Share

Darah dan Debu

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-01-27 14:46:38

Di dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.

Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.

Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar. 

Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.

Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya terasa kosong—tanpa mimpi, tanpa pertemuan di bawah pohon persik. Apakah karena sosok itu kini sudah nyata berada di jangkauannya?

Ia bangun dalam kesunyian. Tak ada dayang yang mengelilinginya seperti nyonya besar di kediaman bangsawan lain. Li Lian sudah terbiasa. Ia mematut diri di depan cermin perunggu, mengoleskan pemerah bibir dengan gerakan tenang. 

Meski Wu Chen menganggapnya sampah, Li Lian menolak terlihat hancur. Baginya, martabat adalah satu-satunya pakaian yang tidak bisa dicuri Wu Chen darinya.

Tiba-tiba, pintu paviliunnya terbuka tanpa ketukan.

Dalam tradisi kekaisaran, seorang selir seharusnya menunggu pengumuman sebelum memasuki kamar istri sah. Namun di rumah ini, aturan itu tidak berlaku bagi Mei Lan. Ia melangkah masuk dengan dagu terangkat, diikuti pelayan pribadinya yang selalu memasang wajah mengejek.

"Sepertinya Kakak Li Lian pagi ini berdandan cukup cantik dengan pakaian terbaiknya," sindir Mei Lan, matanya menatap tajam pada jubah sutra biru pucat yang dikenakan Li Lian.

Li Lian tidak berhenti. Ia menyelesaikan pulasan bibirnya sebelum berbalik dengan tenang. Diamnya Li Lian justru membuat Wu Chen seringkali naik pitam; harga diri Li Lian terlalu tinggi untuk seseorang yang sudah dibuang.

Mei Lan mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan berbisa tepat di telinga Li Lian. "Tapi Kakak harus ingat... Kakak adalah perempuan bersuami. Jangan sampai orang-orang berpikir Kakak sudah begitu kesepian hingga Jenderal yang sekarat pun dikejar semalaman."

Tangan Mei Lan yang berhias cincin emas menyentuh bahu jubah Li Lian, seolah ingin meraba kualitas kainnya.

Dengan gerakan cepat dan elegan, Li Lian mengibaskan bahunya, melepaskan tangan Mei Lan seolah-olah ada serangga kotor yang hinggap di sana. Ia kemudian mengambil sapu tangan, mengusap bekas sentuhan Mei Lan dengan raut wajah datar yang sangat menghina.

Wajah Mei Lan memerah seketika. "Jangan sombong! Meskipun dalam tubuhmu mengalir darah bangsawan, kenyataannya posisimu di rumah ini lebih rendah dari pelayan!" cibir Mei Lan, suaranya meninggi karena gagal memicu tangisan Li Lian.

Li Lian tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya memberikan lirikan tajam—tatapan dingin yang membuat Mei Lan tertegun sejenak—lalu mengibaskan jubahnya. Tanpa menoleh lagi, Li Lian melewati Mei Lan begitu saja, membawa kotak obat-obatannya menuju Paviliun Cendana.

Langkahnya mantap. Di belakangnya, ia bisa mendengar Mei Lan menghentakkan kaki dengan geram. Li Lian tidak peduli. Fokusnya sekarang bukan lagi pada selir rendahan itu, melainkan pada "kerajaan yang runtuh" yang sedang menunggunya di ujung lorong.

Udara di Paviliun Cendana terasa lebih tenang pagi ini, meski aroma obat masih menggantung kuat. Li Lian melangkah masuk dengan napas yang tertata. Ia menemukan Chen Xu sudah tidak lagi terbaring. Pria itu duduk tegak di sebuah kursi kayu cendana, mengenakan jubah tidur sutra berwarna kelabu yang longgar. Wajahnya masih pucat, namun binar di matanya jauh lebih hidup—jernih dan tajam.

Li Lian membungkuk dalam, memberikan hormat yang seharusnya. "Selamat pagi, Jenderal. Bagaimana keadaan Anda hari ini?"

Chen Xumenatapnya cukup lama sebelum menjawab. "Jauh lebih baik. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku bisa tidur tanpa merasa dadaku terbakar hebat. Pengobatanmu... sangat luar biasa."

Li Lian tersenyum tipis, sebuah senyum sopan namun penuh rahasia. Ia tahu mengapa Chen Xumerasa lebih baik. Ramuan obat itu hanyalah perantara; semalam Li Lian diam-diam menyalurkan sebagian energi Qi-nya sendiri melalui titik nadi Chen Xu. Itu melelahkan, tapi melihat pria ini bisa bernapas lega adalah kepuasan tersendiri baginya.

"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Jenderal. Mari, biarkan saya memeriksa denyut nadi Anda sekali lagi."

Li Lian mendekat, meletakkan jemarinya di pergelangan tangan Chen Xu. Namun, saat ia fokus pada aliran darah di bawah kulit pria itu, matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil di samping kursi Chen Xu.

Jantung Li Lian seolah berhenti berdetak.

Di sana tergeletak sebuah potongan giok putih. Bentuknya tidak beraturan, seperti setengah bagian dari sebuah lingkaran yang pecah paksa. Giok itu tampak kuno, namun permukaannya mengeluarkan kilau lembut yang sangat familiar.

Li Lian spontan meraba pinggangnya. Kosong. Giok warisan ibunya yang selalu ia simpan rapat-rapat di balik lipatan jubahnya telah hilang.

