LOGINKeysha tidak habis pikir…
Bagaimana bisa mereka barusan menguliahinya soal kedisiplinan jam enam pagi—tapi sekarang, sudah pukul delapan lewat sepuluh, dan tidak satu pun dari ketiga manusia super sibuk itu tampak berniat pergi dari rumah. Terkecuali Arya yang telah pergi karena ada urusan mendesak. Keysha duduk bersila di atas sofa ruang tengah, seperti anak kecil yang sedang dihukum tapi tidak tau salah apa. Di kanan, Damian duduk tegak seperti satpam pribadi. Sedangkan di sisi kiri, Sebastian terlihat santai… tapi posisi duduknya cukup dekat untuk membuat ruang gerak Keysha terasa seperti skripsi bab 4 yang belum kelar—mepet dari segala arah. Alestair? Laki-laki itu berdiri sambil menyilangkan tangan, mengawasi seperti CCTV hidup. Suasana itu membuat Keysha akhirnya tak tahan. “Ehm… aku boleh tanya sesuatu?” ucap Keysha sambil menatap mereka satu per satu. “Kenapa… kalian belum bekerja? Bukannya tadi kalian bilang harus disiplin? Mulai jam enam pagi?” Damian melirik jam tangannya, lalu menatap Keysha seperti pertanyaan itu justru menyinggung harga dirinya sebagai manusia terstruktur. “Kamu benar,” Damian mengangguk perlahan. “Kami memang disiplin.” “Tapi kenapa kalian masih di sini?” Keysha membalas dengan nada realistis, "Maksudnya, bekerja?" Sebastian yang dari tadi memainkan ponselnya akhirnya bicara, “Karena ada hal lain yang harus kami pastikan dulu. Sepertinya kami akan libur bekerja hari ini.” Keysha mengerutkan dahi. “Ada masalah?” Damian mencondongkan tubuh, menatapnya seperti dokter sedang mau menyampaikan diagnosis serius. “Kenapa kamu sendiri belum berangkat kuliah?” Keysha menatapnya balik, lama, memastikan apa yang dia dengar barusan bukan imajinasi. “Kuliah? Sekarang?” Keysha menatapnya balik, lama, memastikan apa yang dia dengar barusan bukan imajinasi. “Kuliah? Sekarang?” Sebastian menyela sebelum Damian kembali menginterogasi, “Damian hanya ingin memastikan kamu disiplin dan tidak telat lagi. Kamu tau sendiri, reputasimu sebagai ‘tukang sapu’ itu masih membekas.” “Aku bukan—” Keysha mendengus, hampir berdiri kalau saja Damian tidak mengangkat tangan untuk menahannya. Alestair menatap Keysha lama, tatapannya datar, dingin, dan… jujur saja, membuat Keysha merasa seperti murid SD yang ketahuan mencontek. “Keysha,” ucap Alestair akhirnya, suaranya rendah dan teratur. “Ada beberapa hal yang harus kau patuhi selama tinggal di rumah ini.” Keysha langsung menegakkan punggung. “Tinggal? Di sini?” gumamnya lirih, tapi tak ada yang menanggapi. Alestair melanjutkan seperti sedang membaca pasal undang-undang. “Pertama, disiplin waktu. Bangun pagi. Sarapan tepat waktu. Kedua, jadwal kuliah—tidak boleh bolos tanpa pemberitahuan. Ketiga…” ia menatapnya lebih tajam, “Untuk pulang, kau tidak boleh lewat dari jam delapan malam. Kecuali dengan izin.” Keysha berkedip pelan, menatap mereka bertiga dengan tatapan serius ini rumah apa akademi militer? “Eh… permisi,” Keysha menyipitkan mata, “emang udah pasti aku bakal tinggal di sini? Kita bahkan belum—” “Tes DNA sudah keluar kemarin.” potong Alestair dingin. “Itu baru satu,” Keysha membalas cepat. “Masih ada tes lanjutan. Belum fix—” Damian akhirnya angkat suara, nada suaranya terdengar seperti orang yang tidak terbiasa dipertanyakan. “Apa yang membuatmu ragu dengan hasil tes sebelumnya?” Keysha memeluk bantal sofa, menatap mereka seperti seseorang yang harus menjelaskan logika paling dasar kepada tiga pria dewasa dengan power yang terlalu berlebihan. “Karena itu terlalu cepat,” jawabnya jujur. “Tes DNA paling cepat itu butuh beberapa jam. Dan alat yang bisa menghasilkan hasil secepat itu… biasanya hanya digunakan untuk kasus sangat mendesak atau institusi tertentu.” Damian menaikkan satu alis, skeptis. “Kamu calon dokter. Kamu tidak tau teknologi canggih untuk mencocokkan DNA dalam beberapa jam?” Keysha langsung menatapnya tajam. “Aku tau.” Ia menghela napas frustasi, lalu mulai menjelaskan sambil menghitung pakai jari. “PCR cepat bisa dapet hasil dalam tiga sampai lima jam. Tapi itu biasanya dipakai untuk kondisi klinis, bukan tes garis keturunan. Ada juga rapid DNA analyzer—itu pun alatnya nggak sembarangan. Biasanya dipakai kepolisian atau badan intelejen. Dan untuk hasil yang benar-benar akurat, tetap butuh verifikasi manual dan analisis laboratorium yang lebih lama.” Sebastian bersiul pelan. “Lihat tuh, calon dokter kita. Pinter kan, Dam?” Damian hanya mengangguk, tetapi ekspresinya tidak berubah. “Semua yang kamu sebutkan,” katanya tenang, “kami punya.” Keysha terdiam. Sebastian menepuk bahunya seperti kakak yang baik hati tapi sebenarnya sedang menahan tawa. “Jadi, Keysha… hasilnya valid.” Alestair menambahkan—tetap dengan nada sedingin freezer, “Dan kedepannya, kau akan tinggal di sini. Kami tidak ingin mendengar gosip, apalagi harus mendengar berita kami menelantarkan anak tidak diinginkan.” Keysha memegangi dadanya tiba-tiba. Ada denyut kecil—bukan sakit fisik, lebih seperti… sesuatu yang menusuk dari dalam. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena kata-kata Alestair yang mengatakan kalau dirinya "anak tidak diinginkan." Kata itu seperti dilempar begitu saja, dingin, datar, tanpa emosi—tapi justru karena itu rasanya lebih sakit daripada kalau diteriakkan. Sambil menahan sensasi ngilu yang muncul begitu saja, otaknya malah sibuk menghitung sesuatu. Alat PCR cepat? Rapid DNA analyzer? Verifikasi lab lanjutan? Keysha menelan ludah pelan. Itu… berapa miliar ya kira-kira? Keluarga Dominic bukan sekadar kaya. Ini level: “Kalau mereka batuk, rumah sakit mungkin bisa beli nebulizer baru hanya demi mereka.” Namun, pikiran itu langsung buyar ketika telinganya kembali memutar kata Alestair: tidak diinginkan. Ia menghela napas dalam, lalu berkata pelan, “Ada yang ngilu… tapi bukan gigi.” Alestair tidak gentar. “Itu fakta. Kau memang tidak diinginkan.” Keysha mengangguk-angguk cepat, seperti orang yang sedang menerima nilai ujian paling buruk tapi tetap harus terlihat tegar. “Nggak masalah,” ujar Keysha ringan. “Aku bukan tipikal anak yang gampang terbawa perasaan.” Sebastian memicingkan mata. Damian tetap menatap lurus, Alestair nyaris tidak bereaksi. Keysha akhirnya berdehem sebentar. “Sebenernya kalian nggak perlu repot-repot nampung aku di rumah megah ini. Serius. Kalo mau simpel…” Ia mengangkat dua jarinya. “Cukup kasih aku dua ratus juta terus di bebas liarkan. Udah, selesai.” Sebastian langsung menatapnya, kali ini lebih serius daripada sebelumnya. “Berarti… keluarga tidak ada harga dirinya dibanding uang?” Keysha tersenyum tipis—senyum yang tidak lucu sama sekali. “Hidupku sudah lama sebatang kara, Mas bro. Uang itu utama, keluarga itu dinomor sekian. Pokoknya, asal ada uang segepok, aku bakalan bungkam.” Alestair akhirnya bicara lagi, nadanya sama dinginnya. “Dan bagaimana jika kami memberikan uang itu, lalu kau membocorkan identitasmu ke media?” Keysha mendengus pelan, seolah pertanyaan itu terlalu tinggi untuknya. “Siapa yang mau percaya sama anak sebatang kara?” Keysha mengangkat bahu. “Kalaupun aku bisa ketemu wartawan dan diwawancara, publik bakal memihak siapa? Aku? Atau keluarga Dominic yang super kaya dan punya nama besar? Publik itu gampang berpihak pada yang kuat.” Lalu Keysha menjentikkan jarinya, santai namun menusuk. “Jadi—” Keysha bersandar pada sofa, “tanyakan aja ke Bapak Arya Dominic. Uangnya udah disiapin apa belum? Baru setelah itu aku bisa diam dengan tenang.” Ketiga pria itu terdiam. Bukan terkejut—lebih seperti sedang memproses apakah makhluk bernama Keysha ini serius atau hanya error bawaan pabrik. Lalu, tanpa peringatan apa pun… Alestair bergerak lebih dulu. Pria itu meraih dompet tipis elegan dari saku jasnya. Begitu dibuka, kilau kartu hitamnya memantul seperti sinar matahari mengenai benda mahal. Ia mengulurkan kartu itu ke Keysha. “Jangan coba-coba mempermalukan nama Dominic hanya untuk uang kecil,” ucap Alestair dengan suara sedingin freezer industri. “Ambil ini.” Keysha menatap kartu itu seperti menatap portal menuju kehidupan baru. Ini pertama kalinya Keysha melihat kartu limited edition dan hanya ada beberapa di dunia, seketika matanya berbinar karena jaminan masa depannya tidak buram lagi. Jaminan menjadi pengangguran kaya raya sudah ada di depan mata! Tapi sebelum dia sempat menolak atau pura-pura menolak— Damian juga merogoh saku jasnya. Dengan gerakan tegas, presisi, seolah sedang menyerahkan bukti investigasi rahasia, ia mengulurkan sebuah kartu platinum. “Jangan berpikir yang tidak-tidak,” katanya sambil menatap lurus. “Ambil ini untuk keperluan kuliahmu.” Keysha mulai bengong. Ini apa? Lelang kartu terbuka? Belum selesai shock-nya, Sebastian tiba-tiba menyandar santai, menepuk saku celananya, dan ikut mengeluarkan kartu berwarna biru metalik yang berkilau. Ia melambaikan kartu itu seperti magician sedang memperlihatkan kartu pilihan. “Aku juga ada,” katanya ceria. “Meski kartu ini biasa aja dan bukan limited edition… tapi kartu ini banyak uangnya.” Keysha membuka mulut, mau bilang “nggak perlu”—tapi Sebastian mendekat, memberi kode rahasia. “Kata sandinya 111111.” bisiknya bangga, seperti baru membocorkan kombinasi brankas nasional. Keysha: “…” Sebastian menambahkan dengan wajah polos: “Biar gampang diingat.” Tentu saja. Akhirnya, ketiganya menyodorkan kartu masing-masing dalam jeda yang sempurna, seperti adegan slow motion di film aksi. Keysha otomatis mengambil semuanya karena… ya, siapa yang tidak akan refleks mengambil tiga kartu full saldo dari tiga pria super kaya? Matanya semakin berbinar cerah, seperti anak kecil yang baru menemukan mesin permintaan uang. Tapi dia buru-buru menggeleng kuat-kuat, mencoba menjaga harga diri yang tersisa. “Aku… aku bukan matre,” katanya terengah, meski tangannya mencengkeram ketiga kartu itu erat seolah itu oksigen. “Tapi karena kalian maksa, aku… ya… aku nggak bisa nolak.” Ketiga laki-laki itu menatap datar Keysha. Tapi