LOGINBercerita tentang kehidupan rumah tangga Yuni dan Ramdani, di mana Ibu kandung Ramdani sering sekali ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, termasuk masalah keuangan yang dipegang langsung oleh Ibunya.
View More~Elena~
I fucked a father and son. Yes, you read that right. I didn’t stutter. I took them both. One after the other. Sometimes at the same time. And no, I don’t regret a damn thing. They were both my mates. Not one. Not either. Both. You could say the Moon Goddess smiled at me… or maybe she just wanted to watch me break. And before you sit there with your mouth hanging open like you’ve never done anything wild, let me stop you right there. Don’t act like a saint. Not here. Not when I know for a fact that every girl has had at least one dirty little thought about her boyfriend’s older brother. The only difference between me and you? I did it. I didn’t just think about it late at night with my hand between my thighs. I didn’t just dream about it or write it in my diary or whisper it into my pillow like some helpless little virgin with a forbidden fantasy. No. I let it happen. I made it happen. I opened my mouth. I spread my thighs. I looked them both in the eye and I chose sin. Twice. ~~ So it all started when I walked into that dorm room, suitcase in one hand, overpriced coffee in the other, the last thing I expected to find was him. He was leaning back in a chair like sin wrapped in skin. Shirt unbuttoned, boots crossed on the desk, one arm draped lazily over the back like he wasn’t sitting in a shared dorm room. He looked up when I walked in, and I swear to God, I forgot my name for a full three seconds. “You’re early,” he said. I blinked. “Excuse me?” He gave me this slow, arrogant smile that made my ovaries threaten to revolt against my brain. “For someone who’s about to move in with a total stranger, you look way too calm.” I looked down at my schedule, then at the room number stenciled on the door. “I think I have the wrong room.” “Nope.” He pointed lazily at the other bed. “Top bunk’s yours. Unless you prefer the bottom. I’m flexible.” “Who the fuck are you?” That was the first thing out of my mouth. No hello. No polite small talk. No “oops, wrong room.” Just pure, shocked, travel-weary rage. Because when I opened the door to Room 214..my assigned dorm, the place I was told I’d be sharing with a girl named Lila or Lisa or Lauren or whatever..it was not a girl I found. It was a man. A man. Sitting there like he owned the damn oxygen in the room, like he had been waiting for me to show up and lose my mind. He didn’t flinch. Didn’t even blink. Just sat back further into the chair, stretched his legs out like a lazy lion, and smiled like the kind of trouble mothers warn daughters about. “Oh, mind my manners,” he said, with a slow, smug drawl that made every hair on my body stand on end. “I’m Lucian Blackthorne. But you can just call me Alpha. Or Daddy. I’m not picky.” I blinked. “Excuse me?” He stood slowly, unfolding himself like he had all the time in the world. My brain tried to process what I was seeing..tall, lean muscle under a black t-shirt that hugged his chest like it had been tailored for sin, a jawline carved by divine pettiness, and eyes so sharp they looked like they’d cut through your excuses. “I’m your roommate. ,” he said casually, like that wasn’t the worst thing he could’ve said. “No. No, you’re not. I’m supposed to be staying with a girl.” “Well…” He tilted his head and dragged his eyes down my body slowly. “You’re not exactly what I was expecting either, omega.” I froze. “What did you just call me?” He smirked. “You heard me.” My pulse kicked into overdrive. “I don’t know what kind of dumb prank this is, but I am not your fucking omega. “Keep telling yourself that, sweetheart. We’ll see how long that holds up.” “What the fuck is wrong with you?” I snapped, louder than I intended, voice breaking in the middle like I’d bitten into something too raw. “I’m not your omega” He didn’t back off. Didn’t blink. He just leaned against the edge of his desk, arms folded, head tilted slightly like he was observing something fascinating under a microscope. “No?” he said, his voice smooth and low. “Then explain the scent.” I blinked. “What scent?” “You don’t smell human. Not completely. And don’t look so shocked…it’s not an insult. I like it. That soft, subtle sweetness? It’s… rare. Wild. Your scent changed the moment you walked in this room. My wolf noticed first. Then I did.” “You’re insane.” He shrugged. “Maybe. “You know what?” I said, tossing my bag onto the top bunk with more force than necessary. “I don’t care who you are or what kind of weird campus power trip you’re on, but I’m not doing this. I’m not letting some random guy talk to me like this. Lucian chuckled, low and unbothered. “Just shut up omega or I’ll shut you up with something long and veiny” “What the fuck! I’m not even yours!.” His smile dropped, and for one split second, something dark flashed in his eyes… “Not mine yet,” he said, voice barely above a whisper. “But you will be.” I took a step back, heart slamming against my ribs. “You need help.” “I need you.” “What the fuck is wrong with you?! We can’t stay together. We’ll tear each other apart!” His smirk spread like slow fire. “Yeah,” he murmured, eyes flicking down my body with maddening ease. “That’s kinda the point, sweetheart.” “Stop calling me that.” “Would you prefer naughty omega?” “I’d prefer you vanished.” He chuckled like I just flirted with him. “Feisty. I like that in a roommate.” “I’m not your fucking roommate.”Akhirnya Ramdani bisa menghela napas lega, kala pekerjaannya yang akhir-akhir ini begitu menumpuk, bisa selesai juga hanya dalam hitungan hari.Bahkan, Ramdani sampai rela kehilangan hari liburnya, demi bisa menyelesaikan semua pekerjaannya.Ramdani berambisi untuk bisa menjadi yang terbaik, sehingga dia bisa saja naik jabatan kapan saja. Soalnya beberapa waktu lalu, bosnya pernah bilang, akan menaikan jabatan seseorang yang bekerja dengan cukup baik.Maka dari situlah, Ramdani mulai memiliki keinginan untuk bisa menjadi yang terbaik diantara teman-teman yang lainnya, sekaligus memperlihatkan jati dirinya yang sebenarnya."Wah, udah selesai, nih, Pak!" sahut Anto--salah satu rekan kerja Ramdani yang cukup dekat dengannya.Ramdani yang tengah memejamkan mata sambil bersandar pada kursi, lantas mengangguk pelan."Iya, nih, udah selesai.""Wih, enak banget!"Tanpa diduga-duga, Anto langs
"Jangan asal bicara kalian, aku dan Pak Dandy sama sekali tidak berselingkuh!" hardik Yuni dengan kedua bola mata membulat sempurna.Dona menyeringai, dia menatap sebuah foto hasil jepretannya yang cukup bagus tersebut.Bila foto tersebut di kirimkan pada Ramdani, Dona yakin kalau anak laki-lakinya itu akan murka dan sedikit meragukan ketulusan hati Yuni.Terlebih lagi, mungkin hubungan keduanya akan kembali renggang, sehingga niat buruk yang selama ini Dona susun, akan bisa berjalan dengan lancarDona tidak sabar membayangkan, di saat Yuni dan Ramdani berpisah untuk selamanya, sehingga Dona bisa menikahkan anaknya dengan Sarah--perempuan yang cukup kaya raya."Asal bicara katamu? Jelas-jelas aku melihat perselingkuhan kalian di depan mata kepalaku sendiri.""Bu, aku tidak berselingkuh! Pak Dandy datang untuk menengok anakku. Apa Ibu tidak bisa me
Sebenarnya Yuni ingin sekali menolak keinginan Dandy untuk datang ke rumahnya, hanya saja dia merasa tidak enak.Masa ada orang yang menengok anaknya, dia malah menolaknya hanya karena alasan tidak nyaman.Jadi, mau tidak mau, Yuni pun mengiyakan permintaan Dandy, meskipun dia belum sempat memberitahu suaminya.[Baik, Pak.][Terima kasih, Bu. Kalau boleh tahu, apa ada yang sedang Ibu inginkan?]Sengaja Yuni tidak membalas pesan Dandy, dia takut kalau terus berhubungan dengan pria itu, justru akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.Maka dari itu, Yuni lebih memilih untuk mematikan jaringan data dan menyimpan gawainya ke dalam saku celana.***Sore hari sudah tiba, kala itu Yuni tengah berada di luar rumah, dia tengah bermain bersama kedua orang anaknya, lebih tepatnya memperhatikan Rion yang tengah belajar membawa
Entah bagaimana jadinya, tetapi semenjak saat itu, Ibu mertua Yuni jadi sering bertukar kabar dengan Sarah.Anehnya lagi, perempuan bernama Sarah itu malah meresponnya dengan baik, seperti hari ini, di mana ketika Yuni baru saja pulang dari rumah tetangganya, mengecek usaha yang selama ini dia dan ibu-ibu lainnya kembangkan.Perempuan itu sudah berada di rumahnya sambil mengobrol dengan Ibunya. Sementara itu, Yuni belum tahu bagaimana kabar Monika.Namun, yang pasti Yuni yakin, kalau Monika tidak tinggal seorang diri di luar sana, pasti dia tinggal bersama seseorang atau mungkin menyewa tempat yang lebih nyaman."Yuni, tolong ambilkan cemilan dan minuman, kebetulan tadi Mbok Darmi sudah Ibu suruh beli sayuran dan buah-buahan."Dona langsung memerintahkan kepada Yuni, ketika melihat batang hidung perempuan itu muncul di hadapannya."Bu, aku baru saja pul
"Mbok, bisa tolong belikan tempat minum untuk Rion ke pasar, gak?"Mbok Darmi yang kebetulan sedang memotong sayur-sayuran untuk sarapan, langsung menoleh, kemudian mengangguk pelan."Bisa, Nyonya. Sekalian saya mau beli ikan, tadi Tuan Ramdani minta di m
"Bu, kenalin ini Kak Anton, dia Kakak tingkatku di kampus. Sebenarnya kami sudah dekat cukup lama, tetapi Kak Anton baru menyatakan cintanya padaku beberapa waktu lalu."Monika menjelaskan semuanya sambil tersipu malu, beberapa kali dia melirik ke arah Anton yang juga ikut me
Dona langsung mendelik, hidungnya mengkerut, beberapa kali dia melayangkan tatapan tidak suka pada Yuni."Sejak kapan kamu berani melawan Ibu, Ramdani?" sentak Dona sambil tersenyum sinis. "Pasti si Yuni main dukun, biar kamu berani bersikap seperti itu."
Drrt ... drrt ....Dona yang tengah menikmati hidangan di rumah anak sulungnya itu langsung menyimpan sendok, meraih benda persegi yang terus berdering. Dia menatap layar selama beberapa detik, kemudian menempelkan di telinga."Bu, lagi di mana?"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore