Home / Romansa / Jerat Bos Galak Posesif / Kedatangan Clarissa

Share

Kedatangan Clarissa

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-10-12 11:39:14

​Keesokan harinya, suasana di kantor cabang berjalan seperti biasa. Setelah kepergian Zaki, ruangan divisi operasional terasa lebih tenang. Kiara duduk di mejanya sambil fokus memeriksa lembar kerja bulanan, menyela waktu dengan sesekali menyeruput dolce latte favoritnya.

​"Ki, ntar makan siang bareng ke lantai bawah, yuk?" tawar Nina dari mejanya.

​"Boleh, Kak Nin. Kebetulan hari ini laporanku udah hampir beres," jawab Kiara tersenyum ramah.

​"Gue ikut dong, perut gue udah bunyi nih," sahut Ra
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kecurigaan Teman-teman

    ​Setelah percintaan panas yang emosional di sofa ruang kerja, Kiara menyandarkan kepalanya di dada bidang Adam yang telanjang. Detak jantung Adam yang maraton perlahan mulai stabil. Jemari tegap Adam tak henti-hentinya membelai lembut bahu mulus Kiara yang hanya tertutup sebagian oleh kemeja kerja yang berantakan.​"Mas... gimana kalau Mbak Clarissa cerita ke Ibu kamu soal kejadian tadi?" bisik Kiara lirih, menatap kancing kemeja Adam yang tergeletak di lantai.​Adam menunduk, mencium kening Kiara dengan penuh kehangatan. "Biarkan saja dia cerita. Mau Mama tahu atau seluruh keluarga saya tahu, saya tidak peduli lagi, Kiara."​"Tapi aku takut kamu ada masalah sama Ibu kamu, Mas. Lagian kamu kan sengaja nolak jadi pewaris perusahaan keluarga dan pilih kerja jadi manajer di kantor ini cuma demi bisa dekat dan mengejar aku... Aku nggak mau gara-gara aku, hubungan kamu sama keluarga makin hancur," kata Kiara penuh cemas dan rasa bersalah.​Adam terkekeh pelan, lalu menangkup kedua pipi Kia

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kedatangan Clarissa

    ​Keesokan harinya, suasana di kantor cabang berjalan seperti biasa. Setelah kepergian Zaki, ruangan divisi operasional terasa lebih tenang. Kiara duduk di mejanya sambil fokus memeriksa lembar kerja bulanan, menyela waktu dengan sesekali menyeruput dolce latte favoritnya.​"Ki, ntar makan siang bareng ke lantai bawah, yuk?" tawar Nina dari mejanya.​"Boleh, Kak Nin. Kebetulan hari ini laporanku udah hampir beres," jawab Kiara tersenyum ramah.​"Gue ikut dong, perut gue udah bunyi nih," sahut Raul sembari meluruskan badannya di kursi.​Arga yang duduk di samping Raul menoleh dan terkekeh. "Masih jam sepuluh lewat, Ul. Rakus amat lo."​"Yee, sarapan gue cuma roti tawar satu lembar, Ga. Wajar lapar!" seloroh Raul yang memancing tawa kecil dari Nina dan Kiara.​Namun, keceriaan kecil itu mendadak terhenti ketika langkah kaki berbalut sepatu hak tinggi melintasi koridor luar. Suara ketukan heels yang nyaring beradu dengan lantai marmer membuat beberapa staf menoleh ke arah pintu masuk divi

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kembali Memperingati Ibu

    ​Kabar dipecatnya Zaki secara mendadak menyebar cepat di antara karyawan divisi operasional. Nina dan Raul tampak kaget, sementara Arga hanya tersenyum tipis pura-pura tidak tahu apa-apa saat rekan-rekannya kasak-kusuk membicarakan kepergian anak baru itu.​Di dalam ruang kerja manajer yang tertutup rapat, Adam berdiri di dekat jendela besar dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya mengeras, penuh amarah yang ditahan.​Sambungan telepon akhirnya diangkat.​"Adam? Ada apa kamu telepon Mama siang-siang gini?" suara Ibu Jihan terdengar santai dari seberang sana, seolah tanpa beban.​"Maksud Mama apa ngirim Zaki ke divisi aku?" tembak Adam langsung tanpa basa-basi. Suaranya berat dan sangat dingin.​Hening sejenak di seberang telepon sebelum Jihan terkekeh pelan. "Oh, jadi kamu sudah tahu? Ya bagus kalau begitu. Mama cuma mau kasih kamu pelajaran, Adam. Pria bayaran seperti Zaki saja bisa dengan mudah mendekati cewek itu. Apa kamu yakin dia setia sama kamu?"​"Zaki sudah aku pecat h

  • Jerat Bos Galak Posesif    Rencana Membongkar Kebenaran

    ​Setelah ketegangan yang mereda di balik pintu ruang kerja yang terkunci, Kiara dan Adam duduk berdampingan di sofa panjang. Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa emosi akibat video jebakan Zaki tadi masih menyisakan kekesalan di dada mereka berdua.​Kiara menyesap sisa dolce latte miliknya yang sudah agak dingin, lalu menatap Adam yang sedang melipat lengan kemejanya.​"Mas, kita nggak boleh tinggal diam aja. Kalau dibiarin, Zaki bakal terus cari cara buat adu domba kita," ucap Kiara serius, matanya menatap tajam ke arah depan.​Adam mengangguk pelan. Jemari tegapnya meraih tangan Kiara, mengelusnya lembut untuk memberikan ketenangan. "Kamu benar, Sayang. Saya juga nggak akan biarkan orang suruhan Mama itu terus berkeliaran di dekat kamu. Tapi kita harus cari cara yang pas buat jebak dia balik."​"Maksud kamu?" tanya Kiara penasaran.​"Kita harus cari bukti kalau Zaki sengaja main kotor. Rekaman video kemarin itu bukti kuat kalau dia punya niat jahat.

  • Jerat Bos Galak Posesif    Perangkap Kamera Tersembunyi

    ​Keesokan harinya, pagi di kantor terasa agak beda. Kiara sengaja datang lebih awal untuk menyelesaikan beberapa berkas laporan yang sempat tertunda kemarin. Dia meminum dolce latte hangatnya pelan-pelan sambil menatap layar komputer, menikmati rasa manis kopi berpadu susu yang sangat dia sukai.​Suasana ruangan masih sangat sepi. Hanya ada Kiara dan Zaki yang kebetulan juga baru sampai di mejanya.​Zaki melirik Kiara yang sedang sibuk mengetik sambil menyeruput kopinya. Lelaki itu mengambil sebuah map tebal berwarna merah, lalu melangkah pelan mendekati meja Kiara. Di saku kemejanya, Zaki sudah menyelipkan sebuah pena kecil yang sebenarnya dilengkapi kamera tersembunyi berteknologi canggih—pesanan khusus dari Ibu Jihan.​"Selamat pagi, Kiara," sapa Zaki dengan nada suara yang sengaja dibuat sehangat dan selembut mungkin.​Kiara mendongak, matanya langsung memancar dingin. "Pagi, Zaki. Ada apa lagi?"​"Ini ada berkas laporan anggaran divisi dari pusat yang butuh pemeriksaan kamu," uja

  • Jerat Bos Galak Posesif    Batas Kesabaran Sang Bos

    ​Atmospere di area meja divisi seketika mencekam. Rahang Adam mengeras tajam saat melihat tangan Zaki sempat memegang jemari Kiara. Langkah kakinya yang berat bergerak cepat mendekati Zaki, memotong jarak di antara mereka.​"Zaki!" panggil Adam dengan suara bariton yang menggema di sudut ruangan.​Seluruh karyawan yang ada di situ—Kak Nina, Kak Aul, dan Kak Arga—sontak terdiam kaku. Mereka menahan napas melihat pancaran emosi yang begitu kentara dari wajah manajer mereka.​Zaki berbalik santai, memasang raut muka polos yang sudah dilatihnya dengan baik. "Iya, Pak Adam? Ada yang bisa saya bantu?"​"Apa yang baru saja kamu lakukan pada Kiara?" desis Adam penuh intimidasi. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh, menahan dorongan kuat untuk melayangkan pukulan langsung ke wajah pria bayaran itu.​"Saya cuma bermaksud membantu mengambilkan map Kiara yang jatuh, Pak. Saya tidak sengaja," jawab Zaki lirih dengan nada membela diri, membuat dirinya terlihat seperti korban di mata rekan-rekan ya

  • Jerat Bos Galak Posesif    Tips Kocak

    “Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Ar

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kopi Misterius

    “Gue kepikiran sama Kiara. Dari tadi di ruangan pak Devil kagak keluar-keluar. Jangan-jangan dia pingsan di sana,” ucap Raul yang membalikkan kursinya ke arah rekan kerjanya, merekaa juga melakukan hal yang sama.Sebenarnya pekerjaan mereka sudah selesai, tetapi sebagai bentuk solidaritas, mereka m

  • Jerat Bos Galak Posesif    Masalah Baru

    “Kiara, hari ini akan ada tamu penting untuk saya. Tolong kamu sambut dia seramah mungkin. Namanya Farukh. Setelah dia datang, langsung antar saja ke ruang meeting. Saya akan menunggu di sana. Jangan lupa bilang ke OB untuk menyiapkan minuman.”“Jangan sampai buat dia menunggu. Dia sangat penting u

  • Jerat Bos Galak Posesif    Serba Salah

    Kiara, 23 tahun. Dia baru saja lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Hal yang paling dia nantikan setelah mendapatkan gelar sarjana tentu saja sebuah pekerjaan. Dia melamar di sebuah perusahaan ternama. Keberuntungan berpihak padanya, begitu awal mula Kiara menyangka. Dia bisa dengan mudah masuk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status