LOGINBab 177. Pertemuan yang Tidak Diinginkan.Rombongan Tian Fan akhirnya meninggalkan Istana Timur dan bergerak menuju istana utama Kerajaan Shui, tempat Raja Shui, Shui Baxian, saat ini terbaring dalam kondisi tidak sadar. Permaisuri Duan Ning berjalan di bagian depan bersama Shui Wen dan Shui Xian, sementara Yin Ping, Jin Xilang, Yin Ruxia, serta Tian Fan mengikuti di belakang. Semakin dekat mereka dengan istana utama, suasana di sekitar mereka justru semakin sunyi. Tidak seperti bagian lain dari istana yang masih dipenuhi pelayan dan pejabat yang berlalu-lalang, kawasan tempat Raja Shui dirawat justru dijaga jauh lebih ketat.Ketika rombongan akhirnya tiba di depan gerbang utama, puluhan prajurit bersenjata lengkap langsung terlihat berdiri dalam formasi. Aura mereka tidak lemah. Sebagian besar berasal dari pasukan khusus kerajaan, sedangkan beberapa orang yang berdiri paling depan mengenakan pakaian perang dengan lambang Klan Qin. Melihat pemandangan itu, alis Shui Wen langsung berke
Bab 176. Racun yang Tidak Terlihat Kereta yang membawa Tian Fan dan Yin Ruxia akhirnya berhenti di depan Istana Timur Kerajaan Shui. Tempat ini merupakan kediaman khusus Shui Wen dan Shui Xian, dua saudara dari keluarga kerajaan yang memiliki kedudukan cukup tinggi di istana. Begitu pintu kereta dibuka, Tian Fan turun dengan langkah tenang, sementara Yin Ruxia menyusul dari belakang. Beberapa penjaga yang berdiri di sekitar gerbang langsung memberi hormat, tetapi perhatian Tian Fan justru tertuju kepada dua sosok yang sudah menunggu di depan aula. Shui Wen dan Shui Xian terlihat jelas merasa lega ketika melihat kedatangan Tian Fan. Wajah mereka yang sejak tadi kusut akhirnya menunjukkan sedikit kegembiraan. Shui Wen bahkan segera melangkah maju sambil berkata, “Tuan Muda Tian, akhirnya kau datang. Kami benar-benar sudah menunggumu cukup lama.” Tian Fan hanya mengangguk santai. Namun tatapannya segera menyapu seluruh aula dan menangkap beberapa orang lain yang berada di dalam.
Bab 175. Kegemparan Dua Wanita.Setelah penjelasan panjang yang akhirnya berhasil meluruskan seluruh kesalahpahaman, suasana di dalam kamar perlahan kembali tenang. Mu Xueyan dan Yue Qing’er akhirnya memahami bahwa tempat ini adalah dunia kecil milik Tian Fan, Bai Dishi bukan lelaki liar yang hendak menjadikan mereka korban, dan keberadaan para penjaga tengkorak di luar hanyalah bagian dari makhluk yang menghuni Menara Kegelapan. Meski demikian, rasa malu akibat kesalahpahaman sebelumnya masih belum sepenuhnya hilang dari wajah keduanya, terutama setiap kali pandangan mereka tanpa sengaja tertuju kepada Bai Dishi yang sampai saat itu masih mengenakan daun besar sebagai penutup tubuh.Bai Dishi sendiri tampaknya sama sekali tidak merasa ada yang aneh. Ia bahkan terlihat cukup penasaran terhadap dua wanita tersebut. Namun Tian Fan segera menyadari bahwa semakin lama Bai Dishi berbicara, semakin besar kemungkinan kesalahpahaman baru akan muncul. Karena itu, ia memutuskan untuk segera me
Bab 174. Ekor di depan.Setelah memahami bahwa Menara Kegelapan kini benar-benar berada di bawah kendalinya, Tian Fan tidak langsung kembali ke dunia luar. Ia justru berdiri di tengah ruang yang sunyi sambil memejamkan mata, menggunakan kesadarannya untuk melakukan beberapa pengaturan terhadap dunia kecil tersebut. Berbagai wilayah yang sebelumnya hanya berupa ruang kosong mulai berubah secara perlahan mengikuti kehendaknya. Ia tidak mengubah inti Menara Kegelapan maupun wilayah yang berhubungan langsung dengan Lembah Neraka. Sebaliknya, ia menciptakan sebuah kawasan baru di sekelilingnya, sebuah wilayah yang berbeda dari dunia gelap dan penuh bahaya yang selama ini menjadi ciri khas Menara Kegelapan.Setelah beberapa saat, Tian Fan membuka matanya. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan, lalu menggerakkan telapak tangannya perlahan seolah sedang menarik tirai yang tidak terlihat. Udara di hadapannya bergetar. Dalam sekejap, sebuah garis hitam muncul di tengah ruang dan perlahan mel
Bab 173. Rahasia Ruangan Menara Kegelapan.Bai Dishi menatap menara kecil yang berada di atas telapak tangan Tian Fan dengan ekspresi penuh arti. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bertanya, “Sekarang kau sudah mengetahui cara mengendalikannya?”Tian Fan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Menara Kegelapan yang telah berubah menjadi sangat kecil. Kesadarannya perlahan menyentuh hubungan yang kini terjalin antara dirinya dan artefak tersebut. Dalam benaknya, ia dapat merasakan keberadaan setiap lantai, setiap ruang, bahkan aliran energi yang bergerak di dalamnya. Seolah-olah sebuah dunia yang sebelumnya berada jauh di luar jangkauannya kini tiba-tiba menjadi bagian dari pikirannya sendiri.Ia kemudian mengangguk pelan dan menjawab, “Sudah. Mekanisme kuno yang ada di dalam menara ini telah terhubung langsung dengan pikiranku. Selama aku memiliki cukup Qi, apa pun yang ingin kulakukan di dalam dunia kecil ini pada dasarnya hanya perlu kupikirkan, dan mekanisme menara a
Bab 172. Dunia Kecil. Cahaya emas yang keluar dari dua segel itu langsung menembus kening Tian Fan. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan sambil mengerang tertahan, merasakan sesuatu yang asing terus mengalir ke dalam kesadarannya. Bukan sekadar energi, melainkan rapalan mantra kuno yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Setiap kalimat, setiap simbol, dan setiap pola formasi seolah dipaksakan masuk ke dalam pikirannya tanpa memberinya kesempatan untuk menolak. Pada saat yang sama, perubahan juga terjadi pada tubuh Iblis Kecil. Cahaya keemasan yang menyelimuti naga hitam tersebut semakin pekat, sementara simbol-simbol merah yang sebelumnya bergerak liar di sepanjang tubuhnya perlahan menyusut. Satu demi satu simbol itu seperti ditekan oleh kekuatan tak terlihat, kemudian berubah menjadi titik-titik kecil sebelum akhirnya menghilang ke dalam tubuh sang naga. Tian Fan jatuh berlutut. Napasnya memburu, sementara rasa sakit di ke
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung







