แชร์

Jerat Bos Galak Posesif
Jerat Bos Galak Posesif
ผู้แต่ง: Erumanstory

Serba Salah

ผู้เขียน: Erumanstory
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-14 12:43:48

Kiara, 23 tahun. Dia baru saja lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Hal yang paling dia nantikan setelah mendapatkan gelar sarjana tentu saja sebuah pekerjaan. Dia melamar di sebuah perusahaan ternama. Keberuntungan berpihak padanya, begitu awal mula Kiara menyangka. Dia bisa dengan mudah masuk dalam kriteria karyawan yang dicari.

Tapi sayang, rasa beruntung itu tidak bertahan lama. Karena dia harus dihadapkan dengan seorang atasan yang hampir setiap hari membuatnya naik darah. Semua hanya normal dalam satu bulan pertama semenjak dia diterima kerja di perusahaan itu. Kiara menganggap kalau atasannya ini memiliki kepribadian ganda. Bagaimana tidak, sikapnya berubah drastis setelah mereka bekerja sama dalam empat minggu.

Secara fisik, bos Kiara bisa dikatakan nyaris sempurna. Dia berwajah tampan, dan memiliki postur tubuh yang ideal layaknya lelaki yang menjadi pujaan banyak kaum hawa. Kiara juga awalnya berpikir begitu. Dia bahkan sempat mengidolakan bosnya dalam beberapa minggu. Semuanya luntur saat bos yang dia kagumi berubah menjadi sosok yang tidak pernah merongrongnya. Seakan tiap detik mereka harus bertatap muka. Bahkan untuk kesalalahan sekecil apapun.

Semenjak itu, Kiara menyebut bosnya dengan istilah devil. Semua berasal dari sikapnya yang memang selalu seenaknya. Kiara sering diceramahi untuk satu kesalahan yang bahkan sangat sepele. Dia menganggap itu sebagai hal yang tidak wajar. Kelakuan bosnya yang sering di luar nalar itulah yang menyebabkan dia menganggap sang bos sebagai iblis.

***

“Kiara, tolong segera kirimkan daftar masa berlaku visa expatriate semua karyawan, termasuk yang ada di kantor cabang Bandung. Saya mau kamu kirim laporannya hari ini juga, ya! Jangan buat saya menunggu,” perintah seseorang via telepon. Tidak ada nada ramah di sana. Bahkan Kiara menerima panggilan itu dengan wajah yang sangat tegang.

Itu Adam Aditama, manager tempat di mana Kiara bekerja. Dia memang selalu bersikap seperti itu terhadap Kiara setelah satu bulan dia bergabung. Dia selalu ingin semua serba cepat, dan tidak suka dibantah. Jauh berbeda dari awal mereka bertemu beberapa minggu lalu.

Posisi Kiara Sendiri merupakan seorang supervisor. Hal semacam ini sudah setiap hari Kiara hadapi. Terkadang dia merasa sangat tertekan, karena Adam seakan tidak memberinya waktu untuk beristirahat. Ada saja kesibukan yang lelaki itu berikan. Terkadang, pekerjaan yang harus Kiara garap bukan termasuk ke dalam job-nya. Setiap memberikan bantahan, Adam selalu mengancam akan memotong gajinya. Ancaman yang sangat klasik, tetapi anehnya membuat Kiara patuh terhadap lelaki itu.

“Baik, Pak.” Gadis itu menjawab sopan.

Dia pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Adam. Setelah tugasnya selesai, Kiara segera menemui Adam di ruangannya. Di dalam sana, lelaki itu sudah menunggunya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

“Saya sudah mengirimkannya ke e-mail Bapak. Silakan dicek, Pak.” Kiara berucap dengan penuh kehati-hatian.

Adam segera membuka kotak masuk email-nya. Membaca dengan teliti laporan Kiara dalam sekilas.  Ya, Adam memang sejenius itu. Dia tidak butuh waktu lama untuk meneliti setiap file yang dikirimkan oleh bawahannya. Bahkan dia bisa tahu Ketika ada satu saja kesalahan ketik di dalamnya.

“Ini beberapa karyawan kantor cabang Bandung  bulan depan visanya expired. Kenapa kamu belum proses perpanjangan? Kamu tahu kan, apa resikonya?” tanya Adam tegas tanpa melihat ke arah Kiara. Dia masih berusaha mencari lagi kesalahan yang ada di dokumen yang baru saja diterimanya itu.

Kiara sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi. Dia sendiri juga heran, kenapa bosnya itu bisa dengan mudah menemukan setiap kesalahan yang diperbuatnya. Walaupun itu hanya sekedar typo satu huruf saja. Dan seperti yang diketahui, Adam akan mengomel beberapa waktu hanya karena hal itu.

“Saya sudah minta approval Bapak sejak bulan lalu, Pak. Tapi Bapak tidak memberi tanggapan. Jadi saya kira tidak ada perpanjangan untuk visa tersebut.” Kiara mencoba membela diri.

Bukan sekedar pembelaan, dia memang sudah membahas soal ini dengan Adam, tetapi lelaki itu tidak memberikan jawaban apapun hingga detik ini. Apakah itu merupakan kesalahannya?

“Terus menurut kamu, kalau kamu sudah membicarakan hal itu ke saya, lalu saya belum kasih kamu jawaban, kamu bisa diam saja?”

“Kamu tidak coba mengingatkan saya?”

“Tidak berusaha untuk follow up bagaimana keputusan saya?”

Skakmat. Adam sudah pasti tidak mau kalah, dan salah. Apapun jawaban Kiara, dia memiliki alasan lain yang tentunya akan

membuat Kiara terpojok. Gadis itu hanya menghela napas pelan. Berusaha untuk tetap tenang, walaupun perasaannya sudah tidak karuan. Karena dia tahu, apapun jawaban yang dia berikan, tetap saja letak kesalahan ada di pundaknya. Adam bukan tipe orang yang mau mengalah, begitulah yang dia pelajari dari bosnya belakangan ini.

“Maafkan atas keteledoran saya, Pak. Saya akan proses mulai hari ini.” Dia harap kalimatnya itu menjadi solusi. Kiara tidak ingin ocehan Adam semakin panjang, dan memekakkan telinganya.

“Memangnya akan keburu, kalau dikerjakan sekarang?” tanya Adam dengan tatapan tajam.

“Agak mepet, tetapi semoga saja keburu, Pak.” Kiara memastikan. Walau sebenarnya dia sendiri cukup tidak yakin kalau pengerjaannya bisa tepat waktu. Apalagi masa expirednya sudah sangat dekat.

“Kalau sampai tidak keburu, lalu harus overstay, kamu mau tanggung jawab?”

“Kamu selalu saja seperti ini, tidak ada inisiatif untuk mem-folow-up saya.”

“Setelah kasih dokumen, atau apa saja tidak ada konfirmasi ulang. Padahal saya sudah sering sekali mengingatkan soal ini.”

Seperti itulah. Adam akan selalu merembet ke mana-mana kalau sudah menemukan satu saja kesalahan di pekerjaan yang Kiara kerjakan.

“Maaf, Pak. Saya akan lebih aktif lagi nanti.”

Mengalah terkadang menjadi solusi yang paling tepat. Kiara sudah terlalu lelah untuk terus menanggapi perdebatan dengan Adam. Lebih tepatnya ini satu-satunya jalan bagi Kiara untuk melarikan diri. Ruang kerja Adam yang luas, dan berpendingin pun mendadak tampak sangat sesak.

“Proses hari ini! Saya tidak mau tahu, semuanya harus selesai tepat waktu. Jangan sampai ada overstay!" final Adam.

"Baik, Pak. Akan saya usahakan.”

“Jangan hanya diusahakan. Harus bisa!” Lelaki itu menegaskan. Kalimatnya pun diberikan nada tinggi.

“Baik, Pak.”

Kiara keluar dari ruangan Adam dengan wajah lesu. Ini bukan pertama kalinya dia berhadapan dengan Adam, lalu disalahkan atas apa yang sebenarnya bukan salahnya. Tapi dia tetap saja merasa kesal dengan ini.

"Selalu aja gini. Dia yang lupa, gue yang disalahin. Sampai kapan seperti ini terus? Capek banget, ya Tuhan!" umpat Kiara dalam hati.

Gadis itu kemudian masuk ke dalam ruangannya. Beberapa teman kerjanya yang memang sudah saling kenal, dan akrab langsung menatapnya dengan tatapan khawatir. Ya, mereka juga sudah tahu kalau Kiara akan selalu menjadi pihak yang salah kalau sudah berhadapan dengan Adam.

"Sialan!" umpat Kiara sambil menghempaskan bokongnya ke atas kursi yang selalu setia menjadi tempatnya menyangga tubuh selama ini.

Wajah gadis itu benar-benar gusar. Tentu saja itu karena Adam. Bosnya yang selalu killer, dan menyusahkannya setiap saat.

"Kenapa, Lo?" tanya Arga penasaran.

"Marah-marah mulu Lo, Ki. Cepet keriput ntar," Goda Raul.

"Sumpah! Gue capek banget sama bos kalian. Selalu aja gue yang salah. Kenapa juga dia harus jadi atasan langsung gue! Sebel! Apa susahnya sih, ngaku kalo dia salah? Semuanya serba gue yang disalahin. Kesel banget gue. Rasanya pengen gue lempar semua berkas ke wajahnya yang sok ganteng itu!" Kiara mengomel panjang lebar.

Beberapa temannya tergelak. Bukan karena masalah yang dihadapi Kiara itu lucu, tetapi mereka merasa kalau wajah Kiara saat marah-marah sangat menghibur. Walau begitu, mereka tetaplah teman yang solid, dan sangat bersimpati atas apa yang Kiara alami.

"Sabar, Ki. Gue tau apa yang Lo rasain. Nggak ada lagi yang bisa kita lakukan selain sabar. Lo ngomel juga dia nggak denger, kan?"

Nina berusaha menghibur. Dia sebenarnya sadar, kalau kalimatnya tidak membantu apapun untuk Kiara.

"Mumet gue kak Nin. Gue butuh kopi, deh. Siapa yang mau ke kantin gue nitip, please."

Walau sambil mengeluh, Kiara masih tetap membuka file di laptopnya. Dia tidak ingin membuat Adam semakin menjadi-jadi.

"Gue pesenin ya, Ki. Kayak biasanya, kan? Dolche Latte? Mau pesen makanan juga nggak?" Raul menawarkan diri untuk memesankan kopi.

"Iya, Kak. Kopi aja cukup, Kak. Sebelumnya makasih, ya."

"Santai." Raul mengacungkan jempol ke arah Kiara sambil tersenyum.

"Gue juga nitip cappucino ya, Ul!" Nina sedikit berteriak.

"Siap!"

"Gue americano, Ul!" Arga ikut usul.

"Gue samain sama Nina, dah. Cappucino. Sama kalau ada roti dua, ya. Gue belum sarapan soalnya." Susan ikut menitipkan pesanan.

"Oke, sip. Gue ke kantin dulu semuanya."

Raul bergegas menuju ke luar ruangan. Meninggalkan rekan-rekannya yang mengatakan iya, dan selanjutnya tenggelam ke dalam pekerjaan mereka masing-masing.

Kiara segera menghubungi Dian, agen visa via telepon. Sebenarnya dia tidak terlalu yakin kalau ini akan berhasil, tetapi Kiara akan berusaha semaksimal mungkin supaya semua selesai sesuai dengan permintaan bosnya.

"Kak Dian, bantuin gue, please," rengek Kiara saat teleponnya diterima. Dia memang sudah cukup akrab dengan Dian. Jadi dia tidak melakukan percakapan formal dengan wanita itu.

"Gimana-gimana? Apa yang bisa gue bantu, Ki?" Dian bertanya dengan antusias.

"Perpanjangan visa untuk beberapa karyawan kantor cabang Bandung, Kak." Kiara memelas.

"Hah? Lo nggak salah? Waktunya udah mepet banget, Ki. Nggak yakin gue bakalan kelar. Gila Lo! Gimana bisa semepet ini waktunya?"

Dian jelas saja terkejut. Karena seharusnya Kiara mengajukan permohonan dalam waktu yang lebih jauh dari ini. Tapi mau bagimana lagi, dia sudah berusaha konfirmasi, tetapi bosnya tidak meng-approve permintaannya. Dia pikir mereka sudah tidak akan memperpanjang kontrak lagi.

"Tolonglah, Kak. Kerahkan semua kemampuan kakak. Kalau perlu minta bantuan sama semua anak buah kakak supaya cepet selesai. Gue bisa diomelin sama bos kalau sampe nggak kelar. Tolong ya kak, please." Kiara kembali merengek. Terdengar Dian menghela napas dari ujung sana.

"Hadeh! Agak susah kalo begini. Tapi gue usahain deh. Kirim dokumennya ke email gue sekarang, ya. Sekalian surat sponsor jangan sampe lupa. Gue tunggu."

"Hufh! Akhirnya. Makasih banyak kak Dian."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Bos Galak Posesif    Ide Nakal

    "Kiara, kenapa kamu hanya membaca pesan saya? Kamu marah? Maaf, saya memang kurang sopan, tetapi saya frustrasi harus bagaimana lagi.""Sudah setengah jam lebih saya berusaha, tetapi milik saya tidak mau keluar. Saya tidak bisa bekerja dalam kondisi seperti ini, Kiara. Cuma kamu yang bisa bantu saya. Tolong saya, Kiara. Saya mohon."Membaca pesan beruntun Adam membuat Kiara tidak tega. Dia membayangkan bagaimana lelaki itu kesusahan sekarang. Tadi saat di ruangannya saja keringat Adam sudah membasahi kening karena terlalu menahan hasratnya. "Bapak di mana sekarang?" balasnya. "Akhirnya kamu balas chat saya, Kiara. Saya ada di toilet pribadi saya sekarang."Kiara terdiam sesaat. Dia membayangkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Tentu dia ingin membantu Adam lepas dari 'penderitaan' yang menyiksanya. "Tunggu di sana, Pak. Saya akan segera datang menemui bapak."Selesai mengirim pesan itu, Kiara mematikan komputernya, lalu beranjak dari duduknya. "Mau ke mana, Ki? Buru-buru amat,

  • Jerat Bos Galak Posesif    Permintaan Tidak Masuk Akal

    "Kamu yakin mau melihatnya, Kiara?" tanya Adam tak percaya. Tidak pernah terpikirkan oleh Adam kalau Kiara akan memaklumi keadaannya, apalagi ingin melihat langsung kondisi 'miliknya' yang sekarang menegang sempurna. "Se-serius, Pak. Itu juga kalau bapak mengizinkannya."Kepalang tanggung. Kiara sudah malu karena kalimatnya di awal, jadi dia sekalian saja menghamburkan rasa malu. Dia memang sopan, tetapi bukan berarti Kiara begitu polos. Dia juga tahu tentang hal-hal berbau dewasa. Adam berdiri dari posisi duduknya, dan sekarang Kiara bisa melihat jelas bagaimana bagian tengah celana Adam menyempit. Walaupun hanya dari luar celana, Kiara sangat yakin kalau milik bosnya memiliki size yang di atas rata-rata. Seperti terhipnotis, Kiara terus menatap bagian itu. Seharusnya rasa penasarannya berakhir, tetapi entah mengapa dia ingin sekali menyentuh benda itu. Apalagi raut wajah Adam sekarang sangat 'normal', tidak seperti Adam yang biasanya. Di sisi ini, lelaki itu terlihat begitu mempe

  • Jerat Bos Galak Posesif    Boleh Saya Lihat?

    "Kiara, ke ruangan saya sekarang."Kiara menatap teman-teman satu divisinya setelah membaca pesan tersebut. Tentu saja ekspresi Kiara menarik perhatian teman-temannya. "Kenapa, Ki?" tanya Nina penasaran. "Kayaknya perang dengan Pak Devil akan segera dimulai lagi. Orangnya udah nge-chat. Minta gue ke ruangannya." Kiara berucap tidak bersemangat. Seketika tawa teman-teman satu divisinya pecah. "Pak Adam kangen sama Lo, Ki. Dia nggak tahan lama-lama ngehindar dari Lo," celetuk Raul, lalu melanjutkan tawanya. "Padahal lebih bagus nggak interaksi sama dia, lebih adem.""Halah, diam-diam Kiara pasti juga kangen itu lama nggak tatapan mata sama pak Adam." Arga ikut nimbrung. "Pastinya. Tapi Kiara malu-malu buat mengakui kalo dia kangen sama si bapak ganteng satu itu. Diembat yang lain nanti Lo kecarian, Ki.""Kak Nina, mulai, deh. Udah ah, gue mau ke ruangannya Pak Adam. Daripada nanti dia merepet kayak biasanya. Males."Kiara beranjak dari kursinya, melangkah ke arah pintu keluar diiri

