LOGINHari demi hari, Ellea lalui dengan kesibukan barunya menjadi seorang mahasiswi. Dikehidupan yang baru dijalaninya sekarang, Ellea semakin sulit untuk membuka diri dan menjadi pribadi yang tertutup. Dia seolah menjelma menjadi sosok Ellea yang ambisius, dan hanya fokus sama tujuannya. Sehingga tidak banyak teman yang segan dan tak betah berlama-lama bergaul dengannya.
Ellea semakin tak tersentuh, dia hanya akan menjadi dirinya sendiri ketika sedang bersa
"Anak angkat?"Hana memiringkan kepalanya, binar matanya berkedip bingung menatap Abraham dan Ellea secara bergantian. Keheningan mendadak menggantung di atas Jembatan Togetsukyo, beradu dengan desir angin sore yang menyapu riak Sungai Katsura."Kenapa Papa enggak pernah cerita kalau punya anak angkat?" lanjut Hana dengan nada heran. "Apalagi seumuran aku begini."Abraham menelan ludahnya dengan susah payah. Pria tua penguasa bisnis berdarah dingin itu mendadak tampak gagap di hadapan putri tunggalnya. Tangannya yang mengepal di dalam saku mantel terasa dingin dan basah oleh keringat."Itu... urusan pekerjaan lama, Honey," jawab Abraham kaku, memaksakan seulas senyum yang terlihat amat kram. "Papa membiayai kehidupannya sejak dulu, jadi bisa dibilang dia sudah seperti anak angkat Papa."Tawa renyah justru lolos dari bibir Ellea. Suara tawa yang halus, namun terdengar bagai gesekan pisau tajam di telinga Abraham. Ellea menarik kembali tangannya yang sempat terulur kaku, lalu bersedekap
Senja mulai merambat turun di sudut Arashiyama, melukis langit Kyoto dengan semburat jingga kemerahan yang dingin. Ellea melangkah santai menyusuri trotoar, dibalut coat tebal berwarna krem yang membungkus rapat tubuh rampingnya."Nona, hari sudah mau gelap. Sebaiknya kita segera kembali, Tuan berpesan jangan lama-lama mainnya."Ellea kendengkus sebal, entah sudah berapa kali dia diperingatkan oleh dua pengawal yang mengikutinya sejak tadi. Dia adalah wanita dewasa, bukan gadis kecil yang selalu diawasi kalau sedang bermain. Tapi mereka selalu memperlakuiannya seperti anak kecil."Ck, bilang sama tuanmu itu kalau aku ini calon istri bukan anak tiri."Dua pengawal itu hanya bisa saling pandang, menelan saliva dengan canggung tanpa berani membalas ucapan Ellea. Mereka tahu betul, wanita di hadapan mereka ini bukan cuma sekadar wanita biasa yang bisa digertak. Salahi sedikit saja, akibatnya bisa fatal bagi pekerjaan mereka.Ellea mengabaikan kedua pria berbadan tegap itu dan terus melan
Tiga hari kemudian. Ellea duduk di teras kayu seraya menatap cangkir teh hijaunya. Saat mendengar derap langkah Abraham yang mendekat, Ellea menyunggingkan senyum tipis. "Kapan kau mengenalkanku pada putrimu, Pak Tua? Bukankah calon ibu tiri harus akrab dengan anak sambungnya?" tanya Ellea tanpa basa-basi. Langkah Abraham terhenti seketika. Raut wajah pria tua itu mengeras drastis, menyisakan tatapan mata yang amat tajam dan mematikan. Dinding keangkuhan dan kewaspadaannya melesat naik dalam sekejap. "Jangan pernah melewati batasanmu, Ellea!" desis Abraham dengan suara berat yang penuh ancaman. "Saya menoleransi banyak hal dari kelakuan nakalmu, tapi tidak untuk putriku. Sekali lagi kamu menyeret namanya atau mencoba bertatap muka dengannya, saya tidak akan segan membawamu tinggal di tempat yang jauh lebih mengerikan dari neraka keluargamu!" Ellea baru hendak membalas ancaman itu dengan kekehan sinisnya, saat tiba-tiba pintu gerbang utama vila terbuka paksa. Suara keributan dan k
Ruangan mendadak hening seketika. Hawa dingin Kyoto yang menerobos masuk seolah tak sanggup mendinginkan tensi hawa panas yang menjalar ke seluruh penjuru.Ale mematung. Tatapan matanya yang semula dipenuhi amarah bercampur kelegaan mendadak berganti dengan pancaran luka yang mendalam. Langkah kakinya mendekati Ellea terhenti kaku di tengah jalan."El... kamu bicara apa?" suara Ale terdengar parau, seakan tenggorokannya disumbat batu besar. "Aku datang buat bawa kamu pulang. Semua udah selesai, El! Karin, Alano, bahkan orang tua dan semua keluargamu... mereka semua udah hancur. Kebenaran udah terbuka. Kamu enggak perlu berkorban lagi!"Ellea memutar tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan Ale. Wajah gadis itu amat datar, tanpa ada lagi binar kehangatan yang dulu selalu menyambut Ale."Siapa yang minta Kakak buat bongkar semuanya?" tanya Ellea dingin. "Siapa yang suruh Kakak buat jadi pahlawan dan mengumbar masa laluku di depan ratusan pasang mata?""El, mereka harus bayar apa ya
"Kau bangun terlalu pagi, Gadis Nakal."Suara berat Abraham memecah keheningan. Pria tua itu melangkah mendekat dengan mantel hitam panjang terpasang rapi di tubuhnya. Tatapannya masih dingin, tetapi ada guratan kelelahan yang sangat jelas di balik matanya.Ellea memutar tubuh, menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Bukankah aku harus menyambut hari baru di sangkar emasmu ini, Pak Tua? Oh, atau harus kupanggil kau sebagai 'Ayah' agar terasa lebih kekeluargaan?"Langkah Abraham terhenti. Manik matanya menyipit tajam, memperlihatkan kilat keheranan sekaligus kewaspadaan yang mendalam. "Apa maksudmu?"Ellea meletakkan cangkir keramiknya ke meja kecil di sampingnya. Dia melangkah pelan menghampiri Abraham, mengabaikan sedikit rasa tidak nyaman pada tumitnya. "Hana Smith. Nama yang sangat cantik untuk seorang putri yang kau sembunyikan selama puluhan tahun dari dunia luar."Raut wajah Abraham mengeras seketika. Atmosfer di ruangan itu mendadak membeku, jauh lebih dingin daripada
Kehebohan di aula hotel bintang lima itu tidak bisa lagi diredam. Suara bisik-bisik yang semula halus kini berubah menjadi dengung kemarahan dan kecaman. Para tamu undangan, yang sebagian besar adalah relasi bisnis kelas atas, menatap layar dan panggung dengan tatapan tidak percaya. Martabat keluarga Tanjung dan kemasyhuran klan Ryder hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan menit.Alano masih bersimpuh di lantai panggung. Kepalanya terasa seolah dihantam godam besar. Fragmen-fragmen ingatan yang selama delapan tahun ini terkunci di balik kabut putih mendadak pecah. Suara isak tangis Ellea, aroma parfum gadis itu yang bercampur ketakutan, dan kilatan lampu jalan sebelum mobilnya menghantam beton pembatas jalan, semuanya berputar liar di kepalanya."Argh!" Alano mengerang, mencengkeram rambutnya kuat-kuat. Keringat dingin mengucur deras di keningnya. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal delapan tahun silam.Karin, sang mempelai wanita, berdiri mematung di