tak urung, mereka cukup terhibur dan terbilang biasa saja ketika memberikan harta berharga mereka. Sedangkan Keysha sendiri, kini menepuk dadanya dengan dramatis. “Katanya Tuhan itu Maha Pemberi Rezeki. Masa aku nolak rezeki? Aku takut durhaka.” kata Keysha melanjutkan, "Para manusia baik, terimakasih. Kedepannya, kalau kalian butuh sesuatu, panggil saja Kesyha yang cantik, imut, dan bahenol ini.” Ketiganya rasanya ingin menyumpal mulut Keysha. Bahenol dari mana? Dari sisi manapun, badannya serata papan triplek dan tidak ada kombinasinya. *****Keysha baru berjalan beberapa langkah ketika akhirnya sadar... ini bukan pagi santai seperti yang ia bayangkan.Lapangan golf itu terlalu luas. Terlalu sunyi. Terlalu rapi untuk disebut sebagai tempat olahraga ringan. Hamparan rumput hijau membentang tanpa cacat, seolah tidak pernah disentuh kesalahan sedikit pun. Setiap langkah Keysha terasa kecil, nyaris tidak berarti, di tengah ruang terbuka yang terasa menekan.Udara pagi memang sejuk, tapi justru itulah yang membuatnya semakin tidak nyaman. Sunyi di tempat ini bukan sunyi yang menenangkan. Sunyi itu seperti tatapan. Diam, mengamati, dan menunggu.Ia melirik ke belakang.Alestair dan Adrian sudah bersiap, berdiri berhadapan dengan jarak aman yang justru terasa berbahaya. Dua pria itu tidak banyak bicara. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tawa ringan yang biasanya muncul di pagi hari.Hanya fokus.Keysha menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Oke. Ini jelas bukan jogging.“Keysha.”Ia menoleh. Alestair berdiri teg
Keysha tau ada yang tidak beres sejak mobil melaju terlalu jauh dari komplek.Awalnya ia masih bersandar santai di kursi penumpang, rambutnya diikat asal, hoodie abu-abu menutupi tubuhnya yang masih setengah mengantuk. Tapi ketika jarum jam di dashboard menunjukkan hampir satu jam perjalanan, Keysha mulai menyipitkan mata.“Kita… mau ke mana?” tanyanya akhirnya.Alestair tetap fokus ke jalan. “Tempat yang enak buat olahraga.”“Aku bilang mau jalan santai,” Keysha menoleh tajam. “Mungkin cuma keliling komplek. Lima belas menit. Bukan—” ia melirik keluar jendela, “—entah ke mana ini.”“Sudah sampai,” jawab Alestair singkat. “Di sini lebih segar.”Mobil akhirnya berhenti di area parkir luas dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang. Matahari baru naik, embun masih menempel di rerumputan yang terpotong rapi.Keysha turun perlahan. Menatap sekeliling. Lalu menoleh ke Alestair dengan ekspresi tak percaya.“Kita pergi sejauh ini, hanya untuk ke tempat golf?”Alestair mengambil kunci
Keysha sebenarnya bukan tipe orang yang bangun pagi.Ia selalu percaya pagi terlalu sunyi untuk orang yang pikirannya terlalu ramai. Terlalu banyak ruang untuk merenung, terlalu sedikit gangguan untuk mengalihkan. Ditambah dia justru sering begadang hingga waktu menjelang pagi karena bekerja dan belajar, untuk bangun disekitaran jam enam pagi saja rasanya mustahil untuk Keysha capai. Tapi pengecualian ketika Keysha masuk ke dalam keluarga Dominic, banyak hal berubah tanpa ia sadari.Jam biologisnya ikut menyesuaikan.Ritme hidupnya bergeser.Dan pagi, yang dulu selalu tak bisa ia taklukan, perlahan menjadi kebiasaan.Kini Keysha terbangun saat langit masih berwarna abu-abu pucat. Jam di ponselnya menunjukkan angka yang nyaris tidak masuk akal untuk hari libur.05.00.Ia menatap layar itu lama. Lalu mematikan ponsel tanpa menyalakan alarm lagi."Gokil,” gumamnya pelan. "Ini mungkin catatan rekor terbaruku untuk bangun pagi."Biasanya dulu ia akan membalikkan badan, menarik selimut, da