  • Jerat Bos Galak Posesif    Menghindar

    Tiga hari kemudian, Kiara sudah kembali bekerja. Selama tiga hari sebelum dia kembali ke rutinitasnya, tidak ada gangguan dari Adam. Walaupun terasa aneh, Kiara sangat bersyukur. Dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari bosnya itu. Tapi ternyata kejadian itu berlanjut saat Kiara kembali ke kantor. Beberapa kali dia menangkap basah Agam yang berusaha menghindar. Bahkan saat diminta mengantarkan berkas ke ruangannya, Adam tidak sedikit pun menatap wajah Kiara. Bahkan langsung meminta Kiara untuk keluar dari ruangan itu. Membuat Kiara bertanya-tanya. Padahal dia sangat yakin kalau dirinya tidak memiliki salah apapun pada Adam. Walaupun memang dia sempat mendiamkan bosnya itu di komunikasi mereka yang terakhir. "Pak Adam menghindari kalian nggak beberapa hari ini?" celetuk Kiara sesaat kerjaannya terselesaikan. "Kagak. Kayak biasa aja, sih. Normal," sahut Raul. "Ke gue juga biasa. Malah kemarin dia sempat minta tolong gue buat kerjain bagian Lo, Ra. Gue tanya, kan? Tum

  • Jerat Bos Galak Posesif    Mimpi Basah

    "Ki, sorry, bukan niat gue buat ikut campur, cuma tadi pak Adam chat gue soal Lo. Emang Lo diapain lagi sama dia sampe Lo marah? Gue jadi kepo. Betewe pak Adam kayaknya kelimpungan banget diambekin sama Lo. Keg ngerasa kehilangan gitu."Kiara menghela napas membaca pesan dari Nina. Dia tidak mungkin sampai mendiamkan Adam kalau lelaki itu tidak keterlaluan. Di saat badannya butuh istirahat, lelaki itu tidak memiliki simpati sedikitpun. "Jelas kelimpungan, gak punya temen debat dia. Dia juga pasti lagi mikirin tentang apa lagi yang bisa gue kerjain supaya gue nggak nganggur selama sakit. Lo bayangin aja, Kak... masa dia maksa gue kerja di saat gue masih dirawat gini? Punya hati nggak sih? Gue jadi kesel sama dia. Biar aja, kali ini gue mau kasih dia pelajaran. Enak aja dia ngebabuin gue mulu!" balas Kiara panjang lebar. "Ck, keterlaluan sih pak Adam. Pantesan Lo sampe marah ke dia. Lagian apa salahnya sih dia sesekali kerjain sendiri, apalagi Lo lagi sakit. Gue juga heran, kok ada ma

  • Jerat Bos Galak Posesif    Kelimpungan

    “Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerjaan yang diminta oleh Adam sudah selesai dia kerjakan.“Sudah, Pak. Kebetulan sudah saya selesaikan beberapa menit lalu. Sebentar, saya akan kirimkan file-nya ke Bapak.” “(Daftar Visa Aktif Karyawan . docx).”“(Akumulasi Data Kehadiran Karyawan .docx).”“Oke.”Kiara menatap kesal respon Adam setelah dia mengirimkan dua file yang diminta oleh lelaki itu. Lelaki itu seakan tidak ada inisiatif untuk berterima kasih atas kerja keras Kiara. Padahal bosnya itu tahu kalau kondisinya sekarang sedang sakit, dan tidak seharusnya menghandle pekerjaan.“Susah banget ya buat lo ngucapin makasih? Lo manusia bukan sih, Dam? Sumpah, gue kesel banget sama lo! Kalo nggak inget lo atasan gue, udah gue racun lo

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status