"Tadi malam, benda ini terjatuh dari sakumu saat kau sibuk menstabilkan napasku," ucap Chen Xupelan. Suaranya terdengar berat, membawa getaran yang membuat bulu kuduk Li Lian meremang.

Li Lian buru-buru menarik tangannya dari nadi Chen Xu. "Maafkan saya, Jenderal. Saya ceroboh. Benda itu... sangat berharga bagi saya."

Saat Li Lian hendak mengambil giok itu, tangan Chen Xu lebih dulu menutupinya. Pria itu menatap Li Lian dengan tatapan yang seolah ingin menembus isi kepalanya.

"Giok ini punya pola gurat yang unik. Sangat jarang ada giok dengan tekstur seperti ini," Chen Xu menjeda kalimatnya, menarik napas pendek. "Di kediamanku, aku memiliki potongan giok yang serupa. Pecahan yang sepertinya akan sangat pas jika disatukan dengan milikmu ini."

Darah Li Lian berdesir hebat. Ia merasa bumi yang ia pijak mendadak miring. "Apa maksud Anda, Jenderal? Giok ini adalah peninggalan ibu saya... tidak mungkin ada bagian lainnya."

Chen Xu melepaskan tangannya, membiarkan Li Lian melihat giok itu lagi. "Aku juga berpikir begitu selama ini. Aku mengira pemilik bagian lainnya sudah mati dalam perang atau bencana belasan tahun lalu."

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Li Lian, membuat aroma cendana itu mengepung indra penciuman sang Nyonya Muda. "Katakan padaku, Putri Li Lian... siapa sebenarnya ibumu, apakah benar almarhum Putri Elena? Dan bagaimana mungkin separuh dari nyawaku seolah tersimpan dalam benda yang kau bawa ini?"

Li Lian tertegun. Kalimat Chen Xu bukan sekadar pertanyaan, itu adalah sebuah tuntutan atas kebenaran yang terkubur. Mendebarkan sekaligus menakutkan. 

Di dalam ruangan sunyi itu, Li Lian menyadari bahwa hubungannya dengan Jenderal ini bukan hanya soal pasien dan tabib, bukan pula soal mimpi erotis yang menghantuinya.

Ada hutang darah atau sumpah masa lalu yang kini mulai menagih melalui pecahan giok itu.

"Saya tidak tahu," bisik Li Lian jujur, suaranya bergetar. "Ibu saya tidak pernah menceritakan apa pun sebelum beliau tiada."

Chen Xu kembali bersandar, matanya tidak pernah lepas dari wajah Li Lian. "Kalau begitu, sepertinya kita punya satu alasan lagi untuk memastikan aku tidak mati dalam waktu dekat. Aku harus kembali ke kediamanku, mengambil potongan itu, dan melihat apa yang akan terjadi jika takdir yang pecah ini disatukan kembali."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Aku Akan Menyembuhkanmu, Jenderal!

    Paviliun Cendana sore itu diselimuti suasana musim gugur yang kian meresap. Udara sejuk berhembus pelan, membawa serta aroma kayu cendana yang samar dan wangi bunga krisan yang mekar di taman. Daun-daun maple yang mulai menguning berjatuhan satu per satu, menciptakan permadani keemasan di atas batu-batu halus. Langit di ufuk barat memancarkan cahaya jingga lembut, menyinari paviliun dengan cahaya hangat yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari pelan. Suasana tenang dan damai, hanya diselingi kicauan burung yang hendak pulang ke sarang. Di sudut, sebuah guci keramik berisi air mancur kecil gemericik dengan suara menenangkan.Mata Chen Xu langsung bersinar saat melihat kedatangan Li Lian. Ia sempat mengira Li Lian marah padanya dan takkan datang lagi. Ternyata dugaannya salah. Li Lian datang dengan senyum manisnya.Senyumnya begitu tulus dan memesona, sehingga siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa perempuan itu hidupnya penuh dengan kesialan.“Jenderal, baga

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tak Pernah Diinginkan

    Siang itu, setelah meramu obat untuk Jenderal Chen Xu dan meminta Bibi Rumi mengantarkannya, Li Lian menuju perpustakaan tua yang hampir tak lagi dijamah. Ruangan sunyi itu, dengan rak-rak kayu tinggi penuh debu, telah lama sepi dari anak muda yang belajar.Hanya Li Lian yang masih sering menyambanginya. Terkadang, di tengah kesendiriannya, dia bersyukur atas keadaannya yang ironis ini — meski menjadi Istri Perdana Menteri, ketiadaan kekuatan politik justru memberinya waktu luas untuk belajar. Dalam diam, dia masih berharap bisa bebas dari keluarga ini suatu hari nanti, lalu mengabdi pada masyarakat dengan ilmu pengobatan yang dipelajarinya secara otodidak.Lembar demi lembar dia bolak-balik. Satu tumpukan buku berdebu telah terbaca. Kesimpulannya tetap sama, yaitu satu-satunya cara menyembuhkan Jenderal Chen Xu memang melalui titik pusat di bawah pusarnya.Tapi kenapa memikirkan titik di bawah perut pria itu membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya memanas? Padahal, dia belum

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Racun Mei Lan

    Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya."Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."Mei Lan melangkah maj

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Harga Sebuah Nyawa

    Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana."Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyar

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Darah dan Debu

    Di dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar. Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya teras

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Kerajaan Yang Runtuh

    Paviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung. Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian."Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status