Home / Fantasi / Jenius yang Disingkirkan / Bab 144. Rencana.

Share

Bab 144. Rencana.

Author: Zayn Z
last update publish date: 2026-09-02 22:33:39

Bab 144. Rencana.

Pemimpin Kelompok Harimau Hitam baru saja membuka mulutnya. Kemarahan di balik penutup wajahnya semakin jelas setelah melihat salah seorang rekannya tewas mengenaskan dengab kehilangan kepala hanya dalam satu serangan.

Namun Tian Fan sama sekali tidak berniat memberinya kesempatan untuk berbicara.Bagi Tian Fan, pertarungan bukanlah tempat untuk saling memperkenalkan diri atau memberikan kesempatan kepada lawan untuk menyesuaikan diri.

Kakinya langsung bergerak.Tubuhnya melesat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin sedikit
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 147. Operasi Kecil.

    Bab 147. Operasi Kecil.Hutan kembali sunyi setelah Zhang Yan dan Zhang Xue membungkuk di hadapan Tian Fan. Namun keheningan itu tidak membuat suasana menjadi lebih tenang. Sebaliknya, keduanya justru merasa seolah sedang berdiri di depan sesuatu yang tidak mereka pahami. Ayah mereka masih bersandar pada batang pohon dengan wajah pucat, sementara darah hitam terus merembes dari luka di dadanya.Tian Fan tidak langsung memulai tindakan. Ia masih berjongkok di depan Zhang Fei, mengamati perubahan warna lebam, arah penyebaran racun, serta aliran Qi yang berdenyut lemah di sekitar luka. Sesekali ia mengangkat tangan dan menekan beberapa titik di dekat dada pria itu, lalu menariknya kembali setelah merasakan perubahan kecil pada denyut nadi.“Racun ini tidak menyebar secara merata. Sebagian besar terkumpul di sekitar luka, tetapi ada aliran kecil yang mengikuti meridian jantung. Itu sebabnya darahnya menghitam dan Qi-nya terus berantakan,” gumam Tian Fan.Zhang Xue menelan ludah.“Apakah

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 146. Teknik Terlarang?

    Bab 146. Teknik Terlarang?Zhang Yan dan Zhang Xue menegang setelah mendengar penjelasan Tian Fan. Wajah Zhang Fei semakin pucat, sementara darah hitam masih perlahan merembes dari luka di dadanya. Namun Tian Fan tetap terlihat tenang. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun, seolah keadaan tersebut hanyalah masalah lain yang perlu diselesaikan dengan cara yang tepat. Setelah mengamati luka itu beberapa saat, ia akhirnya berdiri dan berkata.“Kalian berdua, kumpulkan senjata para pemburu tadi. Jangan menyentuh bagian bilahnya secara langsung. Gunakan kain atau Qi untuk membungkusnya.”Zhang Yan dan Zhang Xue segera mengangguk. Mereka bergerak menuju tempat keempat pemburu yang telah tewas, lalu mengumpulkan pedang-pedang mereka satu per satu. Tidak lama kemudian, lima pedang telah diletakkan di atas sebuah batu datar. Salah satunya adalah pedang milik pemimpin Kelompok Harimau Hitam yang telah melarikan diri. Tian Fan berjongkok di hadapan kelima pedang tersebut, lalu memeriksa

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 145. Objek Percobaan.

    Bab 145. Objek Percobaan.Tian Fan masih berdiri beberapa meter di depan pemimpin Kelompok Harimau Hitam itu. Pedang hitamnya belum diturunkan, tetapi setelah melihat pria tersebut sudah kehilangan senjata dan tidak memiliki banyak kesempatan untuk melawan, ia justru memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung. “Kau ingin tahu siapa yang memerintahkan kalian?” tanyanya santai.Pemimpin kelompok itu mengangguk perlahan, tetapi sebelum ia sempat menjawab, Tian Fan sudah menoleh kepada Zhang Fei yang berdiri tidak jauh darinya. “Urusan ini berkaitan dengan kalian. Kalau begitu, kau saja yang bertanya. Aku tidak keberatan mendengarkan.” Zhang Fei sempat tertegun mendengar perkataan itu. Ia kemudian mengangguk dan melangkah maju dengan menahan rasa sakit dari luka di tubuhnya.“Baik. Kalau begitu aku ingin tahu satu hal. Siapa yang membayar kalian untuk membunuhku dan kedua anakku?”Pemimpin Kelompok Harimau Hitam terdiam beberapa saat. Tatapannya bergerak dari Zhang Fei kepada Tian Fa

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 144. Rencana.

    Bab 144. Rencana.Pemimpin Kelompok Harimau Hitam baru saja membuka mulutnya. Kemarahan di balik penutup wajahnya semakin jelas setelah melihat salah seorang rekannya tewas mengenaskan dengab kehilangan kepala hanya dalam satu serangan.Namun Tian Fan sama sekali tidak berniat memberinya kesempatan untuk berbicara.Bagi Tian Fan, pertarungan bukanlah tempat untuk saling memperkenalkan diri atau memberikan kesempatan kepada lawan untuk menyesuaikan diri.Kakinya langsung bergerak.Tubuhnya melesat ke depan,pada saat yang bersamaan, tangan kirinya bergerak ke arah cincin penyimpanan.Puluhan benda langsung muncul di antara jari-jarinya.Keempat pemburu yang tersisa segera mengangkat senjata. Namun sebelum mereka dapat memahami apa yang akan dilakukan Tian Fan, puluhan bola hitam kecil telah dilemparkan ke segala arah.Benda-benda tersebut berukuran tidak lebih besar dari kepalan tangan. Sebagian memiliki ukiran mantra di permukaannya, sementara sebagian lainnya ditempeli talisman dengan po

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 143. Pemburu Bayaran

    Bab 143. Pemburu BayaranTian Fan segera berdiri.Sisa Qi di dalam tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi itu sudah cukup untuk saat ini.Tubuhnya bergerak cepat. Dalam beberapa lompatan, sosoknya telah menghilang di antara pepohonan.Semakin dekat dengan sumber suara, Tian Fan semakin memperlambat gerakannya.Ia tidak terburu-buru memperlihatkan dirinya.Beberapa saat kemudian, Tian Fan berhenti di atas sebuah cabang pohon besar.Dari tempat itu, pandangannya langsung tertuju ke sebuah area terbuka di antara pepohonan.Di sana...ia melihat tiga orang yang sedang dikepung.Seorang pria paruh baya bersandar pada batang pohon besar.Kondisinya cukup mengenaskan.Pakaian di bagian dadanya telah robek dan dipenuhi darah. Sebuah luka panjang terlihat di sisi tubuhnya, sementara darah masih terus mengalir perlahan. Napasnya berat,wajahnya pucat,namun aura seorang kultivator kuat masih dapat dirasakan dari tubuhnya.Di depan pria itu berdiri dua orang pemuda. Seorang pria dan seorang gad

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 142. Uji Coba.

    Bab 142. Uji Coba.Setelah menghabiskan hampir seharian penuh untuk menganalisis, mencoba, gagal, lalu mencoba kembali berbagai kemungkinan, Tian Fan akhirnya membuka kedua matanya.Ia masih duduk bersila di tengah sebuah area tersembunyi di dalam hutan. Beberapa pohon besar mengelilinginya, sementara dedaunan yang lebat menghalangi sebagian besar cahaya matahari. Tempat itu cukup sepi dan jauh dari jalur utama sehingga tidak ada seorangpun yang memperhatikan apa yang telah dilakukannya selama berjam-jam.Pakaian Tian Fan telah basah oleh keringat,napasnya sedikit berat.Qi di dalam tubuhnya juga telah mencapai titik yang hampir habis.Namun alih-alih menunjukkan kelelahan, wajah Tian Fan justru tampak jauh lebih cerah daripada sebelumnya.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.“Jadi ternyata seperti itu...”Selama sehari penuh, Tian Fan tidak hanya duduk diam sambil memikirkan berbagai kemungkinan. Ia benar-benar mencoba menguji satu demi satu teori yang muncul di dalam pikirannya.

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

    Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 03. Tamu?

    Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.

    Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 01. Jenius  yang Disingkirkan.

    Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status