MasukTak berselang lama, Derby, Jeremy, Rasya dan Vanko—menerobos masuk, disusul oleh Noela, Jolina, Elyse dan Cassandra—yang dipenuhi kepanikan."Rea, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Noela berlari menghampiri."Iya," sahut Andrea mengangguk. "Aku nggak apa-apa. Cuma hampir—" ucapannya tercekat, seolah susah untuk melanjutkan kalimat selanjutnya. Ia kemudian menarik napas panjang. Para sahabatnya mengerti."Untung kamu tadi sempat nelpon ke grup," celetuk Jolina."Begitu dengar suara kamu dan Samuel, kita langsung ke sini," sahut Elyse."Terima kasih ya," ucap Andrea, mengulas senyum tipis.Kyrran yang berdiri di samping Andrea, melirik ke arah para cowok."Urus dia." Pandangan cowok itu tertuju pada Samuel yang masih tidak sadarkan diri. Derby, Jeremy, Rasya dan Vanko langsung mengangguk. Kemudian iris dinginnya beralih kepada para cewek."Kalian cek area luar. Jangan sampai ada yang masuk ke sini. Jangan
Rencana yang sudah disusun rapi, seketika berantakan. Mungkinkah dari awal Samuel sudah tahu dan hanya ikut dalam arus misi? Andrea mundur selangkah demi selangkah. Sementara itu, Samuel terus mendekat, senyum di wajahnya membuat perut Andrea terasa mual. "Wah, hebat juga akting kamu. Hampir saja aku terus percaya," sinis cowok itu. Samuel mengangkat ponselnya. Andrea menyaksikan layar tersebut memunculkan rekaman Derby dan Kyrran yang sedang menggeledah kamar Samuel. Jadi pucat wajah gadis itu. "Ternyata kamu menipuku, Andrea. Kamu belum putus dari Kyrran dan kamu merencanakan ini dengan dia!" ungkap Samuel dengan mata tajam yang penuh amarah. "Kamu yang menipu!" suara Andrea bergetar. "Selama ini kamu pura-pura jadi orang baik. Padahal kamu bajingan!" Tersinggung dengan ucapan Andrea, Samuel mendekat cepat dan mendesak Andrea hingga punggung gadis itu menghantam dinding. "Ahh!"
Kyrran pernah meyakinkan diri agar tidak mencintai atau dicintai oleh seseorang. Baginya ribet—dan tahu kalau umurnya tidak panjang. Namun, menyadari perasaannya pada Andrea, mengubah arah keyakinannya sendiri.Kyrran tidak berbohong saat mengatakan bahwa dirinya sudah jarang merokok. Bungkus rokok yang biasanya habis tanpa terasa kini sering tergeletak berhari-hari di laci kamarnya. Bahkan beberapa batang masih utuh saat akhirnya dibuang sendiri oleh Kyrran. Demi Andrea agar tidak terus-menerus jadi perokok pasif karenanya.Berniat tidur berpelukan dengan Andrea pun Kyrran tidak ada niat terselubung untuk memanfaatkan kesempatan. Dia hanya mengingat hangat tubuh dan wangi gadisnya itu yang membuat Kyrran tenang serta bisa merasakan tidur nyenyak setelah sekian lama.Jadi siapapun yang mengusik Andrea, akan Kyrran beri pelajaran dan sekarang ia benar-benar ingin menghajar Samuel habis-habisan."Shit!" desis Kyrran.Saat menggeledah kamar
Kelopak mata Andrea terbuka perlahan, menyambut cahaya pagi yang lembut menyelinap dari sela tirai, membentuk garis-garis tipis keemasan di lantai kamarnya.Untuk beberapa detik Andrea hanya berbaring diam, masih sedikit terjebak dalam kantuk. Pandangannya bergeser ke sisi kasur dan sosok yang memeluknya hingga tertidur semalam tidak terlihat.Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, lalu melirik pintu balkon yang tertutup rapat.Sepertinya Kyrran menepati ucapannya yang ingin pergi dari kamar Andrea pada jam lima dini hari.Manik hazel gadis itu kemudian naik ke jam dinding. Masih cukup pagi ternyata. Alih-alih kembali tidur, Andrea mengusap wajahnya sebentar sebelum bangkit dari kasur.Ia kemudian mengambil handuk yang tergantung di dekat lemari dan berjalan keluar menuju kamar mandi.Hari ini, dia dan geng OTTD punya misi penting.Beberapa saat setelahnya, penampilan Andrea jauh lebih rapi. Dia mengenakan kemeja put
"Kurang tepat," kata Kyrran dengan tatapan yang begitu sulit diartikan. Andrea mengernyitkan keningnya bingung. "Terus apa?""Aku mau tidur sambil dipeluk kamu," tutur cowok itu datar.Mendengar ucapan itu spontan kepalan tangan Andrea mendarat di dada bidang Kyrran. "Kamu gila ya? Ini di asrama, di rumah kamu kita sampai ketahuan dan disangka melakukan yang tidak-tidak. Kalau di sini, kita ketahuan, kita sudah pasti kena hukuman dan aku gak mau sampai kakek aku tau aku sekolah di sini, Kyrran, kamu juga Ketua OSIS, mau dicap buruk karena menyusup ke asrama putri?" omel Andrea panjang lebar dan sepertinya hanya lewat menyapa gendang telinga Kyrran.Cowok itu menjauhkan wajahnya, kemudian melangkah ke arah pintu. Di sana, Kyrran memutar kunci dan berbalik memamerkan seringai tipis di bibirnya. "Di kamarku waktu itu, aku lupa kunci pintu, makanya kita ketahuan, sekarang masalahnya sudah kuatasi," ujar Kyrran sambil melangkah ke hadapan An
Kyrran mencengkeram kamera tersembunyi di tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya gelap, seolah ingin meremukkan kedua benda kecil tersebut saat itu juga. "Samuel sialan," geram Kyrran. Noela yang berdiri di sampingnya mendekat, masih sulit mempercayai apa yang baru mereka temukan. "Gosh… jadi si Samuel melihat cewek-cewek ganti baju di sini? selama ini?" tutur Noela frustrasi. "Terus di mana lagi?" "Di toilet perempuan juga kemungkinan ada. Kau dan yang lain nanti cek di sana," kata Kyrran. Ucapan itu membuat Noela mondar-mandir dengan gelisah. "Gila, ya! Ini harus dilaporin ke Kepala Sekolah," tegas Noela. "Ya, tentu." Rahang Kyrran semakin mengeras. "Tapi kita selesaikan dulu misinya besok." Sebelum percakapan berlanjut, pintu ruangan ganti sedikit terbuka, Jolina muncul dengan wajah tegang. "Cepat keluar, ada beberapa anak cheerleader menuju ke sini," ucap Jolina panik. Mereka tak membuang waktu, Kyrran dan Noela segera keluar. Cassandra
Plak! Dari balik selimut, Andrea menimpuk tipis ujung jarinya ke dada bidang Kyrran. Di momen yang sama, cowok itu mendadak menahan napas pelan, rahangnya menegang sepersekian detik, kemudian menahan geli di sudut bibirnya. Gerakan kecil itu membuat penjaga asrama
"Kubilang bukan apa-apa!" Andrea menaruh buku-buku cowok itu di meja dan membentangkan tangan di hadapan Kyrran. Ketos galak itu menyipitkan mata, pasalnya Andrea makin mencurigakan. Dia kemudian bergerak cepat, tangan panjang Kyrran menyambar buku sketsa itu dari atas meja. "Eh, Kyrran!" Andr
Festival Halloween Alveroz High telah usai. Suara musik, tawa dan riuh tepuk tangan kini tersisa sebagai gema samar di ingatan. Namun entah kenapa perasaan asing yang menjerat hati Andrea tidak ikut terusir. Kamarnya di asrama terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu meja menyala lembut, menerangi
"Bukan," jawab Andrea jujur. Kyrran menarik wajahnya menjauh, kemudian berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tatapannya tidak lepas dari netra kecokelatan Andrea. "Kalau Maxwell?" tanya Kyrran lagi. Andrea mengulum bibirnya sejenak sebelum be







