Mag-log inBab 29. Taman Baru.Pagi hari tiba dengan langit cerah dan udara yang terasa segar.Shui Wen keluar dari kamar tamu sambil meregangkan tubuhnya perlahan. Meski luka dalam tubuhnya masih terasa nyeri akibat pertarungan kemarin, kondisinya sudah jauh lebih baik setelah mengonsumsi ramuan penyembuh.Tak jauh darinya, Lu Tang juga baru keluar dari kamarnya.“Pangeran,” sapa Lu Tang sambil menangkupkan tangan.Shui Wen mengangguk.“Kita sebaiknya segera menuju halaman belakang. Bagaimanapun kita masih memiliki hukuman untuk membereskan kekacauan kemarin.”Lu Tang tersenyum tipis.“Benar.”Tak lama kemudian, Shui Xian juga muncul dari ujung lorong sambil membawa keranjang anyaman. Melihat itu, Shui Wen langsung tertawa kecil.“Xian'er, kau benar-benar membawa keranjang?”Shui Xian mendengus pelan.“Kalau harus bekerja ya bekerja dengan benar.”Ketiganya pun berjalan bersama menuju halaman belakang.Namun saat melewati persimpangan lorong utama kediaman keluarga Xiao, mereka melihat dua soso
Bab 28. Tengah Malam dan Dua Inti.Malam sudah larut saat langkah kaki pelan terdengar mendekati halaman belakang yang hancur itu.Ju Na datang sambil membawa lentera kecil di tangannya. Cahaya kuning redup menerangi empat sosok yang masih berlutut saling berhadapan sejak sore tadi.Tian Fan tampak santai sambil kedua tangannya berkait di punggungnya.Shui Wen sudah beberapa kali mengubah posisi lututnya karena pegal.Shui Xian menahan kantuk sambil sesekali melirik Tian Fan penuh arti. Sedangkan Lu Tang tetap tegak seperti patung.Ju Na tersenyum geli melihat keadaan mereka semua.“ Tuan Tua mengatakan jika hukuman kalian selesai.”Seketika Shui Wen langsung menghela napas lega.“Tapi…besok pagi kalian tetap wajib membereskan seluruh kekacauan ini,” lanjut Ju Na sambil melirik halaman yang sudah berubah seperti medan perang kecil.Shui Wen langsung menangkupkan tangan.“Kami mengerti, Paman Ju.”Shui Xian juga ikut mengangguk cepat.“Kalau begitu kami permisi dulu.”Tak lama ketigan
Bab 27. Berlutut.Hening masih menyelimuti halaman keluarga Xiao.Angin sore berhembus pelan melewati puing-puing tanah yang retak dan pohon-pohon taman yang sebagian patah akibat benturan qi tadi.Pertarungan antara Tian Fan dan Lu Tang pun berhenti begitu saja, tak ada niatan dari Lu Tang untuk melanjutkan.Bukan karena ia menyerah, melainkan karena semua orang masih terpaku melihat tubuh Tian Fan yang dipenuhi bekas luka.Tian Fan sendiri berdiri santai sembari menatap mereka semua, sambil memutar bahunya perlahan seolah tidak merasa terganggu sedikitpun dengan tatapan semua orang.Sementara itu Lu Tang masih berada dalam posisi setengah berlutut beberapa meter di depannya. Satu tangan pria itu memegang dadanya yang masih terasa nyeri akibat hantaman tongkat merah tadi.Tatapan Lu Tang terlihat rumit, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa kalah dalam duel.Dan lebih parahnya lagi…ia kalah dari seorang pemuda yang ranahnya berada di bawahnya.Namun Lu Tang bukan oran
Bab 26. Luka.Namun berbeda dengan Lu Tang, Xiao Long justru menyipitkan mata sambil tersenyum tipis melihat itu semua. Ia bisa melihat sesuatu yang orang lain lewatkan.“Pengendalian yang luar biasa…”Tian Fan memang menyerang brutal, namun seluruh pukulannya sangat terukur. Tidak ada satupun yang benar-benar fatal.Ia sengaja membuat Shui Wen merasakan tekanan, rasa takut, dan sakit tanpa membunuhnya.Bukan untuk menghabisi, melainkan memberi pelajaran.Xiao Long lalu melirik Lu Tang yang auranya mulai bergejolak.“Tuan Lu,” ujarnya tenang.“Lihat pertarungannya secara keseluruhan.”“Jangan hanya dari satu sudut pandang.”Namun kata-kata itu tidak lagi masuk ke telinga Lu Tang yang sudah terlalu diselimuti emosi.Terlebih saat melihat Shui Wen berlutut dan jatuh telungkup di tanah tanpa senjata, sementara Tian Fan kembali melangkah mendekat dengan aura membunuh pekat menyelimuti tubuhnya.Dalam pandangan Lu Tang, pemuda itu benar-benar berniat membunuh Tuannya.Swushhh!!Tubuh Lu Ta
Bab 25. Pelajaran.Slushh!!Tubuh Tian Fan tiba-tiba muncul tepat di atas Shui Wen, gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara. Tongkat kayu merah di tangannya sudah terangkat tinggi, aura membunuh yang menyelimuti tubuhnya membuat serangan itu terasa seperti palu algojo yang siap menghancurkan kepala lawannya.Shui Wen membelalak.Namun refleks seorang cultivator ranah Raja Bumi tetap bekerja cepat.Clanggg!!Ia langsung melintangkan tombaknya di atas kepala sehingga menciptakan ledakan benturan yang langsung mengguncang halaman.Tanah di bawah kaki Shui Wen retak seketika dan tubuhnya langsung turun setengah berlutut karena tekanan serangan Tian Fan.“Ughhh…!”Ekspresi Shui Wen berubah, lengannya terasa seperti mati rasa menahan serangan tersebut.“Berat sekali!” batinnya.Ia tidak menyangka serangan pemuda yang ranahnya lebih rendah darinya itu ternyatq mengandung kekuatan tenaga sekuat ini.Tian Fan sendiri tidak berhenti.Begitu tongkatnya tertahan, k
Bab 24. Aura seorang pembunuh.Lu Tang memandang Xiao Long beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia memahami jawaban lelaki tua itu.Xiao Long jelas tidak berniat ikut campur. Artinya…semua keputusan kini berada di tangan mereka sendiri.Lu Tang pun menoleh ke arah Shui Wen.“Yang Mulia, keputusan ada di tangan Anda.”Shui Wen terdiam sesaat sambil menatap Tian Fan. Dalam hatinya ia sebenarnya merasa duel ini tidak terlalu berarti. Perbedaan kekuatan mereka cukup jauh. Dirinya berada di ranah Raja Bumi tingkat awal sementara Tian Fan hanya berada di ranah Bumi tingkat menengah.Selisih dua tingkat besar bukanlah sesuatu yang mudah dilompati. Karena itu Shui Wen berpikir untuk sedikit mengalah demi menjaga hubungan baik dengan keluarga Xiao dan menenangkan hati Tian Fan.Namun sebelum ia sempat berbicara Tian Fan kembali membuka mulutnya.“Oh ya…”Tatapannya menyipit tajam.“Kalau kau menerima duel ini…jangan berpikir untuk mengalah.”Shui Wen mengernyit.“Maksudmu?”Tian F







