini mendongakkan kepalanya seraya menatap sepasang mata elang Rendra dengan pandangan sayu yang sarat keputusasaan. "Mas Danang selalu membuatku merasa kotor dan tidak berharga, Mas..." rintih Arini dengan napas tersengal-sengal di sela tangisnya. Jemari lentik Arini mencengkeram erat bahu kekar Rendra, lalu menarik tengkuk pria itu agar mendekat. "Hapus semu

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   414.

    Suara ketukan nada tombol digital di gagang pintu depan membeku dalam keheningan yang mematikan. Arini membelalakkan matanya dengan napas yang seketika tercekat di tenggorokan. "M-Mas Danang... dia balik!" bisik Arini dengan wajah yang memucat seputih kain kafan. Rendra bertindak secepat kilat tanpa membuang waktu sedetik pun. Kedua tangan kekar sang duda menyambar pinggang ramping Arini, mengangkat tubuh molek itu turun dari meja marmer dengan gerakan mantap. Tangan kiri Rendra lekas menaikkan ritsleting celananya dan mengencangkan gesper sabuk kulitnya dengan satu sentakan cepat. Arini menarik ke atas gaun satin merah mudanya yang kusut dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Dua tali tipis itu dipasang kembali ke pundaknya, menutupi dua aset ranum yang masih memerah dan memancarkan hawa panas. "Sembunyi ke mana, Mas?! Pintu depan langsung mengarah ke ruang tamu ini!" bisik Arini nyaris menangis dalam kepanikan luar biasa. Sorot mata elang Rendra menyapu cepat tata ruang ta

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   413.

    "Suamimu menelantarkanmu di jalanan dan meninggalkanmu kedinginan di rumah besar yang sunyi ini," balas Rendra dingin dan menusuk. Kedua telapak tangan Rendra yang besar mendarat kokoh di sisi meja, mengurung tubuh sintal Arini di antara dadanya yang bidang. Aroma maskulin khas Rendra bercampur wangi sabun mandi seketika membius indra penciuman Arini. Napas panas Rendra menerpa kening Arini, memicu desiran hangat yang langsung melumpuhkan sisa tenaganya. "Semalam kamu menyerahkan dirimu seutuhnya di atas kasur saya, Arini... dan rasa itu membuat saya tidak bisa tidur sedetik pun," bisik Rendra dengan suara parau yang membakar gairah. Arini menelan ludah dengan susah payah, merasakan ujung sepatu Rendra merapatkan posisi di antara kedua kakinya. "Mas... semalam itu cuma kekhilafan karena aku panik..." dalih Arini dengan bibir ranum yang bergetar lemah. Rendra menyunggingkan seringai tipis seraya mencondongkan wajahnya mendekati ceruk leher jenjang Arini. "Kekhilafan tidak memb

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   4. Mimpi Basah

    Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   1. Puasin Aku

    "Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status