مشاركة

Bab 10

مؤلف: ararasa
last update تاريخ النشر: 2026-08-13 20:41:18

Daniel langsung kembali ke unitnya dan mengambil ponselnya. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia menelepon Agnes. Ia tahu telah salah langkah. Selama ini, semua perempuan yang mendekatinya tidak ada yang seperti Agnes. Mereka semua lah yang justru menggodainya. Seandainya ia tidak memiliki kelainan seksual, seandainya tubuhnya seperti pria pada umumnya, mungkin ia sekarang sudah seperti ayahnya yang punya banyak simpanan.

“Angkat! Angkat!” kata Daniel dengan nada khawatir. Ia melangkah ke balkon, berdiri melihat ke bawah. Tapi ia tidak melihat Agnes ada di mana pun.

Sambungan teleponnya terputus.

Tidak putus asa. Ia langsung menekan tombol telepon hijau lagi.

“Please, Agnes. Angkat!”

**

Agnes berdiri di depan lobi apartemen, menunggu taksi datang menjemputnya sambil melihat ponselnya. Ia ragu mau menjawab telepon dari Daniel atau tidak. Ingatannya kembali ke masa lalu. Waktu itu pacar pertamanya ketika SMA, memaksanya untuk melayani napsunya – hampir sama dengan apa yang Daniel lakukan padanya barusan. Meski ia sadar betul, pasti Daniel melakukan hal itu karena ia baru pertama kali mengalaminya. Baru bisa merasakan bagaimana tubuhnya bereaksi seperti pria pada umumnya.

Ia tidak bisa menyalahkan Daniel sepenuhnya. Ia ingin menjawab telepon dari Daniel itu, tapi ia ragu untuk kembali naik ke unit penthousenya.

Taksi datang.

Agnes masuk ke dalam taski, memberikan arahan agar supir taksi membawanya pulang ke kosannya. Ia menarik napas panjang lalu menjawab telepon dari Daniel dengan nada datar, “Halo?”

“Tolong, maafkan aku. Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku tidak keterlaluan.” Daniel bicara tanpa henti, sehingga membuat Agnes kaget akan perubahan itu.

‘Daniel yang biasanya dingin, tapi sekarang banyak bicara?’

“Kamu di mana? Bisa kita bicara lagi. Kita mulai dari awal sesi hari ini?” tanya Daniel dengan nada khawatir.

“Aku sudah di taksi, menuju pulang.”

“Ah…,” Daniel terdengar kecewa. “Lalu bagaimana dengan sesi terapi…, aku belum benar-benar sembuh.”

Agnes memejamkan mata, teringat utang keluarganya yang diselesaikan Daniel dan kewajibannya membantu Daniel sembuh. “Kita harus membuat peraturan.”

“Peraturan?”

“Tentang apa saja yang bisa dilakukan dalam sebuah sesi.”

Daniel terdiam.

“Antara psikolog dan pasiennya. Tertulis.” Agnes bisa mendengar hela napas Daniel melalui telepon. “Jadi sebelum sesi dilakukan, akan aku kirimkan beberapa peraturan yang harus dipatuhi.”

“Aku rasa tidak perlu itu.”

“Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan melanjutkan sesi terapi kita.”

“Tapi….”

Agnes menyela Daniel protes, “Aku tahu, kamu sudah membantu utang keluargaku, tapi bukan dengan cara memaksaku seperti ini.”

“Oke. Kalau kamu tidak mau melanjutkan sesi terapi kita. Aku mau kamu menikahi aku!” Daniel bicara dengan tegas.

“Apa?” Agnes tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. ‘Seorang Daniel Mathiew melamarku?’

“Aku mau kamu menikahi aku!”

“Kamu kan sudah tunangan!” Agnes sebetulnya mau saja menikah Daniel, tapi tidak mungkin ia menerima tawaran itu secara impulsif.

“Oke, jadi kalau aku tidak tunangan, kamu mau menikahi aku?”

“Kenapa kamu mau menikahi aku?” bisik Agnes ke telepon, karena sadar supir taksi seperti menguping pembicaraannya.

“Karena kamu yang bisa membuat badanku bereaksi, Agnes! Cuma kamu!”

Agnes menelan ludah. “Dengar. Aku sudah bilang, bisa jadi kemarin itu kebetulan.”

“Astaga!” Daniel mengangkat tangannya ke udara. Baru kali ini, ia merasa kesulitan menghadapi perempuan.

“Aku butuh bukti.”

“Bukti apa lagi? Bukannya tadi juga sudah jelas?”

“Tidak. Bukti bahwa kalau kamu disentuh perempuan lain, kamu tidak bereaksi.” Agnes menjawab tanpa berpikir. Ia cuma mencari alasan agar Daniel tidak memaksanya untuk menikah, melainkan melakukan sesi sesuai dengan perjanjian awal.

Daniel terdiam.

Agnes juga terdiam menunggu jawaban.

“Oke!”

“Oke apa?” Agnes bingung.

“Oke, kamu besok datang ke acara premier film aku. Kamu bisa lihat bagaimana Sabina menyentuhku dan tidak akan terjadi apapun,” kata Daniel memberikan solusi.

“Oke.”

“Kalau kamu sudah percaya aku tidak bisa disentuh perempuan lain, selain kamu. Kamu harus mau menikahi aku!”

Agnes tidak ingin menerima tantangan itu, tapi… “Oke.”

“Besok, Deri akan menjemputmu jam lima sore. Dia akan mengantarkan kamu ke acara premier film.”

“Deal.” Agnes menutup teleponnya, lalu menepuk jidatnya sendiri berkali-kali. ‘Bodoh. Kenapa langsung mengiyakan lamaran Daniel? Kenapa bukan bilang lanjutkan sesinya saja?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 10

    Daniel langsung kembali ke unitnya dan mengambil ponselnya. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia menelepon Agnes. Ia tahu telah salah langkah. Selama ini, semua perempuan yang mendekatinya tidak ada yang seperti Agnes. Mereka semua lah yang justru menggodainya. Seandainya ia tidak memiliki kelainan seksual, seandainya tubuhnya seperti pria pada umumnya, mungkin ia sekarang sudah seperti ayahnya yang punya banyak simpanan.“Angkat! Angkat!” kata Daniel dengan nada khawatir. Ia melangkah ke balkon, berdiri melihat ke bawah. Tapi ia tidak melihat Agnes ada di mana pun.Sambungan teleponnya terputus.Tidak putus asa. Ia langsung menekan tombol telepon hijau lagi.“Please, Agnes. Angkat!”**Agnes berdiri di depan lobi apartemen, menunggu taksi datang menjemputnya sambil melihat ponselnya. Ia ragu mau menjawab telepon dari Daniel atau tidak. Ingatannya kembali ke masa lalu. Waktu itu pacar pertamanya ketika SMA, memaksanya untuk melayani napsunya – hampir sama dengan apa yang Daniel lakukan

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 9

    Agnes masih terpaku menatap bibir Daniel yang tebal. Ia lalu membuka mulutnya sendiri. Daniel mengira itu adalah undangan untuknya bergerak mendekat, tapi lalu Agnes berkata, “Aku adalah psikolog dan kamu adalah pasien.”Daniel langsung tersadarkan. Ia mundur satu langkah, lalu berpaling dan jalan ke ruang tengah, “Silakan masuk.”Agnes mengikuti Daniel ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan dan dapur bersih yang mewah. Seumur hidupnya baru kali ini melihat isi penthouse mewah. Ia melewati ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar mandi tamu dengan lampu gantung yang mewah. Di ruang tengah, ia bisa melihat langsung ke balkon yang luas. Dari balkon terlihat cahaya kota gemerlap. Dekat pintu keluar balkon, ada tangga menuju lantai dua.“Silakan duduk,” Daniel duduk di sofa panjang.Agnes memilih duduk di sofa kecil di samping sofa panjang.Daniel menatap Agnes yang masih memperhatikan ruangan. Begitu mata Agnes menatapnya, Daniel menaikkan salah satu alisnya sambil memiringkan

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 8

    “Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 7

    “Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 6

    Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 5

    Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status