Share

PART 03

Author: Aura Kisah
last update Last Updated: 2026-01-05 16:53:47

Dengan pengecekan singkat, Alex pun bisa mendeteksi dan mengetahui penyebab mobil itu tiba-tiba mogok.

    “Ini problemnya hanya overheat saja, Om.”

    “Oh begitu? Apakah Dik Alex bisa memperbaikinya?”

    Alexander Diaz tersenyum dan menjawab, “Gak ada yang perlu diperbaiki, Om. Hanya butuh waktu untuk tunggu sebentar saja sembari mengisi cairan radiatornya. Om ada persediaan cairan coolant?”

    “Oh, benar juga!” Laki-laki itu langsung menepuk dahinya. “Ada, sebentar saya ambilkan di bagasi belakang.”

     Setelah radiator diisi dengan cairan coolant, sambil menunggu mesin dingin kembali, mereka berdua terlibat dalam obrolan ringan.

    “Maaf, Om ini sebenarnya baru dari mana? Dari kantor”

    “Dari wilayah Cilegon, Dik Alex. Bolak-balik dari pagi, jadi lupa mengisi karburatornya. Soalnya yang biasa melakukannya adalah sopir saya. Tapi dia sedang ijin cuti pulang kampung.”

    “Hm, pantas, perjalanan jauh, Om. Ok, Om, sekarang coba distarter lagi.”

    Ketika distarter, mobil itu langsung menyala seperti biasanya.

     “Akhirnya nyala juga,” ucap Om Garvin dengan wajah sumringah. “saya sangat berterima kasih kepada Dik Alex atas pertolongannya. Dik Alex ternyata punya banya banyak talenta.”

     “Sama-sama, Om. Biasa saja, Om. Hehehe.” 

      Keduanya pun menuju ke arah timur. Dalam perjalanan itu Alex dan Om Garvin terus mengobrol dengan topik ringan. Terutama dengan topik yang berkenaan dengan Alex sendiri.

     “Maaf, kalau boleh saya tahu, Dik Alex ini aslinya dari mana? Saya dengar dari segi logat, Dik Alex ini bukan orang Jawa maupun Sunda.”

        “Saya perantau  dari Timor Timur, eh, maksud saya, Timor Leste, Om. Saya merantau ke Jakarta ini sejak tahun delapan sembilan, sebelum referendum. Sejak saat itu saya tidak pernah kembali lagi ke Timor Leste lagi, karena sejak semula saya sudah menetapkan pilihan untuk tetap menjadi WNI.”

      “Oh dari Timor Leste. Tapi … wajah Dik Alex ini lebih mirip sosok laki-laki Eropa atau Latin.”

        “Kebetulan saya memang blasteran, Om. Keturunan Portugal-Oecussi, atau Pante Makassar. Tapi saya lahir di daerah Los Palos, karena ibu saya orang dari wilayah itu yang merupakan wanita keturuan campuran suku setempat dan Arab. Tapi saya besar di Kota Dili karena kedua orang tua saya bekerja di sana sebagai PNS ketika itu. Artinya saya ini keturunan campuran tiga ras. Begitu, Om.”

     “Hm opantasan wajahmu menyimpan face segala ras. Bulenya masih kuat.”

     “Hehehe, benar, Om.”

     “Tadi saya lihat, Dik Alex hebat sekali cara berkelahinya. Atau memang Dik Alex memiliki ketrampilan seni bela diri?”

     “Iya, Om. Saya memang memiliki sedikit ilmu bela diri dari beberapa jenis martial art.”

     “Hm. Saya pun jadi berpikir, Dik Alex itu memang dikirimkan Tuhan untuk menolong saya tadi itu. Amndaikata tidak ada Dik Alex, saya tidak tahu dengan nasib saya. Keempat pria  itu tadi  benar-benar brutal. Mereka sama sekali tidak takut melakukan tindakan kejahatan, sekalipun di siang hari dan di pinggir jalan raya seperti tadi. Artinya, mereka  penjahat yang nekat.”

    “Benar sekali itu, Om. Tampang-tampang seperti mereka lebih dekat pada manusia-manusia psikopat.”

       Seperti feeeling Alex sebelumnya, Om Garvin benar-benar orang yang sangat kaya. Ia dibawanya ke rumah mansionnya yang sangat mewah dengan pekarangan sekelilingnya yang demikian luas yang ditanami dengan berbagai pohon hias yang ditata rapi dengan seni pertemanan kelas tinggi. Sedangkan dalam ruangan rumahnya yang mewah bak istana itu dipenuhi oleh perabot-perabot yang serba mewah dan berharga sangat mahal, tentunya.  Memasuk rumah itu, ia seolah-olah sedang bermimpi memasuki sebuah istana kerajaan.

        Om Garvin memiliki banyak pegawai yang bekerja di bagian dalam rumah maupun di bagian luar rumah.        Menurut perkiraannya, pekerja yang berkerja dalam lingkungan rumah itu ada lebih tujuh orang, laki-laki dan perempuan. Itu belum termasuk para security-nya yang piket dengan sistem shift.   Wajar. Karena rumah seluas dan semewah itu tidak mungkin bisa diurus oleh dua tiga orang pekerja.

        Om Garvin  memiliki seorang istri yang bernama Magdalena. Tapi oleh segenap asisten rumah tangganya ia dipanggil dengan Madam Lena. Beliau sangat anggun sekalipun usianya sudah melewati kepala empat saat itu dan memiliki tiga orang anak, semuanya perempuan, dan semuanya telah menikah. Tapi putri pertamanya janda karena suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat saat ia melawat ke luar negeri.

        Ketika melihat Alex pertama kali dalam kondisi kumal tak ubahnya seorang gelandangan,  Madam Lena tak mampu menyembunyikan ekspresi jijiknya. Wajar. Bahkan ketika pemuda itu dipesilakan duduk oleh Om Garvin untuk duduk di sofa kulit yang mewah, wanita itu langsung berteriak memanggil salah seorang asisten rumah tangganya agar membawakan sebuah kursi plastik untuk tempat duduk pemuda itu.

       Saat sang asisten itu datang dengan sebuah kursi plastik, Om Garvin meminta kepada sang asisten untuk menyiapkan sebuah kamar di lantai atas untuk  ditempati oleh Alex.

       “Dik ikut ikut naik dulu  ke atas dan mandi yang bersih. Nanti saya akan kirimkan ke atas beberapa pakaian rumah saya untuk Dik Alex pakai sementara,” pinta Om Garvin.

       “Ba-baik, Om, terima kasih, mari...”

       “Ya silakan, Nak Alex.”

        Alex diberi sebuah kamar di lantai atas rumah itu. Kamar yang luas dengan perabotan yang lengkap dan juga luks. Ia benar-benar tertegun tak percaya saat itu. Ia rasa kamar itu terlalu mewah baginya.

        “Silakan Mas Alexxmandi dulu. Pakaian kotornya dimasukkan saja dalam ember yang ada dalam kamar mandinya biar asisten rumah tangga di bagian laundry mengambilnya besok. Di dalam sudah tersedi beberapa handuk,” ucap asisten rumah tangga yang mengantarnya.

         Dia seorang wanita muda, mungkin usianya belum kepala tiga, yang kemudian saya ketahui bernama Mis Mirna. Sekalipun ia seorang asisten rumah tangga, namun wajah dan penampilannya tak kalah memesonanya dengan para pegawai kantoran. Bersih dan rapi. Bahkan saya sempat berpikir, andaikata wanita itu tinggal di daerah kecil, mungkin ia sudah diperistri oleh seorang pegawai negeri sipil, pikirnya.

         Air mandinya dari shower  yang dapat memancurkan air dingin dan air hangat. Karena sudah hampir satu minggu tak merasakan air mandi, ia pun mandi sepuasnya dan sebersih mungkin. Saat itu ia benar-benar merasakan hidup di sebuah  istana mewah.

    ***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 09

    Alex tentu bisa sangat merasakan perubahan intensitas perhatian Madam Lena terhadapnya. Ya, bayangkan dalam urusan makan pun, seperti yang dikatakan di atas, ia diistimewakan. Ia selalu ikut makan bersama Madam Lena dan keluarganya di meja makan mereka. Mbak Olive juga sangat baik dan perhatuab terhadapnya. Alex dan sang janda kembang itu suka curhatan, baik melalui chatting, maupun secara langsung dengan bertemu langsung. Bahkan wanita itu terkadang suka datang ke kemarnya Alex. Sebenarnya, Mbak Olive memiliki rumah sendiri, tapi katanya ia tak betah di rumahnya setelah suaminya meninggal, dan ia lantas memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya itu. Di samping cantik, memiliki bodi yang aduhai, serta memiliki daya pesona yang tinggi, Mbak Olive adalah wanita yang sangat baik dan ramah, terutama terhadap Alex. Ia memperlakukan Alex di rumah itu bak seorang anggota keluarganya. Alex pun merasa, bahwa ia benar-benar diperlakukan sangat beda dengan pegaw

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 08

    Madam Lena berpesan kepada pegawai salon, seorang pria muda, agar menyesuaikan model rambutnya dengan tampil fisik dan model wajah sang bodyguard-nya itu. “Baik, Bu,” sahut pegawai salon itu, lalu membawa masuk Alex ke ruang dalam. Kurang lebih satu jam Madam Lena menunggu di ruang tunggu salon. Ia ingin sebuah kejutan. Dan dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan itu. Saat Alex muncul dari balik ruangan salon yang dibatasi dengan kain korden, Madam Lena nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Dengan penampilan baru, rambut dipotong cepak ala pria-pria dari Asia Timur tampak sangat serasi dan makin maskulin dengan tampilan Alex saat itu. Alex benar-benar telah menjelma sebagai seorang pria yang benar-benar tampan dan berwibawa. Ditambah lagi dengan kacamata hitam yang dikenakannya. Ternyata kaca mata hitam itu diberikan oleh pihak salon untuk menambah elegansi penampilan sang customer tampan mereka, dan harganya digabungkan dengan biaya tata rambutny

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 07

    “Ooh, jadi yang keturunan Portugis itu dari pihak ayah Dik Alex, ya?” tanya Madam Lena ketika Alex mengantarkannya ke suatu tempat. Tapi saat itu mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dulu. Alex sebenarnya melaksanakan tugasnya saja untuk menjaga sang majikan. Tetapi Madam Lena memintanya untuk menemaninya makan sembari mengobrol. Saat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya. “Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.” “Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?” “Benar sekali, Madam.” “Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu. Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.” “Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 06

    Mendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin. “Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.” “Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.” “Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 05

    Selanjutnya Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah. Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini? Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!” Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 04

    Ketukan di pintu kamar mandi membuat Alex mematikan kegiatan mandinya sembari mematikan shower. “Iya, sebentar...!” sahutnya dengan suara sedikit dinaikkan. “Pakaian pengganti Mas Alex ada di atas tempat tidur. Tuan Besar berpesan, jika Mas Alex sudah siap, Tuan Besar dan Madam menunggu di ruang makan.” “Oh iya, baiklah, terima kasih, Sis.” Keluar dari kamar mandi Alex melihat setumpuk pakaian pengganti yang diletakkan di atas tempat tidur yang terdiri dari beberapa celana blue jean’s, baju hem, beberapa lembar celana cargo pendek, dan beberapa lembar baju kaos berkerah dengan brand ternama. Tentu itu pakaian-pakaian bekas dari Om Garvin, tapi kondisinya yang masih sangat layak. Namanya saja pakaiannya orang kaya raya. Dan ukurannya semuanya pas saja dengan tubuhnya. Kecuali celana jean’s-nya yang kurang panjang. Jadi ia memilih untuk memakai baju kaos berkerah dan celana cargo. Setelah itu ia turun ke bawah. Melihat kemunculannya dengan penampilan ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status