LOGINMenjadi yatim piatu dan hampir jatuh miskin dalam waktu yang sama, membuat kehidupan Anna Donovan yang mulanya bergelimang harta kini terasa pahit. Namun demi menyelamatkan Bisnis keluarganya, Anna memutuskan untuk menjalankan wasiat terakhir dari mendiang orang tuanya yang amat berat baginya yaitu terpaksa menikah dengan Darren Alexander, CEO tampan dan kaya raya sekaligus pemilik perusahaan Xander Group tetapi memiliki sifat angkuh sehingga menjadi saingan berat Donovan Group yang dikelola oleh keluarga Anna. Ikatan pernikahan yang tidak didasari dengan rasa cinta dan kasih sayang membuat hubungan keduanya terjalin tidak baik. Meski begitu, Anna harus rela hidup dengan pria yang tidak disukainya. Sementara Darren harus bertahan dan melindungi Anna dari ancaman orang sekitar yang mengincarnya dan menutup mata atas sikap Anna yang selalu membangkang kepadanya. Bisakah keduanya bertahan dan mengungkap dalang di balik ancaman yang terus muncul? Lantas, bagaimana nasib pernikahan mereka?
View MoreKARI'S POV
I was to be married today.But the silk of my bridal dress felt less like a garment and more like a shroud.
As I stood before the altar in the temple of the goddess of love, I couldn't shake off the heavy weight pressing down on my shoulders.
My breath hitched against the rigid constraints of my corset as I cast a slightly nervous look around. Today, I was to become Luna of the Wilder Pack.
Today, the years of my quiet devotion to my bethroted, Titan,would finally bear fruit.
“You look breathtaking, dear,” my sister Bianca whispered, though her smile didn't quite reach her eyes. “Everyone's thinking that, I bet he'll thinks so too.”
I swallowed hard, nodding. “I just feel as though I am walking toward a cliff's edge,” I admitted, smoothing the lace at my wrists.
“Do you think he is ready? Our bond... it has been quiet this morning. Surely that isn't normal? Perhaps he's as nervous as I…”
“Titan is an Alpha, sister,” Bianca interrupted gently.
“His mind is burdened by the weight of his pack,” my sister added, though her hand trembled as she adjusted the purple veil over my face.
“Stay,” I whispered to her, unable to hold back any longer.
“Where are you going?”
“To stretch my legs a bit,” I answered briskly, already walking away.
The air was thick with the scent of damp stone and light perfume as I took the stairs, until I was staring down at the large expanse of the temple.
I knew there were five hundred guests here, High Alphas, Betas, and their kin, two-hundred and fifty from each side. And they all seemed to be getting along already, in preparation of the alliance that would be formed between our packs after my marriage to Titan.
“Look at her face,” I heard someone murmured behind me. “She hasn't a clue.”
My ears twitched and strained as I leaned a bit backwards.
“Poor thing,” another voice hissed. “To be discarded so publicly.”
My heart hammered against my ribs like a trapped bird. Discarded publicly? By who?
Where was Tifan?
I shot a panicked look at the altar, but it stood empty.
With a tight chest, I made my way back to the main temple.
I'd just turned towards Bianca's direction when the heavy oak doors at the rear of the cathedral swung open with a violence that echoed off the walls and ceiling.
Titan strode in.
My heart dropped.
Not because he was not dressed in his wedding clothes that were supposed to match mine, but because of the look on his face.
His expression was made even scarier by the way his cape was billowing behind him as he stomped closer and closer…
“Titan?” I breathed as he stopped beforee me. I reached for his hand, my fingers trembling. “My love, you are late. I was starting to fear…”
He pulled his hand away as if my touch had scalded him. His eyes, usually a piercing brown, were flat and cold as funeral coins.
“Cease your prattling, Kari,” he growled, his voice carrying to every corner of the silent hall.
“Milord?” I faltered, my face already starting to burn with embarrassment. “The ceremony... the guests are already waiting.”
“There shall be no ceremony…for you,” Titan stated. He turned his back to me, facing the assembly as he raised his voice.
“I have realized that a True Alpha requires a mate of equal fire. One who does not merely occupy a throne, but commands it.”
The side door opened and my other sister, Indira stepped out. She was draped in crimson silk, her dark hair falling over her shoulders like a waterfall of ink.
Our eyes met as she glided to my Titan's side, and he, the man who had not touched my hand in months, wrapped a possessive arm around her waist.
My whole world tilted upside down, I felt a rush of dizziness. My throat felt tight and dry, and my eyes started to burn.
“Titan, what is this madness?” I cried, my voice cracking.
“Is this a joke? I don't find it particularly hilarious.”
He scoffed, “what a fool you are, Kari. Thinking I could ever chose a lukewarm mouse over a fiery goddess,” he glanced lovingly at Indira at the last part.
Pain exploded in my chest.
Perhaps it was young naivety but I had wholeheartedly believed that he loved me, and wanted me the way I wanted him.
“You can't mean this,” I murmured in stock, shaking my head repeatedly. “I do not believe it.”
“You better believe it,” Indira sneered condescendingly.
“This isn't happening.”
“But it is,” Titan replied. “Honestly, I don't think anyone here is surprised at my decision.”
He gave a nonchalant shrug, “I admit, this might be a little inconvenient in timing but Kari,” he sighed, “you're every great alpha's nightmare when it comes to marriage. You're far too weak, emotional, talkative, naive…”
“You said you love me,” I murmured, taking in the stunned faces of the ton. “You told me you wanted me!”
He scoffed, “well obviously I lied,” he looked around, “If anyone here has never told a lie before, let him or her raise their hand!”
There was a brief wave of murmurs but no hand went up, Titan turned towards me again, a gloating smile on his face, “see?”
“I gave up my birthright for you! My pack…I am your bonded mate!”
“A bond of convenience,” Titan sneered,staring deep into my eyes. The hatred in his gaze was like a physical blow. “I’ve had the bond destroyed. It was a tether I found suffocating increasing.”
His voice was dry and bored, “you are painfully dull…a grey moth, even in looks. Indira is a phoenix.”
“You cannot do this,” I pleaded, the tears finally spilling down my face. “Please don't humiliate me like this, my love.”
“I am the Alpha of Wilder Pack,” Titan growled, his wolf surfacing in the bright-green flash of his eyes. “I do exactly as I please.”
My response died on my tongue as he took Indira’s hand and raised it high. “Behold!” he shouted to the gasping crowd. “Your true Luna! Indira of the Wilder Pack!”
Hari-hari Anna tanpa Darren berjalan seperti yang ia bayangkan. Ia menikmati kebebasan yang baru, menjalani setiap momen tanpa perlu merasa terkekang. Tidak ada lagi Darren yang menegurnya karena pulang larut, tidak ada lagi perdebatan panjang tentang siapa yang ditemuinya, atau mengapa ia mengenakan pakaian tertentu. Anna merasa ringan, seperti beban yang selama ini menahannya telah terangkat.Seperti saat ini, wanita itu telah siap dengan pakaian ternyamannya dan menuruni tangga menuju ruang makan."Selamat pagi, Nyonya. Anda terlihat bersemangat sekali," sapa bu Ratna.Dengan mengembangkan senyumnya, Anna menjawab. "Apakah jelas terlihat? Aku hanya merasa kembali seperti dulu, menikmati waktu-waktu kesendirianku."Bu Ratna pun mengangguk pelan. "Saya turut senang melihatnya."Anna lalu memulai sarapannya dengan lahap, dengan asyik memainkan tab di sampingnya melihat beberapa tempat menyenangkan yang hendak ia kunjungi."Sepertinya tempat ini menyenangkan," gumamnya membayangkan. "
"Nyonya??"Terdengar suara Jason dari balik pintu berusaha membangunkan Anna sembari mengetuk pintu beberapa kali. Anna lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, tubuhnya menggeliat di atas kasur besar."Ya, ya ... aku sudah bangun.""Baiklah. Sarapan juga sudah siap, sebentar lagi bu Lasmi juga izin masuk ke dalam untuk membersihkan kamar Nyonya."Anna lalu berdecih. "Ya, ya, ya ... aku mengerti.""Baiklah, saya pamit menunggu di bawah, Nyonya."Anna hanua berdeham, mengiyakan pernyataan Jason.Suasana pun hening mendandakan bahwa Jason sudah tidak ada di balik pintu itu lagi. Sedangkan Anna tidak langsung bangkit dari tempat tidurnya. Begitu Anna tersadar dari tidurnya yang tak nyenyak, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah sosok Darren yang tiba-tiba menghilang tanpa pamit. Rasa marahnya masih tersisa, tetapi rasa penasaran yang lebih besar mendorongnya untuk segera mencari tahu lebih banyak. Ia berjalan cepat ke arah pintu, keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ruang depan
"Dia belum turun? Tumben sekali," gumam Anna, sembari mengunyah sarapannya.Wanita itu seketika menyapukan pandangannya ke seluruh ruang makan bahkan sesekali melirik ke arah pintu masuk ruang makan tersebut. Namun, ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Darren."Apa dia berangkat pagi-pagi sekali?" terkanya lagi, kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, "kalau benar, aku tidak peduli."Ya, Anna akhirnya tidak terlalu mempedulikan keberadaan suaminya. Ia malah segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas pergi bersama Jason karena hari ini ia akan mendatangi makam mendiang kedua orang tuanya. Di dalam mobil, Anna melihat ke arah luar jendela, entah mengapa perasaannya sedikit tak menentu. Ia pun melihat ke arah Jason yang tengah fokus di balik kemudinya."Jason?""Ya, Nyonya?" sahut Jason, sekilas melirik majikannya melalui kaca spion tengah."Kau tahu kemana Darren? Aku belum melihatnya pagi ini, apakah dia berangkat sejak pagi buta?" tanya Anna, tanpa sadar memberondingi Jas
"Ah! T-tidak apa-apa, Nyonga." Jason berusaha menutupi raut wajahnya setelah berbincang dengan Darren, "apakah anda sudah siap?"Anna mengangguk pelan, meski masih merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Jason.Ya, setiap pagi, Jason sudah menunggu Anna di depan pintu, siap mengantarnya ke berbagai tempat. Bagi Anna, kehadiran Jason adalah semacam pelarian, seseorang yang bisa ia ajak bicara tanpa perlu merasakan tekanan atau pengawasan yang selalu ia rasakan dari Darren. Meski Jason tetap menjaga profesionalisme sebagai pengawal, Anna mulai merasa lebih nyaman bersamanya, dan bahkan mulai menyadari betapa pentingnya Jason dalam rutinitas barunya."Jason, apakah Darren tidak bicara apapun padamu?" tanya Anna, setelah berada di dalam mobil.Ia masih merasa penasaran dengan sikap Jason yang tiba-tiba terlihat canggung bahkan cenderung tertekan. Walaupun Anna sudah menahan dan berusaha untuk tidak membahasnya, tetapi sikap Jason terlalu kentara untuk dilewatkan.Jason sejak tadi me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.