Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 19. Bukan Perhatian

Share

Bab 19. Bukan Perhatian

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-08 21:25:45

Setelah Satria menyelesaikan ucapannya, suasana ruang makan dilanda kesunyian.

Pak Rudi tidak langsung bicara. Pria itu duduk dengan kedua telapak tangan saling menekan di atas paha dengan napas berat. Seakan pria itu baru saja dipaksa menelan sesuatu yang tidak ia sukai.

Bu Ratna lebih dulu mengalihkan pandangan, menatap meja hias yang menempel ke dinding. Di meja itu berjejer foto-foto keluarga besar yang dicetak seukuran telapak tangan dengan bingkai kayu. Di antara foto itu, ada foto Prabu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
secara ga langsung itu mertua berharap satria menjadi pengganti yg bertanggung jawab buat keluarga prabu seperti prabu bertanggung jawab atas hidup keluarga y semasa hidup
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
kamu nggak akan sendirian zee
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 154. Saat Aku Butuh Kamu

    Satria berdiri menatapnya. Terlihat bahwa pria itu mendengar tiap kalimatnya.Sheza menarik napas kecil.“Aku ngerti Mas sibuk. Aku ngerti Mas lagi banyak pikiran.” Ia berhenti sebentar. “Tapi bukan berarti aku sama anak-anak harus berhenti hidup nunggu Mas terus.”Satria tidak menyela, masih berdiri di tempatnya. Dan Sheza pelan-pelan duduk menegakkan punggungnya.“Aku di rumah, aku nurut. Aku nunggu.” lanjut Sheza. “Tapi waktu aku keluar sebentar … Mas marah. Tanpa jelasin apa-apa. Salahku di mana?”Ia menatap Satria lebih dalam.“Aku ini istri Mas. Bukan orang yang cuma disuruh diam dan ikut tanpa ngerti kenapa.”“Aku tadi harus menjelaskan agak sedikit lebih panjang ke Nadine soal Nayla yang pulang sore.” Satria mengawali kalimatnya dengan tenang. Ia melangkah ke sofa untuk duduk di dekat Sheza. Tapi wanita itu sedikit beringsut.“Mas marah karena harus menjelaskan ke Mama Nayla?” Suara Sheza sangat pelan. “Aku jadi bingung ini soal apa. Soal aku yang keluar tanpa Mas atau soal ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 153. Perselisihan Lagi

    Mereka kembali ke mobil dengan langkah tenang. Arga masuk ke mobil lebih dulu.Satria menyusul ke belakang kemudi dan menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak pelan keluar dari komplek.Saat baru melaju beberapa meter, mata Satria menangkap sesuatu ketika menoleh ke kiri.Sebuah mobil yang terasa tidak asing melintas meninggalkan jajaran ruko. Mobil itu terasa familiar.Satria menyipitkan mata.Tangannya refleks sedikit menahan setir.“Ga ….”Arga menoleh.“Lihat itu.” Satria menunjuk dengan isyarat dagunya.Mobil yang dimaksud Satria mulai menjauh. Keluar dari komplek.Satria menekan gas sedikit.“Kayaknya … itu mobil yang kita lihat di CCTV.” Nada suaranya rendah.Arga langsung menatap ke depan.Mencoba menangkap bentuknya.Garis bodinya.Sekilas. Lalu saat plat mobil tidak terlihat, ia menggeleng pelan.“Mirip,” katanya. “Tapi … nggak yakin.”Satria tidak menjawab lagi. Tapi matanya masih mengikuti mobil itu yang semakin jauh.Beberapa detik.Cukup untuk membuatnya ragu atau justru s

  • KAMAR KEDUA   Bab 152. Tanpa Sepengetahuanmu

    Satria memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko tak berpenghuni. Lalu mereka turun dan mulai berjalan. Mengamati nomor bangunan yang tersembunyi atau yang mulai pudar. Mereka berjalan pelan. Dari satu blok ke blok lain.Kalau ada orang yang kebetulan melintas, mereka bertanya.Di bagian ujung salah satu blok, ada pintu ruko yang terbuka. Dua orang pria muda sedang menaikkan kantong semen ke mobil pickup.Arga berhenti untuk bertanya. “Perusahaan ini, Mas, tau?”Dua orang pria muda itu menggeleng. “Belum pernah dengar.”Jawaban yang sama berulang di beberapa tempat. Sampai akhirnya mereka berhenti di bagian belakang salah satu blok.Sebuah gudang yang pintu besinya tertutup rapat. Nomor bangunannya sesuai. Alamatnya cocok. Tapi tetap saja tidak ada tanda apa-apa.Satria berdiri di depan pintu itu beberapa detik. Tangannya menyentuh permukaan besi yang dingin. Seolah mencoba merasakan sesuatu yang tidak terlihat.Kosong.Arga melirik ke dalam melalui celah kecil.Gelap. “Ini harusnya

  • KAMAR KEDUA   Bab 151. Yang Mulai Terhubung

    Matahari sudah tinggi tapi Satria masih duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya masih rapi belum tergulung. Pertanda ia belum banyak bergerak sejak tiba di kantor pagi tadi. Meski tampak tenang, dahinya yang mengernyit mengisyaratkan isi pikirannya bergumul di antara tumpukan berkas yang terbuka.Ada satu nama yang sejak tadi tidak bisa lepas dari kepalanya.Alina.Mau beberapa kali pun ia periksa, berkas perjanjian kerja Alina paling aneh di antara semuanya. Sangat berbeda dengan berkas perjanjian kerja Anton dan Prabu.Ia baru saja menutup satu file ketika ponselnya bergetar. Ia melihat layar ponselnya. “Z” Satria langsung mengangkat.“Zee?”“Mas lagi sibuk?” suara itu lembut, seperti biasa. Tapi selalu berhasil menariknya keluar dari apa pun yang sedang ia pikirkan.Satria menghela napas pelan. “Iya. Kenapa?”“Jadwal kontrol aku udah lewat dua minggu.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat Satria diam beberapa detik.Ia memijat pelipisnya pelan.“Maaf,” ucapnya r

  • KAMAR KEDUA   Bab 150. Yang Lebih Nyata 

    “Aku perlu pergi pagi-pagi banget.” Satria berbisik di telinga Sheza. Satu tangannya menyusup ke dalam selimut untuk membelai perut wanita itu dan memilin puting payudaranya.Sheza menggeliat. Matanya menyipit memandang jam di nakas. “Ini masih kepagian. Memangnya mau ke mana, sih? Pagi-pagi aku udah ditinggal. Mas udah rapi gini.” Ia mendekap tangan Satria erat-erat. Tak membiarkan pria itu bergeser menjauh.Satria tertawa pelan. Tangannya masih mengusap tubuh Sheza di balik selimut, lalu ia menunduk, memeluknya lebih erat.“Aku juga mau baring di sini sama kamu, Zee,” gumamnya rendah.“Tapi belum bisa.”Ia mengusap punggung Sheza pelan.“Aku pengen hidup kita tenang. Bangun pagi tanpa mikirin apa-apa … cuma nunggu bayi ini lahir.”Ia kembali mengecup kepala Sheza.“Sampai itu bisa terjadi … aku harus beresin dulu semuanya.”Sheza lalu membuka matanya yang tadi terpejam dan pelan-pelan duduk bersandar dibantu oleh Satria. Satu tangannya menahan selimut menutupi dada.“Aku mau melakuk

  • KAMAR KEDUA   Bab 149. Teror itu Mulai Datang

    “Kenapa foto Dio dan Sheza? Buat apa?” Pak Rudi bingung dan masih duduk di kursi belajar Prabu.Satria memegangi lengan Pak Rudi.“Ayo, Pak. Saya bantu turun.” Ia menuntunnya pelan menuju tangga. “Saya belum bisa memastikan kenapa foto Dio dan Sheza diambil,” lanjutnya tenang.“Foto itu tidak cukup bernilai untuk dijual … kecuali memang dimaksudkan sebagai alat.” Langkah mereka berhenti sejenak di mulut tangga.Satria menoleh.“Dan kalau itu yang terjadi…” suaranya merendah, “…itu bukan sekadar pencurian.” Ia menatap Pak Rudi lurus.“Foto itu pernyataan, Pak.”Jeda singkat.“Mereka udah tahu wajah Dio dan Sheza.”Tatapannya tidak berubah.“Dan mereka mau kita tau bahwa mereka bisa menemukan keduanya kapan saja.”Satria melepaskan lengan Pak Rudi yang sejak tadi dipeganginya. Pria tua itu menatapnya dengan sepasang mata khawatir.“Kalau sudah begitu, bagaimana? Satria … apa Dio bakal baik-baik aja? Atau untuk sementara Dio tinggal di sini agar lebih aman?” Pak Rudi sudah tiba di anak t

  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 69. Tak Sekedar Malam

    Wajah Satria masih terbenam di cekungan dada Sheza. Di tempat yang lembut, hangat dan lunak yang menerimanya tanpa jarak. Dengan sepasang puncak yang hidup dan disukai lidahnya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam, membiarkan tubuh menyesuaikan dengan kehadiran perempuan di bawahnya. I

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 72. Sepertinya Belum Yakin

    Sebenarnya … ia tidak berniat mengatakan apa pun dengan nada seperti itu pada mertuanya. Setelah ponsel berpindah tangan ke Satria, Sheza merapikan meja makan pelan-pelan. Dio kembali ke kamar dan Tuti mencuci piring dengan gerakan yang menenangkan. Suara air dan denting piring seharusnya cukup un

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status