MasukAku mengerjap pelan, menatap cangkir minuman cokelat hangat yang baru saja diletakkan Arka tepat di samping piringku. Aroma khas perkebunan keluarga kami menguar lembut, berpadu sempurna dengan menu sarapan lainnya yang terhidang rapi.Arka melepas celemek yang tadi ia kenakan. Ia menarik kursi di sebelahku dan duduk tepat di sampingku dengan tenang.“Kamu... yang membuat semua ini?” tanyaku ragu.Arka mengangguk pelan, menatapku dengan senyum tipis yang amat meneduhkan. Lalu dengan telaten, ia mengambilkan setiap hidangan ke dalam piringku.Ada perasaan hangat yang sangat familiar menyeruak ke dalam dadaku. Arka begitu piawai, seolah ia sudah terbiasa melakukan hal ini untukku.“Makanlah,” ucap Arka lembut.Aku mulai mengambil sendok dan menyendok sup di dalam mangkuk kecil dekat piringku. Rasanya sangat enak, dan... lagi-lagi terasa begitu familiar.Aku menatap Ibu. “Apa ini masuk ke dalam terapi ingatanku?”Ibu dan Ayah terkekeh pelan. Lalu mereka menatapku dengan senyuman penuh ma
Sentuhan hangat di pipiku perlahan mereda seiring Arka yang menarik tangannya kembali, meski tatapan matanya tetap mengunci pandanganku dengan intensitas yang membuat napasku terasa tercekat. Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.Aku berusaha tenang, menetralkan degup jantung dan napasku yang sempat tersendat oleh sentuhan Arka. Setelah menguasai diri, aku kembali menatapnya.“Kamu... datang kemari...” Aku menggantung kalimatku gugup. “Tujuannya untuk apa?”Arka tersenyum tipis. “Ingin melihatmu. Aku merindukanmu.”Deg!Pria ini... benar-benar pandai memainkan ritme jantungku.“Tapi...”“Tapi kamu masih belum mengingat semua tentangku,” potong Arka seolah tahu apa yang mengganjal di benakku. Tatapannya kembali melembut dan sedikit sayu. “Aku mengerti kondisimu, Lyra. Aku tidak akan memaksakan ingatanmu,” sambung Arka seraya mengangguk pelan.Ada rasa lega yang membuncah mendengar keputusannya yang mau mengerti dan menghormatiku. Namun di sisi lain, ada rasa bersalah yang menye
Setelah memastikan seluruh gudang penyimpanan dalam keadaan aman dan beroperasi penuh, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun, saat melintasi koridor menuju kamarku, langkahku terhenti ketika menangkap siluet bayangan seorang pria dari arah ruang kerja Ayah.Sepertinya Ayah sedang menerima tamu. Tapi... kenapa pintunya dibiarkan sedikit terbuka? Apa tamunya adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluarga kami? Atau... apa Kak Adrian sudah kembali?Membayangkan kehadiran Kakakku, aku langsung membuka pintu.“Ayah!” panggilku riang seraya melangkah masuk melewati ambang pintu.“Sudah pulang, Nak?” sahut Ayah dengan senyum ramah yang terkembang di wajahnya.Mataku langsung tertambat pada sosok pria berkemeja hitam yang berdiri membelakangiku di hadapan meja kerja Ayah. Dari postur tubuh dan garis bahunya yang tegap... itu bukan Kak Adrian.Pria itu perlahan memutar badannya menatapku.Arka.Pria itu jauh lebih sehat dibanding sebelum nya, saat terakhir kali aku melihatnya di lobi
“Sekarang apa rencanamu, Nak?” tanya Ayah serius.Aku tidak langsung menjawab. Mataku menatap buku di meja itu selama beberapa detik. “Aku akan mempelajarinya dulu, Yah. Aku sendiri belum tahu apa yang mendasariku untuk menulis buku itu.”Ayah mengangguk. “Baiklah, sementara kamu mempelajarinya, Ayah dan Ibu akan mengurus hal lainnya. Tapi Ayah mohon, jangan terlalu memaksakan diri.”“Iya, Lyra,” sambung Ibu lembut. “Kamu baru saja sembuh. Jangan terlalu memaksakan diri. Sekarang istirahatlah dulu.”Aku mengangguk, berbalik, lalu melangkah keluar dari ruang kerja Ayah. Saat ini aku memang belum bisa mengingat hal-hal yang membawaku menulis buku itu, tapi... aku sangat yakin bisa membantu menyelesaikan masalah ini.Setelah sampai di kamar, aku kembali membuka buku tersebut. Lembaran demi lembaran kupelajari secara detail.Kalau ini hanya soal pembuktian... pembuktian siapa? Dan kepada siapa?Rentetan pertanyaan lain ikut bermunculan setelah aku membaca setengah dari isi buku naskahku.
Jika ini memang hanya sekedar pembuktian bagi seseorang, maka ini adalah sebuah permainan yang gila. Menjadikan suatu negara menjadi mainan diatas tangannya, orang seperti apa dia.“Sayang,” panggil ayah. “Kenapa kamu membuat buku ini?”“A-aku… aku tidak ingat ayah,” jawabku gugup. “Hal yang aku ingat itu pada tahun 2021. Dan ibu baru saja mengingatkan aku pada masa kecilku, dan beberapa ingatan yang sempat terhapus karena demam tinggi sewaktu kecil.”Ayah menghembuskan napas panjang.Tok, tok!“Lyra, kamu juga di sini?” tanya Ibu yang mendadak muncul di ambang pintu.Ibu berjalan masuk membawa cangkir berisi minuman herbal hangat untuk Ayah. “Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak bisa tidur?” tanya Ibu lembut sambil meletakkan cangkir itu di atas meja kerja.Aku hanya menunduk dalam-dalam. Ada rasa bersalah yang mendadak merayap dan menghimpit dadaku saat melihat kekacauan yang sedang menimpa Elypsium, seolah tulisan tanganku di masa lalu ikut andil menyeret mereka ke dalam bahaya ini.Ibu
Aku melihat kilau keunguan batu Musgravite di jariku, merasa ada ruang hampa yang menuntut untuk segera diisi. Apa itu tentang Arka, atau tentang sesuatu yang jauh lebih besar?“Ayo kita kembali, hari sudah mulai sore,” ajak Ibu lembut.Aku mengangguk setuju, lalu kami kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Waktu memang tidak terasa berjalan cepat saat Ibu membantuku menjalani terapi pemulihan memori. Dia memang seorang dokter yang sangat mahir.Sesampainya di rumah, Ibu mengantarku kembali ke kamar sebelum kami berpisah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.Seusai membersihkan diri, aku berjalan menuju walk-in closet dan membuka pintu lemari yang paling ujung.Duk.Aku menoleh ke bawah. Sepertinya daun pintu lemari ini membentur sesuatu yang keras di dekat sudut dinding.Aku segera mengenakan pakaianku, lalu berjongkok di dekat sudut tempat benturan tadi. Ada sedikit lapisan cat yang terkelupas di tembok bawah.Aku menghela napas pendek. “Aku kira membentur sesuatu yang penting







