เข้าสู่ระบบDi dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.
Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.
Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar.
Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.
Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya terasa kosong—tanpa mimpi, tanpa pertemuan di bawah pohon persik. Apakah karena sosok itu kini sudah nyata berada di jangkauannya?
Ia bangun dalam kesunyian. Tak ada dayang yang mengelilinginya seperti nyonya besar di kediaman bangsawan lain. Li Lian sudah terbiasa. Ia mematut diri di depan cermin perunggu, mengoleskan pemerah bibir dengan gerakan tenang.
Meski Wu Chen menganggapnya sampah, Li Lian menolak terlihat hancur. Baginya, martabat adalah satu-satunya pakaian yang tidak bisa dicuri Wu Chen darinya.
Tiba-tiba, pintu paviliunnya terbuka tanpa ketukan.
Dalam tradisi kekaisaran, seorang selir seharusnya menunggu pengumuman sebelum memasuki kamar istri sah. Namun di rumah ini, aturan itu tidak berlaku bagi Mei Lan. Ia melangkah masuk dengan dagu terangkat, diikuti pelayan pribadinya yang selalu memasang wajah mengejek.
"Sepertinya Kakak Li Lian pagi ini berdandan cukup cantik dengan pakaian terbaiknya," sindir Mei Lan, matanya menatap tajam pada jubah sutra biru pucat yang dikenakan Li Lian.
Li Lian tidak berhenti. Ia menyelesaikan pulasan bibirnya sebelum berbalik dengan tenang. Diamnya Li Lian justru membuat Wu Chen seringkali naik pitam; harga diri Li Lian terlalu tinggi untuk seseorang yang sudah dibuang.
Mei Lan mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan berbisa tepat di telinga Li Lian. "Tapi Kakak harus ingat... Kakak adalah perempuan bersuami. Jangan sampai orang-orang berpikir Kakak sudah begitu kesepian hingga Jenderal yang sekarat pun dikejar semalaman."
Tangan Mei Lan yang berhias cincin emas menyentuh bahu jubah Li Lian, seolah ingin meraba kualitas kainnya.
Dengan gerakan cepat dan elegan, Li Lian mengibaskan bahunya, melepaskan tangan Mei Lan seolah-olah ada serangga kotor yang hinggap di sana. Ia kemudian mengambil sapu tangan, mengusap bekas sentuhan Mei Lan dengan raut wajah datar yang sangat menghina.
Wajah Mei Lan memerah seketika. "Jangan sombong! Meskipun dalam tubuhmu mengalir darah bangsawan, kenyataannya posisimu di rumah ini lebih rendah dari pelayan!" cibir Mei Lan, suaranya meninggi karena gagal memicu tangisan Li Lian.
Li Lian tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya memberikan lirikan tajam—tatapan dingin yang membuat Mei Lan tertegun sejenak—lalu mengibaskan jubahnya. Tanpa menoleh lagi, Li Lian melewati Mei Lan begitu saja, membawa kotak obat-obatannya menuju Paviliun Cendana.
Langkahnya mantap. Di belakangnya, ia bisa mendengar Mei Lan menghentakkan kaki dengan geram. Li Lian tidak peduli. Fokusnya sekarang bukan lagi pada selir rendahan itu, melainkan pada "kerajaan yang runtuh" yang sedang menunggunya di ujung lorong.
Udara di Paviliun Cendana terasa lebih tenang pagi ini, meski aroma obat masih menggantung kuat. Li Lian melangkah masuk dengan napas yang tertata. Ia menemukan Chen Xu sudah tidak lagi terbaring. Pria itu duduk tegak di sebuah kursi kayu cendana, mengenakan jubah tidur sutra berwarna kelabu yang longgar. Wajahnya masih pucat, namun binar di matanya jauh lebih hidup—jernih dan tajam.
Li Lian membungkuk dalam, memberikan hormat yang seharusnya. "Selamat pagi, Jenderal. Bagaimana keadaan Anda hari ini?"
Chen Xumenatapnya cukup lama sebelum menjawab. "Jauh lebih baik. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku bisa tidur tanpa merasa dadaku terbakar hebat. Pengobatanmu... sangat luar biasa."
Li Lian tersenyum tipis, sebuah senyum sopan namun penuh rahasia. Ia tahu mengapa Chen Xumerasa lebih baik. Ramuan obat itu hanyalah perantara; semalam Li Lian diam-diam menyalurkan sebagian energi Qi-nya sendiri melalui titik nadi Chen Xu. Itu melelahkan, tapi melihat pria ini bisa bernapas lega adalah kepuasan tersendiri baginya.
"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Jenderal. Mari, biarkan saya memeriksa denyut nadi Anda sekali lagi."
Li Lian mendekat, meletakkan jemarinya di pergelangan tangan Chen Xu. Namun, saat ia fokus pada aliran darah di bawah kulit pria itu, matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil di samping kursi Chen Xu.
Jantung Li Lian seolah berhenti berdetak.
Di sana tergeletak sebuah potongan giok putih. Bentuknya tidak beraturan, seperti setengah bagian dari sebuah lingkaran yang pecah paksa. Giok itu tampak kuno, namun permukaannya mengeluarkan kilau lembut yang sangat familiar.
Li Lian spontan meraba pinggangnya. Kosong. Giok warisan ibunya yang selalu ia simpan rapat-rapat di balik lipatan jubahnya telah hilang.
"Tadi malam, benda ini terjatuh dari sakumu saat kau sibuk menstabilkan napasku," ucap Chen Xupelan. Suaranya terdengar berat, membawa getaran yang membuat bulu kuduk Li Lian meremang.
Li Lian buru-buru menarik tangannya dari nadi Chen Xu. "Maafkan saya, Jenderal. Saya ceroboh. Benda itu... sangat berharga bagi saya."
Saat Li Lian hendak mengambil giok itu, tangan Chen Xu lebih dulu menutupinya. Pria itu menatap Li Lian dengan tatapan yang seolah ingin menembus isi kepalanya.
"Giok ini punya pola gurat yang unik. Sangat jarang ada giok dengan tekstur seperti ini," Chen Xu menjeda kalimatnya, menarik napas pendek. "Di kediamanku, aku memiliki potongan giok yang serupa. Pecahan yang sepertinya akan sangat pas jika disatukan dengan milikmu ini."
Darah Li Lian berdesir hebat. Ia merasa bumi yang ia pijak mendadak miring. "Apa maksud Anda, Jenderal? Giok ini adalah peninggalan ibu saya... tidak mungkin ada bagian lainnya."
Chen Xu melepaskan tangannya, membiarkan Li Lian melihat giok itu lagi. "Aku juga berpikir begitu selama ini. Aku mengira pemilik bagian lainnya sudah mati dalam perang atau bencana belasan tahun lalu."
Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Li Lian, membuat aroma cendana itu mengepung indra penciuman sang Nyonya Muda. "Katakan padaku, Putri Li Lian... siapa sebenarnya ibumu, apakah benar almarhum Putri Elena? Dan bagaimana mungkin separuh dari nyawaku seolah tersimpan dalam benda yang kau bawa ini?"
Li Lian tertegun. Kalimat Chen Xu bukan sekadar pertanyaan, itu adalah sebuah tuntutan atas kebenaran yang terkubur. Mendebarkan sekaligus menakutkan.
Di dalam ruangan sunyi itu, Li Lian menyadari bahwa hubungannya dengan Jenderal ini bukan hanya soal pasien dan tabib, bukan pula soal mimpi erotis yang menghantuinya.
Ada hutang darah atau sumpah masa lalu yang kini mulai menagih melalui pecahan giok itu.
"Saya tidak tahu," bisik Li Lian jujur, suaranya bergetar. "Ibu saya tidak pernah menceritakan apa pun sebelum beliau tiada."
Chen Xu kembali bersandar, matanya tidak pernah lepas dari wajah Li Lian. "Kalau begitu, sepertinya kita punya satu alasan lagi untuk memastikan aku tidak mati dalam waktu dekat. Aku harus kembali ke kediamanku, mengambil potongan itu, dan melihat apa yang akan terjadi jika takdir yang pecah ini disatukan kembali."
Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai
Malam itu, di bawah lindungan hujan yang mulai turun membasahi atap-atap istana yang dingin, tiga bayangan melesat keluar melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh garis keturunan Naga. Mereka memacu kuda di tengah badai, menuju bukit suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.Namun, saat bayangan mausoleum yang megah mulai terlihat di balik kabut hujan, langkah kuda mereka mendadak terhenti. Li Lian merasakan bulu kuduknya berdiri. Di depan gerbang utama yang seharusnya tertutup rapat dan dijaga ketat, tampak beberapa obor yang menyala redup, bergoyang tertiup angin kencang."Ada yang tidak beres," bisik Lin Feng, tangannya sudah menghunus pedang.Chen Xu memicingkan mata, menatap ke arah pintu batu raksasa mausoleum yang kini tampak terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang menganga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam yang beradu dengan batu, seolah seseorang sedang mencoba membongkar sesuatu dengan paksa di dalam sana.Bukan W
Li lian meggelengkan kepalanya. ‘Sepertinya mereka sudah menduga dari awal kalau ia akan mencari mereka untuk memberikan kesaksian.’Firasat buruk merayap di punggung Li Lian. Ia segera melangkah menuju kamar kecil di ujung lorong tempat para kasim tingkat rendah beristirahat. Kamar itu berantakan, sebuah kursi terbalik dan ada bekas gesekan di lantai pualam yang berdebu.Li Lian berlutut, menyentuh lantai tersebut. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di bawah kolong tempat tidur kayu yang rendah. Dengan bantuan sebilah belati kecil, ia menarik sebuah benda keluar.Itu adalah sebuah lencana kecil dari perak, simbol pengenal kasim istana. Namun, lencana itu berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, ada secarik kertas kecil yang robek, hanya menyisakan beberapa kata yang ditulis terburu-buru: "...Mausoleum... fajar... rahasia...""Mereka melenyapkannya," bisik Li Lian, napasnya tertahan.Wu Chen atau Ibu Suri tidak akan membiarkan saksi hidup. Ketiga kasim itu kemungki
Aula Harmoni Agung biasanya merupakan simbol ketertiban kekaisaran, namun pagi ini, ruangan luas berlantai pualam itu dipenuhi oleh bisik-bisik tajam yang menyerupai desis ular. Udara terasa panas meski jendela-jendela tinggi telah dibuka lebar. Di tengah ruangan, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna gelap, tampak tenang namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin."Tindakan ini tidak bisa dibiarkan!" suara Wu Chen bergema, memantul di pilar-pilar naga. "Putri Li Lian telah melangkahi otoritas hukum kita. Memindahkan Ibu Suri ke penjara militer tanpa melalui persidangan atau dekrit resmi adalah bentuk penculikan yang nyata. Jika hari ini seorang Putri bisa memenjarakan Ibu Suri, besok siapa di antara kalian yang akan ia seret ke ruang gelap tanpa alasan?"Beberapa menteri senior mulai berbisik setuju, wajah mereka menyiratkan ketakutan akan hilangnya perlindungan hukum istana. Wu Chen mengambil satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf,
Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam kamar, namun suasana di dalamnya tetap terasa berat. Chen Xu mencoba bangkit, tangannya bertumpu pada pinggiran ranjang, namun otot-ototnya yang masih terkontaminasi sisa racun katalis seketika bergetar hebat. Keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya."Jangan dipaksakan, Jenderal," bisik Li Lian, tangannya dengan sigap menahan bahu Chen Xu. "Tubuh Anda baru saja melewati ambang maut. Racun itu masih di dalam tubuh Anda, saya janji setelah racun dalam tubuh hamba musna, saya akan musnakan racun dalam tubuh Anda. Memaksakan diri ke Balairung sekarang sama saja dengan menyerahkan nyawa pada lawan."Chen Xu menatap lesuh Li lian kemudian menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Wu Chen tidak akan menunggu aku sembuh, Lian-er. Lin Feng baru saja melaporkan bahwa si brengsek itu sudah berdiri di depan Dewan Menteri. Dia menuduhmu melakukan penculikan terhadap Ibu Suri. Dia memutarbalikkan fakta pemindahan ke penja
Li Lian tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan ia bisa merasakan detak jantungnya yang masih memacu adrenalin ke seluruh tubuh. Ia segera menoleh ke arah ranjang, menyadari bahwa ia masih terduduk di kursi samping tempat tidur Chen Xu. Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk."Hanya... mimpi?" bisik Li Lian. Ia menyentuh bibirnya yang terasa panas dan sedikit bengkak, seolah ciuman tadi benar-benar terjadi. Sensasi panas di tubuhnya pun terasa begitu nyata, persis seperti mimpi-mimpi basah yang sering menghantuinya selama ini.Namun, rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya terasa tidak wajar. Ia merasa seolah energinya baru saja terkuras habis. Dengan hati-hati, ia mendekati tubuh Chen Xu dan menyibakkan selimutnya untuk memeriksa luka luar sang Jenderal.Mata Li Lian membelalak. Chen Xu tampak tertidur lelap, namun wajahnya dibasahi keringat dingin. Napas pria itu pendek-pendek, dan dadanya naik-turun seirama dengan napas sese







