Home / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 16: Sisa Rasa Besi

Share

Bab 16: Sisa Rasa Besi

Author: Murufu
last update publish date: 2025-12-25 22:39:44

Raungan mesin mobil pelarian itu terdengar seperti suara monster yang sedang menelan sisa-sisa kewarasan Alya. Di kursi belakang yang sempit, Alya meringkuk, memeluk dirinya sendiri seolah-olah ia bisa menghilang ke dalam jok kulit yang dingin.

Dunia di luar jendela hanyalah kilatan cahaya lampu jalan yang kabur, namun di dalam kepalanya, bayangan makam bawah tanah itu berputar tanpa henti. Ia bisa merasakan sisa rasa besi yang kental di lidahnya—darahnya sendiri yang bercampur dengan napas pan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cumi Cumi
agak aneh. kok sikap Alya jadi kayak gitu? padahal di eps sebelumnya dia mati2an nyelametin L.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 46: Bersujud di Kaki Ratu

    Tongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 45: Sang Raja yang Bangkit

    Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 44: Pengorbanan Berdarah

    Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 43: Pertukaran Takdir

    Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 42: Harga Sebuah Penawar

    Malam turun menyelimuti ibu kota seperti kain kafan hitam. Hujan gerimis mulai membasahi jendela kaca ruang VVIP, menghapus sisa-sisa keangkuhan hari ini. Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda yang ketat. Ia mengganti jas dokternya dengan jaket kulit hitam dan celana kargo gelap. Ia harus bergerak cepat, tidak terlihat, dan mematikan. Saat Alya keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan tajam Luciano. Pria itu masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam kegelapan ruangan yang sengaja tidak dinyalakan lampu utamanya. Kau benar-benar akan pergi sendirian, Alya? suara Luciano terdengar berat, memecah keheningan. Kau pikir aku akan membiarkan milikku berkeliaran di malam hari saat Bramantyo sedang mengerahkan anjing-anjing pelacaknya? Alya berjalan mendekati ranjang, mengancingkan jaketnya hingga ke leher. Jika aku membawa pasukan Rian, Bramantyo akan tahu aku pergi. Tempat yang ak

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 41: Kontaminasi Hitam

    Rian langsung melompat maju, mengunci kembali pintu ganda kamar VVIP dengan selot mekanis tambahan. Detik berikutnya, dia berbalik dengan wajah pucat melihat bosnya yang sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat menderita. Nyonya! Apa yang terjadi pada Tuan Besar?! teriak Rian panik, tangannya gemetar di atas tombol darurat di dinding. Jangan tekan tombol itu, Rian! bentak Alya, suaranya melengking tinggi di antara bunyi alarm monitor EKG yang memekakkan telinga. Jika dokter rumah sakit ini masuk dan melihat darah hitam itu, rahasia kita selesai! Bantu aku membaringkannya! Rian dengan sigap menahan tubuh besar Luciano yang mulai kejang ringan. Darah hitam pekat yang keluar dari hidung Luciano kini mulai mengalir dari sudut bibirnya, mengotori seprai putih bersih dengan noda gelap yang berbau sulfur dan besi menyengat. Alya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyambar tabung oksigen darurat, memasangkan masker pernapasan k

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 40: Judi di Atas Ranjang

    Lensa kamera jurnalis langsung berkedip, menangkap sosok Luciano yang bersandar angkuh di atas ranjang VVIP. Bramantyo melangkah maju, tongkat naga emasnya mengetuk lantai dengan bunyi ketukan yang pongah. Di belakangnya, tiga dokter spesialis dari komite independen menatap Luciano dengan pandanga

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 39: Detak yang Beracun

    Pelukan Luciano akhirnya mengendur setelah beberapa menit yang terasa seperti hitungan jam bagi Alya. Pria itu menyandarkan kembali kepalanya pada tumpukan bantal, namun matanya tetap mengunci sosok Alya yang kini melangkah mundur untuk merapikan peralatan medis yang sengaja ia berantakkan. Alya

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 36: Jejak di Tempat Gelap

    Matahari baru saja terbenam saat Alya berhasil menyelinap keluar melalui pintu utilitas belakang Rumah Sakit Prawira. Ia tidak menggunakan mobil klan. Dengan pakaian kasual yang ringkas dan tudung jaket yang ditarik rendah, ia naik ke dalam taksi konvensional yang ia cegat di pinggir jalan raya.Di

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 35: Darah yang Berubah

    Rapat dewan direksi berakhir dengan kemenangan mutlak di pihak Alya. Setidaknya, di atas kertas. Saat ia melangkah keluar dari menara Prawira Group, kakinya terasa seperti agar-agar, namun punggungnya tetap tegak. Rian mengawalnya dalam diam, matanya menyapu setiap sudut lobi, waspada terhadap kemu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status