Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 153. Perselisihan Lagi

Share

Bab 153. Perselisihan Lagi

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-03-25 23:55:34

Mereka kembali ke mobil dengan langkah tenang. Arga masuk ke mobil lebih dulu.

Satria menyusul ke belakang kemudi dan menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak pelan keluar dari komplek.

Saat baru melaju beberapa meter, mata Satria menangkap sesuatu ketika menoleh ke kiri.

Sebuah mobil yang terasa tidak asing melintas meninggalkan jajaran ruko. Mobil itu terasa familiar.

Satria menyipitkan mata.

Tangannya refleks sedikit menahan setir.

“Ga ….”

Arga menoleh.

“Lihat itu.” Satria menunjuk dengan isya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
setidaknya kasih sedikit alasan..biar nggak berasa dikekang
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
wajar kalo zee bertanya2 mas sat, mendingan kasih tau aja.
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
pak elang,, jujur aja kenapa sih,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 159. Titik Muak

    “…Mau ikut jadi pembunuh buat balesin dendam Prabu?”Kalimat Arga menggantung di udara seperti sesuatu yang terlalu tajam untuk langsung dijawab.Satria tidak langsung membuka mulut.Tatapannya masih lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras. Ada jeda … bukan karena ia tidak punya jawaban, tapi seperti sedang memilih mana yang masih boleh diucapkan, dan mana yang sebaiknya tetap tinggal di dalam kepalanya.Sejurus kemudian pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar, matanya langsung mencari.“Siapa yang membawa pasien atas nama Alina?”Arga refleks melangkah maju. “Kami, Dok.” Satria mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara.“Silakan masuk sebentar. Saya perlu keterangan tambahan.”Pertanyaan Arga barusan terpotong begitu saja. Berganti dengan rasa penasaran soal apa yang terjadi pada Alina. Ruangan yang mereka masuki sangat dingin. Saat masuk ke sana mereka sudah tidak melihat Alina. Hanya bau antiseptik dan beberapa berkas yang sudah terbuka di atas meja. Satria dan Arga mene

  • KAMAR KEDUA   Bab 158. Cara Balas Dendam

    Arga yang melangkah masuk lebih dulu ke unit Alina, langsung menoleh ke atas. Suara pendingin udara yang kasar dan butuh perawatan menampakkan unit itu memang jarang ditempati. Saat melewati pintu, tangan Arga sudah terangkat menahan langkah yang di belakangnya. Saat tiba di depan pintu kamar yang terbuka, ia memandang Satria yang berdiri di belakangnya.“Memang ada. Bersuara. Minta keamanan telepon polisi,” pinta Arga setengah berbisik.Satria mengangguk dan memberikan perintah sesuai permintaan Arga. Setelahnya, ia tahu bahwa apa yang dilihat sahabatnya di kamar Alina bukan sesuatu yang biasa.“Sepertinya baru, Sat. Pelan-pelan aja. Aku nggak mau kita malah bikin dia takut.” Setelah mengatakan itu, ia berjalan pelan mendekati ranjang tempat Alina menelungkup. Punggungnya banyak bekas kuku dan memar karena pukulan.Satria yang sekilas saja sudah paham apa yang baru saja terjadi pada Alina, menarik selimut dari bagian bawah ranjang dan menutupi tubuh wanita itu.“Mbak Alina …,” panggi

  • KAMAR KEDUA   Bab 157. Hampir di Ujung Jalan

    “Mas Satria baru pulang?” tanya Sheza dengan suara mengantuk. Ia tertawa kecil mendekap kepala Satria. “Udah makan?” Saat ia menunduk yang tak tampak dari sisinya hanyalah kepala Satria yang kini berada di dadanya. Matanya terpejam menikmati keinginan Satria siang itu sambil menunggu jawaban.Cukup lama Satria berada di dadanya. Mengisap pelan puncak payudaranya seakan memang berharap bahwa ASI untuk bayi mereka sudah keluar.“Ada sedikit, Zee,” ucap Satria saat akhirnya pria itu kembali mendongak.Sheza tertawa dan memencet hidung Satria yang tinggi. “Belum ada. Malah beberapa hari lahiran baru bisa lancar. Nanti aku minum suplemen biar ASI-nya nya banyak.”“Aku bakal bikin kamu happy biar ASI-nya lancar.” Satria kembali mengecup puncak payudara Sheza dengan satu tangan memilin puting satunya.Gerakan Satria terlihat tenang. Atau lebih tepatnya, ia baru saja mendapat ketenangan itu beberapa saat yang lalu saat kehangatan Sheza menyentuh lidahnya.“Mas Satria lagi mikirin apa?” tanya

  • KAMAR KEDUA   Bab 156. Dalam Balutan Kehangatan 

    Suara pendingin udara dan kecupan basah mengisi siang di kamar kedua. Desahan dan pekikan Sheza terdengar bergantian, beraturan. Seiring dengan usapan dan gerakan jari yang tahu ke mana menemukan jalannya.Untuk kedua kalinya Sheza mengangkat pinggul dengan pekikan tertahan. Gerakan itu menjadi sebuah penanda bagi Satria untuk bangkit dan kembali membuka paha Sheza perlahan. Memberi ruang pada tubuhnya sendiri untuk masuk lebih dekat.Sheza berbaring dengan kedua tangan di atas kepala. Terlihat berusaha mengatur napas dan kembali menguasai diri setelah dua kali dihantam kenikmatan. Ia kembali mengikuti ke mana Satria membawa tubuhnya. Kali ini ia dibawa bergeser sampai benar-benar berada di tepi ranjang. Kedua kakinya dibuka lebih lebar. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia merasakan bagian maskulin Satria mulai menekannya. Pelan, masuk lebih dalam. Ia meringis, lalu dalam detik yang berjalan sedikit lebih lambat, ia menghela napas lega ketika tubuhnya dipenuhi oleh Satria.Desah kenik

  • KAMAR KEDUA   Bab 155. Yang Dibutuhkan Tanpa Kata

    Seumur hidupnya, Satria tidak pernah benar-benar hidup tanpa masalah.Ia sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Dengan sesuatu yang diambil darinya sebelum sempat ia pertahankan.Orang tuanya. Perusahaan keluarganya. Nama yang harus ia bangun ulang dari nol. Pernikahan yang tidak bertahan. Dan setelah itu … ketenangan yang selalu datang dengan syarat.Ia terbiasa.Masalah baginya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Hanya sesuatu yang harus diselesaikan.Selalu begitu.Hanya saja … dulu, ia selalu sendirian.Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang perlu ia jaga dengan cara berbeda.Sampai Sheza masuk dalam hidupnya.Dan untuk pertama kalinya, Satria merasakan sesuatu yang tidak pernah ia hitung sebelumnya.Bahwa masalah … bisa terasa lebih ringan hanya karena ada seseorang di dekatnya.Bukan karena membantu menyelesaikan.Tapi karena … ada.Dan sekarang yang membuatnya paling berat bukan masalah itu sendiri.Tapi Sheza yang ada di dekatnya, tapi memilih diam.Rumah siang itu terasa terl

  • KAMAR KEDUA   Bab 154. Saat Aku Butuh Kamu

    Satria berdiri menatapnya. Terlihat bahwa pria itu mendengar tiap kalimatnya.Sheza menarik napas kecil.“Aku ngerti Mas sibuk. Aku ngerti Mas lagi banyak pikiran.” Ia berhenti sebentar. “Tapi bukan berarti aku sama anak-anak harus berhenti hidup nunggu Mas terus.”Satria tidak menyela, masih berdiri di tempatnya. Dan Sheza pelan-pelan duduk menegakkan punggungnya.“Aku di rumah, aku nurut. Aku nunggu.” lanjut Sheza. “Tapi waktu aku keluar sebentar … Mas marah. Tanpa jelasin apa-apa. Salahku di mana?”Ia menatap Satria lebih dalam.“Aku ini istri Mas. Bukan orang yang cuma disuruh diam dan ikut tanpa ngerti kenapa.”“Aku tadi harus menjelaskan agak sedikit lebih panjang ke Nadine soal Nayla yang pulang sore.” Satria mengawali kalimatnya dengan tenang. Ia melangkah ke sofa untuk duduk di dekat Sheza. Tapi wanita itu sedikit beringsut.“Mas marah karena harus menjelaskan ke Mama Nayla?” Suara Sheza sangat pelan. “Aku jadi bingung ini soal apa. Soal aku yang keluar tanpa Mas atau soal ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 69. Tak Sekedar Malam

    Wajah Satria masih terbenam di cekungan dada Sheza. Di tempat yang lembut, hangat dan lunak yang menerimanya tanpa jarak. Dengan sepasang puncak yang hidup dan disukai lidahnya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam, membiarkan tubuh menyesuaikan dengan kehadiran perempuan di bawahnya. I

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 67. Mungkin Hanya Sebuah Kewajiban

    “Zee … kalau aku lanjut, aku nggak akan setengah-setengah.” Kalimat itu jatuh keluar tanpa tekanan dan paksaan. Justru itulah yang membuat Sheza terdiam. Ia berdiri di hadapan Satria, berusaha mencerna bagaimana ia bisa sampai di kamar ini—kamar yang tak pernah ia masuki, kamar seorang pria yang k

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status