تسجيل الدخولAgnes masih terpaku menatap bibir Daniel yang tebal. Ia lalu membuka mulutnya sendiri. Daniel mengira itu adalah undangan untuknya bergerak mendekat, tapi lalu Agnes berkata, “Aku adalah psikolog dan kamu adalah pasien.”
Daniel langsung tersadarkan. Ia mundur satu langkah, lalu berpaling dan jalan ke ruang tengah, “Silakan masuk.”
Agnes mengikuti Daniel ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan dan dapur bersih yang mewah. Seumur hidupnya baru kali ini melihat isi penthouse mewah. Ia melewati ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar mandi tamu dengan lampu gantung yang mewah. Di ruang tengah, ia bisa melihat langsung ke balkon yang luas. Dari balkon terlihat cahaya kota gemerlap. Dekat pintu keluar balkon, ada tangga menuju lantai dua.
“Silakan duduk,” Daniel duduk di sofa panjang.
Agnes memilih duduk di sofa kecil di samping sofa panjang.
Daniel menatap Agnes yang masih memperhatikan ruangan. Begitu mata Agnes menatapnya, Daniel menaikkan salah satu alisnya sambil memiringkan kepalanya.
“Ah, ya.” Agnes mengeluarkan buku catatan dan pulpen dari tote bag yang terbuat dari kulit. “Kita mulai sesi kedua.”
“Oke,” Daniel duduk bersandar sambil menyilakan kaki kanannya ke atas kaki kirinya.
“Aku perlu beberapa informasi, latar belakang kehidupan mas Daniel.”
“Oke.”
Agnes menelan ludah. “Sejak kapan keluhan ini terjadi?”
“Lupa.”
‘Aduh. Kenapa sih masih belum mau jujur sama aku?’ batin Agnes, kesal.
“Oke. Tidak apa-apa. Kira-kira kapan pertama kali mas Daniel tahu bahwa mas Daniel punya keluhan seksual.”
“Tidak ingat.”
‘Oke. Saatnya ganti strategi.’ Agnes mencatat dibukunya tentang Daniel adalah seorang yang amat sangat tertutup.
“Kapan pertama kali, mas Daniel pacaran?”
“Kamu. Kapan pertama kali pacaran?” Daniel membuka silangan kakinya, mencondongkan badannya, dan menunpukan kedua tangannya di lutut kakinya sambil menatap Agnes dengan menyunggingkan senyuman nakal.
Agnes mengangguk, ‘Aku harus terbuka, kalau mau dia terbuka. Oke. Akan aku mainkan.’
“Kira-kira SMA.”’
“Kakak kelas?”
“Bukan. Teman sekelas.”
“Berapa lama pacaran?”
“Nggak lama. Cuma setahun. Begitu naik kelas, dia pacaran sama adik kelas.”
“Untung lah.”
“Kenapa untung?”
“Kamu jadi single sekarang.”
“Kenapa kesimpulannya seperti itu? Bisa saja sekarang aku sudah punya pacar baru.”
“Oh. Jadi sekarang kamu sudah punya pacar?” Daniel terlihat bangga bisa menggoda Agnes.
Agnes menunduk malu, ‘Sial. Kenapa aku yang jadi kena jebakannya?’
“Ehem,” Agnes mengusap poninya ke belakang, “kita fokus kembali ke masalah mas Daniel. Jadi kapan mas Daniel tahu bahwa tubuh mas Daniel tidak bisa merespon secara seksual?”
Agnes bisa melihat raut wajah Daniel berubah. Kaku. Serius.
‘Sepertinya pertanyaan yang to the point, bisa langsung berpengaruh.’
Agnes menunggu jawaban dari Daniel.
Daniel ingin menceritakan semuanya. Ketika ia mendengarkan pengalaman teman-teman prianya pacaran saat masih SMP. Bagaimana mereka merasakan melayang ke angkasa ketika pacar-pacar mereka menyentuh mereka, mencium mereka, tapi tidak dengannya. Ia tidak merasakan apapun ketika mencobanya dengan pacar pertamanya. Begitu juga dengan pacar-pacar berikutnya. Tidak ada yang bisa membuat badannya bereaksi, sampai akhirnya ia bertemu dengan Agnes.
“Untuk apa kamu tahu?” tanya Daniel.
“Karena kita sedang mencoba mencari akar permasalahannya.”
“Tapi kita seakrang sudah menemukan solusinya.”
Agnes menggelengkan kepala, “Solusinya bisa jadi bukan solusi permanen. Dan kita tidak menginginkan itu. Kita menginginkan solusi yang permanen.”
Daniel membuang muka, kesal mendengar penjelasan teori demi teori.
Tapi Agnes melanjutkan penjelasannya, “Untuk menemukan solusi permanen, kita harus tahu akar permasalahannya. Kalau sudah ketemu, baru kita bisa menyembuhkan masalah dari akarnya. Dengan begitu….”
Agnes terkesiap, ketika Daniel tiba-tiba bangkit dan membungkuk di hadapan Agnes. Kedua tangannya menahan di kedua sisi lengan sofa.
“Sentuh aku. Kita lihat apakah kemarin itu hanya kebetulan atau kah memang solusi yang sebenarnya.”
Agnes menahan napasnya, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Karisma Daniel dan hasrat terpendamnya, berusaha membuatnya kehilangan kesadaran.
Daniel mengambil tangan Agnes, “Sentuh aku!”
Agnes menyentuh wajah Daniel.
Daniel memejamkan mata.
Agnes bisa melihat urat di leher Daniel menebal. Jarinya menelusuri leher Daniel, lanjut ke dada Daniel. Ia bisa merasakan badan Daniel bereaksi.
Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Agnes. Melihat Agnes yang juga seperti menginginkatnnya, Daniel perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Agnes.
Agnes memejamkan mata.
Seperti mendapatkan lampu hijau, bibir Daniel menyentuh bibir Agnes secara singkat.
Namun Agnes tiba-tiba membuka matanya dan mendorong tubuh Daniel. Daniel mundur sampai kakinya menabrak meja.
Agnes langsung bangkit, mengambil buku dan pulpennya, lalu melangkah keluar dari penthouse tanpa berkata apa pun.
“Agnes!” Daniel teriak mengejar Agnes.
Agnes lari dan menekan pintu lift. Pintu lift terbuka. Ia langsung menekan tombol lantai lobby.
Daniel menepuk pintu lift yang keburu tertutup.
Daniel langsung kembali ke unitnya dan mengambil ponselnya. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia menelepon Agnes. Ia tahu telah salah langkah. Selama ini, semua perempuan yang mendekatinya tidak ada yang seperti Agnes. Mereka semua lah yang justru menggodainya. Seandainya ia tidak memiliki kelainan seksual, seandainya tubuhnya seperti pria pada umumnya, mungkin ia sekarang sudah seperti ayahnya yang punya banyak simpanan.“Angkat! Angkat!” kata Daniel dengan nada khawatir. Ia melangkah ke balkon, berdiri melihat ke bawah. Tapi ia tidak melihat Agnes ada di mana pun.Sambungan teleponnya terputus.Tidak putus asa. Ia langsung menekan tombol telepon hijau lagi.“Please, Agnes. Angkat!”**Agnes berdiri di depan lobi apartemen, menunggu taksi datang menjemputnya sambil melihat ponselnya. Ia ragu mau menjawab telepon dari Daniel atau tidak. Ingatannya kembali ke masa lalu. Waktu itu pacar pertamanya ketika SMA, memaksanya untuk melayani napsunya – hampir sama dengan apa yang Daniel lakukan
Agnes masih terpaku menatap bibir Daniel yang tebal. Ia lalu membuka mulutnya sendiri. Daniel mengira itu adalah undangan untuknya bergerak mendekat, tapi lalu Agnes berkata, “Aku adalah psikolog dan kamu adalah pasien.”Daniel langsung tersadarkan. Ia mundur satu langkah, lalu berpaling dan jalan ke ruang tengah, “Silakan masuk.”Agnes mengikuti Daniel ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan dan dapur bersih yang mewah. Seumur hidupnya baru kali ini melihat isi penthouse mewah. Ia melewati ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar mandi tamu dengan lampu gantung yang mewah. Di ruang tengah, ia bisa melihat langsung ke balkon yang luas. Dari balkon terlihat cahaya kota gemerlap. Dekat pintu keluar balkon, ada tangga menuju lantai dua.“Silakan duduk,” Daniel duduk di sofa panjang.Agnes memilih duduk di sofa kecil di samping sofa panjang.Daniel menatap Agnes yang masih memperhatikan ruangan. Begitu mata Agnes menatapnya, Daniel menaikkan salah satu alisnya sambil memiringkan
“Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.
“Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas
Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.
Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel







