로그인Bab 198 — Adu MekanikSetelah menghabiskan waktu cukup lama di Lembah Neraka, Tian Fan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu bersama Bai Dishi. Kabut hitam yang menyelimuti lembah perlahan menghilang dari pandangan mereka ketika keduanya melintasi sebuah lorong batu yang menghubungkan wilayah tersebut dengan bagian lain dari dunia kecil milik Tian Fan.Sepanjang perjalanan, Tian Fan masih memikirkan berbagai hal yang ditemukannya di Menara Kegelapan. Teknik-teknik aneh, miasma yang seolah memiliki kesadaran, serta kemampuan untuk mempengaruhi pikiran seseorang melalui bayangan hitam merupakan hal-hal yang belum sepenuhnya ia pahami. Meskipun ia telah memperoleh beberapa petunjuk, masih banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap.Namun, untuk saat ini, ia memutuskan mengesampingkan semua pemikiran tersebut.Bagaimanapun, setelah sekian lama berkutat dengan kegelapan, ia merasa perlu memeriksa keadaan orang-orang yang berada di dunia kecilnya. Terlebih lagi, ada dua orang y
Bab 197 — InstingBugh! Bugh! Bugh!Tiga suara benturan terdengar berturut-turut ketika Ma Durung, dua tetua Sekte Raja Obat, dan tiga alkemis Lembah Obat terjatuh keras ke atas tanah. Tubuh mereka berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Rasa sakit yang menjalar dari sekujur tubuh membuat mereka mengerang, tetapi sebelum sempat bangkit, keenam orang itu langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan tempat mereka berada.Ma Durung mengangkat kepalanya dengan susah payah. Pandangannya masih sedikit kabur, sementara kepalanya terasa berat akibat perpindahan mendadak yang baru saja dialaminya. Ia mengira dirinya masih berada di dalam Formasi Tanam Gu, tetapi ketika pandangannya mulai jelas, wajahnya seketika berubah.Di sekelilingnya terbentang sebuah gua raksasa yang luasnya sulit diperkirakan. Dinding-dinding batu menjulang tinggi, dipenuhi retakan aneh yang memancarkan cahaya redup. Beberapa bagian langit-langit menggantungkan stalaktit hitam yang bentu
Bab 196 — Akhir dari Formasi Tanam GuSeluruh Aula Es diselimuti suasana mencekam. Orang-orang yang berada di luar sekat hanya bisa menyaksikan dengan wajah pucat ketika keadaan di dalam formasi kubu Shui Feng berubah menjadi pemandangan yang begitu mengerikan. Ribuan Gu bergerak liar di udara, menerjang siapa pun yang mereka temui tanpa membedakan status, kekuatan, ataupun asal-usul korbannya. Jeritan kesakitan terdengar silih berganti, bercampur dengan suara dengungan serangga yang semakin lama semakin membuat bulu kuduk berdiri.Seorang kultivator yang sebelumnya masih berusaha melawan kini tergeletak di lantai. Kedua tangannya mencengkeram dadanya, tubuhnya menggeliat hebat, sementara darah mengalir dari mulut, hidung, telinga, dan sudut matanya. Tujuh lubang di tubuhnya mengeluarkan darah, seolah-olah seluruh organ dalamnya sedang dihancurkan dari dalam. Ia berusaha mengerahkan Qi untuk menekan racun yang telah menyebar ke seluruh tubuh, tetapi jalur energinya sudah terputus. Mer
Bab 195. Pemberontakan (5)Selir Tang menggigit bibirnya sampai pucat. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi ketika melihat tatapan Raja Shui, seluruh kata yang telah disiapkannya mendadak tertahan di tenggorokan.Jenderal Qin Bailo juga tidak lagi mampu mempertahankan sikap angkuhnya. Tangannya perlahan mengepal, sedangkan matanya terus bergerak dari satu wajah ke wajah lain, mencari seseorang yang mungkin masih bersedia mempercayai perkataannya.Namun, tidak ada seorang pun yang menunjukkan tanda-tanda hendak membelanya.Di tengah suasana yang semakin mencekam itu, Raja Shui akhirnya menghela napas panjang.Helaan napas tersebut tidak keras, tetapi entah mengapa terdengar jauh lebih berat daripada suara benturan senjata yang sebelumnya mengguncang Aula Es. Ia menundukkan kepala sejenak, seolah-olah sedang mengumpulkan seluruh perasaan yang telah lama dipendamnya, sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke arah Selir Tang dan Jen
Bab 194 — Pemberontakan (4)Tian Fan memandang Shui Feng dan orang-orang yang berada di dalam sekat pertama dengan senyum tipis. Ia tidak segera melanjutkan perkataannya, melainkan mengangkat tangan kanannya dan menggerakkan beberapa jari, membentuk segel tangan yang sederhana. Namun, begitu gerakan itu selesai, seluruh jaringan Formasi Tanam Gu di lantai Aula Es langsung bergetar. Garis-garis merah kehitaman yang sebelumnya menyebar ke tiga wilayah berbeda mendadak berbalik arah, lalu berkumpul mengikuti pola baru yang jauh lebih teratur.Wuuung!Suara dengungan rendah menggema di seluruh Aula Es. Ketiga sekat yang mengurung kelompok-kelompok berbeda mulai berubah. Lapisan energi yang memisahkan Shui Feng dan kubunya dari wilayah lain semakin tebal, sedangkan dua sekat yang sebelumnya melindungi Raja Shui beserta para pendukungnya perlahan melebur menjadi satu. Garis-garis merah kehitaman yang membentuk dinding transparan bergerak seperti aliran air, menyatu, kemudian membentuk batas
Bab 193 — Pemberontakan (3)Getaran aneh yang muncul dari dalam Formasi Tanam Gu semakin kuat. Garis-garis merah kehitaman yang memenuhi lantai Aula Es berdenyut seperti pembuluh darah raksasa, sementara simbol-simbol berbentuk serangga yang tersebar di sepanjang jaringan formasi bergerak semakin cepat. Energi yang sebelumnya mengalir dengan teratur mendadak berbalik arah, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang sedang menarik seluruh aliran energi menuju satu titik.Qin Bohai, yang masih berdiri di dalam sekat pelindung kubu Shui Feng, langsung merasakan perubahan tersebut. Wajahnya yang semula dipenuhi keyakinan perlahan berubah serius. Ia menggenggam erat benda pengendali formasi yang tersisa di tangannya, berusaha memeriksa aliran energi yang terhubung dengan kesadarannya. Namun, sebelum ia sempat memahami apa yang sedang terjadi, sesuatu yang mengejutkan muncul dari dalam jaringan formasi.Di wilayah yang mengurung Permaisuri Duan Ning, Shui Wen, Shui Xian, Yin Ping, serta par
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung







