MasukAndrea mengendus kasar, kilatan di matanya seperti pedang yang menghunus. Dia langsung mengangkat senjata, mengarahkannya pada Kyrran.
PSSTT! PSSTT! Tembakan Andrea meleset. Kyrran bahkan hanya memiringkan kepala sedikit untuk menghindar, bibir cowok itu mengulas senyum lagi. Kali ini lebih tipis dan mengejek. "Nyebelin!" gerutu Andrea. Cowok itu kemudian melompatSuara baling-baling helikopter perlahan mereda setelah kendaraan udara itu mendarat di helipad Alveroz Estate. Angin yang dihasilkan baling-baling sempat menerbangkan beberapa helai rambut Andrea ketika ia turun bersama Kyrran. Setelah memastikan barang-barang mereka dibawa oleh staf, keduanya segera menuju buggy car yang telah menunggu di dekat helipad.Perjalanan menuju mansion utama hanya memakan waktu beberapa menit. Namun, sepanjang perjalanan itu, Andrea terus menggenggam tangan Kyrran, seolah enggan melepaskannya bahkan untuk sesaat.Kyrran melirik kekasihnya itu. Jemari mereka saling bertaut di atas pangkuan Andrea. Ibu jari cowok itu sesekali mengusap punggung tangan Andrea dengan lembut."Masih gugup, Sayang?" tanya Kyrran. Suaranya begitu lembut.Andrea menoleh, lalu mengangguk kecil. "Kamu sendiri?""Lumayan," jawab Kyrran.Andrea mengangkat alis. "Tumben mengaku.""Memangnya aku harus pura-pura berani di depan calon istriku sendiri?" desis Kyrran manja.Pipi Andrea seketi
Perlahan-lahan, Kyrran kemudian menurunkan wajahnya, mendekat ke wajah Andrea. Napas mereka mulai bercampur dan tersisa sepersekian inci lagi bibir mereka bersentuhan, tetapi— Drrrttt! Drrrttt! Suara getaran ponsel mendadak memecah suasana romantis mereka. Keduanya spontan membeku. Andrea yang memejamkan mata, membukanya cepat, sedangkan Kyrran perlahan mengangkat kepalanya. Mereka saling menatap selama beberapa detik sebelum Kyrran segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, ekspresinya berubah. "Mama, Sayang." "Kalau begitu, angkat dulu," kata Andrea. Kyrran mengangguk pasrah. "Hm, tunggu ya, Sayang." Ia mengusap layar ponselnya, lalu mengaktifkan pengeras suara agar Andrea bisa ikut mendengar percakapan mereka. "Halo, Mama," ujar Kyrran. "Halo, Kyrran Sayang." Suara Mama Drassha terdengar dari seberang. "Kamu bilang mau menghabiskan liburan Thanksgiving di rumah Opa, tapi Mama malah mendengar kabar kalau k
"Baby Ran, kok lama banget?" Andrea menoleh sedikit, tetapi masih menghadap laut. "Kamu motret atau malah bengong?""Sebentar, sayang. Aku lagi cari angle yang paling bagus," kata Kyrran beralasan, sambil terus mendekat.Setelah tiba di belakang Andrea, Kyrran memasukkan ponselnya. Kini di tangannya tersisa kotak kecil tersebut.Kyrran menatap benda itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menekuk satu lututnya dan bertumpu di atas pasir.Di hadapan Kyrran, Andrea masih berdiri dengan rambut yang berkibar lembut ditiup angin. Gadis itu bahkan masih sibuk berpose menghadap ke arah sunset."Sudah, Sayang," sahut Kyrran.Andrea menurunkan tangannya. "Sudah? Coba lihat hasilnya—" Ia berbalik. Namun, kalimatnya terputus begitu saja.Mata gadis itu membulat ketika mendapati Kyrran berlutut di atas pasir tepat di belakangnya. Cowok itu menatapnya dengan senyum yang berbeda dari biasanya, senyum yang membuat Andrea mendadak
"Baby Ran, stop!" Andrea tertawa geli sambil berusaha menepis tangan Kyrran yang sejak tadi mengusik pinggangnya. Namun, Kyrran justru semakin jahil. Sudut bibir cowok itu terangkat, menampilkan senyum kemenangan yang membuat Andrea ingin menjitak kepala kekasihnya itu. "Menyerah, Sayang?" tutur Kyrran. "Enak saja! Baby Ran, awas ya!" Alih-alih berhenti, cowok itu kembali menggelitik pinggangnya hingga Andrea menjerit kecil sambil tertawa. "Aaaah!!! Baby Ran! St— aaaah!" Saat Andrea akhirnya berhasil melepaskan diri, ia berlari menjauh dari Kyrran menyusuri tepian pantai. Gaun cantik berwarna putih gading yang ia kenakan berkibar tertiup angin laut. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, sesekali menutupi wajahnya ketika ia berlari di atas pasir basah. Di belakangnya, Kyrran menyusul dengan langkah panjang. Cowok itu mengenakan kemeja linen berwarna putih dengan dua kancing teratas terbuka, dipadukan dengan celana berwarna krem. Lengan kemejanya digulung hingga sik
Kakek Dedrick memejamkan mata sembari mempererat pelukannya pada putri semata wayangnya. "Ayah juga ingin meminta maaf, Ana."Pria tua itu mengusap punggung Anastasia yang masih berada dalam pelukannya. Suaranya terdengar parau, sarat penyesalan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. "Setelah kehilanganmu, Ayah selalu dihantui rasa bersalah. Ayah terus memikirkan bagaimana seandainya dulu Ayah tidak menentang hubunganmu dengan pria yang kamu cintai. Mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini."Wanita itu menggeleng pelan. Ia melepaskan pelukannya, lalu menggenggam kedua tangan Kakek Dedrick yang keriput."Sudah, Ayah. Semuanya sudah berlalu." Anastasia tersenyum tipis di antara air matanya. "Aku sudah kembali sekarang. Kita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya, bukan?"Kakek Dedrick menatap putrinya lekat-lekat. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi satu dua pertanyaan terus mengusik pikirannya."Tapi, ba
"Sampai kapan kau mau membenci dan menyalahkan Kyrran cucuku atas kematian putrimu, Dedrick?" tanya Opa Riovandra sambil mengamati susunan bidak di hadapannya. Kakek Dedrick mengatupkan rahang. Tangannya bergerak memindahkan satu bidak kuda, mengancam posisi pion milik Opa Riovandra. "Sampai kapan pun, selamanya," jawab Kakek Dedrick tajam, membuat Opa Riovandra mengembuskan napas panjang. "Kau tahu kalau Kyrran cucuku juga hanya korban dari penculikan 15 tahun silam itu." "Kau begitu mudah mengatakannya seolah-olah semua ini sesederhana bermain catur." Kakek Dedrick menatap Opa Riovandra tajam. "Kau tidak mengerti apa yang kurasakan, Riovandra. Kau tidak kehilangan putri seperti aku kehilangan putriku." Opa Riovandra terdiam sejenak. Tatapannya beralih pada papan catur sebelum tangannya mengambil bidak dan memindahkannya ke petak lain. "Tentu saja aku mengerti, lebih dari yang kau kira," jawabnya pelan sambil memindahkan bidak. Opa Riovandra menatap balik dengan sorot yang sama
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h

![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