ADRIAN NATHANIEL ANDERSON. Adrian Nathaniel Anderson berdiri dengan punggung lurus, tangan bersedekap di depan dada. Mantel hitamnya menyatu dengan gelap malam, nyaris tak membedakan tubuhnya dari bayangan pepohonan di sekeliling. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi berlebih. Tidak ada gestur yang sia-sia.Orang-orang yang mengenalnya tahu satu hal:Adrian bukan pria yang banyak bicara—tapi setiap katanya adalah perintah.“Jam?” tanyanya singkat.“00.47,” jawab Luke tanpa melihat jam lagi. “Masih sesuai jadwal.”Di hadapan mereka, area hutan itu telah disulap menjadi titik transaksi sementara. Lampu mobil dimatikan. Hanya senter kecil dan cahaya bulan yang terhalang awan yang memberi penerangan seadanya. Peti-peti besi dibuka satu per satu.Zayn berjongkok di dekat kontainer, membuka segel, mengecek isi dengan cepat dan teliti.“Model terbaru. Kaliber sesuai permintaan. Jumlah lengkap.”Adrian mengangguk sekali. “Rute keluar?”“Aman, Tuan. Untuk jalur barat,” jawab Zayn. “Tidak ada pe
Keysha menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihatnya.Lampu temaram menggantung diam. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan yang konstan, terlalu stabil untuk menenangkan. Ia sudah berbaring cukup lama, namun tubuhnya tak juga menemukan posisi yang nyaman. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di bawah kulitnya—bukan sakit, bukan gelisah, hanya… tidak selesai.Ia menghela napas, lalu tertawa kecil.Pendek. Hambar. Seperti refleks.“Lucu,” gumamnya pelan, entah pada siapa.Padahal tidak ada yang lucu.Keysha menggeser tubuhnya, memiringkan badan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terlipat di pangkuan, rapi, seperti kebiasaan lama yang terbentuk bahkan ketika ia sendirian. Benar... Ia selalu rapi saat sendirian. Selalu terkendali. Kebiasaan itu terbentuk jauh sebelum ia kembali menemukan keluarganya—saat dunia hanya berisi dirinya sendiri, dan tidak ada ruang untuk berantakan meski dunia mengecamnya.Ia hidup sendiri terlalu lama untuk terbiasa bergantung pada o
Langkah Keysha baru saja kembali menyentuh lantai ballroom, ketika sebuah suara memanggil namanya dengan nada yang terlalu familiar dan terlalu panik. “Keysha!” Ia menoleh. Sebastian sudah berlari ke arahnya, jasnya sedikit terbuka, langkahnya tergesa hingga nyaris menabrak beberapa tamu yang sedang berbincang. Wajah pria itu jelas tidak tenang. Napasnya sedikit memburu ketika akhirnya berhenti tepat di hadapan Keysha, dadanya naik turun seolah baru saja menahan napas terlalu lama. “Kamu dari mana saja?” tanya Sebastian cepat. “Kamu bikin Kakak khawatir.” Keysha tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran orang yang seharusnya hanya menjawab pertanyaan sederhana. Seolah kalimat itu perlu waktu untuk benar-benar sampai ke kesadarannya. Suara musik, tawa kecil para tamu, dan denting gelas di sekeliling mereka bahkan terasa menjauh, berubah menjadi dengung samar yang tidak lagi ia perhatikan. "Kenapa diam saja? Apakah ada yang jahat dengan ka







